Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label buku

Puisi Kebangsaan

Jika kemarin tentang buku pengantar filsafat stoik, maka hari ini tentang buku antologi puisi. Buku ini tiba kemarin siang pukul 14:45 WIB atau 42 menit setelah Kang kurir paket konfirmasi bahwa ada paket COD ongkir sebesar Rp30.000. “Siap,” balas saya untuk memastikan kepadanya, bahwa saya berjaga di rumah dan tidak sedang berada di luar. Sebelumnya memang silaturahim menyampaikan dukacita ke rumah kolega istri yang ibundanya berpulang satu pekan lalu. Saya ikut membersamai beberapa orang sesama rekan pensiunan guru silaturahim karena mereka malamnya (tadi malam) akan menggelar tahlilan nujuh hari. Berhubung ada yang tidak bisa hadir ikut tahlilan malamnya, diganti datang siangnya.  Sesudah dari sana lanjut ngebakso di rumah salah satu ibu yang ikut silaturahim itu. Entah bakso dari gerai atau jenama apa yang disuguhkan. Di Balam ini lumayan banyak bakso yang enak. Tapi, jenama yang satu itu paling tersohor, tentunya. Tahu kan? Habis zuhur bubar dan pulang ke rumah masing-ma...

Filosofi Teras 100

Kompas  memajang iklan Filosofi Teras, buku mega best seller karya Henry Manampiring edisi cetakan ke-100 yang dibuka pre-order sejak 4 hingga 15 Juni 2026 nanti. Penawaran ini terbatas. Ditujukan untuk pembaca loyalis Harian Kompas . Buku yang membahas ajaran stoik ini telah terjual 500.000 eksemplar sejak terbit pertama tahun 2018. Kini mencapai cetakan ke-100. Momen ini dirayakan dengan box set limited edition bernomor seri eksklusif dengan mematok harga Rp369.000. Buku Filosofi Teras yang saya miliki  Harga special box set (atau bundling eksklusif) Rp369.000 itu berlaku selama masa pre-order. Di luar masa pre-order harganya Rp475.000. Setiap Rp10.000 dari penjualan akan didonasikan untuk gerakan kesehatan mental melalui Yayasan Pulih. Sementara di lokapasar Shopee atau yang lebih sering diistilahkan dengan toko oren, pre-order Filosofi Teras cetakan ke-100 dari 29 Mei hingga 15 Juni 2026 dibandrol dengan harga Rp125.000–Rp589.000. Ini juga menawarkan edisi box s...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...

Tak ISBN, QRCBN Jadi

Puisi untuk buku antologi ini saya kirim 8 Juli 2025, bukunya baru saya terima 2 Juni 2026 pukul 13:14 WIB. Hampir saja genap 1 tahun lamanya proses buku ini dari mulai pengumpulan karya, kurasi, layout , cetak, dan terbit jadi buku. Mengapa sedemikian lama? Entahlah. Yang bisa saya kira-kira jawabnya, ialah karena PJ even ini admin pula di beberapa komunitas sastra yang sepanjang tahun 2025 hingga 2026 giat sekali menyelenggarakan even nulis bersama. Buku Terang Bulan Tepi Lautan  Agak lupa saya berapa even nulis puisi yang saya ikuti sejak 2025 yang kesemua bukunya sudah nagkring di lemari buku. Sementara buku Terang Bulan Tepi Lautan ini, baru selesai setelah kegiatan PJ-nya di beberapa komunitas agak mereda. Membuat buku kumpulan puisi bersama begini memang tidak tentu waktu selesainya. Yang paling membuat lama waktu prosesnya adalah ketika ‘menjaring’ uang pengganti ongkos cetak. Ada yang cepat transfer, ada yang lemot minta ampun. Memang betul, keadaan ekonomi para p...

Kado Puisi

Pagi tadi pas membuka facebook , grup "Koloni Seniman Ngopi Semeja Depok" mengunggah pengumuman kontributor puisi kado ulang tahun 75 untuk penyair senior, Mas Adri Darmadji Woko, yang akan berulang tahun pada 28 Juni 2026 mendatang. Hingga limit waktu ( deadline ) menghimpunkan puisi, terbilang ada 94 penulis puisi (pemuisi, penyair) yang mengirimkan puisi untuk selanjutnya dibungkus jadi kado terindah tuk hari spesialnya penyair sepuh  Mas Adri Darmadji Woko. Sayalah orangnya di urutan 94. Sosok penyair senior Adri Darmadji Woko  Kado puisi. Begitu narasinya. Daripada kado dalam bentuk material yang bisa musnah setelah momen ulang tahun berlalu, lebih afdal kado dalam bentuk buku. Isinya, ialah testimoni atau pendapat kawan-kawan yang berisi kenangan paling mengesankan. Kenangan mengesankan itu yang oleh kawan-kawan diungkapkan dalam bentuk tulisan bertajuk "pesan dan kesan" yang tak mesti berisi hal yang bernuansa suka cita, tetapi ada juga yang bernuansa duka l...

Puisi Ramadan

Pada tahun lalu (2025), Eki Thadan, pemilik penerbit metaforma internusa, menggagas penerbitan buku antologi puisi bertema Ramadan. Mengirimlah saya, cuma satu judul puisi. Lama kali menunggu, seperti tidak ada proses serta progres. Saya antara sabar menunggu dan pesimis terwujud. Yang jadi faktor sebab musababnya adalah karena Bung Eki Thadan sakit dan mesti menjalani dialysis (cuci darah) dua kali dalam seminggu. Saya maklum dan mengirimkan doa bagi kesehatannya. Di ambang hampir melupakan antologi puisi Ramadan tersebut, ternyata selesai juga layout -nya. Dibagikan pdf -nya. Buku antologi puisi Ramadan "Dalam Cahaya Ramadan" dari PERRUAS oleh 183 penulis. Oleh Bung Eki Thadan dikirimkan pdf hasil layout buku ke WhatsApp Grup yang dinamai "Antologi Sufistik" dengan anggota cuma 11 orang. Ternyata jumlah penulis yang tergabung dalam antologi ini sebanyak 22 orang. Ada penulis yang menyumbang cuma satu, ada yang dua, tiga bahkan empat puisi. Sampai akhirnya pada...

Hari Buku, Baca Buku

Selama dalam masa pemulihan kesehatan pasca-demam tipes yang menjadikan pola makan mesti menghindari yang enak-enak. Kendati tetap bisa keluar mencari sayur dan kebutuhan harian, setelah kembali ke rumah, tak banyak gerak yang saya lakukan selain duduk manis di depan laptop, menulis. Tentu, yang tak pernah tinggal adalah memroduksi tulisan untuk menyuapi blog ini setiap hari. Karena itu, saya butuh ransum yang akan saya suapkan. Dari mana mendapatkannya? Salah satunya adalah membaca. Seperti sudah pernah saya tulis di blog ini, yang saya baca tidak mesti buku. Saya baca juga sosial media. Sebagian buku yang ada di rak buku sayah Tetapi, selama istirahat pemulihan kesehatan, ada beberapa buku yang segel plastiknya belum dibuka, saya buka dan sekalian membacanya. Terutama empat hari belakangan, saya merasakan asyiknya membaca buku cerpen pilihan Kompas . Dari hasil membaca terbit ide untuk mengarang puisi, saya tulis di WA pribadi. Seperti yang sudah pula saya tulis di blog ini,...

Solilokui

Dalam hal membaca, di era digital ini, buku fisik seperti kehilangan pamor. Dan saya, akan tetapi, masih suka saja menyelipkan satu-dua eksemplar buku tipis ke dalam tas selempang yang sering saya bawa ke mana-mana ketika bepergian. Kendati nanti, pada akhirnya, tidak juga saya baca tersebab perhatikan teralih ke gawai, tentu saja lain persoalan. Pada gawai itu juga ujungnya kesenangan membaca saya berpindah dari (mestinya) buku yang ada dalam tas. Saya buka X (twitter), baca di situ. Ilustrasi|puisi dalam lagu|youtube Saya buka Threads, saya baca di situ. Pun, ketika pilih buka Instagram, saya baca di situ. Dari ketiga platform sosial media tersebut banyak sekali bahan bacaan yang saya temui dan membuat waktu saya tersita, tenggelam membaca. Dahaga baca hilang. Pagi ini, ada dua 'igauan' di Threads yang membuat asam lambung nyaris naik ke ulu hati. Pertama , soal saos Abang bakso yang ternyata 0% bahannya cabe. Agar ada sensasi rasa pedas dan merah warna cabe, semua hasil reka...

Pojok Baca Digital

Saya ke Samsat buat bayar pajak kendaraan bermotor 'kesayangan' yang kemarin saya servis dan cuci steam. Cek fisik tentu memakan waktu. Karena itu, saya bawa buku buat baca-baca mengisi waktu menunggu saat nama saya dipanggil kasir Bank Lampung. Ternyata di ruang pembayaran pajak ada pocadi milik Perpusnas. Pocadi (pojok baca digital) di ruang pembayaran pajak kendaraan bermotor, ini bernama Taman Kemala. Dan, saya baca seksama tulisan pada  stand banner , “Pocadi merupakan fasilitas pojok baca yang ditempatkan di pusat keramaian atau titik kumpul masyarakat sebagai upaya memberikan kemudahan akses informasi. Bilik pocadi di ruang pembayaran Samsat  Pojok baca digital ini difasilitasi oleh Perpustakaan Nasional (perpusnas). Ada dua rak buku (yang tidak penuh sesak oleh buku) pada bilik pocadi di ruang pembayaran samsat ini. Buku yang dipajang di rak terdiri dari beragam topik. Pengetahuan umum dan sastra. Ada beberapa buku karya Putut EA terpajang. Membawa buku ke mana-m...

Sebelum Terakhir

Pukul 14 lewat 2 menit (02:02 PM) datang kurir mengantar paket. Saya sudah bisa menebak dengan pasti bahwa yang diantar adalah buku “Sang Warior” karena memang sedang didistribusikan pada para penulis puisi gaek yang tergabung di dalamnya. Benar belaka, setelah saya terima, pada sampul paket terbaca jelas “Kosa Kata Kita” alias KKK, identitas sang penerbit yang menerbitkan buku Antologi Puisi Penyair 70-an (penyair berusia 70 tahun atau tepatnya 60 tahun ke atas) atau penyair kelahiran minimal tahun 1965. Sang Warior, The Seventies Selected Kenapa judul postingan blog kali ini Sebelum Terakhir? Karena buku ini adalah bagian dari antologi yang saya ikuti sepanjang tahun 2025. Bukan buku terakhir karena masih ada satu buku yang saya tunggu kedatangannya yang merupakan proyek lama. Sejak awal tahun 2025. Proyek nulis puisi bertema “Terang Bulan Tepi Lautan” yang puisinya saya kirim pada 8 Juli 2025. Admin yang mengampu proyek ini sibuk oleh kegiatan antologi lain, sehingga proyek ...

Perjalanan Batin

Akhir penantian antologi “HIJAU” selesai kemarin petang pukul 16.34 setelah Pak Pos meletakkan paket buku di atas meja teras dan mengirim WhatsApp . Even ini dihelat komunitas facebook Jejak Perjalanan Jiwa (JPJ) sejak Februari 2025. Ini adalah buku ke-3 yang diterbitkan oleh komunitas JPJ dikhususkan untuk memperingati Hari Pohon Sedunia. Temanya tentang pohon dan lingkungan hidup. Karena itu, judul buku "HIJAU." Hingga ditutup pada akhir November, terhimpun 53 penulis yang berkontribusi dalam penerbitan buku “HIJAU” ini. Isi buku meliputi esai sebanyak 6 dari 6 penulis, cerpen sebanyak 17 dari 17 penulis, serta puisi sebanyak 103 dari 49 penulis. Dengan tebal xxviii + 284 halaman, buku ini diberi kata pengantar oleh Gus Nas Jogja (H.M. Nasruddin Anshoriy Ch., sastrawan, budayawan, dan pengasuh Desa Kebangsaan Yogyakarta). Antologi "HIJAU" esai, cerpen, dan puisi  Sebuah kata pengantar (prolog) panjang dengan judul “Merayakan Hijau dengan Pesta Estetika” dan k...

Sixties Happy

Eufemisme (penggunaan kata atau frasa yang lebih halus) dengan kata lain penghalusan istilah. Sebenarnya, kata atau frasa lansia –singkatan dari lanjut usia– tidaklah terdengar kasar sehingga tidak perlu dihaluskan apalagi diampelas. Tapi, demi lebih terdengar santun, dipakailah istilah warior (warga senior) sebagai pengganti penyebutan lansia. Buku antologi yang ditujukan untuk penyair yang sudah berusia sepuh , ini semula khusus untuk yang berusia 70 tahun ( seventies ). Kemudian diturunkan tingkat “ketuaannya” menjadi 60 tahun ( sixties ). Saya yang berusia 60+ mendapat tiket untuk ikut serta. Saya kirim 5 judul puisi untuk dikurasi oleh tim kurator yang tentu lebih sepuh dari saya. Flyer dari semula, tersebutlah "the seventies" Pada flyer memang tegas dicantumkan frasa seventies , tapi yang tergolong berusia sixties boleh ikut. Setelah pengumpulan puisi sampai batas tenggat akhir ( deadline ), proses kurasi dilakukan dengan seksama. Agak lama menunggu kok tidak k...

Rahasia Bahagia Lansia (2)

Akrostik adalah seni menulis dengan menata huruf awal sedemikian rupa sehingga ketika dibaca secara vertikal akan membentuk sebuah kata, nama, frasa atau pesan tertentu. Cara ini digunakan menyampaikan ide secara kreatif. Puisi yang dibuat dengan bentuk akrostik, akan mencerminkan makna pesan yang disampaikan bila kita membaca secara vertikal huruf awal yang dirangkai sedemikian rupa. Ikut berpartisipasi dalam penerbitan buku antologi puisi “Rahasia Bahagia Lansia” saya mengirim tiga puisi mengikuti ketentuan yang disyaratkan. Dua puisi saya buat dengan bentuk akrostik dan satu puisi bebas. Ketiga-tiganya mengekspresikan simbol bahagia yang saya maknai sebagai sebuah karunia di masa lansia. Kendatipun memasuki fase usia lansia, sesiapa pun seyogianya mesti tetap merasa bahagia. Dua eksemplar buku "Rahasia Bahagia Lansia" Kemarin saat sedang ngantar istri belanja di Simpur Center sembari ngadem , pesan WhatsApp masuk dari kurir paket, menyampaikan kabar diimbuhi foto paket...

Etika Sosial, Norma Kemanusiaan

Hal kecil yang mungkin sepele atau memang benar sepele, tapi sangat menentukan nilai manusia dalam hal karakter dan etika sosial. Apa itu? Yaitu tenggang rasa dan tahu diri, rasa malu. Tidak sedikit orang di luar rumah abai terhadap tahu diri dan tenggang rasa. Sesuka hati menyerobot antrean di ATM, kasir, nerabas lampu merah atau kalau pun berhenti, berhentinya lebih maju dari garis batas, ada di zebra cross  sejatinya  hak milik penyeberang jalan. Mula cerita dosen UIM menyemprotkan ludah ke kasir minimarket, awal kisahnya karena merasa tersinggung oleh teguran kasir yang memintanya agar ia antre di belakang yang lainnya. Saat itu pengunjung minimarket memang sedang ramai karena malam natal. Hal itu bermula ketika si oknum dosen maju ke stan kasir sebelah yang diduganya kosong. Di swalayan atau minimarket memang sering ada kasir kosong seperti itu, saat pengunjung sepi. Ilustrasi, puisi Zabidi Yakub pada Antologi Sipakamase  Tersinggung karena disuruh supaya antre,...

WhatsApp Web

Saya agak keteteran buat membaca apalagi membalas chat di WhatsApp . Pasalnya, ponsel error dan belum sempat saya antar kembali ke service center yang khusus membawahi brand name ponsel saya. Jadi, saya mesti buka laptop untuk membaca dan membalas chat-chat melalui WhatsApp web . Contoh simpel, pesan pemberitahuan kurir yang mengantar paket buku “Kepak Sayap Bunda, Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah” yang diantarnya siang tadi dan meninggalkan pesan berikut foto buku yang diselipkannya di bawah blower Ac di dekat pintu rumah. Tak buka WA web, tak tahu saya. Biasanya diataruhnya di atas meja tamu di teras. Entah mengapa kok  yang sekali ini tadi tuh mesti diselipkannya di bawah Ac. Setelah membuka laptop dan membaca pesan itu, saya langsung membuka pintu dan mengambil itu paket buku , kemudian  langsung mengetikkan balasan atas pesannya kendati agak telat. Seperti sudah saya tulis di blog ini, ada 37 grup WhatsApp yang meringkus nama saya menjadi anggota. Grup-g...

Puisi Sipakamase

Tiba lagi satu buku antologi puisi yang masuk daftar tunggu. Antologi Puisi Indonesia Sipakamase. Ini berbicara tentang puisi bertema kearifan lokal Bugis-Makassar. Sipakamase  berarti memuliakan, Sipakatau berarti memanusiakan, dan Sipakalebbi yang atinya saling menghargai. Dikenal sebagai tiga falsafah hidup manusia suku Bugis-Makasaar, disingkat dengan falsafah “3S”. Sam Ratulangi, nama lengkapnya Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi, adalah seorang politikus, jurnalis, dan guru dari Sulawesi Utara yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah Republik Indonesia. Ia memopulerkan falsafah sitou timou tumou tou yang artinya bukan manusia siapa yang tidak memanusiakan manusia. Itu merupakan perluasan dari falsafah sipakamase  di atas. sipakamase (sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge) Falsafah sipakamase bisa dikristalkan menjadi sipakatau (memanusiakan), sipakalebbi (yaitu saling menghargai), dan sipakainge (saling mengingatkan). Dengan memedomani fals...

Anak Merah Putih (2)

Hari ini buku antologi cerpen dan puisi “Anak Merah Putih Tidak Takut Masa-lah” diluncurkan bersamaan dengan peringatan Hari Ibu tahun 2025. Buku besutan Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) ini diberi kata pengantar oleh Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Wamen PPPA), Veronica Tan. Saya ikut kedua-duanya, ya cerpen, ya puisi. Kesannya kok kayak kemaruk amat ya. Ah, nggak juga sih . Ikut satu atau dua, bebas. Sesuai ketentuan panitia, siapa pun yang berminat mengikutinya, boleh kirim naskah cerpen, puisi atau kedua-duanya, masing-masing cukup satu naskah. Jadi, kalau ikut dua-duanya, mengirim cerpen dan puisi. Ndilalah yo kok loro-loro atau kalihipun lolos kurasi sedoyo atau sedanten . Nah, lo , tak basa jawain . Sebenarnya, menghadiri peluncuran buku “Anak Merah Putih” ini menarik sekali, apalagi cuma di Jakarta.  Wong ke Banyuwangi atau Jember saja saya lakoni , apalagi cuma Jakarta. Akan tetapi, sayangnya saya pergi ke Jambi untuk Festival P...

Festival Puisi Etnik

Saya pikir, perjalanan ke Banyuwangi untuk menghadiri Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT), pada 24--26 Oktober 2024 atau ke Jember menghadiri Temu Karya Serumpun (TKS) 25--26 Oktober 2025, adalah perjalanan terjauh yang pernah saya tempuh. Ternyata bukanlah dua itu, melainkan ada lagi yang terjauh. Perjalanan terjauh yaitu yang saya tempuh tadi malam. Berangkat dari Bandar Lampung pukul 19:40, menuju Jambi untuk menghadiri atau ikut Festival Puisi Etnik Nusantara yang akan dibuka Sabtu (20/12) malam di Rumah Dinas Gubernur, dan ditutup besok malam, Minggu (21/12). Malam pembukaan Festival Puisi Etnik Nusantara di Rumdin Gubernur Jambi. Bagaimana mungkin, perjalanan ke Jambi yang terjauh? Karena dikunci kemacetan yang amat membagongkan . Pasalnya, pemicunya tak ada selain perilaku kendaraan yang nyodok jalur berlawanan arah, istilahnya maling jalur di kanan yang semestinya berkendara tetap di jalur kiri. Itu penafsiran saya untuk perjalanan terjauh dalam arti yang melelah. Sebenarnya pe...

Grup WhatsApp dan Buku (3)

Tadi malam (Rabu, 17/12) pukul 19:20 muncul lagi grup WhatsApp ke-37, “Depok Membaca” untuk memudahkan penyampaian info terkait buku antologi puisi Depok Membaca. Even ini sebenarnya sudah lama bergulir. Saking lama, sampai lupa ada kelanjutan atau tidak. Atau begini,  “s erius nggak, sih. ” Flyer even beredar di grup WhatsApp bulan Agustus 2025, deadline pengiriman naskah 30 September. Masuk bulan November, even ini diperpanjang ternyata demi menangguk jumlah peserta sebanyak-banyaknya. Dan, hingga grup WhatsApp “Depok Membaca” dibuat, 57 nama  tercatat  sebagai peserta . Artinya, even ini akan ada kejelasannya. Sayak kirim puisi ke e-mail  depokmembaca@gmail.com  tanggal 12 September, kemarin nama saya sudah nangkring di daftar peserta. Tambah grup WhatsApp, tambah buku jadinya. Tambah lagi pertemanan penyair dan kolaborasi dalam satu buku antologi puisi bersama. “Puisi Bagi Korban Bencana Sumatera” digagas media online litera.co.id, tinemu.com, @info...

Grup WhatsApp dan Buku (2)

Ini grup WhatsApp ke-36. Seperti saya posting di blog ini (24/11) berjudul “Grup WhatsApp dan Buku” perihal grup WA ke-33. Lalu, ada lagi-ada lagi grup WA baru seiring akan lahirnya buku-buku antologi puisi yang saya ikuti yang ndilalah   puisi saya lolos kurasi. Alhamdulillah, berkah. Selalu ada yang baru. Selumbari (Senin) jelang pergantian waktu ke Selasa (dini hari) tetiba muncul satu grup WA baru memerangkap nama saya sebagai anggota. Nama grupnya “Puisi Peduli Sumatera” yang meng- invite secara bersinambung nama-nama penulis puisi yang puisinya dinyatakan lolos kuratorial dewan kurator. cover buku "Tanda Cinta Bagi Korban Bencana Sumatera" | foto: arahmerdeka.com | 36 grup WA ini, tidak semuanya grup penulis puisi. Ada grup keluarga, grup alumnus sekolah, alumnus Himpunan Mahasiswa Islam, alumnus kerabat kerja di Koran, grup RT, Takmir Masjid. Isinya macam-macam, tak melulu tentang puisi, diselundupkan juga berita-berita politik dan hal ihwal yang lucu-lucu. Kendati pe...