Puisi untuk buku antologi ini saya kirim 8 Juli 2025, bukunya baru saya terima 2 Juni 2026 pukul 13:14 WIB. Hampir saja genap 1 tahun lamanya proses buku ini dari mulai pengumpulan karya, kurasi, layout, cetak, dan terbit jadi buku.
Mengapa sedemikian lama? Entahlah. Yang bisa
saya kira-kira jawabannya, ialah karena PJ even ini admin di beberapa komunitas
sastra yang sepanjang tahun 2025 hingga 2026 ini giat sekali menyelenggarakan
even nulis bersama.
![]() |
| Buku Terang Bulan Tepi Lautan |
Agak lupa saya berapa even nulis puisi yang
saya ikuti sejak 2025 yang kesemua bukunya sudah nagkring di lemari buku. Sementara buku Terang Bulan Tepi Lautan ini, baru selesai
setelah kegiatan PJ-nya di beberapa komunitas agak mereda.
Membuat buku kumpulan puisi bersama begini
memang tidak tentu waktu selesainya. Yang paling membuat lama prosesnya adalah
ketika ‘menjaring’ uang pengganti ongkos cetak. Ada yang cepat transfer,
ada yang lemot minta ampun.
Memang betul, keadaan ekonomi para peserta
nubar (nulis bareng) puisi, esai atau cerpen tidak bisa diterawang dari
kejauhan. Tapi, sepertinya tidak kere-kere amat. Ada yang berlatar belakang
pendidik yang berarti punya gaji tetap.
Ada akademisi, bahkan. Artinya, tidak
susah-susah amat untuk menyegerakan transfer uang pengganti ongkos cetak. Tapi,
mungkin kesibukan sebagai pendidik atau akademisi itu, membuat lupa sehingga
mesti di-tag di grup WhatsApp.
Pendidik, akademisi atau profesi lainnya
yang memungkinkan untuk mendapatkan penghasilan tetap, sangat jamak di antara
para sastrawan. Hal itu bisa dibaca, bahwa bagi mereka, menjadi sastrawan
hanyalah profesi sampingan.
Kembali ke buku TBTL –Terang Bulan Tepi
Lautan– ternyata kendati lamanya hampir 1 tahun, bukan ISBN yang ditempelkan di
sampul belakangnya, melainkan QRCBN. Apa beda kedunya? ISBN standar global,
QRCBN standar nasional.
Keduanya sama-sama memiliki fungsi sebagai pintu atau akses untuk mengidentifikasi (proses mengenali identitas) kepemilikan dan
informasi sebuah karya. Otoritas memilih salah satu di antara keduanya, ada di
tangan penerbit buku.
Artinya, apakah sebuah karya akan
menggunakan ISBN atau QRCBN, tergantung pada penerbitnya. Bila penerbit susah
mendapatkan ISBN, tak ada salahnya menggunakan QRCBN. Aforisme ‘tak ada rotan,
akar pun jadi’ kiranya layak dipinjam.

Komentar
Posting Komentar