Negeri-negeri sedap. Begitu yang tersirat dalam hati saya ketika tahu duduk soal bagaimana asal mula ia tahu-tahu sudah di rumah sakit. Ceritanya, ia jalan pagi, saya mengistilahkan jogging. Sesampainya depan klinik pratama IDSA, penglihatannya seperti berkunang-kunang. Ia pun tanggap dan langsung saja masuk ke dalam klinik, menyampaikan keluhannya kepada dokter jaga.
Dokter mempersilakan ia tidur di examination bed (ranjang periksa) dan dokter mengambil alat tensi darah. Sekembalinya dokter, mendapati ia sudah pingsan. Langsung oleh klinik dirujuk ke RS Abdul Moeloek. Pukul 02 dinihari baru sadar dari pingsan itu. Berarti itu kondisi koma, bukan sekadar pingsan biasa menurut bahasa awam. Syukur Alhamdulillah akhirnya beliau sadar, kalau tidak sadar, piye Jal.
Beliau adalah teman jemaah salat di masjid. Baru kisaran satu tahun ini aktif berjemaah. Tubuhnya memang tambun, bobotnya di atas 90 kg. Sudah memegang riwayat kesehatan sebagai penyintas diabetes melitus dengan gula darah di atas 200 dan saat pingsan itu tensi darahnya 180 mmHg. Sebuah kondisi yang mengkhawatirkan. Ini warning buat orang bertubuh tambun, hati-hati apabila jogging.
Dari obrolan dengan orang rumahnya, saat ibu-ibu rukun tetangga menengok setelah beliau sehat dan pulang dari RS, orang rumahnya kesel banget karena si beliau ini gak mau nurut bila diomongin. Merokok jojong (konsisten), makanan berlemak dan bersantan hajar, apalagi Iduladha kebagian daging kambing dari masjid. Pernah beliau cerita ke saya, nyoba lontong babat di tikungan bawah Blok V. "Enak" menurutnya.
Saya penasaran terhadap rasa lontong babat itu dan merasa muskil terhadap keberaniannya yang agak berisiko mengicip-icip makanan yang memicu tensi darah dan kadar gula darah melonjak. Sekadar buat memadamkan penasaran, saya coba berspekulasi membeli lontong babat itu. Di luar ekspektasi saya. Ya, namanya buat memadamkan penasy. Sekarang sang penjual lontong babat itu sudah pindah rumah.
Komentar
Posting Komentar