Langsung ke konten utama

Menganggapnya Anonim

Baru saja pulang tahlilan di RT sebelah, hari kedua. Yang berpulang ke Rahmatullah ini seorang bapak pegawai BUMN–byar pet–. Masih muda, belum ada 50 tahun. Selama ini kami belum pernah melihat wajahnya. Kok bisa? Karena ia bukan jemaah masjid dan belum pernah ketemu saat ia keluar rumah. Begitu anggapan awalnya.

Anggapan sebelum tahu sejelasnya. Akan mudah mengenal tetangga, apalagi berbeda RT bila sering bertemu di masjid atau sedang takziah tetangga meninggal. Bukan saya sendiri, melainkan teman-teman jemaah masjid juga bertanya-tanya, beliau yang meninggal ini yang mana sih orangnya?

Sinyal duka bagi tetangga 

Ada satu dua tetangga yang tidak salat berjemaah di masjid, tapi karena sering ketemu dan bertegur sapa, maka jadi kenal bahkan akrab. Akan tetapi, agak laen jadinya bila hingga namanya disebut di TOA masjid saat wafat, banyak yang tidak tahu orangnya yang mana. Anggapan sebagai anonim.

Kendati begitu, saat namanya diumumkan di TOA masjid kemarin pukul 03:00 PM setelah kabar wafatnya beliau pada pukul 02:30 PM sampai ke Pak RT tempatnya bermukim, selepas Asar kami dari masjid langsung berjalan menuju ke rumah beliau dengan maksud hendak bertakziah.

Sayangnya jenazahnya belum dipulangkan dari RS. Malamnya, kendati belum dimakamkan, sehabis Isya tahlilan hari pertama digelar. Malam ini tadi yang kedua dan besok niga harinya. Tahlilan bagi orang mati dimaksudkan untuk mendoakan si mayit dan menghibur ahli musibah dan keluarga.

Mungkin di tempat lain tidak umum menggelar tahlilan dengan alasan tertentu. Atau ekstremnya menganggapnya perilaku bid’ah. Tapi, di banyak tempat, terutama di Jawa Timur, sangat umum ada kenduri memperingati kematian dari malam pertama hingga niga, nujuh, dan patangpuluh.

Bahkan, tradisi ngehol (haul) atas satu tahun meninggalnya sesorang yang disebut mendak pertama atau mendak pisan, jamak dilakukan oleh masyarakat perdesaan. Nah, saya juga menemui ada keluarga yang menggelar tradisi ngehol (haul) di komplek perumahan kami, perumahan BKP.

Salah satu, adalah imam masjid kami yang wafat pada 6 Mei 2023. Keluarganya menggelar haul (ngehol) pada 9 Mei 2024 untuk memperingati satu tahun kepulangan beliau (mendak pertama atau mendak pisan). Salah dua, adalah nyeribu hari Bapaknya Busi (kolega istri di BKP Blok U). 

Kembali ke cerita yang jadi awal tulisan, setelah ketua RT sebagai pemandu acara tahlilan malam pertama mengeja namanya, sebagian pentakziah yang tadinya menganggapnya anonim, barulah tahu nama sebenarnya berikut bin si beliau yang wafat. Oh, itu tho namanya. Tadinya anonim.

Tadi pagi saat kembali takziah, lebih jelas lagi namanya terbaca di papan bunga yang dikirim oleh institusi tempatnya bekerja. Dari obrolan bisik-bisik, rupanya beliau ini menderita sakit sudah sekitar 2–3 tahun. Oalah… pantas saja belum atau tidak pernah melihat sosoknya.  


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

Jati Diri

Bunga rampai esai yang saya culik dari blog ini setali tiga uang dengan sehimpun puisi, berisi sama-sama 65. Yang sehimpun puisi berisi 65 judul puisi dan yang bunga rampai berisi 65 esai. Satu esai mengulas perihal pesan Ayah kepada kami bertiga anak lelakinya bahwa, silakan hidup di mana saja dan menikah dengan siapa saja asal hindari yang berasal dari dua suku, Ayah sebutkan sukunya, xxxx dan yyyy. Ketika ragil kami menjalani hubungan asmara dengan cewek dari suku yang (satunya) Ayah sebutkan, saya cuma bisa menelan ludah. Akan tetapi, doa supaya ia dipertemukan dengan calon pendamping, wanita yang Sholehah, terus saya langitkan setiap bakda salat. Apa yang Ayah pesankan kepada kami perihal suku yang ditabukan itu pernah saya singgung pada anak-anak. Ada postingan di  blog  ini saya menyoal “jalan jodoh” yang berliku-liku. Tentang menemukan atau ditemukan. Tentang bibit , bebet , bobot . Bibit itu menyangkut garis keturunan, bebet menyangkut status sosial ekonomi, dan...