Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan.
Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada.
Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya.
Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awal buku Yaa Siin yang mencantumkan bionarasi almarhum/almarhumah yang wafat berikut foto. Si pengusaha percetakan buku Yaa Siin tinggal mendesain sampul saja. Jika begitu, maka akan terhindar dari dakwaan plagiasi.
Sebenarnya mudah saja bagi pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin mengabulkan permintaan klien buku Yaa Siin untuk dibuatkan puisi. Bagaimana? Serahkan saja kepada AI (Akal Imitasi) membuatnya. Hanya dengan memasukkan promt, dalam sekian detik kemudian jadi deh puisi yang diinginkan.
Tapi. Ada tapinya dong. AI (Artificial Intellegence) yang saya plesetkan menjadi Akal Imitasi, memang piawai menyusun struktur kalimat, membangun paragraf, menyelaraskan rima. Akan tetapi apa yang diciptakan AI tidak bersumber dari apa yang ada dalam pikiran dan perasaan si klien buku Yaa Siin.
Kehilangan orang yang begitu dicintai, siapa pun itu. Apakah ayah, ibu, kakak, adik atau kekasih tersayang, tentu membuat pikiran kosong dan perasaan sedih berkecamuk dalam hati. Pikiran dan perasaan sedih itu jadi inspirasi bagi benih kata dalam menciptakan puisi. Dengan begitu, puisi yang ditulis betul-betul hasil permenungan, mengandung ungkapan rasa.
Komentar
Posting Komentar