Langsung ke konten utama

Puisi di Buku Yaa Siin

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada buku Yaa Siin yang oleh keluarga almarhum atau almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang sendiri dengan narasi ungkapan kesedihan ditinggalkan.

Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya 'mudah' dan 'meriah' pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada.

Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Pasalnya, mereka hanya menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang membuat buku Yaa Siin padanya.

Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awal buku Yaa Siin yang mencantumkan bionarasi almarhum atau almarhumah yang wafat berikut fotonya. Si pengusaha percetakan buku Yaa Siin tinggal mendesain sampulnya saja. Kalau begitu akan terhindar dari dakwaan plagiasi.

Sebenarnya mudah saja bagi pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin mengabulkan permintaan klien buku Yaa Siin untuk dibuatkan puisi. Bagaimana? Serahkan saja kepada AI (Akal Imitasi) untuk membuatnya. Hanya dengan memasukkan promt, dalam sekian detik kemudian jadi deh apa yang diminta.

Tapi. Ada tapinya dong. AI (Artificial Intellegence) yang saya plesetkan menjadi Akal Imitasi, memang bisa menyusun struktur kalimat, membangun paragraf, menyelaraskan rima. Akan tetapi apa yang diciptakan AI tidak bersumber dari apa yang dipikirkan dan dirasakan si klien buku Yaa Siin.

Kehilangan orang yang dicintai, siapa pun itu. Apakah ayah, ibu, kakak, adik atau kekasih tersayang, tentu membuat pikiran dan perasaan sedih berkecamuk dalam hati. Pikiran dan perasaan sedih itu jadi inspirasi bagi benih kata dalam menciptakan puisi. Dengan begitu, puisinya mengandung ungkapan rasa.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lolos Kurasi, Wak!

Tadi malam, pulang takziah tahlilan dua hari jemaah masjid yang wafat 30 Mei lalu, pukul 20:32 masuk pesan WhatsApp dari teman penyair di Banjarmasin, ia meng- share- kan pengumuman hasil kurasi antologi puisi PPN XIV Aceh. "Alhamdulillah... puisi kita lolos kurasi untuk antologi PPN XIV Aceh," tulisnya di pesan WhatsApp penuh perasaan syukur.  "Iya, alhamdulilah, barusan dua menit lalu saya lihat di Instagram," jawab saya menanggapi. Teman saya, penyair di Banjarmasin ini tak punya akun facebook dan Instagram. Tapi, yang bikin saya heran, ia bisa dapat flyer pengumuman kemudian menge- share -kannya ke saya. Dari manalah coba? Bisa jadi dapat share -an dari teman lain lalu meneruskan ke saya. Tidak berhenti di meneruskan ke saya saja, ia juga meneruskan ke beberapa grup WhatsApp yang ia ikuti. Bagus juga sih , biar teman penyair lain cepat mendapat tahu pengumuman dan cepat merasakan kegembiraan. Atau mungkin mengunggahnya ke akun facebook atau Instagram seperti te...

Sastra Jalan-jalan

Siang baru saja melanjutkan perjalanan menuju barat, setelah istirahat sejenak di waktu zuhur, yang ditandai Matahari tepat di atas kepalanya. Tak lama sekira pukul 14:12 Kakang Paket datang mengantarkan kiriman buku dari Taman Inspirasi Sastra Indonesia. Komunitas sastra disingkat TISI pimpinan Bang Octavianus Masheka, ini baru saja usai merampungkan proses produksi dan terbitnya buku antologi “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” yang merupakan puisi bahasa Indonesia dan bahasa daerah masing-masing penulisnya. Buku-buku yang joss tenan Ada 100 orang penulis puisi dwi bahasa yang terhimpun di dalam buku bersampul merah menyala dengan gambar sampul siluet wajah Ibu yang di wajah, leher, dan dadanya dihiasi taburan wajah penulis puisi yang sengaja di- crop tertinggal bagian dada dan kepala saja. Sebelum buku “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” terlebih dahulu tiba di rumah buku “Zamrud” yaitu antologi puisi Dari Negeri Poci seri ke-15 yang saat datang kebetulan saya sedang tidak berada di rumah ...

Pulang ke Rumah Sunyi

Ramalan cuaca yang muncul di layar hp menyatakan hari cerah. Alhamdulillah, batin saya. Kendati tidak berencana ke mana-mana, menyiasati cuaca penting juga. Sebagai kompas atau pedoman bahwa cuaca akan baik-baik saja atau sebaliknya akan merundung kita. Pulang jemaah subuh di masjid, saya mesti buka hp . Bukan untuk scroll memeriksa media sosial, melainkan untuk ngaji Surah (tertentu) yang rutin saban pagi (subuh) saya baca. Surah apakah itu? Hmm meh… mau tahu aja apa mau tahu banget ? Puisi "Pulang ke Rumah Sunyi" Gimana kalau saya kasih tahu isi, mau nggak ? Itu camilan favorit yang kami jadikan teman ngopi. Tapi, pagi ini belum ada penjual gorengan yang buka lapak (gerobak). Beruntung Iman Jaya, toko kue jajanan pasar di Kemiling sudah buka. Saya memang hendak ke ATM buat ngasih tali asih untuk anak konco lawas yang kemarin senja ijab kabul di Omah Pakem, Jogja dan dilanjutkan resepsi malam harinya bakda Magrib. Saya tak hadir, hanya bisa kasih doa dan ucapan se...