Akrostik adalah seni menulis dengan menata huruf awal sedemikian rupa sehingga ketika dibaca secara vertikal akan membentuk sebuah kata, nama, frasa atau pesan tertentu. Cara ini digunakan menyampaikan ide secara kreatif. Puisi yang dibuat dengan bentuk akrostik, akan mencerminkan makna pesan yang disampaikan bila kita membaca secara vertikal huruf awal yang dirangkai sedemikian rupa.
Ikut berpartisipasi dalam penerbitan buku antologi puisi “Rahasia Bahagia Lansia” saya
mengirim tiga puisi mengikuti ketentuan yang disyaratkan. Dua puisi saya buat dengan
bentuk akrostik dan satu puisi bebas. Ketiga-tiganya mengekspresikan simbol bahagia
yang saya maknai sebagai sebuah karunia di masa lansia. Kendatipun memasuki fase
usia lansia, sesiapa pun seyogianya mesti tetap merasa bahagia.
![]() |
| Dua eksemplar buku "Rahasia Bahagia Lansia" |
Kemarin saat sedang ngantar istri belanja di Simpur Center sembari ngadem, pesan WhatsApp masuk dari kurir
paket, menyampaikan kabar diimbuhi foto paket ditaruhnya di bawah blower Ac
dekat pintu. “Terima kasih,” balas saya. Setelah saya buka, isi buku bukan
melulu puisi, melainkan juga ada cerpen. Tidak semua penulisnya lansia, ada masih
remaja menceritakan orang tuanya yang sudah lansia.
Yang menarik, satu cerpen menceritakan seorang kakek bernama Marthen yang berusia 69
tahun tapi masih bisa membaca tanpa bantuan kacamata. Sepeninggal istrinya, kakek
yang tinggal di Desa Rainyale, Sabu Barat, Nusa Tenggara Timur, ini menemukan
kesenangan baru, yaitu: membaca. Itu
ia jadikan cara melupakan kesedihan dan menemukan kebahagiaan di masa lansia
melalui cerita di buku.
Anaknya yang bekerja di Kota Kupang kemudian rajin mengirimkan buku-buku cerita
kepadanya. Melaui bacaan, kakek Marthen menemukan resep bahagia. Sejak itu ia
menganggap bahwa bahagia itu begitu sederhana. Hanya dengan membaca buku apa saja, ia menemukan
“teman mengobrol” dalam bentuk lain sebagai pengganti mengobrol dengan istrinya
yang dahulu mereka jadikan sebuah kebiasaan sehari-hari.

Komentar
Posting Komentar