Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label penyair mati

Kematian Berkesiur

Lagi, kabar kematian berkesiur seperti tiupan angin pagi yang lembab oleh hujan semalam. Aloeth Pathi (Noer Lutfi) divisi sastra Lesbumi PCNU Kabupaten Pati, pagi ini di grup WhatsApp terkabar meninggal dunia. Dan, lafaz ' Innalilahi wa inna ilaihi raji'un ' bertumbuhan memekarkan kembang duka. Penyair kelahiran Pati, ini menyematkan nama kota tempatnya lahir menjadi nama pena dalam aktivitas kesastraan. Mengingatkan saya pada sosok Akhlis Suryapati yang juga kelahiran Pati dan menyisipkan kata 'pati' pada nama belakangnya. Dulu wartawan Minggu Pagi, kini Akhlis dikenal sebagai sutradara. Ada lagi penyair asal Pati menyematkan 'pati' pada namanya, yaitu Ragil Suwarno Pragolapati. Nama dan puisinya kerap dibaca dalam acara "Apresiasi Sastra" di radio Retjo Buntung, Jogja, tahun 1980-an. Balik dari Malang 1990, saya baca di KR, RSP dinyatakan moksa di pantai laut selatan saat laku yoga sastra . Sebelumnya ada seorang penyair laskar PMK (Puisi ...

Datang dan Pergi (2)

Saya mempergunakan lagi judul di atas dengan menambahkan angka 2 dalam tanda kurung, setelah mempergunakannya di postingan blog ini pada 10 Mei. Tentu, saya mesti merevisi judul di tanggal 10 Mei itu dengan menambahkan angka 1 dalam tanda kurung sebagai garis sambung keterkaitan judul itu. Teman lama saya yang masih bertungkus lumus di dunia media siber atau media daring, meminta puisi saya untuk dimuat di media yang ia kelola, “Lumayan buat nambah-nambah halaman,” alasannya. Media dengan kru lapangan terbatas, memang susah-susah gampang menangguk bahan berita buat isi halaman. Itulah kenapa banyak media daring di daerah berafiliasi dengan media besar di ibu kota Jakarta (Jakarta masih ibu kota, ya) setelah sengketa hukum IKN di MK ditolak oleh Majelis Hakim MK lewat putusan Nomor.71/PUU-XXIV/2026 yang menegaskan bahwa Daerah Khusus Jakarta (DKJ) tetap berstatus sebagai ibu kota negara. Dengan berafiliasi dengan media besar di Jakarta atau kota besar lainnya (Bandung, Semarang ata...

Kabar Suka dan Duka

Setelah tadi malam dapat kejutan hasil kurasi antologi untuk PMK (Puisi Menolak Korupsi) bertema "MBGendam" yang ditaja Sosiawan Leak. Sore ini mendapat kejutan lainnya, saya lolos kurasi antologi bertema "Belajar Tidak Korupsi, Berhenti Main Akal-akalan" dari Kindai Seni Banjarmasin melalui akun facebook -nya. Lolos kurasi dua even ini, bauran perasaan senang jadi pengantar tidur. Ada irisan antara MBGendam dan Belajar Tidak Korupsi, Berhenti Main Akal-akalan, yaitu sama-sama bertema anti-korupsi. Puisi yang senapas seperti ini sekilas tidak begitu susah mengarangnya. Setelah even yang pertama, "MBGendam" selesai, masih ada sisa-sisa spirit mengarang puisi untuk even kedua, "Belajar Tidak Korupsi, Berhenti Main Akal-akalan". Jadi, langsung saya merangkainya. Salah satu lembar lampiran pengumuman hasil kurasi "Antologi Kindai 2026" Untuk "MBGendam" saya kirim 5 puisi via e - mail , belum karuan berapa puisi yang bakal masuk ke...

Kabar Penyair Pergi (3)

Lagi, ada kabar duka, penyair berpulang. Iyut Fitra yang baru belakangan saya sadar kalau ia seorang pria. Berulang kali saya ketemu puisinya pada Kompas Minggu atau Republika  Ahad dengan asumsi ia seorang wanita. Rupanya itu adalah nama pena dalam berkarya yang diambil dari nama lengkapnya Zulfitra. Di Threads juga ada yang berkomentar, menyangka kalau Iyut Fitra seorang wanita. Artinya, bukan saya seorang yang dikecohkan oleh namanya waktu sering diperjumpakan dengan puisinya di dua koran di atas. Karena saya rajin beli Kompas dan Republika edisi hari Minggu, jadi sering bertemu dengan puisinya Iyut Fitra. Chairil Anwar dalam buku "Si Bintang Jalang" Seandainya sejak mula ia menggunakan nama Zulfitra, tanpa membaca bionarasi yang menjelaskan tempat lahirnya, niscaya saya akan menebak pastilah berasal dari Sumatra. Nama dengan huruf “Z” (Zul atau Rizal) kental dipergunakan oleh orang Sumatra terutama pada suku Melayu Riau, Minang, dan Lampung. Iyut Fitra meninggal ...

"Untung Ada Saya"

Mbah Google itu nolong banget . Apa yang tak kita ketahui, bila ditanyakan kepada ‘beliau’ niscaya akan diberi jawaban dengan sejelas-jelasnya olehnya. Bisa dikatakan nggak cuma nolong, tapi juga ngemong dan serba tahu sesuatu atau bagai macam hal ihwal yang mungkin amat awam bagi kita. Ada kabar lelayu di grup WhatsApp perihal kepulangan seseorang yang dari namanya masih awam bagi saya. Sejauh ingatan saya, belum pernah mendengar nama apalagi profesinya. Karena kabarnya tersiar pada WAG komunitas sastra, tentu ia seorang sastrawan juga. Ilustrasi | credit title: SlashGear | Saya langsung googling mencari tahu. Mbah Google menjelaskan kalau beliau dijuluki sebagai dedengkot Teater Bulungan (ia lulusan di SMA VI Jalan Mahakam 1966) yang pada Maret ini genap berusia 78 tahun. Dikatakan juga ia jebolan FISIP UI 1975. Mafhumlah saya kalau ia adalah teaterwan yang kegiatannya itu tak terpisahkan dengan lakon berdasarkan naskah cerita yang beririsan dengan sastra. Dijelaskan pul...

Kabar Penyair Pergi (2)

Lagi, penyair berpulang. Hafney Maulana, penyair kelahiran Sungai Luar, kabupaten Indragiri Hilir, Riau, tahun 1965. Wafat Selasa, 31 Maret 2026. Berarti ia berpulang ke Rahmatullah dalam usia 61 tahun, sudah masuk kategori warior (warga senior) yang ditetapkan oleh Yayasan Dari Negeri Poci, waktu menginisiasi antologi “Sang Warior – The Seventies Selected" diterbitkan Kosa Kata Kita, Februari 2026. Buku “Sang Warior” saya terima hari Minggu, 29 Maret 2026 pukul 14:02 WIB atau 02:02 PM. Apakah “Sang Warior” adalah buku antologi terakhir yang memuat puisi almarhum Hafney Maulana? Entahlah. Saya juga tidak tahu, apakah buku “Sang Warior” sudah sampai ke tangannya atau masih dalam perjalanan dari Jakarta menuju alamat rumahnya? Menjadi sebuah tanda tanya besar yang ditinggalkannya berpulang. Ini seperti ketika Drs. Abdul Karim, M. M. (Abah Karim) berpulang pada 29 Januari 2026. Penyair asli Tanah Laut, Kalimantan Selatan, ini dalam setiap karya puisi suka menggunakan nama pena Ok...

Kabar Tengah Hari

Satu lagi penyair pergi, berpulang, berpindah alamat, di bulan baik, bulan penuh Rahmat, Maghfiroh, ampunan serta pembebasan dari api neraka ( itkum min annaar ). Bulan Ramadan kariem. H. Sukardi Wahyudi, penyair yang pergi di tengah hari. Dikabarkan istri dan anaknya melalui pesan WhatsApp  Grup tempat Pak H. Sukardi Wahyudi bergabung. Kabar tengah hari yang mengagetkan. Sukardi Wahyudi  Disampaikan istri dan anaknya menggunakan nomor WhatsApp -nya Pak Sukardi. Sontak ucapan dukacita, belasungkawa dan rasa kehilangan teman menyair disampaikan menanggapi kabar tengah hari kemarin. Buku "Depok Membaca" kemarin petang diantar Mr . Postman ke alamat rumah minimalis kami. Di buku ini, saya dan Pak Sukardi Wahyudi berpuisi bareng . Ada juga di buku lainnya, pernah juga dipersatukan. Saya dan Pak Sukardi Wahyudi tergabung bersama di dalam 7 WAG, yaitu: Ruang Sastrawan Indonesia, Peserta Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT), Membaca Depok, Bahasa Ibu Bahasa Darahku, Jambore Sastra...

“Berpulang tanpa Utang”

Beruntungnya tidak keluar grup WhatsApp even menulis puisi buat antologi, itu salah satunya tidak kehilangan informasi baik dan tidak atau kurang baik. informasi baik, misalnya, adanya even baru atau lanjutan untuk menulis bareng (nubar) lagi. Informasi tidak atau kurang baik, seperti halnya kabar duka bila ada di antara penyair (teman nubar) yang berpulang. Kemarin saya hanya menyinggung satu nama penyair yang berpulang, ia adalah Drs. Abdul Karim, M.M. alias Abah Karim alias Oka Miharzha S (nama pena), penyair dari Tanah Laut, Kalimantan Selatan yang juga menjadi Penasihat di Dewan Kesenian Tanah Laut. Karena pagi kemarin, memang baru namanya yang menghiasi grup WhatsApp perihal kabar duka (ada di beberapa grup). Ucapan dukacita Koperasi Insan Sastra Indonesia  Padahal, Mas Oki Tadhan (Edi Kayatno) yang berpulang pada pukul 07.21 AM (WIB), tapi kabar duka berpulang itu baru disebar pada grup WhatsApp “Antologi Sufistik” tepat pukul 12.08 AM (WIB). “Antologi Sufistik” adal...

Belum Ia Baca

Tadi malam rampung saya membaca 103 puisi dari 49 pemuisi (termasuk saya) dalam buku “HIJAU” yang hampir kesemuanya menarasikan hutan, pohon, hijau, melestarikan alam serta bencana apabila hutan gundul karena kayu ditebangi secara destruktif. Pagi ini, kabar duka disampaikan admin di WhatsApp Grup (WAG) kontributor "HIJAU" bahwa satu penulis dalam buku ini berpulang. Ia bernama asli Drs. Abdul Karim, M.M. (Abah Karim) dan dalam tiap karya tulis memakai nama alias (nama pena) Oka Miharzha S. Ucapan dukacita Dewan Kesenian Tanah Laut  Ucapan belasungkawa dan doa semoga beliau husnul khotimah disampaikan teman-teman di WA grup. Yang membuat saya sedikit masygul, bahwa buku “HIJAU” jatah untuknya belum sempat dikirimkan admin/panitia karena beliau pesan kaos juga. Akan dikirim bersama. Dengan begitu, berarti 3 judul puisi karyanya yang ada di buku “HIJAU” belum sempat ia baca setelah termuat di halaman buku (halaman 193–195). Kendati sudah dibacanya pada saat menulisnya, na...

Fase-fase Dalam Hidup Manusia

Hari ini ada dua perayaan dalam hidup manusia yang satu sama lain berkaitan karena berada dalam siklus waktu yang berangkai. Perayaan yang  pertama , yaitu walimatul urusy yang diselenggarakan tetangga beda RT. Perayaan kedua , menyempurnakan jenazah seorang yang meninggal dunia bagi keluarga yang dirundung musibah duka. Dalam hidup manusia, akan ada pada fase perayaan-perayaan berkait dan berangkai. Mulai dari lahir, menikah, dan meninggal. Janin yang lahir dalam wujud bayi akan sampai pada fase jadi dewasa lalu menikah. Hasil pernikahan itu membuahkan janin dan dilahirkan dalam wujud bayi. Di antara fase-fase itu, meninggal datang menyelinap sebagai tamu. Ilustrasi | foto: Surau.co Bagaimana tidak dianggap tamu. Ia (maut) datang sembarang waktu. Tidak ada sesiapa pun yang bisa menerka kapan yang namanya meninggal/mati akan datang bertandang kepada diri seseorang. Sehingga di antara fase-fase lahir, menikah, dan meninggal, maka meninggallah yang tidak bisa direncanakan seperti...

Kematian Itu (2)

Terbaca kabar duka di laman facebook Komunitas Dari Negeri Poci (DNP) pukul 08:33. “Telah berpulang ke Rahmatullah, Drs. Ahmad Hadi, M.Pd. (Hadi AKS) pada hari Rabu, 24 Desember 2025 pukul 01.00 WIB di RSUD Lembang. Komunitas dan Yayasan DNP mendoakan, semoga amal ibadahnya diterima di sisi Allah SWT serta diampuni segala dosa, dan diberi tempat terbaik di sisi-Nya.” Membuat saya tersentak, namanya tak asing. Teman ke UWRF 2023. Hadi AKS adalah penyair Poci yang karyanya dimuat dalam antologi puisi KULMINASI (KKK, 2023). HADI AKS lahir 16 Mei 1965 di Citapis, pesisir Pandeglang, Banten. Menulis sejak tahun 1986 dalam dua bahasa, Sunda dan Indonésia. Sajak-sajaknya dalam bahasa Sunda mendapat penghargaan Hadiah Sastra LBSS (1996, 2004) dan Hadiah Sastra DK Ardiwinata (1997). Buku hasil karyanya: Ombak Halimun (2002) dan Tembang Matapoé (2021), serta  Surat ti Palmira (2022). dari kiri ke kanan: Sunarko Sodrun Budiman (sastra Jawa), Saut Poltak Tambunan (sastra Batak), dan ...

Duka Kami

Berdenyar hati melihat banjir bandang menerjang Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Lebih sedih lagi tatkala Datuk Asrizal Nur, pimpinan Perkumpulan Rumah Seni Asnur (PERRUAS) mengabarkan, bahwa salah seorang penulis puisi etnik nusantara bernama Fitria wafat karena terhanyut arus banjir bandang yang beringas di Aceh itu. Karena ada dua nama Fitria sehingga belum terkonfirmasi Fitria yang mana yang menjadi korban banjir bandang tersebut. Ucapan duka dikirim berantai di grup whatsapp puisi etnik nusantara. Duka kami semua peserta menulis puisi etnik nusantara tak tepermanai. Lebih kental lagi rasa berdukanya, tentulah semua penulis yang berasal dari Provinsi Aceh. Buku antologi pusi etnik nusantara Barangkali saja yang bersangkutan ada niat atau rencana hadir pada saat peluncuran buku nanti di Jambi. Rencana yang bukan saja batal, melainkan sama sekali tak terealisasi alias pupus. Begitulah kegalibannya, para manusia hanya bisa memetakan rencana dan mencoba menjalaninya. Akan t...

Kabar Penyair Pergi (1)

Satu per satu kabar penyair berpulang tersampaikan melalui WhatsApp Grup. Ada puluhan WAG yang meringkus nama saya ke dalamnya sebagai anggota. WAG yang jadi jembatan komunikasi (salam sapa) bercanda antarpenyair –digawangi oleh admin– yang mengikuti lomba menulis puisi untuk dikurasi kemudian dibukukan dalam antologi bersama. Perginya sang penyair di usia matang, tidak muda lagi tapi belum begitu tua, memantik saya menciptakan puisi di bawah ini. Frasa “di waktu masih agak pagi” menggambarkan usia yang masih muda. Lalu, frasa “tidak terjadi barangkali ” dan   “ setelah senja semestinya” menggambarkan bahwa seolah mati layak terjadi ketika seseorang sudah menjadi tua.  Padahal, mati bukan perkara muda atau tua. Bukan masalah ‘masih pagi atau sudah senja’. Mati terjadi bukan berdasarkan daftar urut, melainkan daftar cabut. Begitulah, jika sudah waktunya Malaikat pencabut nyawa datang memenuhi perintah Tuhan untuk memanggil pulang seseorang, maka tak urung matilah seseorang ...