Langsung ke konten utama

Makanan Pokok Fisik dan Psikis

Acap kali ketika kehendak menulis puisi berdenyut di jidat, saya membuka laptop sebagai panggung serta mempersilakan jari menari. Tapi, apakah jari-jarinya malu-malu atau kehendak yang berdenyut kurang membetot, alhasil tak juga diksi-diksi terbariskan oleh “word 13” menjadi larik dan tubuh puisi di layar laptop.

Begitu pun halnya dengan yang menyebut dirinya “inspirasi” ketika datang berkunjung ke ruang lamunan, begitu hendak saya tuliskan tiba-tiba saja lenyap seperti guguran daun sirsak di depan rumah dalam got yang disapu air hujan. Ide yang melintas dalam pikiran hilang ketika hendak saya tuliskan. Gejala pelupa, tanda-tandanya datang.

Ilustrasi | gambar praolah dari Mizanstore.com |

Degradasi daya ingat. Menurut ringkasan AI di halaman peramban Google, dijelaskannya sebagai penurunan kemampuan otak dalam menyimpan, mengolah, dan mengingat kembali informasi. Kondisi ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari penuaan alami, stres, gaya hidup, hingga penyakit seperti demensia. Stres, saya sangkal.

Di layar gawai, akan tetapi, hal itu tidak terjadi. Jemari tiba-tiba menari “tanpa disuruh” dan larik-larik puisi bisa tercipta spontan atas datangnya imajinasi. Nyut… imajinasi tentang rumah, ibu, dan hal ihwal di antara keduanya, langsung saya tulis di gawai dan jadilah puisi yang panjang hingga enam bait, setidaknya empat larik tiap bait.

Hari ini kami wedding anniversary. Ketika niat untuk membuat puisi sebagai apresiasi atas pencapaian 33 tahun pernikahan, saya langsung saja menuliskannya di gawai. Bukan di note (catatan) yang tertanam di gawai, melainkan  di WhatsApp pribadi. Besoknya saya baca, sunting ulang, diubah sana sini. Jadi yang sempurna.

Pada awalnya puisi 33 TAHUN, 3 NAMA yang diunggah di IG istri, terdiri atas 6 bait dengan pembagian 4-2-4-4-2-4 larik. Lalu setelah melalui penyuntingan berulang dan bongkar pasang diksi, penambahan bait baru larik baru, akhirnya jadi 8 bait dengan rincian 4-2-4-2-4-2-4-2 larik. Begitulah perihal menulis dan daya ingat yang mulai aus.

Membaca dan menulis setiap hari bagi saya sudah menjadi semacam nutrisi yang perlu ditambahkan dalam apa yang saya konsumsi setiap hari (dalam makna harfiah) sebagai makanan pokok bagi fisik. Membaca dan menulis adalah makanan pokok bagi psikis. Dengan begitu, fisik dan psikis saya sehat dan waras berkat membaca dan menulis.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

Jati Diri

Bunga rampai esai yang saya culik dari blog ini setali tiga uang dengan sehimpun puisi, berisi sama-sama 65. Yang sehimpun puisi berisi 65 judul puisi dan yang bunga rampai berisi 65 esai. Satu esai mengulas perihal pesan Ayah kepada kami bertiga anak lelakinya bahwa, silakan hidup di mana saja dan menikah dengan siapa saja asal hindari yang berasal dari dua suku, Ayah sebutkan sukunya, xxxx dan yyyy. Ketika ragil kami menjalani hubungan asmara dengan cewek dari suku yang (satunya) Ayah sebutkan, saya cuma bisa menelan ludah. Akan tetapi, doa supaya ia dipertemukan dengan calon pendamping, wanita yang Sholehah, terus saya langitkan setiap bakda salat. Apa yang Ayah pesankan kepada kami perihal suku yang ditabukan itu pernah saya singgung pada anak-anak. Ada postingan di  blog  ini saya menyoal “jalan jodoh” yang berliku-liku. Tentang menemukan atau ditemukan. Tentang bibit , bebet , bobot . Bibit itu menyangkut garis keturunan, bebet menyangkut status sosial ekonomi, dan...