Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label LAMPUNG EKSPRES

Reuni Kecil tamTAMA/LE

Rasan - rasan hendak reuni kecil pensiunan karyawan tamTAMA & Lampung Ekspres Plus, kesampaian juga tadi siang. Bertempat di “kebun belakang rumah” Heri CH Burmelli. Sebuah wahana santai di lereng Bukit Mega Raya tepat di sisi rel. Setiap 15 menit kereta babaranjang lewat (pergi dan pulang) dari Bukit Asam, Tanjungenim ke Tarahan, Panjang mengangkut batubara. Pergi ke Tanjungenim membawa gerbong kosong dan pulang ke Tarahan penuh muatan batubara. Begitu terus setiap hari, siang dan malam. Ngerusuhi . Dari lereng bukit ini, saya buang jauh tatapan ke Teluk Lampung. Nun, di kejauahan tampak Pulau Pasaran, Gunung Kunyit yang kian kurus karena digerus, Lampung City Mal, Aston Hotel, Novotel, dll. Kapal-kapal nelayan tentu saja ada karena laut. Google Maps yang diser Heri di grup WA hanya sepenggal dengan titik mula patung-patung kuda di jalan menanjak menuju Bukut Mega Raya dan titik akhir di “kebun belakang rumah” itu. Agak membingungkan. Saya telusuri dari jalan yang paling jauh...

Prajurit TAMTAMA

Buat merayakan Hari Pers Nasional 2026, saya mengunggah ke facebook foto 4 eksemplar koran TAMTAMA terbitan tanggal 10, 11, 12, dan 14 Juni 1998. Headline   News koran berwarna pertama di Lampung, ini semua tentang Soeharto yang baru saja berhenti dari jabatan presiden RI pada 21 Mei 1998 setelah didesak oleh sejumlah “Tokoh Reformasi.” Pada pemilu 1997  –sebagai ulah Harmoko –  Soehato kembali menjadi presiden untuk jabatan ke-6 kalinya sejak pemilu 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, 1997. Krisis ekonomi (krismon) awal 1998, membuat pemerintahan Soeharto melemah. Ia dituntut mengmundurkan diri. Ada empat tokoh penting reformasi; Amien Rais, Gus Dur, Hamengku Buwono X, Megawati Soekarnoputri. Koran TAMTAMA terbitan Juni 1998 Selain 4 tokoh penting di atas, ada 4 mahasiswa turut berjuang menurunkan Soeharto. Mereka adalah Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie (Mahasiswa Universitas Trisakti). Keempatnya gugur dalam  “ Tragedi 12 Mei 19...

HPN

Kemarin, 9 Februari adalah Hari Pers Nasional (HPN). Insan pers dari media dan organisasi apa pun hadir merayakannya. Tahun 2026 ini sebagai tuan rumah adalah Provinsi Banten. Teman-teman wartawan koran tempat kami bekerja dahulu, masih bertungkus lumus di media online  pada HPN kali ini, tentu ada yang hadir ke Banten menyemarakkannya. Saya tidak mendaftarkan diri sebagai wartawan atau kerennya jurnalis, sehingga saya tak memiliki kartu anggota organisasi kewartawanan apa pun. Saya ini cuma pekerja pers biasa di bagian pracetak LE. Tugas nyambi  sebagai pekerja teks (redaktur) pada desk berita apa pun yang ditugaskan pemimpin redaksi, berganti-ganti, berpindah-pindah. Tour of duty . Kios koran sebatang kara di kota Metro  Di antaranya desk olahraga, kriminal, daerah, seni & budaya. Itu untuk 'jabatan' pekerja teks (redaktur), sementara untuk 'jabatan' kepala bagian pracetak, saya bertanggung jawab memegang halaman 1 atau perwajahan koran. Make over tata letak...

Obat Kangen

Sejak koran tempat kami bertungkus lumus selepas para redaktur merampungkan kerja sebagai editor berita, tak lagi bisa mempertahankan nyawa untuk tetap terbit, lalu kemudian mati, kami pun berhenti bertemu muka. Bersimpangan jalan. Salah seorang partner kerja kala itu, yaitu M. Yusuf Ramadhan alias Ucup, terakhir bertemu waktu tahlil wafatnya Ronald Oesman Indrajaya. Baru kembali bertemu lagi, tadi di pesta pernikahan putri Jamhari Ismanto, salah seorang redaktur di koran kami itu. Ketika saya hendak mencari tempat duduk seusai mengambil makan di meja prasmanan, ternyata ia ada di situ, kami saling beradu tatap dan ia langsung menyambut tangan, kami bersalaman, jabat tangan erat. Sambil menemani saya makan, kami ngobrol. Saling bertanya kabar, kegiatan masing-masing, dan juga menanyakan kawan-kawan lainnya. "Pak Zabidi masih suka nulis, ya?" tanyanya. "Iya, buat kegiatan biar gak cepat pikun," jawabku. Itulah obat kangen lama  nggak ketemu. Mengobrol dan bersenda...

Clickbait News Title

Ilustrasi, judul berita 'nesiatimes.com' yang menarik, tapi kemudian mengecoh. Menampilkan judul berita yang bombastis sengaja dilakukan media daring. Demi mendapat clickbait sebanyak-banyaknya. Bisa dikatakan semua media daring melakukannya secara terstruktur, sistematis, dan masif (TSM) untuk alasan kepentingan rating berita yang tinggi. Bukan isi apalagi substansi. Contoh judul berita yang disusupi kepentingan rating melalui clickbait , adalah seperti yang saya sematkan sebagai ilustrasi posting blog hari ini. Semula saya mengasumsikan itu adalah dampak demo --para-para--  driver ojol secara besar-besaran di beberapa kota, Selasa (20/05/2025). Dampak signifikan, pikirku. Tetapi apa lacur setelah saya click dan baca, ternyata itu untuk diberlakukan di Malaysia. Terkecoh kan jadinya saya. Tindakan mengecoh itu dibuat dengan unsur kesengajaan demi rating yang tinggi. Bisa jadi ada keterkaitannya dengan google adsense sebagai sumber penghasilan dari iklan yang liar berseli...

Duka Kami

Heriansyah Ak (kemeja hitam), salah satu dari sedikit KKT yang tersisa. Tersampai kabar duka pagi ini, ibunda Hj. Megawani Oesman binti Oesman Adenan wafat pukul 05:00 tadi. Duka kami keluarga besar SKH LAMPUNG EKSPRES Plus, kehilangan sosok ibu pengayom kami kala jadi bagian pelaksana koran berwarna pertama di Bandar Lampung dan satu-satunya milik ulun Lampung asli. Saya mulai berkiprah di LE Plus sejak masih berupa surat kabar mingguan TAMTAMA yang berkantor di Jalan Patimura No.7, Telukbetung, Bandar Lampung tahun 1994. Kerabat Kerja Tamtama (KKT) istilah penyebutan bagi karyawan dan wartawan saat itu, hanya tersisa sedikt saja dari yang pernah berkiprah. Yang masuk sedikit itu selain saya ada Naim Emel Prahana, Heriansyah Ak, dan Ahmad Novriwan (Doel Remos) yang masih aktif berkegiatan di media dan termonitor di akun medsos. Ada juga Syahrir Hakim yang sudah pindah ke Pare Pos, Parepare, tetapi apa kabar beliau? Sudah lama tidak aktif di facebook . Yang lain sudah berpulang ke Har...

Zonk Semua

Ilustrasi, image source:  https://depositphotos.com/ Teman mantan LE tanya kabar melalui WA, saya jawab kabar baik. Begitu selalu, bila ia atau saya merasa kangen untuk saling sapa, saling pengin tahu kabar, maka pesan whatsapp menyudahinya. Senyampang ia bertanya, kesempatan saya juga bertanya. Bukan hanya kabar dirinya, melainkan juga kabar teman-teman yang nyaleg di dapilnya masing-masing. “ Ai , zonk semua,” jawabnya. “Zonk gimana, masak gak ada yang nyangkut satu pun,” kejar saya. “Ya, zonk alias tekudun semua,” tegasnya. Ada teman nyaleg 2019 dulu “gundul”, nyaleg kali ini belum ketahuan gimana nasibnya. Kalau nyaleg  kali  ini “gundul” juga, wah perlu dipantau berkala kabarnya. Di WAG, kawan share berita ada caleg habis modal 1 M nggak terpilih, akhirnya bundir karena takut pada rasa malu. Dalam hati saya ada yang berbisik, “Ai, jangan-jangan modal nyaleg dapat ngutang, takut ditagih terus pilih bundir.” Nah, masuk akal sepertinya. Siapa sih yang berbi...

Kawan “Agak Gilo”

  cuma buat ilustrasi bae, image source: tiktok *** Gue: Pit, kau nyaleg idak? Pipit: Idak nyaleg aku Gue: Ngapo idak nyaleg? Pipit: Ai, nyaleg itu gawi wong idak karuan Gue: Ai, ado-ado bae kau ni, gawi idak karuan cak mano? Pipit: Yo, idak karuan lah Gue: ( dalam hati ) kalu idak karuan, ngapo wong nyaleg? Itulah kutipan dialog gue sama Pipit, kawan lamo di LE dulu. Waktu TAMTAMA sebagai koran harian berwarna pertama di Lampung terbit Juni 1998, dio baru belajar jadi reporter. Kawan jalannya nyari berita bernama Icon. Untuk mengenali mana berita hasil kerja dio berdua hunting , ada kode nama (s pt/icon) di akhir berita. Pun berapa berita per hari dio berdua hasilkan, gawi mudah ngelacaknya. Buat mengenalkan TAMTAMA pada khalayak sebagai koran berwarna pertama di Lampung, karyawan semua bagian dikerahkan untuk survei. Jadi, bukan elektabilitas partai atau capres/cawapres bae yang disurvei, melainkan apa pun penting dilihat seberapa besar prospeknya, maka perlu disurvei. P...

Ebiet G Ade dan LE

HMI dan karyawan LE foto bersama Ebiet G. Ade dan istrinya Yayuk Sugianto di kantor LE, 4 Oktober 2012, saat HUT ke-44 LE. Kalau saja tidak diingatkan facebook , saya lupa kalo 4 Oktober ini adalah ulang tahun  – daripada –  koran LE. Korannya ulun Lampung ini, seandainya masih terbit, hari ini berulang tahun ke-55. Masuk usia paruh baya. Atau, jika saja tidak ada facebook , maka tidak akan beralih kita dari "buku harian" sebagai sosok tempat mencatat aneka kejadian. Ada facebook , segala hal ihwal kita bukukan di facebook . Akan diingatkannya. Buku catatan paling ajaib bernama  facebook luar biasa. Apa yang kita tulis di sana, secara periodik akan diingatkannya sebagai memori. Bisa kita baca ulang atau membagikannya (memposting) kembali. Hari ini facebook mengingatkan ulang apa yang saya tulis sebagai keterangan foto saat LE berultah ke-44 pada 4 Oktober 2012. Yaitu  owner LE, Harun Muda Indrajaya dan karyawan foto bersama Ebiet G. Ade. Kala itu Ebiet G. Ade di...