Langsung ke konten utama

Salam di Rumah Kosong

Setelah memulai ‘safari jumat’ 3 Januari, begitu bulan Ramadan tiba saya mulai ‘safari Ramadan’ Zuhur atau Asar pindah-pindah. Masjid Thoriqul Khoir ini salah satunya. Pada siang ini saya jadikan tempat ‘safari jumat.’

Pada 16 Mei, rencananya saya ‘safari jumat’ di masjid ini, tapi karena pengin ngejar salat Dhuha, saya belokkan arah motor ke masjid Istiqomah di Jalan Mangkubumi, Segala Mider, Tanjungkarang Barat. Ini pun mengalihkan rencana awal lainnya.

Saat belum ramai jemaah datang pukul 11:43

Ya, rencana awal saya pengin ‘safari jumat’ di masjid Al-Mahya Balai Krakatau, tapi kok sepi. Asumsi saya masjid itu tak dipergunakan buat salat jumatan mungkin karena jemaahnya sepi tersebab jauh dari tempat tinggal masyarakat.

Masjid Thoriqul Khoir terdiri 2 lantai, lantai 1 diperuntukkan tempat istirahat pengunjung dan lantai 2 diperuntukkan tempat salat. Masjid ini begitu strategis untuk jadi persinggahan orang pulang kerja dan pengin salat Asar berjemaah.

Di samping AC terpasang di dinding ada juga AC floor standing atau bahasa awamnya AC serupa kulkas di sudut kanan dan kiri hadapan jemaah. Dengan begitu suhu ruang sejuk, menggiring riak-riak kantuk datang mengayun hasrat memejam.

Salam di Rumah Kosong

Khatib, mengutip hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, mengisahkan bahwa Rasul SAW menyuruh Anas bin Malik untuk mengucap salam saat masuk rumah (sendiri, bukan rumah orang) kendati di dalam tidak ada penghuni alias kosong.

Kata khatib, mendengar ada salam diucapkan, niscaya setan yang ada di dalam rumah akan terbirit-birit keluar dan berkata kepada kawan-kawannya, telah gagal bersemayam/bermalam dalam rumah itu untuk menggoda penghuninya.

Dengan ucapan salam saat akan masuk rumah (sendiri) begitu, kata khatib, niscaya Allah SWT akan menurunkan keberkahan terhadap penghuni rumah itu. Hal itulah yang dibiasakan istri saya, masuk rumah sehabis pergi mengucapkan salam.

Ya, tiap kami berdua istri habis bepergian, saat masuk rumah sehabis membuka kunci, kendati tak ada siapa-siapa di dalam, istri saya mengucapkan salam. Dan, saya yang menjawab salamnya sambil masuk rumah. Semoga berkah Allah tercurah.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...

Hikmah Safari

Jika pada 'safari jumat' saya telah menemukan masjid Al-Hikmah di Jalan Pagaralam (Jumat, 16/1), kemarin sewaktu ‘safari ramadan’ saya kembali menemukan masjid Al-Hikmah di perumahan Merpati Asri. Dengan begitu sudah ada dua masjid Al-Hikmah yang saya cium sajadahnya. Nah, itulah hikmah safari. Hari ini, dalam melakukan perjalanan 'safari ramadan', saya dipertemukan dengan masjid Darul Hikmah. Nah, lagi-lagi ada kata kembar. Setelah bersua kata kembar ‘khoir’ pada masjid Thoriqul Khoir dan Nurul Khoir, hari ini kembali bersua kata kembar ‘hikmah’ pada masjid Al-Hikmah dan masjid Darul Hikmah. "Hikmah safari." Benar, begitulah hikmah daripada ‘safari ramadan’ yang saya jalani, yaitu bersua kata kembar pada nama-nama masjid yang saya jadikan target ‘safari ramadan’ salat Zuhur. Begitulah kegaliban nama-nama ‘Rumah Allah’ di muka bumi ini, tak lari dari nama-nama yang memberi spirit beribadah pada hamba-Nya di bulan Ramadan. Masjid Darul Hikmah Jl. Karet, Sumbe...