Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label malioboro

Lopis Mbah Satinem

Sosok mbah Satinem, penjual lopis legendaris. Sebenarnya banyak kuliner legendaris yang viral di Jogja. Akan tetapi dua ini yang paling sering jadi buah bibir dan diposting di media sosial dan direviu dalam blog. Yaitu gudek mbok Lindu di Jalan Sosrowijayan kemudian lopis mbah Satinem di Jalan Diponegoro. Pembeli lopis mbah Satinem asyik menikmati lopis yang legend, wort it , dan viral itu. Pagi tadi aku dan istri ngopi dekat mbah Satinem jualan. Camilannya bolang-baling atau odading dan kue moci. Selagi menikmati kopi, tiba-tiba pembeli lopis kian ramai, aku pun mendekat ternyata kebagian nomor antrean 10, ya, udah gak papa, gaskenlah. Pembeli mesti antre pake nomor antrean. Satu pincuk lopis kami cangking dibawa serta. Kami meninggalkan Jogja menuju Cirebon, ada banyak kuliner khas kota udang itu yang perlu dijajal. Seperti nasi lengko, sego jamblang, empal gentong, tahu gejrot, dan jika penasaran pada warteg, boleh juga. Warteg alias Warung Tegal sesuai dengan namanya khas Tegal, t...

Memburu Kuliner Legendaris

Warung Bu Sum, salah satu dari sekian warung yang legendaris di Pasar Bringharjo. Hari kedua stay di area Malioboro, tugas aku dan istri memburu kuliner legendaris dalam Pasar Bringharjo. Sayangnya sedikit kerancuan, los-los yang ditempati pedagang makanan bercampur baur dengan los-los pedagang batik, perkakas rumah tangga, sayur, dan bahan jamu-jamuan yang aroma khasnya menyeruak. Karena itu, beberapa makanan yang dahulu, tahun '80an, acap aku sambangi saban minggu tak kami temukan, agak gelo jadinya. Beruntung warung makan Bu Sum yang menjual soto ayam dan babat, sate kere, sate jando, dan oseng mercon terdeteksi. Di situlah kami makan siang dengan memilih menu soto babat. Warung Bu Sum Memulai hari, sarapan pagi tadi aku dan istri ngopi di belakang Teras Malioboro. Wuih, ada martabak telor, lumpia, dadar gulung, serta pisang goreng yang sudi menemani dua gelas kopi kami. Di samping kopi ada juga wedang uwuh dan air sereh bisa dipesan. Tinggal pilih mana suka sesuai selera. B...

Terhanyut Akan Nostalgi

Wajah baru Mal Malioboro setelah berubah nama menjadi Plaza Malioboro. Aku dan istri sedang menikmati malam di Malioboro. Pedestrian yang dahulu penuh pedagang Kaki 5 kini kosong melompong, bisa dimanfaatkan pelancong main sepeda listrik sewaan, wara-wiri senang-senang. Tulisan 'Mal Malioboro' yang dahulu terpajang di atas bagian depan gedung kini bergantikan tulisan 'Plaza Malioboro' seiring 'dibelah-duanya' bangunan. Bagian depan jadi Plaza dan Belakang jadi Mal Malioboro. Akses masuk Plaza dari Jl. Malioboro (seperti saat masuk ke Mal Malioboro dahulu) sementara akses masuk Mal Malioboro harus dari belakang (Novotel Hotel) atau melalui pintu khusus di Jl. Mataram. Suasana para 'pengukur jalan' menyusuri Malioboro malam tadi. Sepeda listrik sewaan siap dimanfaatkan penikmat Malioboro siang maupun malam. Live music di pedestrian Malioboro setelah pertokoan tutup. Ada pemusik yang menyajikan 'live music' buat sopo sing butuh hiburan pejalan yan...