Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label kondangan

Adat dan Adab

Beneran , baru sekali ini tadi nemui  tempat kondangan yang belum selesai sambutan-sambutan, tapi para tamu sudah ada yang makan. Saat kami mencari kursi tempat duduk, melewati pondokan, lohh kosong melompong, tak ada lagi isinya. Tandas diserobot para tetamu, sepertinya. Baiklah, kami (saya dan istri) duduk manis dulu saja. Tunggu... barangkali nanti ada anjuran kepada tamu undangan untuk menikmati hidangan. Tetapi, pada akhirnya kami beringsut dari tempat duduk, masuk barisan antrean menuju meja prasmanan. Mengisi piring dengan porsi makanan. Lalu, menikmatinya. Mak-mak di depan ini dah makan, di kiri itu antrean di meja prasmanan ambil makanan. Dan, biduanita melantunkan lagu "Aduhai senangnya pengantin baru, duduk bersanding bersenda gurau" diiringi orgen tunggal. Lohh , kapan suara si pewara menganjurkan para tamu makan? Biasanya sesudah selesai pembacaan doa oleh ustaz yang ditunjuk. Saya lalu merasa seperti tepat waktu, antara kami menikmati makanan dan biduan bernyan...

Usia Manusia Berguguran

Malam tadi, usai magrib saya  ngaji . Menabung bacaan Surah yang sudah ditentukan admin WAG HuManIs dalam agenda  one week one juz , untuk disetor pada putaran berikutnya. Berkesinambungan dan istikamah. Di tengah nikmatnya membaca kajian , tetiba ada yang mengetuk pintu dan beru luk salam. Ternyata, setelah istri saya membuka pintu. Oh, saudara satu komplek perumahan yang datang, mengantarkan undangan. Yang punya hajat, dahulu ASN Sekretariat Pemerintah Kota Bandar Lampung. Kami akrab dan familier. Istri beliau orang Ranau, dahulu masih adik kelas saya jauh sejak SD hingga saya pergi meninggalkan kampung. Mengagetkan. Setelah istri saya membuka undangan dan mencermatinya, dia bertanya, memangnya si ‘ini’ nih sudah meninggal, ya? Saya ambil surat undangan dari tangannya dan memperhatikan secara cermat. Iya, ada tulisan ‘Alm’ diapit tanda kurung di belakang namanya. Benar-benar mengagetkan. Sungguh tidak menyangka, masa pandemi Covid-19, tentu saja untuk saling bertemu sul...

Sedikit Merepotkan

foto undangan tyas&walid, olah kreatif by photoshop Jadi juga kondangan di hari kerja, Rabu (25/1/2023). Kenapa harus di hari kerja dan tidak di akhir pekan, misalnya hari Sabtu atau Minggu? Ya, nggak kenapa-kenapa juga, ngapain repot memikirkan apalagi memperdebatkannya. Selow ajalah, Bro … Tetapi, hajatan di hari kerja itu sedikit merepotkan. Setelah pulang kerja baru bisa kondangan . Jika cuaca bagus tentu tiada kendala, namun bila tetiba hujan sungguh merepotkan lagi. Makanya hajatan di hari kerja itu tidak umum. Berarti khusus dong, he he Dulu sih pernah kondangan di tempat orang yang hajatan di hari kerja. Tepatnya berapa kali sih tidak tahu persis. Namun, sepanjang ingatan pernah mengalami. Yang punya hajat tentu saja orang Jawa yang masih menjunjung tinggi budaya leluhur. Secara historis, budaya leluhur yang sakral senantiasa akan dijunjung tinggi-tinggi. Meskipun dari segi waktu pelaksanaannya tidak lumrah, dalam arti hari dan tanggalnya jatuh di hari kerja bukan w...

Rukun Tetangga

Kemarin dua hari (Sabtu dan Minggu) ada hajatan tetangga satu RT berurutan. Di hari Sabtu ngunduh mantu tetangga asal Batu Brak beralamat satu gang lurus di atas. Jumat malam digelar acara nyambai . Bebai bakas muli meranai dari Kembahang, Kenali, Belalau, Kedaton, dan Sukarame Tanjungkarang saling berbalas pantun dan  lagu. Sabtu pagi pasangan kebayan diarak dari ujung jalan menuju tempat disandingkan di pelaminan. Nyambai , lagi-lagi. Lagu Sai Lagi  berulang kali dipanggungkan. Pangan neng ora mangan . Istilah pangan bagi ulun Lampung adalah makan besar di Hari-H hajatan pesta. Tetamu pilih prasmanan dan kudapan pondokan. Bebas sebebas-bebasnya, puas sepuas-puasnya. Mau langsung makan besar menu prasmanan, boleh banget . Mau ngemil kudapan pondokan dulu, silakan. Sayangnya belum azan Zuhur tak ada lagi pasokan menu dari dapur. Seperti kendara kehabisan bahan bakar di jalan. Tetamu banyak yang tak kebagian, kuciwo . *** Minggu ijab kabul dan resep...

Pengantin Sunat

Body semlehoi biduan Syila Music. Asoy Geboy Undangan hajatan itu disebar di WAG. Entah siapa yang memulai kali pertama menyebar undangan hajatan melalui WhatsApp . Lalu diikuti banyak orang dan jadi budaya baru. Saya baca sekilas untuk memastikan di mana alamatnya. Oh, di situ. Dulu pernah ada hajatan di situ. Sekira tahun 2014, saat akan digelar pilwalkot. Hajat demokrasi lima tahun sekali. Di panggung hajatan, salah satu calon wali kota mengambil kesempatan untuk kampanye. Berpanjang kata, bersilat lidah, bermanis bujuk rayu. Kedengarannya seperti cengki nian. Calon wali kota ini dulunya wakil wali kota. Terang saja susah sungguh menaklukkan calon wali kota incumbent. Yang dari segi apa pun menang banyak. Ya modal ya elektabilitas. Kemarin berdua istri hadir lagi di alamat itu. Dari rumah sudah pukul setengah dua siang. Sengaja nggak pergi pagi. Agak ngantuk, tidur dulu sejenak. Lah tuwo gak oleh ngoyo . Pas azan Zuhur bangun, ambil air wudu dan salat. Kemudian bersiap. Hari masih ...

Mampir Ngguyu

Ini tadi kondangan   kedua  di 2022. Hajat mantu kolega istri. Dihelat di gang depan rumahnya. Simple . Lagu Andahmu nongol. Hajatan murah yang nggak murah-murah amat, tentu. Tak ada hajatan yang benar-benar murah. Di rumah sekalipun. Di jalan depan rumah cukup sewa terop dan pernak pernik penghiasnya berikut puade . Katering dan menu pondokan , tentu. As simple as that . Bila sewa gedung butuh kocek yang banyak nolnya, merogoh kantong lebih dalam. Menguras tabungan, ada kalanya. Terus habis pesta, kedua mempelai keluar dari rumah orang tua. Boyongan ke rumah kontrakan, sementara. Walau tak bulan madu ke mana, gitu. Menjalani hari-hari penuh madu di rumah kontrakan, terasa manis juga. Senyampang habis dapat saweran dari tetamu undangan, cukuplah buat bekal menata (bakal) keluarga kecil bahagia. Ada pula pasangan pengantin memutuskan tetap tinggal bersama dengan orang tua. Tinggal di pondok mertua indah, PMI. Pondok mertua indah itu cuman istilah belaka. Banyak faktor jadi...