Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2026

Elegi Para Penglaju

Kesedihan terjepit gerbong KRL yang ditabrak kereta api Argo Bromo Anggrek. Di blog ini saya sudah beberapa kali mengisahkan para penglaju "pejuang rupiah" yang berangkat subuh dari rumah demi mengejar satu tapak tempat berdiri di dalam gerbong KRL seandainya tidak mendapatkan tempat duduk, berdiri sekalipun mereka tahan yang penting bisa sampai kantor tempat bekerja tidak terlambat. Begitu pun sebaliknya, saat hendak pulang ke rumah, mereka berjibaku mengegas langkah lebih cepat lagi untuk lekas sampai di stasiun agar tidak ketinggalan KRL commuter line yang akan mengangkut mereka ke alamat masing-masing, dengan memanggul lelah setelah bekerja seharian. Kendati bekerja di ruangan berpendingin udara, tak ayal rasa lelah terakumulasi dari loyalitas, beban kerja, dan stres yang mendera. Beginilah KRL yang dihajar KA Argo Bromo yang melaju dengan kecepatan 110 km/jam. | gambar pinjam pakai milik detik.com | Para penglaju luar Jakarta, menyerbu Jakarta di pagi buta. Mereka dari...

Puisi Tentang Puisi

Inilah enam puisi tentang puisi yang dimuat di NusaBali asuhan Warih Wisatsana. Puisi tentang puisi. Entah mengapa saya tiba-tiba terpikirkan membuatnya. Lalu, saya kirimkan ke Koran NusaBali. Agak lama menunggu kabar dimuat atau tidak. Bersamaan pula mengirim puisi ke Koran Bali Politika. Bali Politika asuhan Wayan Jengki Sunarta. Dua kali saya bertemu dengan Bli Wayan. Pertama sewaktu menghadiri Ubud Writers and Readers Festival, 18–22 Oktober 2023. Kami sarapan dan ngopi di Sagitarius Inn, hotel tempat kami menginap. Pertemuan kedua sewaktu menghadiri Jambore Sastra Asia Tenggara. Inilah 6 sajak-sajak saya yang dimuat di NusaBali (Minggu, 9/3/2025) Menghadiri Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT), 24–26 Oktober 2024, saya dan istri baru empat hari pulang dari ibadah umrah, tapi tak merasakan capek sama sekali. Lalu, setelah lama menunggu, akhirnya yang di BaliPolitika dimuat. “Maaf menunggu agak lama karena sesuai antrean,” kata Bli Wayan Jengki Sunarta. "Wah, saya senang s...

Kabar Penyair Pergi (3)

Lagi, ada kabar duka, penyair berpulang. Iyut Fitra yang baru belakangan saya sadar kalau ia seorang pria. Berulang kali saya ketemu puisinya pada Kompas Minggu atau Republika  Ahad dengan asumsi ia seorang wanita. Rupanya itu adalah nama pena dalam berkarya yang diambil dari nama lengkapnya Zulfitra. Di Threads juga ada yang berkomentar, menyangka kalau Iyut Fitra seorang wanita. Artinya, bukan saya seorang yang dikecohkan oleh namanya waktu sering diperjumpakan dengan puisinya di dua koran di atas. Karena saya rajin beli Kompas dan Republika edisi hari Minggu, jadi sering bertemu dengan puisinya Iyut Fitra. Chairil Anwar dalam buku "Si Bintang Jalang" Seandainya sejak mula ia menggunakan nama Zulfitra, tanpa membaca bionarasi yang menjelaskan tempat lahirnya, niscaya saya akan menebak pastilah berasal dari Sumatra. Nama dengan huruf “Z” (Zul atau Rizal) kental dipergunakan oleh orang Sumatra terutama pada suku Melayu Riau, Minang, dan Lampung. Iyut Fitra meninggal ...

Ancang-ancang Kemarau

Sudah dua hari ini udara terasa puanas  amat menyengat di Bumi Lada. Saya potret langit berhias awan dengan matahari menyala di atasnya, kemudian saya jadikan cerita ( story ) pada  facebook . Kolega di Surabaya mengirim tanggapan di cerita; "Di Surabaya mendung," komentarnya. Wah, tumben sekali Surabaya yang biasanya puanase poll , kok yao dengaren bisa mendung. Keberuntungan sesekali itu. Gugusan awan dan matahari yang menyala. Berkali-kali saya jadikan video saat hujan sebagai status WhatsApp , dia tanggapi dengan mengirim komentar bahwa Surabaya puanas poll . Nah, pada hari ini agak laen , iso mendung. Keberuntungan. Sudah pernah saya tulis di blog ini, bahwa akan terjadi kemarau panjang dan kering sekali. Tapi, sepertinya saya terkecoh manakala kok masih saja turun hujan deras berhari-hari pekan-pekan lalu. Nah, apakah puanas poll dua hari ini sebagai ancang-ancang akan mulai terjadinya kemarau panjang dan kering seperti yang di-prakiraan-cuaca-kan oleh BMKG? ...

Mengisi Waktu

Saudara istri sesama asal Pacitan rajin sekali gowes di hari Minggu. Ia sempatkan mampir ke rumah minimalis kami. Saling bertanya kabar dan berbagi cerita tentang keluarga. Maklum sih jarang sekali ketemu, tentu kangen . Diobati dengan cerita. Di jalan Teuku Cik Ditiro, bila saya sedang beli sayur di warung sayur matang Buk Ninik depan SMPN 14, acap melihat iring-iringan rombongan penggowes lewat. Senang melihatnya. Saya membatin, alangkah kuat jantung mereka itu. Berapa km mereka tempuh. Ilustrasi | credits title : MainSepeda | Di Jakarta, oleh mantan gubernur Anies Baswedan, dibuatkan jalur khusus buat sepeda. Dengan begitu, para penggowes merasa aman dan nyaman menjalani gowes. Apalagi yang ngegowes tak hanya kaum Adam saja, tetapi tak sedikit kaum Hawa cantik dan manis. Tadi pagi, kembali saudara kerabat istri sesama asal Pacitan itu mampir. Cerita tentang hari raya kemarin mereka mudik ke Pacitan. Kami tidak mudik karena anak-anak dan mantu tahun ini gilirannya kumpul bersama di ...

Duh, Gusti

Tanggal 1 April lalu diingatkan oleh facebook, berusia 1 tahun pertemanan kami (saya dan Amiruddin Sormin) di facebook . Tadi pagi, kembali lagi diingatkan oleh facebook , hari ini ulang tahun sohib Amiruddin Sormin. Duh , Gusti . Cemana cara memberi selamat pada sohib yang telah tiada ini. Hanya ada satu cara tersisa. Saya langitkan doa ke Hadirat Allah SWT dengan membacakan Surah Al-fatihah yang pahalanya saya hadiahkan kepadanya. Khususon ila ruhi Amiruddin Sormin alfatihah.......... Husnul khotimah ia, ditandai wafatnya di hari Jumat. Selama karirnya sebagai jurnalis juga terkesan baik. Muncul di layar gawai  Saat ia wafat, 26 September 2025, pertemanan kami di facebook belum genap berusia 6 bulan. Interaksi kami di 'kotak ajaib' milik Meta buah karya Om Mark Zuckerberg, itu tidak begitu intensif. Pasalnya, saya bukan tipe orang yang maniak amat bermain-main di facebook . Bahkan, pernah selama satu tahun saya log out facebook . Pernah saya tuliskan ceritanya di sini....

Gerah di Ruang Ber-AC

Seperti labu yang akan runtuh dengan batang yang kepayahan menyangganya. Seperti itulah perumpamaan mendung menjelang jumatan tadi. Saya batalkan rencana ‘safari jumat’ ke masjid Taqwa di Jl. Kotaraja, Tanjungkarang Pusat. Saya alihkan ke masjid terdekat, masjid Al-Anshor di Jl. Dua Jalur Perum BKP. Tepat pukul 11 saya tancap gas berangkat ke masjid. Memarkir motor lalu masuk ke dalam masjid. Sedang salat tahyatul masjid, hujan runtuh. Suhu dingin ruang masjid jadi lebih terasa dinginnya setelah cuaca hujan meningkahinya. Saya menggeser posisi duduk dari sejajar AC di tembok, mundur mendekati tiang masjid. ilustrasi, duduk di ruang ber-AC | enervon Saya pikir hujan akan lebat amat sehingga membasahi jemaah yang nekat berangkat. Lho, ternyata tidak lama kemudian reda. Berangsur-angsur jemaah berdatangan lalu mengisi shaf-shaf yang masih kosong. Perlahan-lahan suhu dingin ruang bertambah hangat oleh makin banyaknya kerumunan jemaah. Begitulah kegalibannya. Suhu tubuh manusia yang h...

Hari Buku, Baca Buku

Selama dalam masa pemulihan kesehatan pasca-demam tipes yang menjadikan pola makan mesti menghindari yang enak-enak. Kendati tetap bisa keluar mencari sayur dan kebutuhan harian, setelah kembali ke rumah, tak banyak gerak yang saya lakukan selain duduk manis di depan laptop, menulis. Tentu, yang tak pernah tinggal adalah memroduksi tulisan untuk menyuapi blog ini setiap hari. Karena itu, saya butuh ransum yang akan saya suapkan. Dari mana mendapatkannya? Salah satunya adalah membaca. Seperti sudah pernah saya tulis di blog ini, yang saya baca tidak mesti buku. Saya baca juga sosial media. Sebagian buku yang ada di rak buku sayah Tetapi, selama istirahat pemulihan kesehatan, ada beberapa buku yang segel plastiknya belum dibuka, saya buka dan sekalian membacanya. Terutama empat hari belakangan, saya merasakan asyiknya membaca buku cerpen pilihan Kompas . Dari hasil membaca terbit ide untuk mengarang puisi, saya tulis di WA pribadi. Seperti yang sudah pula saya tulis di blog ini,...

"Untung Ada Saya"

Mbah Google itu nolong banget . Apa yang tak kita ketahui, bila ditanyakan kepada ‘beliau’ niscaya akan diberi jawaban dengan sejelas-jelasnya olehnya. Bisa dikatakan nggak cuma nolong, tapi juga ngemong dan serba tahu sesuatu atau bagai macam hal ihwal yang mungkin amat awam bagi kita. Ada kabar lelayu di grup WhatsApp perihal kepulangan seseorang yang dari namanya masih awam bagi saya. Sejauh ingatan saya, belum pernah mendengar nama apalagi profesinya. Karena kabarnya tersiar pada WAG komunitas sastra, tentu ia seorang sastrawan juga. Ilustrasi | credit title: SlashGear | Saya langsung googling mencari tahu. Mbah Google menjelaskan kalau beliau dijuluki sebagai dedengkot Teater Bulungan (ia lulusan di SMA VI Jalan Mahakam 1966) yang pada Maret ini genap berusia 78 tahun. Dikatakan juga ia jebolan FISIP UI 1975. Mafhumlah saya kalau ia adalah teaterwan yang kegiatannya itu tak terpisahkan dengan lakon berdasarkan naskah cerita yang beririsan dengan sastra. Dijelaskan pul...

Solilokui

Dalam hal membaca, di era digital ini, buku fisik seperti kehilangan pamor. Dan saya, akan tetapi, masih suka saja menyelipkan satu-dua eksemplar buku tipis ke dalam tas selempang yang sering saya bawa ke mana-mana ketika bepergian. Kendati nanti, pada akhirnya, tidak juga saya baca tersebab perhatikan teralih ke gawai, tentu saja lain persoalan. Pada gawai itu juga ujungnya kesenangan membaca saya berpindah dari (mestinya) buku yang ada dalam tas. Saya buka X (twitter), baca di situ. Ilustrasi|puisi dalam lagu|youtube Saya buka Threads, saya baca di situ. Pun, ketika pilih buka Instagram, saya baca di situ. Dari ketiga platform sosial media tersebut banyak sekali bahan bacaan yang saya temui dan membuat waktu saya tersita, tenggelam membaca. Dahaga baca hilang. Pagi ini, ada dua 'igauan' di Threads yang membuat asam lambung nyaris naik ke ulu hati. Pertama , soal saos Abang bakso yang ternyata 0% bahannya cabe. Agar ada sensasi rasa pedas dan merah warna cabe, semua hasil reka...

Mitos-Mitos

Tadi pagi saya kembali jogging setelah lama vakum. Keliling perumahan hanya sandalan saja. Biasanya komplit dengan sepatu kets, bertopi. Celana tetap training, tapi kaos polo yang mestinya bukan untuk olaraga karena tadinya  gak begitu niat. Belum sampai rumah, digiring hujan gerimis tipis-tipis. Tapi, ada hal yang membuat bulu kuduk saya berdiri, hujan disertai panas. Hujan panas, begitu disebutnya. Mengapa bulu kuduk saya berdiri? Ingat mitos-mitos pada masa kecil dahulu, itu katanya “hujan orang mati.” Ilustrasi | gambar: Rumah Makan Duta Minang  Memang, sayup-sayup terdengar suara kabar lelayu dikumandangkan dari TOA masjid di daerah sekolah PERSADA. Jadi, ceritanya, di masa kecil di kampung dahulu, bila hujan panas, itu pertanda “hujannya orang mati.” Nah, c emana tak bergidik ketemu hujan panas. Ada kiatnya, akan tetapi, diajarkan orang tua. Supaya terhindar dari bala atau hal-hal yang kurang sedap bila terkena hujan panas. Kiat itu saya praktikkan. Sampai rumah ...

Sop Iqbal

Setelah gagal menyambanginya kemarinnya kemarin ( selumbari ) karena diganggu hujan, pada akhirnya tadi malam berdua istri ke sini habis magrib. Kaget juga melihat pengunjung yang duduk penuh sabar menunggu pesanan terhidang di meja. Tidak semua kebagian meja. Ada yang duduk di teras ruko (yang berundak-undak) tempat warung tenda ini membuka lapak. Saya dan istri berdiri menunggu mereka yang sedang merampungkan makan malam yang nikmat suap demi suap. Bikin ngiler melihatnya. Menunggu menu terhidang  Ya, Sop Iqbal, begitulah kuliner tenda pinggir jalan Kartini, Kota Tapis Berseri, ini menyebut identitas dirinya. Tidak berapa lama saya dan istri berdiri, bapak yang rampung makan menyerahkan meja mereka kepada kami, "Sini, Bu," kata si Bapak itu. "Terima kasih," jawab kami. Saya dan istri duduk, satu per satu piring nasi di antar ke hadapan orang-orang yang sudah duluan duduk di meja dan teras ruko itu, hingga pada akhirnya sampai juga giliran kami. Saya ceklak ceklik ...

Sebuah Antusiasme

Ini kopi gerobak yang sudah saya ceritakan di postingan blog pada 28 Maret berjudul " Kopi Ngingi " karena memang yang mereka jual adalah kopi dingin ( ngingi,  bhs. Lampung). Kopi plus es. Tadi malam ketika saya ke Kemiling (atas) mencari obat di apotek, saya lihat kerumunan orang antre di depan gerobak hendak membeli kopi yang sedang kekinian ini. Menonton dua orang peracik di dalam. Kopi gerobak di Jl. Teuku Cik Ditiro, Kemiling  Sebuah antusiasme jadi pemandangan menggelikan. Memang demikianlah agaknya, di Tanoh Lada , Tapis Berseri , dan Sang Bumi Ruwa Jurai , ini sesuatu yang baru selalu menarik perhatian. Namanya juga 'baru.' Setiap ada kafe baru, diserbu pengunjung kendati hanya untuk mencoba atau menjadikannya tempat ngonten untuk diunggah di media sosial facebook, IG, Threads atau TikTok. Memvalidasi status sosial. Antusiasme warga pengin mencoba  Saya perhatikan di Pasar Pucang, Surabaya, kopi gerobak NESCAFE ini tidak begitu ramai pembeli. Biasa s...

Masjid Terbuka

Sudah lama saya pengin 'safari jumat' di Masjid Daarul 'Ilmi yang ada dalam komplek SMPIT - Daarul 'Ilmi, Perumahan Bukit Kemiling Permai ini. Tetapi, selalu saja dicegat oleh feeling  'entah' yang kemudian mengalihkan tujuan saya ke masjid lain. Tadi dengan stil yakin saya langsung saja menuju ke masjid ini kendati meraba-raba jalan sebab tak ada rambu-rambu menunjukkan bahwa ada masjid di situ. Saya bertemu bapak menggunakan tongkat menuju masjid. Saya hentikan motor dan bertanya. Masjid Daarul 'Ilmi, masjid terbuka sejuk terasa  Saya tanya di mana masjid? Di situ jawabnya. Saya putar balik motor masuk gerbang ke area sekolah Islam terpadu ini. Di dalam tetap saja saya bingung mencari yang mana masjidnya, kembali bertanya ke anak-anak yang duduk di pinggir lapangan basket. Ditunjukkan bangunan yang seperti masjid belum jadi. Setelah masuk ke dalamnya, saya perhatikan, ternyata memang bentuk bangunannya dibiarkan tanpa dinding. Malah tak terasa panas, angin...

Adaptor

Lah, kenapa pula charger hp ini jadi lemot. Sejak kemarin saat dicas terasa jadi lama penuhnya. Biasanya begitu dicolokkan, langsung mabur berjalan kencang sekali dan cepat penuh. Lain soal kalau ngecasnya di mobil atau di kereta memang lemot karena sistem kelistrikan di rumah dan di kendaraan berbeda. Kendati lemot ngecas     di kendaraan cukup membantu (darurat lowbat ). Bayangkan, berkendara di masa lalu, belum ada fasilitas ngecas hp. Atau di masa kini pun, pada kendaraan, tapi yang tidak/belum menyediakan terminal tempat nyolok adaptor, ya, sami mawon . Beberapa armada bus buatan karoseri modern sudah menyediakan tempat colokan cas hp, diletakkan di belakang sandaran kursi atau di atas kepala dekat dengan pengaturan suhu AC. Praktis dan fungsional. Pada layar hp saya baca peringatan, "Periksa apakah adaptor daya dan kabel tersambung dengan benar." Perasaan cas hp saya baik-baik saja deh. Terus yang jadi masalahnya apa dong ,  kok  tiba-tiba jadi beg...

Doa Siapa dan Keberapa

Setidaknya malam ini, di masa injury time , e-mail denmas Sosiawan Leak akan diserbu pengirim puisi MBG (Makan Bergizi Gendam) yang nama-nama mereka sudah terdaftar sebagai kontributor antologi puisi MBG, tetapi belum mengirimkan karya puisinya. Saya sudah mengirim naskah puisi pada 8 April. Ada 5 judul puisi yang saya kirim, tentu berharap ada salah satu atau salah dua yang lolos kurasi dan katut dalam buku antologi puisi menolak korupsi (PMK) sebagai wujud sikap batin membenci tindakan bejat korupsi. Ilustrasi | gambar by: pinterest Bersama dengan hari yang di pagi sempat panas lalu kemudian di siang disaput mendung dan magrib tadi hujan ricih-ricih, ada lagi datang info tentang even menulis puisi dari beberapa komunitas. Takkan henti, jadinya, kepala ini (melamun) menjaring metafora. Dan, info itu langsung saya teruskan kepada teman. Kami berdua memang selalu saling menukarkan info, saling support , dan saling doakan untuk senantiasa sehat dan kreatif. Sejauh ini, semua even...

Pojok Baca Digital

Saya ke Samsat buat bayar pajak kendaraan bermotor 'kesayangan' yang kemarin saya servis dan cuci steam. Cek fisik tentu memakan waktu. Karena itu, saya bawa buku buat baca-baca mengisi waktu menunggu saat nama saya dipanggil kasir Bank Lampung. Ternyata di ruang pembayaran pajak ada pocadi milik Perpusnas. Pocadi (pojok baca digital) di ruang pembayaran pajak kendaraan bermotor, ini bernama Taman Kemala. Dan, saya baca seksama tulisan pada  stand banner , “Pocadi merupakan fasilitas pojok baca yang ditempatkan di pusat keramaian atau titik kumpul masyarakat sebagai upaya memberikan kemudahan akses informasi. Bilik pocadi di ruang pembayaran Samsat  Pojok baca digital ini difasilitasi oleh Perpustakaan Nasional (perpusnas). Ada dua rak buku (yang tidak penuh sesak oleh buku) pada bilik pocadi di ruang pembayaran samsat ini. Buku yang dipajang di rak terdiri dari beragam topik. Pengetahuan umum dan sastra. Ada beberapa buku karya Putut EA terpajang. Membawa buku ke mana-m...

Si 'Kesayangan'

Si 'kesayangan' ini agak telat diservis ulang. Puasa serta kesibukan lain jadi penggerus waktu membawanya ke bengkel. Padahal, tak jauh amat dari rumah. Ini karena berhubung besok mau cek fisik, bayar pajak kemudian ganti plat, hari ini dibawa ke bengkel dan dicuci steam lebih dahulu. Perjalanan terjauh dia ini sudah sampai ke Malang. Tunggangan anak kala SMANDA, diboyong ke Solo jadi tunggangannya kala di UNS lalu diboyong lagi hijrah ke Surabaya saat kerja dan dibawanya jalan-jalan ke Malang bersama kawan-kawan kantornya. Si 'kesayangan' masuk bengkel  Karena indekos dan kantornya hanya berjarak tak sampai satu kilometer, ia lebih sering berjalan kaki dari rumah indekos ke kantor. Merasa ndak begitu perlu motor, akhirnya ia paketkan ke Lampung saat hendak sekalian cek fisik dan membayarkan pajak.

Lamban Kuning

Tidak kerap melewati jalan ini, hanya bila armada yang kami tumpangi akan masuk pintu tol mesti lewat depan lamban gedung kuning ini. Itu waktu hendak menuju ke arah Bakauheni. Begitupun sebaliknya, saat mengarah pulang, lewat jalan di sisi sebelahnya. Jalan Ryacudu, Sukarame. Tadi pagi-pagi sekali, saya bonceng istri menuju lamban gedung kuning ini yang jadi melting pot keberangkatan mereka jalan-jalan ke Dieng, Jogja, dan Solo. Berjalan santai melalui jalan Soekarno-Hatta (bypass) yang karena masih terlampau pagi sehingga belum terlampau ramai apalagi macet. Lamban Gedung Kuning kerajaan Sekala Berak Badanku yang habis 'digempur' tipes berangsur-angsur sehat. Makan tidak lagi dengan bubur, tapi sudah dengan nasi yang dimasak dengan sengaja dibikin lembut. Dibanyakkan air saat me-ngaron beras kemudian dikukus lagi di langseng selama seperempat jam baru dipindah dalam magic com . Setelah Tour Sumatera dan Tour Lombok, sekarang mereka Tour Dieng. Pada dua tour sebelumnya, ada ...

Taman Mungil Depan Rumah

Tiga pot bunga wijayakusuma memekarkan 13 kuncup kembang tadi malam. Pot pertama (pot gantung) memekarkan 5 kuncup kembang, pot kedua (yang diikat di batang pohon kelengkeng, memekarkan 7 kuncup kembang, dan pada pot ketiga (juga pot yang digantung) memekarkan hanya satu kuncup kembang. Saya keluar pintu pada pukul 21:25, kuncup kembang sudah bermekaran. Tetapi, mekarnya belum merekah sempurna. Saat hendak subuh ke masjid pukul 04:40, saya melihat bunga wijayakusuma sudah memekarkan kembangnya dengan sempurna. Semerbak bau wangi terhidu oleh hidungku. Oi, baunya sedap juga, rupanya. Puncak perjalanan dari kuncup menjadi mekar  Ini peristiwa berkembang untuk kali kedua. Sebelum ini, bertepatan dengan Valentine's Day Februari lalu, bunga wiku (wijayakusuma) ini memekarkan kembang untuk kali pertamanya. Saat itu tidak banyak, hanya 5 kuncup kembang yang mekar. Tapi, tetap saja menghadirkan pengalaman baru di teras rumah minimalis kami. Selama ini pot gantung berisi tanaman meram...

Mandi Matahari

Mumpung sorot matahari terik menyengat, saya gotong kursi teras ke jalan di depan rumah, duduk berjemur. Perlahan hangat meningkat jadi panas, saya rasa punggung bagaikan disetrika. Balik badan, menghadap ke arah sorot matahari, bagian dada yang menghangat. Berjemur banyak manfaatnya, tetapi tidak sedikit  lho orang yang tak menyukai, justru menghindar dari sengat matahari. Sambil berjemur, saya merancang kira-kira hendak ke masjid mana saya 'safari jumat' hari ini. Badan sih sudah berangsur pulih. Namun, daya dorong tenaga masih agak kekurangan karena dibatasi pantangan. Hanya mengandalkan telur rebus, ikan pepes serta tahu rebus sebagai sumber nutrisi saya selama sakit ini. Daging tidak diperbolehkan oleh dokter, kecuali digiling halus, boleh. Malnutrisi jadinya dong deh .... Buah dan sayuran juga disuruh setop dahulu selama pemulihan dinding usus dari serangan virus pemicu sakit tipes. Padahal, buah dan sayuran sumber serat yang dibutuhkan tubuh bagi sehatnya metabolisme.

Scroll Sejauhnya

Sudah muncul nama saya di daftar peminat puisi menolak korupsi (PMK) yang digagas Sosiawan Leak, progres sampai pagi ini sudah 326 kontributor yang diumumkan di fesbuk miliknya. Nama saya nangkring di nomor 324, berarti ada 3 orang kontributor dengan awal "Z". Maka, ketika mengecek apakah saya lolos atau tidak, memaksa saya langsung scroll sejauh-jauhnya ke bawah. Dari 326 kontributor, baru 92 yang sudah kirim karya. Baru seperempat dari total yang terdaftar. Kalau dengan persentase, baru 28 persen-an saja, dilebihkanlah  sikit bila dicacah dengan kalkulator. Secara DL 13 April, memang masih panjang napas mengorek-ngorek imajinasi, memilah-milah diksi serta menulisnya menjadi pewisi. Lalu menyatakan diri bersiyap mengirimkannya di masa injury time .

Dua Dua

Dua file puisi saya kirim hari ini. Pada pukul 08:43 WIB  file puisi bertema "Belajar Tidak Korupsi, Berhenti Main Akal-Akalan", even ini ditaja Kindai Seni Kreatif, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, berangkat melalui g - form  dan langsung bersarang. Satu jam kemudian pada pukul 09:45, file puisi yang bertema -"Makan Bergizi Gendam"- untuk antologi PMK (Puisi Menolak Korupsi) juga berangkat melalui e-mail Sosiawan Leak yang tukang gagas penerbitan antologi PMK sekaligus penginput progres di fb -nya. Yang pertama DL 13 April dan yang kedua DL 15 April. Masih cukup lega napas sebenarnya, tapi kalau puisi sudah siap kirim, mengapa mesti menunggu hingga mepet ke DL, misalnya baru mengirimkan karya di injury time . "Lebih cepat lebih baik," slogan Pak JK. Dari beberapa even yang saya ikuti, dua even sudah keluar hasil kurasinya. Puisi bertema "kebangsaan" ditaja Sastra Bulan Purnama, Jogja, lolos. Sementara puisi dwi bahasa yang bertema "kons...

Pesan Dokter

Ternyata wujudkan angan dan harapan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pada postingan 4 April berjudul "Obat Demam" saya akan lanjut puasa Syawal pada Senin kemarin. Berhubung demam yang saya idap belum reda dan saya merasa sehat, maka puasa Syawal belum jadi saya lanjutkan. Obat demam dari dokter Ana kurang manjur atau memang penyakit tipes saya (kali ini) rada   ndablek , entahlah. Satu pesan penting disampaikan dokter Ana, adalah saat ini memang sedang musim penyakit DBD dan tipes. Semua pasien yang dia tangani kebanyakan mengalami dua penyakit tersebut. Satu hal lagi yang terpaksa ditunda juga, yaitu donor darah yang terjadwal tanggal 7 April (kemarin). Cemana mau donor wong sedang sakit begini. Donor darah tidak harus tepat waktu seperti jadwalnya, bisa ditunda atau dimundurkan karena berbagai alasan. Misalnya, sakit atau dalam perjalanan ke luar kota. Jadi, donor darah sifatnya fleksibel, tergantung kondisi badan dan sebagainya. Secara aturan yang diberlakukan ...

Hahandop

Benar belaka, seperti yang saya duga, setelah diempani paracetamol hingga tiga butir, tak mempan. Panas bukan turun atau reda, melainkan hanya jinak sementara lalu naik lagi. Begitu terus. Saya pun menduga demam tipes yang saya idap. Takut kejadian seperti dahulu, DBD berkolaborasi dengan tipes, akhirnya saya pergi ke klinik Kosasih Kemiling. dokter Ana minta cek darah. Menunggu 15 menit, hasilnya positif tipes, beruntung bukan DBD. Tapi, tetap saja kudu waspada dan harus istirahat. Dan, tipes ini penyakit bawaan dari masa kecil saya. Dahulu saat masih SD, bila saya demam panas, oleh ayah diagnosanya, bila tipes obatnya diminumi susu cap beruang. Tentu ada hahandop yang diracik oleh ayah sebagai obat penurun panas bagi demamnya. 

Ambang Kemarau

Dua hari, sejak kemarin, hujan deras turun di tengah hari. Bahkan, hari ini sebelum pukul 9, hujan sudah tumpah sejadinya. Maha Kaya Allah SWT si pemilik hujan. Saya abadikan hujan dengan video dan menjadikannya status WhatsApp , sedulur di Surabaya menanggapi, "Di sini panas poll, Mas." Teman di Tulungagung juga komen, "Sama, Mas, di Tulungagung juga kerap hujan, bahkan disertai geludhuk banter banget ." Saya tidak tahu di Pacitan apakah juga masih ada hujan? Secara geografis, tetanggaan dengan Trenggalek dan Tulungagung karena sama-sama pesisir selatan Jawa Timur. Hujan pukul 08:53 AM tadi Tapi, BMKG meramalkan bakal terjadi El Nino yang mengakibatkan kemarau panjang dan kering sekali. BMKG mencatat hingga akhir bulan Maret sebanyak 7% zona musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki musim kemarau. Jumlah ZOM ini bakal bertambah secara signifikan di bulan April, Mei, Juni, dan Juli. Apakah hujan ini sebagai tanda perpisahan dengan musim penghujan dan menyambut musim...

Obat Demam

Beriringan perayaan pra Paskah (Kamis putih, Jumat agung, dan Sabtu sunyi), umat muslim masih suasana bulan Syawal, pada Kamis, Jumat, dan Sabtu ini menjalankan puasa ayyaumul bidh. Saya baru mulai puasa Syawal sejak Kamis sekalian puasa ayyaumul bidh, tapi hanya bisa sampai Jumat, Sabtu terpaksa saya menyerah karena mengalami demam. Tahun lalu, agak lupa tepatnya tanggal berapa dan bulan apa, saya juga menyerah puasa ayyaumul bidh di hari kedua karena diserang vertigo. Demam kali ini tidak parah amat. Saya terbangun pukul 3 dini hari untuk BAB. Seharian berulang hingga tiga kali, begitu tengah hari keluar bintik-bintik (ruam merah-merah) di bagian perut dan punggung. Sudah kerap terjadi. Sekadar ilustrasi| credit title: SMP Kristen 1 Surakarta| Tidak harus ke klinik, cukup minum obat yang ada di kotak obat. Paracetamol lebih dari cukup untuk bisa menjinakkan demam yang tidak begitu parah. Untuk lebih mendapatkan tubuh yang prima, saya tambah dengan vitamin. Tapi, obat paling mujarab a...

Jumat Agung

Jadi, bersamaan dengan Jumat Agung umat Katholik yang akan merayakan Paskah pada hari Minggu lusa, hari ini saya melanjutkan 'safari jumat' ke masjid Al-Huda, Beringin Jaya, Kemiling. Masjid yang berada di persilangan Jalan Banowati, masuk ke dalam di belakang Gabovira (toko batik khas Lampung), begitu masuk ruang dalam masjid, udara sejuk dari AC langsung memeluk tubuhku. Tampilan Masjid Al-Huda dari luar  Saya lihat banyak AC terpasang di dinding masjid, tapi tidak satu pun dihidupkan karena ada dua AC (seperti lemari es) di kiri kanan sudut depan masjid. Mampu mendinginkan ke seluruh penjuru ruangan. Ada beberapa tiang penyangga lantai dua, rasanya wajar saja, tidak begitu mengganggu ruang bawah masjid. Kendati lantai atas tidak jelas betul perihal fungsinya, tiang membuat masjid tambah estetik. Ruang dalam masjid  Di bagian belakang masjid sayap sebelah kanan ada satu menara tinggi. Mengalun syahdu dari atasnya bacaan Al-Quran dari audio, mengundang jemaah untuk bersegera ...

Kabar Penyair Pergi (2)

Lagi, penyair berpulang. Hafney Maulana, penyair kelahiran Sungai Luar, kabupaten Indragiri Hilir, Riau, tahun 1965. Wafat Selasa, 31 Maret 2026. Berarti ia berpulang ke Rahmatullah dalam usia 61 tahun, sudah masuk kategori warior (warga senior) yang ditetapkan oleh Yayasan Dari Negeri Poci, waktu menginisiasi antologi “Sang Warior – The Seventies Selected" diterbitkan Kosa Kata Kita, Februari 2026. Buku “Sang Warior” saya terima hari Minggu, 29 Maret 2026 pukul 14:02 WIB atau 02:02 PM. Apakah “Sang Warior” adalah buku antologi terakhir yang memuat puisi almarhum Hafney Maulana? Entahlah. Saya juga tidak tahu, apakah buku “Sang Warior” sudah sampai ke tangannya atau masih dalam perjalanan dari Jakarta menuju alamat rumahnya? Menjadi sebuah tanda tanya besar yang ditinggalkannya berpulang. Ini seperti ketika Drs. Abdul Karim, M. M. (Abah Karim) berpulang pada 29 Januari 2026. Penyair asli Tanah Laut, Kalimantan Selatan, ini dalam setiap karya puisi suka menggunakan nama pena Ok...

Kopi Pahit

Dulu, sewaktu Amiruddin Sormin berpulang ke Rahmatullah, masa pertemanan kami di facebook baru sekitar 6 bulan. Tadi malam, tatkala saya buka facebook , diingatkan oleh  platform  milik meta ini, pertemanan kami tepat berusia 1 tahun. Dapat kabar wafatnya almarhum Amiruddin Sormin --agak terlambat (baru besoknya)-- saya menulis di blog ini (agak lupa pula tepatnya diposting tanggal berapa), bersama pula cerita tentang pertemanan dengan bro almarhum Ahmad Yulden Erwin (AYE). Satu tahun pertemanan kami di facebook  Pengingat dari facebook tadi malam langsung saya skrinshut untuk saya pakukan di postingan blog  ini hari. Yang saya suka dari Amiruddin Sormin adalah tulisan kolomnya di lampungpro.co , sebuah portal berita digital yang ia sebagai pemimpin redaksinya. Kolom "Kopi Pahit" yang menyuarakan kritik satir Amiruddin Sormin Siregar (nama lengkap) jurnalis jebolan surat kabar Lampung Post , ini begitu pahit seperti menyeruput kopi. Pas banget dengan nama kolom ...