Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label perpustakaan

Jantung Peradaban (lagi)

Saya serta istri, sepulang dari Jember, mampir Surabaya tilik anak, kemudian numpak kereta malam menuju Jakarta terus ke Kota Depok tilik anak mantu. Pegal pada sekitar panggul hingga betis kaki akibat duduk berjam-jam belum benar-benar tiris. Sebagai bentuk sayang anak mantu ini, kami berdua ditawarkan henda jalan-jalan ke mana? Karena rasa pegal itulah, kami agak kurang antusias mengiyakan tawaran itu. Ada jiwa, tapi kurang tenaga, begitulah rasanya lansia. Tapi, sudah kepalang sayah , hayo aja . Perpustakaan UI, Kota Depok Akhirnya sepakat ke kampus UI, waktu sudah jelang zuhur. Mampir terlebih dahulu ke masjid Ukhuwah Islamiyah, mendirikan salat zuhur, kebetulan gema azan baru saja pergi menjauh. Selagi wudu, iqamah dikumandangkan. Berlari-lari sa'i masuk ke masjid. Satu rakaat ketinggalan. Selesai salat kami jeprat-jepret dahulu mengambil latar Danau Kenanga dan kampus yang ikonik. Lalu kami masuk perpustakaan, setelah lapor dan membayar bea adminstrasi sebagai pengunjung. S...

Jantung Peradaban

  “Perpustakaan adalah jantung peradaban, dan pustakawan adalah nadinya. Pustakawan memiliki peran vital sebagai penjaga pengetahuan, pengelola informasi, dan penggerak literasi.” –T. Syamsul Bahri (Ketua Umum Ikatan Pustakawan Indonesia) Disampaikan dalam peringatan Hari Pustakawan Indonesia di Jakarta, 7 Juli 2025 *** Nah, jantung lagi, nih. Kalau kemarin tulisan di blog ini mengapungkan gumam bahwa Surah Yasin adalah jantung Al-Quran. Dengan mengutip pernyataan Ketua Umum Ikatan Pustakawan Indonesia di atas, akan menjadi mafhum kita, bahwa dalam konteks manusia, jantung adalah organ vital untuk manusia bisa hidup. Jantung bermasalah, manusia bisa mati. Sebagaimana dikatakan Bapak T. Syamsul Bahri di atas, perpustakaan adalah jantung peradaban, maka akan menjadi mafhum kita, bahwa peradaban suatu bangsa ditentukan oleh organ vital yang membuat beradab atau tidaknya, dalam hal ini perpustakaan, maka seberapa besar perannya membentuk dan menghidupi peradaban suatu bangs...

“Kuburan Prahistoris?”

  “Tempat pembuangan sampah bagi orang hidup, suaka perlindungan bagi harta orang mati. Perpustakaan.” “Di masa depan, perpustakaan tak ubahnya pekuburan prahistoris. Di sanalah kita bertemu dengan seorang gadis, dan sebelas buku yang menceritakan sejarah dengan cara masing-masing. Cerita dalam buku-buku itu sering terasa ganjil, kadang terasa begitu asing, kadang pula sebaliknya: terasa dekat, seperti kita tahu tentang apa sebetulnya cerita-cerita itu. Setiap buku menyajikan cerita yang sepenuhnya berlainan dari buku lain, tetapi kita—sebagaimana gadis itu—tahu bahwa ada satu hal yang menghubungkan sebelas buku itu. Selanjutnya, kita diajak tenggelam dalam dunia di luar buku yang tak kalah ganjil, asing, dan dekat.” ..... Begitulah yang tertulis di sampul belakang buku “Tiga Dalam Kayu”, sebuah novel untuk usia 18+ karya Ziggy Zezsyazeovennazabrizkie yang sekilas saya baca di Gramedia, Kamis (13/2/2025). Penulis asal Lampung ini telah menulis lebih 30 judul buku. Salah satun...