Hari ini buku antologi cerpen dan puisi “Anak Merah Putih Tidak Takut
Masa-lah” diluncurkan bersamaan dengan peringatan Hari Ibu tahun 2025. Buku
besutan Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) ini diberi kata pengantar oleh Wakil
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Wamen PPPA), Veronica
Tan.
Saya ikut kedua-duanya, ya cerpen, ya puisi. Kesannya kok kayak kemaruk amat ya. Ah, nggak juga sih. Ikut satu atau dua, bebas. Sesuai ketentuan panitia, siapa pun
yang berminat mengikutinya, boleh kirim naskah cerpen, puisi atau kedua-duanya,
masing-masing cukup satu naskah. Jadi, kalau ikut dua-duanya, mengirim cerpen
dan puisi.
Ndilalah yo kok loro-loro atau kalihipun
lolos kurasi sedoyo atau sedanten. Nah, lo, tak basa jawain. Sebenarnya,
menghadiri peluncuran buku “Anak Merah Putih” ini menarik sekali, apalagi cuma di
Jakarta. Wong ke Banyuwangi
atau Jember saja saya lakoni, apalagi cuma Jakarta. Akan tetapi, sayangnya saya
pergi ke Jambi untuk Festival Puisi Etnik Nusantara.
Ke Jambi, jauh-jauh memakan waktu tempuh 13 jam dan karena “dikunci”
kemacetan parah, akhirnya molor menjadi 18 jam, limang jam kelontho-lontho
neng dalan. Capekkah saya? Yo, ndak tho. Malah hepi tur riang gembira. Di perjalanan ndilalah
ketemu bekas tetangga satu grup ronda yang kendati orang Lampung, tapi ikut puisi etnik
melayu Kalimantan Barat.
Di dalam travel, ia teleponan dengan kawan-kawannya dari Kalbar yang
sudah duluan tiba di Jambi. Saya nguping obrolan mereka kok membicarakan
festival. Ketika travel berhenti istirahat makan siang, saya tanya, “Bapak dari mana?”
Dijawabnya “Dari Lampung”, “Mau ikut festival,” tanya saya lagi. “Iya,”
jawabnya. “Bapak juga,” tanyanya. "Iya," jawab saya.
“Pantasan di daftar peserta hadir grup WA, dari Lampung ada satu orang, pikirku
siapa ini,” selorohnya. Mengamati wajahnya, saya kok seperti ingat-ingat lupa
atau lupa-lupa ingat. Apalagi ketika ia menyebut beberapa orang nama tetangga. Saya
berkesimpulan, “Oh, iya, ia ini dulu kawan grup ronda.” Apalagi saat ia
sebutkan namanya, jadi ingat.
Di samping hepi tur bahagia
bertemu teman satu tujuan dan bekas tetangga lagi, saya juga hepi tur bahagia karena mengobrol dengan
jiran warga serumpun dari Johor, Malaysia. Orang Malaysia ringgitnya nggak berseri kali ya. Saya perhatikan
suka sekali mereka menghadiri even peluncuran buku dan festival, jambore atau
apa pun namanya.
Dulu, di acara Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi, 24–26 Oktober 2024 penyair Singapura Rohani Din hadir. Dan pada Temu Karya Serumpun (TKS) di Jember Adziah Abd Azis (penyair Malaysia) membaca puisi. Sedangkan penyair Thailand yang kuliah di Jember menyampaikan testimoni, kehidupan sastra di sana maju pesat.
Komentar
Posting Komentar