Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label bahagia

Lansia Bahagia

Punya alat ukur tensi darah digital sendiri di rumah bisa  sakwayah - wayah  cek tensi darah. Kemarin karena merasa kepala agak pening, saya cek tensinya 130/80, berarti normal untuk kategori lansia seperti saya. Bahkan, ada yang beranggapan 140/90 tergolong normal, di bawah itu masuk  ‘ darah rendah. ‘ Seperti pengakuan “teman jalan subuh” yang belum aktif salat berjemaah ke masjid pascaoperasi hernia kedua kalinya. “Masih terasa nyeri, di rumah pun saya salat duduk,” katanya. Saya suruh bawa kursi spesial untuk salat ke masjid. “Ah, malau,” ujarnya. Mengapa mesti malu. Para koruptor saja pede dan narsis abis. Suasana posbindu di rumah Pak RT. 13 Katanya, tensi 140/90 itu ukuran normal untuknya. Ia rutin periksa pada anak gadisnya sendiri yang lulusan pendidikan bidan. “Jika di bawah itu, rasanya badan lemas dan agak kliyeng - kliyeng ,” katanya. Ukuran kayak punyanya itu, kalau saya terbilang tinggi, bikin kepala pening. Waktu 160/90 saya usahakan turun ke normal. Pag...

Sixties Happy

Eufemisme (penggunaan kata atau frasa yang lebih halus) dengan kata lain penghalusan istilah. Sebenarnya, kata atau frasa lansia –singkatan dari lanjut usia– tidaklah terdengar kasar sehingga tidak perlu dihaluskan apalagi diampelas. Tapi, demi lebih terdengar santun, dipakailah istilah warior (warga senior) sebagai pengganti penyebutan lansia. Buku antologi yang ditujukan untuk penyair yang sudah berusia sepuh , ini semula khusus untuk yang berusia 70 tahun ( seventies ). Kemudian diturunkan tingkat “ketuaannya” menjadi 60 tahun ( sixties ). Saya yang berusia 60+ mendapat tiket untuk ikut serta. Saya kirim 5 judul puisi untuk dikurasi oleh tim kurator yang tentu lebih sepuh dari saya. Flyer dari semula, tersebutlah "the seventies" Pada flyer memang tegas dicantumkan frasa seventies , tapi yang tergolong berusia sixties boleh ikut. Setelah pengumpulan puisi sampai batas tenggat akhir ( deadline ), proses kurasi dilakukan dengan seksama. Agak lama menunggu kok tidak k...

Tour Lombok

Setelah “Tour Sumatra” pada 13 Juli silam, hari ini istri kembali ikut rombongan kawan-kawan pensiunan guru untuk “Tour Lombok, Bali, Bromo” dengan menggunakan bus Puspa Jaya. Tepat pukul 07:48 WIB bus meninggalkan halaman parkir pool bus di Jl. Soekarno–Hatta, By Pass. Lama perjalanan pergi dan pulang sekitar 10 hari (14–24 Desember) dengan rute Lampung–Lombok–Bali–Bromo–Malang–Jogja dan pulang. Perjalanan dari Lampung ke Lombok disertai jeda 3 kali untuk istirahat, mandi-mandi, ganti kostum, dan isoma. Iya kali selama di jalan sekian hari gak mandi dan ganti baju hingga tiba di Lombok. Karena itu, di samping koper besar yang nginap di bagasi, di loker barang di atas kepala, diselipkan tas tentengan berisi handuk, peralatan mandi serta baju ganti. Sementara di bawah kaki tas berisi air minum dan camilan. Bus standby untuk diberangkatkan Memang begitulah kalau saya dan istri pergi mudik ke Jawa, sarat dengan membawa koper besar dan tas tentengan berisi ransum pelipur 'daripada...

Rahasia Bahagia Lansia (1)

"Rahasia Bahagia Lansia." Ada, ya? Tentu saja ada dong . Itu tema yang disorongkan Aksi Swadaya Menulis Dari Rumah (ASMDR) bekerja sama dengan penerbit Kosa Kata Kita (KKK). Aku karang 3 judul puisi dan telah aku kirimkan tadi pagi ke e mail yang tertera pada  flyer dan disebar luas oleh ASMDR. Dua judul puisi aku buat berbentuk akrostik dan satu puisi bebas. Agak sedikit menantang membuat puisi akrostik. Gampang-gampang susah ato susah-susah guampang . Tetapi, justru mendorong untuk berpikir agak sedikit lebih keras dalam hal mengulik imajinasi Berbeda dengan puisi bebas yang benar-benar bebas dalam arti tidak terikat pada rima. Puisi bebas yang terikat rima memang lebih bagus sebab mengandung kaidah bunyi yang estetik di akhir lariknya. Masuk pada kaidah penulisan sastra yang beneran   nyastra . Lansia harus bahagia. Oh, tentu. Bagaimana caranya lansia merasa bahagia tentu terpulang kepada diri si lansia masing-masing. Ada yang jalan-jalan bersama keluarga atau teman-tema...

Tour Sumatra

Istri baru pulang subuh tadi sehabis jalan-jalan ikut rombongan para pensiunan 'tour sumatra' selama 12 hari. Luar biasa, umrah saja cukup 9 hari, ini menjelajah daratan pulau sumatra melampauinya. Sungguh nikmat Tuhan Allah SWT mereka rasakan. Benar, "maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan" tanya Allah SWT di dalam Surah Ar-Rahman yang diulang 13 kali. Pertanyaan retoris itu ditujukan kepada manusia (dan jin) yang telah banyak diberikan nikmat oleh Tuhan napa   kok masih ingkar. Kopi Gayo Niscayalah semua ibu-ibu (dan sejumlah bapak) yang tour itu begitu bersyukur atas kenikmatan yang telah Allah SWT anugerahkan. Terutama nikmat sehat dan waktu luang, dua bentuk kenikmatan yang acapkali lalai disyukuri menungso , tahunya hanya menikmati. Tidak semua ibu-ibu itu pensiunan, ada yang masih aktif sebagai pegawai negeri, tetapi karena musim liburan sekolah mereka aji mumpung menikmatinya untuk jalan-jalan menghibur diri, meluruhkan stres, membasuh kepenatan ...

Berdamai dengan Usia

Lanjutan bertemu sebelum puasa, hari ini pertemuan setelah lebaran. Maka, bisa dikatakan acara halal bihalal. Sebelum puasa ceritanya di blog ini bertajuk "Para Pensiunan" diposting pada 18 Februari 2025. Kumpul temu kangen pensiunan, sebelum puasa ambil tempat di Pindang Paws Resto. Hari ini ambil tempat di Kinar Resto. Kemarin menemani istri untuk reservasi tempat sekalian makan siang. Berdamai dengan usia. Lamo indak basuwo , ada yang tampak lebih muda. Fresh pikiran setelah bebas dari tugas dan tanggung jawab ketika masih aktif ngajar. Sudah tak ada beban, tak ada stres, tak lagi pusing. Berdamai dengan usia bukan berarti menolak tua, melainkan nikmati sisa usia dengan membebaskan pikiran dari keruwetan. Dengan kata lain jangan terlampau memusingkan hal-hal yang tidak penting. Sembari menunggu menu maksi terhidang, omon-omon dipertukarkan. Saling tanya kabar, kesehatan, kegiatan, dan keluarga masing-masing. Kendati Februari kemarin ketemuan, tetap saja happening . Ren...

Para Pensiunan

Seorang yang ikut 'temu kangen' unjuk kebolehan menembangkan lagu kesayangan. Sinetron “Preman Pensiun” pernah dengar? Pernah nonton? Tapi, yang ini “Para Pensiunan.” Ya, pensiunan guru kolega istri. Beberapa orang membentuk komunitas arisan. Setiap sebulan sekali mereka berkumpul, makan-makan, mengobrol, kangen-kangenan dan mengumpulkan uang tabungan. Efeknya membuat hormon kebahagiaan meningkat. Banyak cara untuk bahagia sendiri. Tapi, bisa berbagi kebahagiaan terhadap orang lain justru di situ letak kebahagiaan hakiki. Arisan atau piknik bareng , itu medium yang tepat. Pindang Paw's Tidak sedikit orang yang purna-tugas langsung “disambut” penderitaan stroke. Paling banyak menyerang orang yang terbiasa menduduki kursi jabatan yang empuk dan nyaman. Post power sindrome sebagai pemicu. Tidak mudah bagi orang yang biasa dengan rutinitas kerja dan berinteraksi dengan teman kantor, tetiba pensiun dan harus ndekem di rumah. Di rumah hanya duduk nonton TV membuat kurang...

Bahagia tuh Sederhana

Truk bercat warna hijau dengan ”tattoo” wajah Najwa Sihab di badannya (foto: X)   Iye , kan, seperti yang beberapa kali saya tulis dan posting di blog ini, di X (twitter) itu kerapkali saya menemukan yang asyik-asyik. Barusan saya asyik scroll - scroll , eh ketemu video truk yang di badannya berhiaskan wajah Najwa Sihab. Kok , ya, ndilalah pas kebetulan Najwa Sihab sedang lewat di samping truk dengan ALPARD-nya, sopir mbak Nana yang melihat lukisan wajah itu pun memberitahukan hal itu. Mbak Nana pun membuka jendela dan dadah-dadah ke arah truk yang disalip alpard -nya dari sebelah kiri. Tatkala sopir truk tahu mbak Nana yang mendadah-dadah itu, kontan menginjak pedal gas menambah laju kecepatan truk agar bisa jalan bersisian untuk mempertontonkan rasa bahagianya. Kernet truk yang duduk di sebelah kiri semringah mengacungkan dua jempol ke arah mbak Nana di dalam alpard -nya. Tawa ceria pun merekah di antara mereka. Maka, anggapan bahwa bahagia itu sederhana sangat sahih. Bet...