Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya.
Buku lain itu, ialah Ki. Hadjar Dewantara, Bahasa Ibu Bahasa Darahku, Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah,
dan Depok Membaca. Sejauh ini, lima
buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku
lainnya.
QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk
mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan,
kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit
adalah QRCBN tersebut.
Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku.
Itu misal. Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI (Akal Imitasi) kini, membuat orang begitu gampang membuat karya secara instan, meng-copy paste karya orang lain pun dihajar-bleh tanpa takut dikata plagiat.
Mensyaratkan pembuat karya menyertakan
surat pernyataan keaslian naskah, itu biasa dilakukan penerbit anggota IKAPI
yang menjaga tanggung jawab moral atau integritas serta kode etik. Mereka tidak
mau bekerja dengan sembarangan.
Kendala dalam mendapatkan ISBN, itu juga yang jadi faktor lambatnya menerbitkan buku. Ada satu buku antologi saya ikuti yang ujungnya hanya selesai sampai pdf-nya saja. "Diterbitkan di grup WA". Pasalnya, terkendala di website penerbitnya.
Begitu yang mengemuka dari penjelasan founder penerbit. Entah apanya, kurang faham saya. Waktu itu lama sekali menunggu kepastian, apakah buku akan jadi atau tidak. Ujungnya, ya, memang jadi tetapi hanya berbentuk pdf. Dibagikan di grup WA.
Komentar
Posting Komentar