Langsung ke konten utama

Sebelum Terakhir

Pukul 14 lewat 2 menit (02:02 PM) datang kurir mengantar paket. Saya sudah bisa menebak dengan pasti bahwa yang diantar adalah buku “Sang Warior” karena memang sedang didistribusikan pada para penulis puisi gaek yang tergabung di dalamnya.

Benar belaka, setelah saya terima, pada sampul paket terbaca jelas “Kosa Kata Kita” alias KKK, identitas sang penerbit yang menerbitkan buku Antologi Puisi Penyair 70-an (penyair berusia 70 tahun atau tepatnya 60 tahun ke atas) atau penyair kelahiran minimal tahun 1965.

Sang Warior, The Seventies Selected

Kenapa judul postingan blog kali ini Sebelum Terakhir? Karena buku ini adalah bagian dari antologi yang saya ikuti sepanjang tahun 2025. Bukan buku terakhir karena masih ada satu buku yang saya tunggu kedatangannya yang merupakan proyek lama. Sejak awal tahun 2025.

Proyek nulis puisi bertema “Terang Bulan Tepi Lautan” yang puisinya saya kirim pada 8 Juli 2025. Admin yang mengampu proyek ini sibuk oleh kegiatan antologi lain, sehingga proyek miliknya sendiri terpaksa dia pending sebegitu panjang waktunya. Nyaris ga jelas endingnya.

Baru dia lanjutkan setelah beban kerja di pundaknya berkurang. Ada dua buku yang dia tangani di bawah kibaran bendera komunitas yang dia ampu. Satu buku berjudul “HIJAU” dan satu “Terang Bulan Tepi Lautan” ini yang sedang dalam proses layout, cetak, dan terbit.

Maka, buku “Sang Warior” yang sudah duluan datang, menjadi “bukan terakhir.” Maka, setelah buku “Terang Bulan Tepi Lautan” nanti selesai kemudian saya terima kedatangannya, berakhir atau selesailah even menulis antologi puisi sepanjang tahun 2025 yang saya ikuti.

Keseluruhan ada 17 antologi yang saya ikuti. Kemudian beralih ke even menulis puisi di tahun 2026. Sudah satu even yang saya kirimkan puisinya, sekian banyak even lainnya menunggu giliran. Tampaknya di tahun 2026 ini akan lumayan sibuk menyiapkan puisinya. Gasken lah..


Komentar

Postingan populer dari blog ini

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...

Hikmah Safari

Jika pada 'safari jumat' saya telah menemukan masjid Al-Hikmah di Jalan Pagaralam (Jumat, 16/1), kemarin sewaktu ‘safari ramadan’ saya kembali menemukan masjid Al-Hikmah di perumahan Merpati Asri. Dengan begitu sudah ada dua masjid Al-Hikmah yang saya cium sajadahnya. Nah, itulah hikmah safari. Hari ini, dalam melakukan perjalanan 'safari ramadan', saya dipertemukan dengan masjid Darul Hikmah. Nah, lagi-lagi ada kata kembar. Setelah bersua kata kembar ‘khoir’ pada masjid Thoriqul Khoir dan Nurul Khoir, hari ini kembali bersua kata kembar ‘hikmah’ pada masjid Al-Hikmah dan masjid Darul Hikmah. "Hikmah safari." Benar, begitulah hikmah daripada ‘safari ramadan’ yang saya jalani, yaitu bersua kata kembar pada nama-nama masjid yang saya jadikan target ‘safari ramadan’ salat Zuhur. Begitulah kegaliban nama-nama ‘Rumah Allah’ di muka bumi ini, tak lari dari nama-nama yang memberi spirit beribadah pada hamba-Nya di bulan Ramadan. Masjid Darul Hikmah Jl. Karet, Sumbe...