Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label rancage

"Pohon Terlambat Berbuah"

Rabu, 30/04/2025 pukul 15:41 masuk pesan lewat facebook messenger dari Bli I Wayan Jengki Sunarta, redaktur sastra koran Bali Politika. Lima puisi yang saya kirim, dimuat setelah sabar menunggu. Tentu saja saya haturkan terima kasih banyak atas tayang puisi tersebut di koran Bali Politika. Saya sampaikan lewat messenger itu. Antre, katanya. Oh, ya, tentu saja banyak kiriman puisi yang masuk meja redaksi, berharap dimuat. Redaktur butuh waktu membaca satu-satu, menilai puisi dari berbagai aspek, apakah layak dimuat atau tidak. Saya maklum. Karenanya, saya sabar, tidak berekspektasi terlampau tinggi. Waktu akan tiba pada detik terakhir. Ada penyair menggantung ekspektasi tinggi-tinggi terhadap puisi yang dikirimkannya ke media. Sangat berharap dimuat, puisinya dibaca banyak orang, namanya kian dikenal. Publikasi puisi atau karya sastra lainnya, itulah tangga yang dinaiki penyair agar kepenyairannya sampai di atas. Di puncak tangga ketenaran. Naik ke panggung membacakan puisi, adalah t...

Momen 1

Ini kelanjutan cerita di blog ini yang berjudul “Karakter Manusia” yang diposting tanggal 3 Juli silam. Siang tadi prosesi lamaran putri kedua adik sepupu saya telah dilangsungkan. Dahulu, di blog - post 3 Juli itu, ceritanya, kan, perihal keraguan pihak calon besan adik sepupu. Sebab tinggal di Lampung yang stigmanya sudah tahu- lah , ya, sehingga mereka sedikit ragu terhadap “asal usul” gacoan anak lelaki mereka. Padahal, adik sepupu saya, kan, hanya sekadar beralamat kehidupan doang karena dia bersama suaminya berprofesi sebagai ASN. Adik sepupu saya sama seperti saya berasal dari Ranau (Sumatra Selatan) dan suaminya asli Jogja. Anak sulung mereka cowok lahir di Jogja dan adiknya cewek , yang tadi siang dilamar, lahir di Nusa Tenggara Barat saat sang suami tugas di sana sebelum pindah ke Lampung. Padahal, sebenarnya setali tiga uang. Adik sepupu saya juga sedikit ragu terhadap “asal usul” keluarga calon besannya itu. Terlintas di benaknya bayangan cerita sumbang atau kaba...

Betul nih ke UWRF?

Bermula di tanggal ini kabar kudapat bahwa kami berlima pemenang Hadiah Sastera Rancagé 2023 akan dihadirkan di Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 18—22 Oktober 2023 nanti. Kang Apip dari Yayasan Kebudayaan Rancagé yang mengabarkan. Wah, bungah dong ? Tentu, je ! Siapa sih yang nggak pengin ke festival yang pesertanya dari sepenjuru dunia. Penulis, sineas, pengamat atau sekadar pencinta sastra yang, tentunya mendapat undangan, akan hadir mengikuti kegiatan festival beberapa hari tersebut. Saya sudah lama tahu tentang UWRF dan membatin bagaimana, ya, supaya bisa hadir meski sekadar buat menonton doang . Tidak mudah ternyata, mesti dapat undangan dari penyelenggara atau minimal ada parapihak yang merekomendasikan untuk diundang ke sana. Nah, saya –yang bukan siapa-siapa– ini siapa coba yang mau merekomendasikan? Tetapi beruntung saya adalah satu dari lima pemenang Hadiah Sastera Rancagé yang semula penyerahan piagamnya akan dilaksanakan di Bandung, namun dialihkan ke Bali ba...

Keterkejutan

Hari Bahasa Ibu Internasional (21 Februari), setiap tahun akan ada keterkejutan tentang punahnya beberapa bahasa Ibu. Tidak terlampau mengejutkan sebenarnya. Semakin jarang orang menjadikannya bahasa percakapan. Kajian vitalitas bahasa daerah di Indonesia menunjukkan ada bahasa yang dikategorikan punah, berstatus kritis, terancam punah, mengalami kemunduran, dalam kondisi rentan (stabil tetapi terancam punah), berstatus aman. Hasil kajian itu saya kutip dari tweet Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (21/2/2023). “Ketika benteng pertahanan di keluarga tak terjaga, nasib bahasa Ibu tinggal menunggu kepunahan” (E. Aminuddin Aziz, Kepala BPPB). Berdasar data Ethnolugea, Indonesia yang terdiri kepulauan memiliki bahasa derah terbanyak kedua di dunia. Data bahasa daerah selalu diperbaharui setiap bulan Oktober karena di bulan ini kita memperingati Soempah Pemoeda. Berakar pada ikrar Soempah Pemoeda 28 Oktober 1928 itu setiap tahun diiringi dengan perayaan Bulan Bahasa. Biasanya B...

Rancage, Continued History

Buku "Singkapan" ikut terpajang sebagai pemenang (foto: rancage.id) WhatsApp pukul 23.51. Udo Z Karzi mengirim foto cover lima buku di bawah tulisan; Keputusan Hadiah Sastera ”Rancagé” Tahun 2023 disertai caption Selamat yu Mamak (emoji 3 kepalan tangan). Wah, buku Singkapan ikut terpajang di foto itu. WhatsApp baru saya baca pagi, pukul 06.57. ”Wuy, setemon pai ajo kudo. Minjak pagi injuk jak buhanipi api,” balasku. ”Yaddo,” balasnya pukul 07,48. Diikuti masuknya link rancage.id pengumuman tersebut. Berikut video pembacaan keputusan. Pikirku ini semacam continued history dari hasil Sayembara Menulis Puisi Berbahasa Lampung, jadinya. Puisi Sampian yang saya ikutsertakan jadi juara satu. Di luar ekspektasi karena niat awalnya hanya sekadar buat ngeramein hajat DKL itu. Kalau ternyata puisi Sampian jadi pemenang dan judulnya dijadikan brand name buku antologi puisi dwibahasa Lampung-Indonesia, merupakan anugerah terindah dan jadi catatan sejarah, bahwa dunia sastra itu ...