Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label teman subuh

Subuh kok Kipasan

Udara dingin menusuk tulang hingga ke sumsum. Itu yang saya rasakan ketika salat subuh tadi di masjid kami yang terbuka belum berdinding karena masih terus dalam taraf pembangunan. Selesai kubah terpasang, berlanjut mempercantik dinding area imam (pengimaman) dengan memasang granit dan ornamen dari bawah hingga ke atas langit-langit. Dikerjakan terus menjelang Ramadan agar saat hari raya nanti terlihat sudah cantik. ‘Teman jalan subuh’ saya, yang sudah berulang kali saya ceritakan di blog ini, belum aktif lagi salat berjamaah di masjid pascaoperasi hernia. Ia masih dalam pemulihan, tentu menghindari gerakan-gerakan ekstrem apa lagi mengangkat beban atau barang yang berat-berat. Padahal, ia mengelola warung kelontong di rumahnya yang berjualan gas dan galon air mineral. Jadi, siapa yang beli dua barang itu, kudu angkat sendiri. ‘Teman subuh’ ini punya suatu kebiasaan, yaitu menghidupkan kipas angin di waktu subuh. Lah, subuh udara dingin kok kipasan, piye tho , Jal! Panas karena i...

Ogah Mburi Imam

"Awas roboh," kata ketua takmir masjid jami' Al-Anshor, BKP, ketika saya mengambil posisi duduk dekat tiang penyangga kubah masjid, saat salat jumat. Guyonan Pak Syafuan itu saya sambut dengan tawa. Kami pun bersalaman. Kami bertetangga di perumahan. "Orang berebut pengin di shaf pertama, kok ini nyari senderan di tiang," lanjutnya. Memang, shaf pertama lebih afdal karena pahalanya lebih besar. Saya ambil posisi dekat tiang bukan karena penyin nyender, melainkan posisi itu pas dengan posisi AC di tembok masjid. Kalau di masjid Ikhlas Al-Azhar dekat rumah, saya biasanya di shaf pertama dekat imam dan khatib. Salat lima waktu kalau tidak jadi imam, saya di posisi itu atau di belakang imam. Agak aneh ketika "teman jalan subuh" saya ogah banget mengambil posisi tersebut. Entah apa alasannya. Pokoknya nggak mau aja. Boro-boro jadi imam, tepat di belakang imam saja ogah. Kalaupun mau di belakang imam, tapi di shaf kedua. Seperti ada ketakutan yang tidak pu...

Ambal Warso

Simbol angka 63 (gambar milik alamy) Teman jalan subuh saya hari ini genap berusia 63 tahun. Usia Rasul, orang menyebutnya. Usia yang sedikit rawan, barangkali karena Rasulullah SAW wafat di usia tersebut. Imam masjid kami juga wafat di usia 63. Tapi, perihal kematian, itu adalah rahasia Allah SWT Sang Pemilik Takdir yang misterinya tidak terpecahkan. Kullu nafsin dzaikotul maut, tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Tentang kapan dan di mana mati tersebut akan terjadi? Di situlah letak misterinya. Kapan dan di mana ajal menghampiri seseorang, tidak ada yang tahu persis. Hanya ikhtiar untuk kematian yang husnul khotimah, kematian yang sebaik-baiknya, itu yang sebaiknya diupayakan menggapainya. Untuk hari spesialnya itu, saya ucapkan sugeng ambal warso kepada teman yang berulang tahun tersebut via WA. Dengan iringan doa terbaik untuknya, mugi - mugi   diparingi kesehatan, kesejahteraan, dan panjang usia. Terima kasih balasnya.

Adab Takziah

Suasana takziah dan tahlilan n iga-hari Rabu malam Kamis (17/4/2024). Teman jalan subuh mengistilahkan “seperti sujud di dekat asbak” ketika waktu sujud dari jemaah di sebelah kita menguar bau mulut bekas merokok. Setelah saya resapi dan mengalaminya sendiri, memang iya lho. Saat salat zuhur hari Selasa lalu saya sampai dibuat terbatuk-batuk sesudahnya. Setelah saat sujud abab kawan di sebelah tersedot masuk mulut saya, kontan saya jadi terbatuk-batuk dan keterusan, ujungnya muncul gejala influenza. Terpaksa deh di saat tahlilan malam ketiga atau niga - malam Ummi Megawani Oesman di Perum Langkapura, saya harus pakai masker pelindung. Pelindung diri agar bisa mengurangi bau rokok. Melindungi orang lain agar tidak tertular flu yang saya derita. Ah, jadi teringat masa covid dahulu. Tadi, sepanjang seharian hidung saya meler . Ingus sedang encer-encernya, tak henti-henti saya buang dan menyeka hidung berulang kali dengan tisu. Untung ada obat batuk cair sisa istri bulan lalu....

Justru Buah, Lho kok?

Tadi malam saya nonton podcast Putut EA dan Butet Kertredjasa dengan bintang tamu dr Oei Hong Djien, si pemilik museum dan kolektor lukisan “nomor dua” setelah Bung Karno. Sebenarnya kalau konteks terkini, dr Oei yang  “ nomor satu ”  karena Bung Karno setelah tahun  ’ 66an berhenti menambah koleksi lukisannya. Dokter Oei lahir di Magelang, 5 April 1939. Lulus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 1964. Dari 126 orang dokter seangkatannya, sudah meninggal 78 orang, berarti sisa 48 orang. Tetapi, dari 48 itu saat mereka reuni, hanya 16 orang yang datang. Yang lain, ada yang sudah pakai kruk, tongkat atau kursi roda. Dengan kondisi begitu berarti teman-teman dr Oei praktis sudah tidak bisa ke mana-mana. Sementara dr Oei di usianya 84 tahun masih bisa berbicara dengan volume suara yang tinggi, menggebu-gebu, dan penuh semangat. Luar biasa. Saya mengenal dr Oei lewat bukunya, Seni dan Mengoleksi Seni  (kumpulan tulisan). Buku setebal 535 halaman, berisi ...

Pembenaran Persepsi

credit picture: Bootcamp Teman ‘jalan-subuh’ saya pensiunan guru matematika. Alangkah banyak pantangan yang ia pegang teguh. Daging ayam — bahkan telurnya — , daging sapi apalagi kambing. Sayuran berbahan buncis, nangka, dan apa lagi, lupa saya. Emping jangan sampai disuguhkan. Di samping tidak bisa banget makan telur karena takut kolesterol naik, ia juga tidak bisa telat sarapan karena takut asam lambung naik. Karena itu, sambil jalan subuh, ia sekalian hunting sayur di warung untuk sarapan pukul 06. Apa nggak kepagian ya sarapannya? Pokoknya yang ia anggap akan meningkatkan kadar kolesterol sangat ia hindari. Saya pancing, dalam satu bulan kira-kira makan telur berapa? “Sangat jarang,” jawabnya. Sementara saya dalam satu hari bahkan bisa tiga butir telur, dengan asumsi jika makan tiga kali. Makan tiga kali sehari, bagi sebagian orang sudah seperti aturan tidak tertulis. Bagi sebagian lainnya itu terlalu banyak. Istri saya punya kebiasaan sarapan kue jajanan pasar (apa sajalah) d...