Udara dingin menusuk tulang hingga ke sumsum. Itu yang saya rasakan ketika salat subuh tadi di masjid kami yang terbuka belum berdinding karena masih terus dalam taraf pembangunan. Selesai kubah terpasang, berlanjut mempercantik dinding area imam (pengimaman) dengan memasang granit dan ornamen dari bawah hingga ke atas langit-langit. Dikerjakan terus menjelang Ramadan agar saat hari raya nanti terlihat sudah cantik. ‘Teman jalan subuh’ saya, yang sudah berulang kali saya ceritakan di blog ini, belum aktif lagi salat berjamaah di masjid pascaoperasi hernia. Ia masih dalam pemulihan, tentu menghindari gerakan-gerakan ekstrem apa lagi mengangkat beban atau barang yang berat-berat. Padahal, ia mengelola warung kelontong di rumahnya yang berjualan gas dan galon air mineral. Jadi, siapa yang beli dua barang itu, kudu angkat sendiri. ‘Teman subuh’ ini punya suatu kebiasaan, yaitu menghidupkan kipas angin di waktu subuh. Lah, subuh udara dingin kok kipasan, piye tho , Jal! Panas karena i...