Langsung ke konten utama

Mati Lampu dan Cerita Ibu

Melanjutkan cerita tentang mati lampu yang dibesut status facebooknya Bang Naim Emel Prahana. Membuat saya tiba-tiba saja membuka jendela ingatan. Reformasi baru berusia satu tahun, 1999 anak sulung kami baru masuk TK dan adiknya umur 1,5 tahun. Dunia politik belum stabil, reformasi masih mencari arah, jalan mana yang hendak dilalui dan ke mana hendak menuju.

Seperti anak yang baru belajar berjalan, dunia ekonomi tertatih-tatih, harga barang kebutuhan pokok memang masih terjangkau masyarakat yang baru saja terbebas dari belenggu Orde Baru karena masih digandoli subsidi pemerintah. Pemerintahan baru di bawah BJ Habibie, mencoba menenangkan rakyat yang mendukung gerakan mahasiswa, menumbangkan rezim Orde Baru.

YouTube GOENG STORY | Spesial Hari Ibu 

Tapi, yang namanya mati lampu masih rutin menyambanginya. Byar pet tanpa kulonuwun datang tak kenal waktu. Kalau tidak pagi, siang. Atau malam tiba-tiba pet mati, beberapa jam lamanya. Lampu ublik mengambil alih peranan, ditenagai minyak tanah terang rada temaramnya cukuplah untuk membuat rumah tidak gelap amat seperti di dalam gua dan napas tidak sesak.

Di bawah kibaran jelaga yang meliuk lepas ke langit-langit rumah, Ibunya anak-anak menyalakan cerita tentang masa kecilnya di Pacitan. Anak-anak antusias mendengarkan, menghilangkan rasa jemu menunggu kapan lampu kembali menyala, ublik dipadamkan dan disingkirkan kembali ke tempat pertapaannya. Ada kalanya, hingga anak-anak tidur, listrik belum menyala.

Membuka jendela ingatan tentang mati lampu di masa lalu dan membaca status facebooknya Bang NEP tentang mati lampu di masa pemerintahan Prabowo Subianto ini, menggelitik imajinasi saya untuk mengguratkan puisi di bawah ini. Tentang cerita Ibunya anak-anak saat mati lampu bertamu ke rumah di masa kecil mereka dahulu. Cerita untuk menghilangkan perasaan jemu anak-anak.

 

Mati Lampu, Ibu Bercerita

Puisi Zabidi Yakub

Dahulu, ya, dahulu sekali
ketika listrik sering byar pet
saat mati lampu tiba-tiba
napas seperti berhenti
ingatan mundur ke belakang

Saat mati lampu tiba-tiba
Ibu tidak hanya menyalakan ublik
tapi, dinyalakannya juga ingatan
membaca ulang dokumen pikiran
menceritakan masa kecilnya

Cerita tentang mbah Kakung
yang suka membaca Kho Ping Ho
lalu menceritakannya pada Ibu
juga cerita tentang mbah Uti
yang suka menahan uang sekolah

Tanggal 10 batas akhir bayaran
di pagi itu baru mbah Uti berikan
setelah Ibu berlelehan air mata
cerita Ibu membuat napas tertahan
saya dan ad
ék iba kepada Ibu

Berpuluh tahun kemudian
tak pernah lagi listrik byar pet
mengapa peta kangen seperti terbuka
bukan tentang mati lampu,
melainkan tentang cerita Ibu

 

Kemiling Permai, 9 Juni 2026 | 20:34 WIB |


Puisi saya karang dengan angle (sudut pandang) anak sulung kami. Maka, ada larik "saya dan adék iba kepada Ibu." Begitulah, tiap kali mati lampu bertandang, lampu ublik menyala, lalu menyala pula mata anak-anak menyimak berbagai cerita Ibu mereka. Tidak hanya menyenangkan, berbagai cerita itu juga mencerahkan. Dicerahkan cerita yang pahit, getir, dan asam manis, sedikit banyak mengayakan pengalaman batin anak-anak. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

Jati Diri

Bunga rampai esai yang saya culik dari blog ini setali tiga uang dengan sehimpun puisi, berisi sama-sama 65. Yang sehimpun puisi berisi 65 judul puisi dan yang bunga rampai berisi 65 esai. Satu esai mengulas perihal pesan Ayah kepada kami bertiga anak lelakinya bahwa, silakan hidup di mana saja dan menikah dengan siapa saja asal hindari yang berasal dari dua suku, Ayah sebutkan sukunya, xxxx dan yyyy. Ketika ragil kami menjalani hubungan asmara dengan cewek dari suku yang (satunya) Ayah sebutkan, saya cuma bisa menelan ludah. Akan tetapi, doa supaya ia dipertemukan dengan calon pendamping, wanita yang Sholehah, terus saya langitkan setiap bakda salat. Apa yang Ayah pesankan kepada kami perihal suku yang ditabukan itu pernah saya singgung pada anak-anak. Ada postingan di  blog  ini saya menyoal “jalan jodoh” yang berliku-liku. Tentang menemukan atau ditemukan. Tentang bibit , bebet , bobot . Bibit itu menyangkut garis keturunan, bebet menyangkut status sosial ekonomi, dan...