Langsung ke konten utama

Puisi Kebangsaan

Jika kemarin tentang buku pengantar filsafat stoik, maka hari ini tentang buku antologi puisi. Buku ini tiba kemarin siang pukul 14:45 WIB atau 42 menit setelah Kang kurir paket konfirmasi bahwa ada paket COD ongkir sebesar Rp30.000.

“Siap,” balas saya untuk memastikan kepadanya, bahwa saya berjaga di rumah dan tidak sedang berada di luar. Sebelumnya memang silaturahim menyampaikan dukacita ke rumah kolega istri yang ibundanya berpulang satu pekan lalu.

Saya ikut membersamai beberapa orang sesama rekan pensiunan guru silaturahim karena mereka malamnya (tadi malam) akan menggelar tahlilan nujuh hari. Berhubung ada yang tidak bisa hadir ikut tahlilan malamnya, diganti datang siangnya. 

Sesudah dari sana lanjut ngebakso di rumah salah satu ibu yang ikut silaturahim itu. Entah bakso dari gerai atau jenama apa yang disuguhkan. Di Balam ini lumayan banyak bakso yang enak. Tapi, jenama yang satu itu paling tersohor, tentunya. Tahu kan?

Habis zuhur bubar dan pulang ke rumah masing-masing. Setiba di rumaj itulah pesan whatsapp masuk dari Kang kurir mengonfirmasi bakal ada paket diantarkannya. Saya sudah nyambung, itu mesti paket buku dari Jogja yang saya tunggu.

Setelah saya buka, wow… tebal juga bukunya. Ada 183 penyair yang terhimpun di dalamnya. Dari 3 puisi yang saya kirim, dimuat 2 puisi. Tema yang digariskan oleh panitia adalah puisi kebangsaan. Ada saja yang tak sesuai tema. Gitulah antologi.

Sampul depan dan belakang buku 

Begitulah puisi, kumpulan kata yang memanggul makna. Kumpulan larik-larik yang menyeret metafora. Kumpulan bait-bait yang membentuk struktur kalimat. Kumpulan tafsir yang masing-masing pembaca sah-sah saja menafsirkannya.

Antologi "Manuskrip Indonesia – Kumpulan Puisi Kebangsaan" adalah edisi ke-176 Sastra Bulan Purnama (SBP). Diterbitkan Tonggak Pustaka, Ngaglik, Sleman, Jogja. Diluncurkan di Museum Sandi, Kotabaru, Jogja pada Sabtu, 23 Mei 2026.

Puisi Kebangsaan pada awalnya dihimpun dari peserta Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan MPR RI. Tapi, ternyata tidak semua peserta sosialisasi itu mampu menuliskan hasil sosialisasi itu jadi puisi. Akhirnya dilemparkan kepada umum.

Kegiatan sosialisasi yang berlangsung sejak 15 Februari 2026 memang diharapkan pada mulanya melahirkan buku kumpulan puisi dengan tema kebangsaan, sesuai apa yang peserta dapatkan dari kegiatan tersebut sebagai buah pikirannya.

Karena dilemparkan kepada umum, puisi yang terhimpun merupakan puisi yang memunculkan perspektif umum berdasar penafsiran bebas penyair terhadap konsep kebangsaan, bukan berdasar yang mengemuka dalam sosialisasi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...

Jam Rusak Jangan Dibuang

Nah, benar belaka apa yang saya ujarkan dalam postingan blog kemarin, bahwa ada orang membiarkan jam dinding mati, terpacak bisu di tembok ruang tamu (dijadikan hiasan dinding). Padahal, tinggal ganti mesin bisa hidup kembali. Bapak pemilik “Omega Arloji” di Bambu Kuning Trade Center, mengemukakan hal itu. Sambil si Bapak dan putrinya mengganti mesin jam kami, si Bapak berkata, “Ada orang main buang jam yang udah mati, padahal masih bisa diganti mesinnya.” Berbagai merek jam tangan jualan "Omega Arloji" kios No.254 Bambu Kuning Trade Center. “Kemarin siang ada orang bawa tiga jam ke sini. Sebelumnya ada empat jam dibuangnya,” lanjut si Bapak menceritakan ketertegunan klien yang baru ngeh ternyata jam dinding mati masih bisa dipakai dengan cara mengganti mesinnya. Sesepele itu. Si Bapak juga terkagum-kagum pada merek jam dinding kami, NAGOYA. Katanya, ini sudah nggak diproduksi, tadinya banyak kami jual, sekarang tinggal satu itu seraya ia tunjukkan jam di tembok kio...

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...