Status facebook NEP ini membawa ingatan mundur ke belakang. Dahulu, ya, dahuluuu sekaliii, listrik sering byar pet sesuka hati. Karena itu, ada jadwal pemadaman listrik diiklankan oleh PT PLN di surat kabar. Masyarakat pun siap-siap.
Handphone kala itu masa
peralihan antara telepon genggam jadul ke android. Mengantisipasi kalau-kalau saja listrik mati tanpa permisi, yang punya telepon cepat-cepat ngecas agar tidak lowbat dan mati gaya ketika lampu padam tanpa kulonuwun.
![]() |
| Status facebook soal mati lampu |
Kala itu juga masih jaya-jayanya minyak
tanah dan lampu teplok atau lampu ublik
kata orang Jawa. Ketika lampu padam seketika, ibu-ibu menyalakan lampu teplok
atau ublik agar suasana di dalam
rumah tidak gelap gulita seperti di dalam gua.
Karyawan kantor bersicepat menghidupkan
genset agar semangat tak padam dan aktivitas kantor tak ikut-ikutan mati. Begitu pun mal, kafe, sekolah, dan universitas. Karena itu, minyak solar mesti selalu tersedia untuk memberi
minum genset.
Bekerja di kantor penerbitan surat kabar,
kami merasakan betul begitu bermanfaatnya genset. Kendati kapasitasnya hanya
mampu memberi daya dukung untuk mentenagai power
CPU komputer, aktivitas redaksi dan pracetak lancar.
Selanjutnya, untuk menjadikan hasil kerja
redaksi dan pracetak itu berwujud surat kabar, mesti menunggu PLN hidup. Tak ada
ceritanya mesin cetak surat kabar bergemuruh tanpa PLN. PLN tak hidup berarti
hari itu koran tak terbit.
Jika hari itu koran tak terbit, ada saja
halaman yang cuma diganti tanggal dan berita usang yang diterbitkan hari
berikutnya. Sering sekali koran terlambat terbit karena PLN terlambat hidup. Pagi
baru cetak, yang penting koran jadi terbit.
Koran datang siang ke kantor-kantor atau
rumah pelanggan, tetap disambut gembira. Begitulah sebelum disrupsi media
melanda. Kini, orang tak butuh koran cetak. Membaca berita melalui layar gawai
secepat membalikkan telapak tangan.
Kala itu, kedua bahan bakar (minyak tanah
dan solar) yang merakyat, itu masih mudah didapat di warung-warung. Dan, harganya
yang disubsidi pemerintah terasa betul asas manfaat dan keekonomiannya. Kini,
hal itu adalah masa lalu.
Mati lampu di masa kini, apakah gerangan
musababnya? Ada isu, agar genset-genset perkantoran, hotel, dan apa pun yang
punya ketergantungan padanya, sesekali digunakan. Karena itu, butuh solar. Dan,
solar jadi laku.
Selama ini yang beli solar hanya bus, truk,
perahu nelayan, dan pabrik-pabrik. Sementara hotel, kafe, perkantoran tak
pernah karena PLN seperti kartu 3 (tri) sebelum dibeli Indosat, gak ada
matinya. Kini, habis masa tenggang, kartu jadi hangus.

Komentar
Posting Komentar