Langsung ke konten utama

Dangdut Lampung

Kemarin-kemarin logo Google berwarna pink, melihatnya bagaikan memandang cewek di hari valentine, cantik menawan. Ada karakter pemain bola menegaskan kejuaraan piala 🏆 dunia sedang berlangsung. Tapi, kenapa pink? Tidak kontradiksi dengan sportivitas bola?

Hari ini tiba-tiba logo Google berubah rupa dan warna. Ada karakter alat musik gendang, suling, dan piano. Ada pula mikropon, alat bantu untuk melangtangkan vokal orang yang berbicara atau sedang menyenandungkan lagu. Yang menarik, ada karakter truk sedang melaju di jalan raya.

Doodle Google merayakan Dangdut 

Saya ketik di peramban Google menanyakan apa makna Doodle yang ditampilkannya. Ternyata Hari Musik Sedunia. Agak unik, yang diangkat Google sebagai tema adalah alat musik dangdut, salah satu genre musik populer yang amat disukai oleh sebagian (tertentu) masyarakat Indonesia.

Saya katakan cuma "sebagian" untuk menafikan. Karena tidak semua masyarakat Indonesia suka dangdut. Artinya, tidak bisa digeneralisasi. Tapi, tetangga saya orang Liwa, senang sekali terbuai alunan lagu dangdut Lampung yang iramanya riang menghanyutkan. Ini perihal kesenangan.

Pagi hayu (pagi-pagi sekali) tetangga itu sudah klepas-klepus ngudut di teras rumahnya. Dari telepon genggamnya nyaring terdengar lagu dangdut Lampung. Tidak sekadar ia dengarkan, tapi juga ikut menyanyikannya seolah sedang berduet dengan penyanyi aslinya di YouTube.

Refleksi loyalitas terhadap budaya etnik ia panggungkan dengan cara tidak hanya sebatas mendengar dan menyimak pesan moral atau mungkin pesan (sponsor) dalam lirik lagu yang acap kali berupa ajakan melestarikan bahasa dan budaya, tapi juga ia turut serta melagukannya.

Merayakan Dangdut, Google menampilkan Doodle bertema musik dangdut, salah satu genre musik tradisional asal Indonesia hasil perpaduan musik dari film India Bollywood dengan Melayu pesisir semenanjung Sumatra dan rock dari Barat yang pertama kali digunakan di Jakarta tahun 1960.

Lagu Lampung pada awalnya diiringi alat musik gambus atau gitar akustik (disebut irama klasik). Pengaruh popularitas lagu dangdut Indonesia tak urung berimbas pada irama klasik ini. Dan, pada masanya, diaplikasikanlah irama dangdut pada lagu Lampung, jadilah dangdut Lampung.

Lantas apa pula faedah truk di Doodle Google? Tak dimungkiri, ada sebagian sopir truk penyuka musik dangdut. Lagi-lagi, saya katakan sebagian, sebagai pembanding bahwa tidak semua. Ada sopir truk yang suka pop Indonesia, musik rock Barat, bahkan lagu daerah asal si sopir itu.

Tergantung apa bahasa Ibu si sopir. Sopir bus Krui Putra, travel Liwa atau Ranau yang berbahasa Ibu Lampung, suka menyetel lagu dangdut Lampung. Sopir Minang dan Batak tak ayal menyetel lagu sesuai bahasa ibunya masing-masing. Perkara penumpang berbahasa Ibu berbeda, lain cerita.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...

Pulang ke Rumah Sunyi

Ramalan cuaca yang muncul di layar hp menyatakan hari cerah. Alhamdulillah, batin saya. Kendati tidak berencana ke mana-mana, menyiasati cuaca penting juga. Sebagai kompas atau pedoman bahwa cuaca akan baik-baik saja atau sebaliknya akan merundung kita. Pulang jemaah subuh di masjid, saya mesti buka hp . Bukan untuk scroll memeriksa media sosial, melainkan untuk ngaji Surah (tertentu) yang rutin saban pagi (subuh) saya baca. Surah apakah itu? Hmm meh… mau tahu aja apa mau tahu banget ? Puisi "Pulang ke Rumah Sunyi" Gimana kalau saya kasih tahu isi, mau nggak ? Itu camilan favorit yang kami jadikan teman ngopi. Tapi, pagi ini belum ada penjual gorengan yang buka lapak (gerobak). Beruntung Iman Jaya, toko kue jajanan pasar di Kemiling sudah buka. Saya memang hendak ke ATM buat ngasih tali asih untuk anak konco lawas yang kemarin senja ijab kabul di Omah Pakem, Jogja dan dilanjutkan resepsi malam harinya bakda Magrib. Saya tak hadir, hanya bisa kasih doa dan ucapan se...