Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label bahasa daerah

Kekuatan Bahasa

Pada Sabtu (19/07/2025) malam digelar zoom meeting oleh Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI), membincang pakem penulisan sastra daerah. Diikuti 24 peserta dari berbagai daerah. Ini ada keterkaitan dengan hajat TISI membuat antologi dwi bahasa (daerah dan Indonesia) “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku.” Ada 6 kurator siap mengurasi karya cipta puisi bahasa daerah dari peserta. Mereka adalah Saut Poltak Tambunan (Bahasa Batak), Wardjito Soeharso (Bahasa Jawa), Andi Mahrus (Bahasa Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan), LK. Ara (Bahasa Gayo), Yoseph Yapi Taum (Bahasa NTT), dan Udo Z Karzi (Bahasa Lampung). Tentang pakem penulisan, ada dua, menurut Andi Mahrus. Pertama , sastra daerah klasik. Artinya, bukan sekadar ditulis menggunakan bahasa daerah, melainkan mengandung muatan lokal ( local content ) perihal apa pun yang ada di daerah tersebut, baik bahasanya maupun adat budaya yang dianggap klasik atau jadul . Klasik dan jadul dalam hal bahasa, misalnya bahasa yang sudah tidak dipakai at...

“Menertawakan Diri Sendiri”

Tadi malam saya nonton #CLOSTHEDOOR. Podcaster Deddy Corbuzier menghadirkan tamu Arie Kriting dan Mamat Alkatiri. Mereka bertiga membincangkan bahasa daerah. Bermandikan derai tawa. Arie Kriting benar, bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki bahasa daerah terbanyak nomor dua setelah Papua Nugini, dengan jumlah 718 bahasa. Dan, Deddy Corbuzier mengaku baru tahu tentang itu. Mendengar pengakuannya, tawa saya berderai. Yang mereka bertiga bincangkan di  podcast  berjudul TERTEKAN!! – yang tayang Jumat siang, itu relate dengan hari Bahasa Ibu Internasional (21 Februari) yang belum lama kita peringati. Membincang bahasa daerah tentu terkait dengan seni budayanya juga. Ada tari, lagu, sastra, dan ritual adat yang pada sebagian daerah tetap dirawat. Namun, tidak sedikit pula yang sudah mulai ditinggalkan. Pemicunya karena minimnya generasi penerus yang peduli. Daerah mana yang bahasa dan seni budaya (tari dan lagu)nya masih lestari? Yang paling menonjol tentu Jawa ...

Laman Wéb Bahasa Daerah

“Kekuatan bahasa di éra digital tidak diukur oléh jumlah penutur, melainkan seberapa besar bahasa tersebut hadir di internét. Bahasa daérah kita sangat lemah dalam hal ini. Misalnya, meskipun penutur bahasa Jawa lebih dari 80 juta dan Sunda lebih dari 30 juta, jumlah laman wéb yang menggunakan bahasa tersebut masih jauh di bawah bahasa Slovenia yang penuturnya ”cuma” 2,5 jutaan. Itulah barangkali yang penting dibahas dalam seminar ini.”  —picuki.com ( https://www.picuki.com/tag/merajutIndonesia )—  Dan seminar bertema “Direktori Literasi Bahasa dan Aksara Daerah di Indonesia untuk Media Digital” telah sukses diselenggarakan di Balé Rumawat Universitas Padjadjaran, Bandung, hari ini Kamis, 16 Maret 2023 mulai pukul 08:00 selesai pukul 16:00 WIB. Seminar dibagi dua sesi, sesi 1 mulai pukul 08:30 selesai pukul 12:00 dan sesi 2 mulai pukul 13:00 selesai pukul 16:00. Masing-masing sesi menampilkan 4 narasumber dipandu seorang moderator. Molly Prabawaty –Asisten Deputi Liter...

Senang Walau Ragu

Tadi pagi saat sedang menyerahkan sampah dari dapur ke petugas sokli, notif WhatsApp berdenting pertanda ada pesan masuk. Ah, paling pesan masuk di WAG warga RT 12 yang anggotanya paling rajin mem- forward video aneh-aneh. Setelah saya buka dan baca, maksud pesan menyampaikan undangan kepada saya sebagai pemenang hadiah sastera Rancagé bahasa Lampung, untuk menghadiri seminar nasional melalui daring. Senang, namun ragu. Ini benar gak. Karena agak ragu, pesan tidak langsung saya balas, saya butuh sedikit waktu untuk mencerna dan memikirkan kebenarannya. Si pengirim tidak memperkenalkan diri terlebih dahulu. Foto profil kosong. Bagaimana tidak ragu. Ternyata tidak hanya sedikit waktu. Pesan masuk pukul 09:34, baru saya balas pukul 10:36 atau satu jam kemudian. Telah banyak modus penipuan mengirim undangan nikah digital diselipi aplikasi yang bila kita buka akan berbahaya. Apa bahayanya? Undangan yang tidak menampilkan rincian undangan, tetapi mengarahkan kita ke satu aplikasi de...

Keterkejutan

Hari Bahasa Ibu Internasional (21 Februari), setiap tahun akan ada keterkejutan tentang punahnya beberapa bahasa Ibu. Tidak terlampau mengejutkan sebenarnya. Semakin jarang orang menjadikannya bahasa percakapan. Kajian vitalitas bahasa daerah di Indonesia menunjukkan ada bahasa yang dikategorikan punah, berstatus kritis, terancam punah, mengalami kemunduran, dalam kondisi rentan (stabil tetapi terancam punah), berstatus aman. Hasil kajian itu saya kutip dari tweet Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (21/2/2023). “Ketika benteng pertahanan di keluarga tak terjaga, nasib bahasa Ibu tinggal menunggu kepunahan” (E. Aminuddin Aziz, Kepala BPPB). Berdasar data Ethnolugea, Indonesia yang terdiri kepulauan memiliki bahasa derah terbanyak kedua di dunia. Data bahasa daerah selalu diperbaharui setiap bulan Oktober karena di bulan ini kita memperingati Soempah Pemoeda. Berakar pada ikrar Soempah Pemoeda 28 Oktober 1928 itu setiap tahun diiringi dengan perayaan Bulan Bahasa. Biasanya B...

Rancage, Continued History

Buku "Singkapan" ikut terpajang sebagai pemenang (foto: rancage.id) WhatsApp pukul 23.51. Udo Z Karzi mengirim foto cover lima buku di bawah tulisan; Keputusan Hadiah Sastera ”Rancagé” Tahun 2023 disertai caption Selamat yu Mamak (emoji 3 kepalan tangan). Wah, buku Singkapan ikut terpajang di foto itu. WhatsApp baru saya baca pagi, pukul 06.57. ”Wuy, setemon pai ajo kudo. Minjak pagi injuk jak buhanipi api,” balasku. ”Yaddo,” balasnya pukul 07,48. Diikuti masuknya link rancage.id pengumuman tersebut. Berikut video pembacaan keputusan. Pikirku ini semacam continued history dari hasil Sayembara Menulis Puisi Berbahasa Lampung, jadinya. Puisi Sampian yang saya ikutsertakan jadi juara satu. Di luar ekspektasi karena niat awalnya hanya sekadar buat ngeramein hajat DKL itu. Kalau ternyata puisi Sampian jadi pemenang dan judulnya dijadikan brand name buku antologi puisi dwibahasa Lampung-Indonesia, merupakan anugerah terindah dan jadi catatan sejarah, bahwa dunia sastra itu ...

Hari Bahasa Ibu dan Lonceng Kematian Kebudayaan

Danau Ranau zaman saya SD/SMP ini, kekira di dekat Puskesmas, namanya dulu ”Gegahan Tanggarajo” sumber foto: https://www.nusantaracentre.com/ Kembali kita merayakan Hari Bahasa Ibu (HBI) Internasional, yang diperingati setiap tanggal 21 Februari. Menyambut perayaan Hari Bahasa Ibu Internasional tahun ini, saya pribadi agak semangat dikit. Pasalnya, sejak 2014/2015 di Unila ada program magister pendidikan bahasa dan sastra daerah (PS MPBSD), yang pembukaannya didasarkan surat Dirjen Dikti Kemendikbud No. 441/E.E2/DT/2014 tanggal 19 Mei 2014 yang memberi mandat kepada Unila untuk menyelenggarakan PS MPBSD. Padahal, Program D3 Bahasa Lampung sudah lama vakum tidak ada penerimaan mahasiswa baru. Jadinya sekilas agak aneh, sementara D3 saja vakum kok ada S2 tanpa S1. Lantaran ada mandat dari Dirjen Dikti itulah, barangkali kemudian, tahun 2015 diwacanakanlah akan dibukanya Program S1 Bahasa Lampung yang perkuliahannya akan dimulai pada tahun akademi 2016/2017. Dibukanya S1 Bahasa Lampung ...

Hari Aksara Internasional dan Buta Aksara di Indonesia

Peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) tahun 2017 ini secara nasional dipusatkan di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, yang berlangsung dari Rabu (6/9) hingga Sabtu (9/9). Acara puncak peringatannya akan dilaksanakan pada Jumat (8/9/2017) di GOR Ewangga Kuningan. Rangkaian acara akan dimulai dari Pameran Pendidikan dan Kebudayaan, hingga pemberian anugerah aksara, pemberian penghargaan kepada Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kreatif-Rekreatif, pemberian penghargaan pemenang lomba keberaksaraan, dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) berprestasi. Murid Sekolah Dasar peserta aubade pada Kongres Pancasila IX di Kampus UGM, Yogyakarta, Sabtu, 22 Juli 2017. foto: istimewa  Di lihat dari masing-masing provinsi, di Indonesia masih terdapat 11 provinsi memiliki angka buta huruf (buta aksara) di atas angka nasional. Angka buta aksara ini mencakup penduduk berusia 15-59 tahun, yaitu Provinsi Papua (28,75 persen), NTB (7,91 persen), NTT (5,15 persen), Sulawesi Barat (4,58 persen),...