Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label MBG

Hari Gizi dan MBG

Hari Gizi Nasional (HGN) sudah lama berlalu, tepatnya jatuh pada tanggal 25 Januari. Tiap tanggal itulah selalu diperingati. Hari Gizi Nasional merupakan momentum penting dalam menggalang kepedulian serta meningkatkan komitmen berbagai pihak untuk mewujudkan Indonesia Sehat melalui penerapan konsumsi gizi seimbang dan dukungan terhadap produksi pangan yang berkelanjutan. Peringatan HGN ini menjadi sarana strategis dalam penyebarluasan informasi dan edukasi gizi kepada masyarakat secara luas. Dalam rangka memperbaiki gizi anak usia sekolah, ibu hamil (bumil), dan lansia (orang lanjut usia), maka pemerintah mengadakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di bawah Badan Gizi Nasional (BGN) dan dijalankan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lapangan. Peringatan HGN ke-66 | foto: kemenkes.go.id | Kendati di lapangan banyak menimbulkan masalah, di antaranya menu makanan yang disajikan masih berupa bahan mentah. Telur mentah, jagung mentah, dan ada juga ayam goreng yang menguarka...

MBG Lansia

Lhoh, ternyata bukan hanya anak usia lima tahun ke atas (usia sekolah TK hingga SMA/SMK/MA) saja yang dapat bagian MBG (makanan bergizi gratis), melainkan anak balita, bumil (ibu hamil), busui (ibu menyusui), bahkan lansia pun dapat. Tercuat tadi ketika ke posbindu (pos pembinaan terpadu). Saya agak kesiangan ke posbindu sehingga keburu bubar. Untung bidan masih keliling dari rumah ke rumah mendatangi lansia yang terbatas fisiknya untuk pergi ke posbindu. Saya pun menyusul ke rumah di mana tempat bidan itu berkunjung dan memeriksakan tekanan darah di rumah warga itu. Seperti saya tulis di  blog  ini 6 Desember (judul: TKS, JSAT, dan Tensi), barangkali ada perbedaan merek alat ukur tensi darah sehingga hasilnya berbeda-beda. Benar belaka, diukur di klinik faskes, tensi saya 134/79 dan ketika saya ukur dengan alat sendiri di rumah, hasilnya 138/81. Tadi, diukur bidan posbindu, hasilnya tensi saya 142/76. Jadi, kesimpulannya, tensi darah akan naik turun mengikuti kondisi tu...

MBG (Mari Bersama Ger-geran)

Hari ini 30 September, masih seperti tahun-tahun yang lalu, TV One kemarin malam memutar ulang film “Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI” - Tahun kemarin atau kemarinnya lagi (agak lupa), saya sudah menulis di blog ini tentang film legendaris itu ditayang-ulangkan oleh TV One. Yang juga masih segar dari peristiwa mengerikan, selain pembantaian perwira TNI oleh PKI, adalah peristiwa keracunan MBG yang menimpa ratusan pelajar SMP Bandung Barat. Betapa menyedihkan nasib bangsa ini, kehendak membuat anak bergizi kok yang terjadi malah bikin mereka keracunan. Ilustasi "MBG" pinjam pakai punya Tempo Bagi saya, tragedi keracunan itu menimbulkan tanya, kok tidak ada keterangan mengenai apa sebab terjadinya keracunan. Tidak pentingkah menjelaskan? Yang terdengar kebisingan sendiri-sendiri di kelimun masyarakat karena tidak ada pihak berwenang menghibur kesedihan orang tua. Atau memang sengaja menyembunyikan peristiwa mengenaskan, menyedihkan, dan memprihatinkan itu di bawah omp...

Iwak Pithik, Keracunan

Contoh menu MBG. (foto: CNN Indonesia) Waduh, Byung ! Belum lagi satu bulan MBG sudah menimbulkan persoalan, meski tidak begitu banyak, tapi cukup miris mendengarnya. Persoalan utama tentu perihal dana. Capres/ Cawapres kadung bacot sewaktu kampanye, janji adakan makan gratis bagi anak sekolah. Begitu terpilih dan dilantik jadi Pres/Wapres, ya, tentu dong janji yang kadung 'diutarakan' sewaktu kampanye, kudu 'diselatankan' dalam wujud kerja nyata, direalisasikan di lapangan. Oke, dicoba dan ternyata terancam kekurangan dana karena memang negara sedang sekarat. Ujungnya, bacot lagi. Zakat hendak diberdayakan guna mendanai program MBG. Kontan saja beragam reaksi muncul. MUI tidak setuju. Rakyat yang taat bayar pajak masih pula melalui zakat uangnya diporoti. Sudah PPN 12% untuk barang mewah, masih pula dicari-cari jalan lain, zakat. Tidak hanya madalah dana, di lapangan pada peaktiknya, muncul masalah dari makanan itu sendiri. Di Sukoharjo puluhan siswa keracunan me...

Serap 1,5 Juta Pekerja

Badan Gizi Nasional buka loker untuk mengurusi program Makan Bergizi Gratis  Kepala BGN Dadan Hindayana menyatakan program MBG dapat menyerap 1,5 juta tenaga kerja yang bakal bertugas di satuan pelayanan. Dia menyebut satuan pelayanan berbeda dengan dapur umum, karena nantinya tidak hanya memasak, tetapi juga bertugas mengelola produk pertanian lokal, mengatur pembelian, dan pengolahan bahan pangan. BGN telah mempublish lowongan pekerjaa untuk beberapa kategori SSPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) untuk seluruh Indonesia. Nah, ini kesempatan bagi kalian, Gaes, untuk jadi ASN di bawah BGN. Pekerjaannya apa saja? Oh, banyak. Terutama untuk mengurusi kebutuhan pemenuhan program MBG. Untuk jelasnya langsung saja ke https://spp-indonesia.com/         “Kalau menggunakan alat masak tradisional membutuhkan sekitar 45-46 orang. Jadi, jika menggunakan asumsi tradisional, maka akan ada peluang kerja baru untuk 1,5 juta orang (untuk total 30 ribu satuan pelayanan),” ka...

Makan Seharga Rp800 M

Sejumlah siswa mengikuti uji coba makan bergizi gratis di SDN Manggarai 01, Jakarta, Senin 9 September 2024. Makan bergizi gratis berupa nasi uduk dengan lauk telor bulat dan tempe orek serta buah pisang dan potongan timun. TEMPO/Subekti. Badan Gizi Nasional (BGN) mengklaim program Makan Bergizi Gratis (MBG) senilai Rp 800 miliar per hari. Luar biasa ya program unggulan presiden dan wakil presiden terpilih periode 2024—2029 Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka itu. Sasarannya diklaim menjangkau 82,9 juta penerima dan akan menghabiskan anggaran Rp 400 triliun bila diimplementasikan secara penuh. Dari angka 800 M per hari tersebut, BGN akan belanja 1,2 T setiap hari untuk investasi sumber daya manusia (SDM) masa depan. Sekitar 75 persen dari 1,2 T itu untuk intervensi MBG, kurang lebih 800 M setiap hari. Kepala BGN Dadan Hindayana mengatakan, anggaran sebesar Rp 800 miliar itu akan dialokasikan untuk membeli bahan baku pangan dari sektor pertanian. Oleh karena itu, lanjut dia,...

Eneg, Gak Enak Ini

MBG mengancam kelangsungan hidup pedagang kantin sekolah. MBG, makan bergizi gratis. Bagi keluarga tidak mampu yang jangankan uang jajan anak, untuk beli sembako saja susah, tentu menyambut baik program MBG pemeyintah. Tapi, ada juga yang kendati tidak oernah jajan di sekolah karena sudah sarapan di rumah, mereka bisa membandingkan menu sarapan sederhana yang disuguhkan ibunya di rumah lebih nikmat daripada MBG. "Eneg, gak enak ini," seloroh murid yang diwawancarai kru televisi dan terpublikasi sak - Endonesiya . Ada komentar netizen; mending dikasih uang tunai saja. Ada yang menanggapi, nanti malah oleh Bapaknya dibelikan rokok. Iya juga, idealnya jangan berupa uang tunai, tapi kupon buat ditukarkan sembako di warung yang ditunjuk. Bisa multimanfaat buat para peserta didik dan pemilik warung. Sembako itu bisa diolah oleh ibu mereka sesuai dengan selera anak-anaknya. Betapa pun kadar gizi yang tercakup dalam menu MBG, jika tidak sesuai dengan selera anak-anak, maka manfaat ya...