Langsung ke konten utama

Etika Sosial, Norma Kemanusiaan

Hal kecil yang mungkin sepele atau memang benar sepele, tapi sangat menentukan nilai manusia dalam hal karakter dan etika sosial. Apa itu? Yaitu tenggang rasa dan tahu diri, rasa malu. Tidak sedikit orang di luar rumah abai terhadap tahu diri dan tenggang rasa. Sesuka hati menyerobot antrean di ATM, kasir, nerabas lampu merah atau kalau pun berhenti, berhentinya lebih maju dari garis batas, ada di zebra cross sejatinya hak milik penyeberang jalan.

Mula cerita dosen UIM menyemprotkan ludah ke kasir minimarket, awal kisahnya karena merasa tersinggung oleh teguran kasir yang memintanya agar ia antre di belakang yang lainnya. Saat itu pengunjung minimarket memang sedang ramai karena malam natal. Hal itu bermula ketika si oknum dosen maju ke stan kasir sebelah yang diduganya kosong. Di swalayan atau minimarket memang sering ada kasir kosong seperti itu, saat pengunjung sepi.

Ilustrasi, puisi Zabidi Yakub pada Antologi Sipakamase 

Tersinggung karena disuruh supaya antre, si dosen menampakkan muka merah padam sebab menahan amarah, membentak kasir dan tanpa pikir panjang menyemprotkan ludah mengenai muka dan jilbabnya yang membuat kasir itu syok, menangis lalu berlari ke toilet membersihkan ludah yang kotor itu. Malam kudus menjelang perayaan natal pun runyam oleh kejadian tak terduga itu. pengunjung yang lain tentu terhenyak, tak mengira hal itu akan terjadi seketika.

Saya ikut menyumbangkan satu judul puisi, setelah lolos kurasi, dalam buku “Antologi Puisi Indonesia SIPAKAMASE” tentang budaya Bugis-Makassar yang menjunjung tinggi falsafah sipakamase (memuliakan). Pahlawan Bugis Sam Ratulangi dengan nama lengkap Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi memopuler-kan falsafah sitou timou tumou tou yang artinya bukan manusia siapa yang tidak memanusiakan manusia. Adalah perluasan dari falsafah sipakamase.

Falsafah sipakamase (memuliakan) bisa dikristalkan ke dalam tiga falsafah yang biasa disingkat 3S, yaitu sipakatau (memanusiakan), sipakalebbi (menghargai), dan sipakainge (saling menginatkan). Manusia Bugis-Makassar dikenal sebagai perantau. Nenek moyang mereka pelaut ulung yang berani menantang ombak menaklukkan samudra luas menjelajah pulau-pulau nusantara hingga benua Australia. Tentu mereka berbekal falsafah 3S itu tadi sebagai azimat bertuah.

Tersinggung adalah bentuk perlawanan terhadap harga diri yang direndahkan. Manusia Bugis-Makassar mengistilahkan harga diri dengan siri’. Orang Lampung menyebutnya piil pesenggiri. Orang yang menyerobot antrean di ATM atau kasir minimarket, lebih-lebih menyemprotkan ludah, adalah orang yang mengabaikan etika sosial dan norma kemanusiaan. Dalam konteks manusia Bugis-Makassar yaitu falsafah sipakalebbi (menghargai).

“Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya” adalah peribahasa yang maknanya; sekali saja seseorang berbuat curang atau khianat, kepercayaannya akan hilang selamanya, dan akan sulit mendapatkan kepercayaan orang lain lagi. Ibarat gelas kopimu retak apalagi pecah, tiada kan bisa lagi kau pakai buat ngopi. Begitulah si dosen yang meludahi kasir, cahaya wajahnya yang terekam CCTV kasir, tersebar ke mana-mana dan viral.

Gara-gara emosi sesaat, rusak reputasi yang susah payah dibangunnya puluhan tahun sebagai dosen, akademisi, pembimbing mahasiswa, dan apa lagi lah sebutannya. Ia diberhentikan dari kampus UIM dan kembali ke masyarakat sebagai orang biasa yang bukan hanya biasa-biasa saja, melainkan yang akan dikenang sebagai orang yang meludahi gadis kasir minimarket. Begitulah dunia “etika sosial dan norma kemanusiaan” bagai jebakan sangat membahayakan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kursi Roda Ibu Ani

Kursi roda Ibu Ani dan kesetiaan Pak SBY menungguinya di rumah sakit. Bagaimana bisa melahirkan novel yang menceritakan perjuangan penyintas kanker seperti di buku “Seperti Roda Berputar” tanpa mengikuti proses dari mula hingga kini? Pertanyaan itu yang bersarang di pikiranku. Sewaktu mudik ke Pacitan 21 Mei hingga 3 Juni 2024, kami mengeksplor Museum dan Galeri SBY-ANI. Satu foto memperlihatkan kesetiaan Pak SBY menunggui Ibu Ani di National University Hospital Singapura. Foto Ibu Ani duduk di kursi roda sementara Pak SBY duduk di tepi hospital bed yang biasa Ibu Ani tiduri selama dirawat. Kaki Pak SBY menjuntai. Foto menggambarkan keduanya berhadap-hadapan sambil berbincang akrab. Saya sebenarnya penasaran, apakah Pak SBY menulis buku tentang masa-masa Ibu Ani dirawat hingga wafat. Seperti yang dilakukan Pak BJ Habibie, pasca-meninggalnya Ibu Ainun Habibie, Pak Habibie dilanda demam rindu. Guna memadamkan kerinduan kepada Ibu Ainun itu, Pak Habibie mulai menuangkan perasaan...

Sastra Jalan-jalan

Siang baru saja melanjutkan perjalanan menuju barat, setelah istirahat sejenak di waktu zuhur, yang ditandai Matahari tepat di atas kepalanya. Tak lama sekira pukul 14:12 Kakang Paket datang mengantarkan kiriman buku dari Taman Inspirasi Sastra Indonesia. Komunitas sastra disingkat TISI pimpinan Bang Octavianus Masheka, ini baru saja usai merampungkan proses produksi dan terbitnya buku antologi “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” yang merupakan puisi bahasa Indonesia dan bahasa daerah masing-masing penulisnya. Buku-buku yang joss tenan Ada 100 orang penulis puisi dwi bahasa yang terhimpun di dalam buku bersampul merah menyala dengan gambar sampul siluet wajah Ibu yang di wajah, leher, dan dadanya dihiasi taburan wajah penulis puisi yang sengaja di- crop tertinggal bagian dada dan kepala saja. Sebelum buku “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” terlebih dahulu tiba di rumah buku “Zamrud” yaitu antologi puisi Dari Negeri Poci seri ke-15 yang saat datang kebetulan saya sedang tidak berada di rumah ...

Jangan Sakit Deh

“Jangan pernah sakit. Teruslah sehat dan berbahagia. Sakit itu sepi, menyakitkan, dan tentu saja mahal.” (Rusdi Mathari). Demikian terbaca di buku “Seperti Roda Berputar: Catatan di Rumah Sakit.” Buku merangkum catatan Rusdi Mathari yang menderita kanker saat-saat menjalani perawatan dari rumah sakit satu ke rumah sakit lain. Sebenarnya Rusdi Mathari pengin menulis novel tentang sakit yang ia derita dan bagaimana ia mengupayakan kesembuhan dengan menjalani rangkaian pengobatan secara runtut tahap demi tahap. Dari rumah sakit satu ke rumah sakit lain silih berganti, ditangani dokter berbagai spesialis yang berkaitan dengan sakit kankernya. Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Rusdi Mathari meninggal di Jumat pagi, 2 Maret 2018. Novel yang ceritanya ia bayangkan akan demikian kompleksitas sekaligus melankolis tidak terwujud. “Seperti Roda Berputar” hanyalah memuat sebagian catatan di rumah sakit yang sempat ia tulis dan terbit di Mojok.co. Pemerintah menghapus kelas 1,...