Langsung ke konten utama

Pengabdian Totalitas

Sebagai ketua RT. 05 Blok N/O yang berarti pamong bagi warganya, Pak Syukur dalam “mengabdi” kepada warganya tidak pengin bertindak setengah hati. Satu contoh, masalah kurban —dikemukakan putranya saat memberikan sambutan tahlilan nujuh hari kepulangan beliau.

Daging kurban bagian warga di RT yang ia bawahi, diantarkan langsung ke rumah-rumah warga olehnya atau dibantu putranya. Putranya pernah mempertanyakan hal itu, “Mengapa, sih, Yah, kok, mesti diantarkan. Bukan warga yang mengambil?”

Tabur bunga memungkasi upacara pemakaman 

“Itu bentuk tanggung jawab Ayah,” jawab Ayahnya. Putranya pun maklum. Apa yang dilakukan Pak Syukur itu sebuah pengabdian totalitas. Beliau memiliki keperibadian yang penuh tanggung jawab. Orang Batak mengistilahkan agak laen.

Iduladha 1447 H tak ada lagi peran penuh dedikasi itu. Nama putrinya terdaftar sebagai salah seorang pekurban. Dan, tentu saja digandengkan dengan namanya sebagai binti bagi putrinya. Namanya ikut dilangitkan dalam gema takbir penjagal.

Kendati beliau tak hadir di penyembelihan hewan kurban putrinya, dengan namanya digandengkan sebagai binti, pahala berkurban putrinya niscaya akan diperhitungkan juga baginya. Setiap helai bulu sapi itu akan dihitung pahala kebajikan.

Peran sebagai orang tua putrinya tetap berjalan, tapi peran beliau sebagai pamong mesti membagi-bagikan langsung daging ke rumah warga tak lagi. Tentu masing-masing wargalah yang mesti datang ke masjid menukarkan kupon dengan daging.

Putrinya, sebagai pekurban, sedih dan haru nama Ayahnya ikut disebut saat prosesi penyembelihan hewan kurban. Sedih bertambah lagi tersebab Ayahnya tak menikmati daging kurban atas nama putrinya itu. Iduladha tahun ini tanpa Ayah lagi.

        Ayah, iduladha ini tanpamu lagi
        hewan kurban atas namaku, Iqrima
        tadi disembelih menyebut namamu juga 
        sebagai binti karena aku putrimu
        tapi aku sedih, Ayah
        karena Ayah tak menikmati
        sekerat daging kurban atas namaku
        sebagai rasa terima kasih dari putrimu
        atas kasih sayang dan bimbingan Ayah
 

Idulfitri atau Iduladha tanpa orang-orang tercinta kita jadi mengingatkan isi khutbah khatib di masjid kami. “Tahun kemarin suami istri masih bersama-sama kondangan tahun ini sudah sendiri karena si istri telah berpulang,” kata khatib, memicu sedih.

“Tahun kemarin suami istri masih bersama-sama ke mal, tahun ini tinggal sendirian karena si suami sudah berpulang. Tahun kemarin anak-anak masih berlebaran dengan orang tua lengkap, tahun ini hanya tinggal Ibu karena Ayah telah berpulang.”

Atau sebaliknya. Antara Ayah duluan yang pulang atau Ibu yang duluan, sedih yang akan dirasakan anak-anak sama. Apalagi jika anak-anak yang ditinggal masih kecil-kecil, masih butuh kasih sayang dan figur orang tua sebagai suri teladan.

Anak yang kecil masih sekolah atau andai sudah dewasa pun butuh biaya banyak untuk kuliahnya. Pendidikan adalah obor penerang jalan kehidupan anak-anak. Maka, bila kehilangan salah satu orang tua, berarti cahaya obor redup, langkah terantuk.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

Jati Diri

Bunga rampai esai yang saya culik dari blog ini setali tiga uang dengan sehimpun puisi, berisi sama-sama 65. Yang sehimpun puisi berisi 65 judul puisi dan yang bunga rampai berisi 65 esai. Satu esai mengulas perihal pesan Ayah kepada kami bertiga anak lelakinya bahwa, silakan hidup di mana saja dan menikah dengan siapa saja asal hindari yang berasal dari dua suku, Ayah sebutkan sukunya, xxxx dan yyyy. Ketika ragil kami menjalani hubungan asmara dengan cewek dari suku yang (satunya) Ayah sebutkan, saya cuma bisa menelan ludah. Akan tetapi, doa supaya ia dipertemukan dengan calon pendamping, wanita yang Sholehah, terus saya langitkan setiap bakda salat. Apa yang Ayah pesankan kepada kami perihal suku yang ditabukan itu pernah saya singgung pada anak-anak. Ada postingan di  blog  ini saya menyoal “jalan jodoh” yang berliku-liku. Tentang menemukan atau ditemukan. Tentang bibit , bebet , bobot . Bibit itu menyangkut garis keturunan, bebet menyangkut status sosial ekonomi, dan...