Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label anak merah putih

WhatsApp Web

Saya agak keteteran buat membaca apalagi membalas chat di WhatsApp . Pasalnya, ponsel error dan belum sempat saya antar kembali ke service center yang khusus membawahi brand name ponsel saya. Jadi, saya mesti buka laptop untuk membaca dan membalas chat-chat melalui WhatsApp web . Contoh simpel, pesan pemberitahuan kurir yang mengantar paket buku “Kepak Sayap Bunda, Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah” yang diantarnya siang tadi dan meninggalkan pesan berikut foto buku yang diselipkannya di bawah blower Ac di dekat pintu rumah. Tak buka WA web, tak tahu saya. Biasanya diataruhnya di atas meja tamu di teras. Entah mengapa kok  yang sekali ini tadi tuh mesti diselipkannya di bawah Ac. Setelah membuka laptop dan membaca pesan itu, saya langsung membuka pintu dan mengambil itu paket buku , kemudian  langsung mengetikkan balasan atas pesannya kendati agak telat. Seperti sudah saya tulis di blog ini, ada 37 grup WhatsApp yang meringkus nama saya menjadi anggota. Grup-g...

Anak Merah Putih (2)

Hari ini buku antologi cerpen dan puisi “Anak Merah Putih Tidak Takut Masa-lah” diluncurkan bersamaan dengan peringatan Hari Ibu tahun 2025. Buku besutan Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) ini diberi kata pengantar oleh Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Wamen PPPA), Veronica Tan. Saya ikut kedua-duanya, ya cerpen, ya puisi. Kesannya kok kayak kemaruk amat ya. Ah, nggak juga sih . Ikut satu atau dua, bebas. Sesuai ketentuan panitia, siapa pun yang berminat mengikutinya, boleh kirim naskah cerpen, puisi atau kedua-duanya, masing-masing cukup satu naskah. Jadi, kalau ikut dua-duanya, mengirim cerpen dan puisi. Ndilalah yo kok loro-loro atau kalihipun lolos kurasi sedoyo atau sedanten . Nah, lo , tak basa jawain . Sebenarnya, menghadiri peluncuran buku “Anak Merah Putih” ini menarik sekali, apalagi cuma di Jakarta.  Wong ke Banyuwangi atau Jember saja saya lakoni , apalagi cuma Jakarta. Akan tetapi, sayangnya saya pergi ke Jambi untuk Festival P...

Anak Merah Putih (1)

Satu even antologi selesai masuk even antologi lainnya. Adanya even ini baik bagi orang yang menjadikan menulis sebagai terapi mencegah pikun. Pasalnya, dengan banyak even antologi, mendorong orang untuk makin banyak berpikir merangkai kata. Setelah kelar puisi bertema "rahasia bahagia lansia" dan telah dikirim kemarin, maka yang kejar deadline ini bertema "anak merah putih tak takut masalah." Ini agak luas terjemahannya, meliputi anak merah putih yang menjalani hidup di perdesaan serta perkotaan. Dami cover buku Anak Merah Putih Menurut SIMFONI-PPA (Sistem Informasi Online Perlundungan Perempuan dan Anak) per Juli 2025 terjadi 15.615 kasus kekerasan anak yang mayoritas usia 13-17 tahun di lingkungan rumah tangga, tempat yang seharusnya jadi ruang aman dan nyaman. Bagaimana agar anak merah putih tak takut masalah seperti yang jadi tema lomba, bisa mewujud menjadi fakta nyata dan bukan hanya wacana? Nah, di situlah tugas orang dewasa menciptakan regulasi. Di pundak ...