Langsung ke konten utama

Kata 'Warteg' Sebagai Penegas

Masih tentang puisi Ramu-Ramu Warteg yang saya posting kemarin. Seseorang pengirim puisi, di facebook mengunggah puisinya yang tak lolos kurasi dengan narasi agar tetap semangat dan terus menulis. Sebuah ajakan kepada diri sendiri atau tak lebih dari semacam ungkapan menghibur diri untuk tetap istikamah.

Saya baca puisinya, bagus. Komentar “bagus” dan “keren” diberikan teman-teman facebook-nya yang membaca puisi itu. Tetapi, dari berbagai diksi yang dirajut menjadi larik puisi untuk membentuk jaring “bait” sehingga memunculkan puisi yang “bagus” dan “keren” tak terdapat diksi “warteg” satu pun.

Sablonan kaos warteg | gambar dari Shopee |

Padahal, dalam flyer sudah tegas tertulis “harus menyertakan kata warteg” di dalam puisi. Tak ada kata warteg itu barangkali yang membuat puisi seseorang di atas tidak lolos kurasi. Setidaknya ini penafsiran saya. Para kurator tentu punya tafsir masing-masing. Mana layak lolos, mana tidak.

Dari 216 pengirim, lolos 105. Ini sebenarnya ada bonus 5 dari gagasan awal even, Dewan Kesenian Kabupaten Tegal (DKKT) hanya akan menjaring 100 puisi. Tahun lalu yang bertema “Teh, Imaji, dan Puisi” pun ada ketentuan hanya akan menjaring 100 puisi itu. Entah pada akhirnya bagaimana?

Apakah benar 100 puisi/penyair atau akhirnya bagaimana? Yo, ndak tau! Karena saya tidak lolos kurasi sehingga saya tak mengikuti perkembangan penerbitan dan peluncuran buku di Tegal yang banyak penyair hadir menikmati sajian teh poci di perkebunan teh lereng Gunung Slamet, Slawi.

Tahun ini temanya amu-Ramu Warteg, maka diharuskan menyertakan kata warteg di dalam puisi. Itu bukan “jebakan”, melainkan memang seyogianya begitu. Kata warteg akan lebih menegaskan ciri khas kota Tegal sebagai Kota Bahari asal muasal warung merakyat itu berada.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

Jati Diri

Bunga rampai esai yang saya culik dari blog ini setali tiga uang dengan sehimpun puisi, berisi sama-sama 65. Yang sehimpun puisi berisi 65 judul puisi dan yang bunga rampai berisi 65 esai. Satu esai mengulas perihal pesan Ayah kepada kami bertiga anak lelakinya bahwa, silakan hidup di mana saja dan menikah dengan siapa saja asal hindari yang berasal dari dua suku, Ayah sebutkan sukunya, xxxx dan yyyy. Ketika ragil kami menjalani hubungan asmara dengan cewek dari suku yang (satunya) Ayah sebutkan, saya cuma bisa menelan ludah. Akan tetapi, doa supaya ia dipertemukan dengan calon pendamping, wanita yang Sholehah, terus saya langitkan setiap bakda salat. Apa yang Ayah pesankan kepada kami perihal suku yang ditabukan itu pernah saya singgung pada anak-anak. Ada postingan di  blog  ini saya menyoal “jalan jodoh” yang berliku-liku. Tentang menemukan atau ditemukan. Tentang bibit , bebet , bobot . Bibit itu menyangkut garis keturunan, bebet menyangkut status sosial ekonomi, dan...