Tiba lagi satu buku antologi puisi yang masuk daftar tunggu. Antologi Puisi Indonesia Sipakamase. Ini berbicara tentang puisi bertema kearifan lokal Bugis-Makassar. Sipakamase berarti memuliakan, Sipakatau berarti memanusiakan, dan Sipakalebbi yang atinya saling menghargai. Dikenal sebagai tiga falsafah hidup manusia suku Bugis-Makasaar, disingkat dengan falsafah “3S”.
Sam Ratulangi, nama lengkapnya Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi, adalah
seorang politikus, jurnalis, dan guru dari Sulawesi Utara yang ditetapkan sebagai
pahlawan nasional oleh pemerintah Republik Indonesia. Ia memopulerkan falsafah sitou timou tumou tou yang artinya bukan
manusia siapa yang tidak memanusiakan manusia. Itu merupakan perluasan dari
falsafah sipakamase di atas.
![]() |
| sipakamase (sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge) |
Falsafah sipakamase bisa dikristalkan menjadi sipakatau
(memanusiakan), sipakalebbi
(yaitu saling menghargai), dan sipakainge (saling
mengingatkan). Dengan memedomani falsafah “3S” manusia Bugis-Makassar yang
nenek moyang mereka pelaut ulung, pergi merantau mengarungi samudra luas
menaklukkan deru gelombang yang ganas, terdampar di mana-mana, bahkan hingga benua
Australia.
Saya mengirim dua puisi dalam even antologi puisi tema sipakamase
berjudul “Falsafah Hidup yang Menghidupi” dan “Hidup di Kampung Bugis”. Yang pertama
kental mengungkap tentang falsafah “3S” yang jadi “jimat” suku
Bugis-Makassar pergi ke mana-mana. Yang kedua, mengisahkan rekan kerja di SKH Lampung Ekspres Plus, hidup di Kampung
Bugis, pesisir Telukbetung, Lampung.
Rekan kerja ini bernama Azis Amrullah, menjadi wartawan sejak SKH Lampung Ekspres Plus masih berupa koran mingguan
yang bernama SKU Tamtama tahun
1990-an. Ia berasal dari Bulukumba (ujung selatan Jazirah Sulawesi. Entah apakah
lahir di Bulukumba lalu merantau ke Lampung atau lahir di Lampung (seperti
kebanyakan keturunan pendatang di masa pendudukan kolonial).
Saya kok tidak terpikir menggali
riwayat hidupnya, cemana kisahnya
hingga menjadi warga Telukbetung di Kampung Bugis itu. Saya hanya tahunya Pak Azis
yang memanggil “Bos” kepada semua orang, tak hanya pada pejabat-pejabat di lingkup kantor
pengadilan (karena ia ditempatkan di pos berita kriminal), bahkan kepada kami staf di kantor pun, suka-suka ia panggil-panggil “Bos”. Agak laen memang.
Ya, senang saja dapat ikutan di antologi ini setelah lolos kurasi. Akhir
tahun semakin dekat, masih ada beberapa buku lagi saya tunggu tibanya di teras
rumah. Antologi “Tanda Cinta Bagi Korban Bencana”, “Anak Merah Putih tak Takut
Masalah” dan antologi yang proses pengumpulan naskah, penerbitan, dan pengiriman
buku sedang adalam progress. Saya sih setia saja menunggu kedatangannya.

Komentar
Posting Komentar