Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label JSAT

Ruang dan Waktu

Kenyamanan numpak sepur iku  dari segi suhu dalam gerbong sudah sangat nyaman. Hawa sejuk dari air conditioner  terasa semriwing membuat adem ayem . Tempat duduk empuk karena jok spons berlapis kulit yang nggak bikin gerah . Wes , pokoknya puenak sekepenak e . Ayo, jangan ragu numpak sepur . Begitulah yang saya dan istri rasakan kendati kereta kelas ekonomi seperti Sritanjung Jogja--Banyuwangi atau Logawa Purwokerto--Ketapang (Jember) yang premium. Namun, senyaman-nyamannya, bila jarak tempuhnya jauh, boyok lansia saya terasa pegal juga. sekadar untuk ilustrasi, ini sangu saat kami bepergian bus atau kereta , Roti O plus kopinya. Belum meluruh betul pegalnya boyok sehabis duduk seharian utuh di kursi Sritanjung yang terlalu tegak (kurang miring sedikit ke belakang) sehingga meski menyandar pun, badan tetap tak nyaman, pagi tadi berkereta lagi dengan Logawa (ekonomi premium) dari Jember ke Surabaya. Malam ini, jadinya,  nggak pengin ke mana-mana, pengin cepat...

Oktober Bermakna

Jumpa lagi dengan Bli Wayan Jengki Sunarta, kurator lomba menulis puisi bertema Ijen Purba: Tanah, Air dan Batu pada acara peluncuran buku antologi dan pembukaan Jambore Sastra Asia Tenggara di pendopo bupati Banyuwangi, Kamis (24/10/2024) malam. Oktober tahun lalu, tepatnya 18--22 Oktober 2023 saya bersama empat pemenang hadiah Sastera Rancage dari genre sastra Batak, Sunda, Jawa, dan Bali diberi kesempatan hadir di Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2023 di Ubud, Bali. Saya sendiri dari genre sastra Lampung. Di Sagitarius Inn, hotel tempat kami menginap, kami kongkow bercengkerama dan ngopi bareng Wayan Jengki Sunarta, penyair Bali peraih penghargaan Anugerah Buku Puisi terbaik tahun 2021 untuk puisinya berjudul "Jumantara" dan di Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) Banyuwangi ini kami kembali bersua. Di JSAT hadir tidak hanya penyair Indonesia saja, tapi juga penyair Malaysia dan Singapura. Beliau-beliau penyair bergelar Doktor berprofesi sebagai akademisi yang rajin...

Menanti JSAT 2024

Seperti yang sudah saya singgung pada tulisan berjudul “Syarat Tanpa Tapi” bahwa mengikuti sayembara menulis puisi dengan tema yang ditentukan, bukanlah hal yang mudah, bukan juga hal yang mustahil tidak bisa. Perlahan dilakukan pasti bisa diselesaikan. Mengikuti even JSAT 2024, yang tema puisi “Ijen Purba: Tanah, Air, Batu", para peserta boleh mengirim 3 judul puisi. Malam ini pukul 23:59 adalah deadline pengiriman. Saya sudah mengirim pada 23 Juli lalu, sebanyak 3 judul puisi, panjang-panjang. Entah mengapa, saya sejak kenal puisi dan mencoba menuliskannya, selalu panjang-panjang. Cara penulisan juga bergaya seperti bercerita, ada keterkaitan antara larik satu dengan lainnya. Bukan mencampurbaurkan berbagai diksi dalam satu kalimat sungsang. Satu bulan (hingga 30 Agustus) ini masa kurasi oleh tiga kurator, yaitu Wayan Jengki Sunarta, Mutia Sukma, dan Mahwi Air Tawar. Waktu even Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2023, 18—22 Oktober 2023 silam, saya bertemu Wayan J...