Langsung ke konten utama

Festival Puisi Etnik

Saya pikir, perjalanan ke Banyuwangi untuk menghadiri Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT), pada 24--26 Oktober 2024 atau ke Jember menghadiri Temu Karya Serumpun (TKS) 25--26 Oktober 2025, adalah perjalanan terjauh yang pernah saya tempuh. Ternyata bukanlah dua itu, melainkan ada lagi yang terjauh.

Perjalanan terjauh yaitu yang saya tempuh tadi malam. Berangkat dari Bandar Lampung pukul 19:40, menuju Jambi untuk menghadiri atau ikut Festival Puisi Etnik Nusantara yang akan dibuka Sabtu (20/12) malam di Rumah Dinas Gubernur, dan ditutup besok malam, Minggu (21/12).

Malam pembukaan Festival Puisi Etnik Nusantara di Rumdin Gubernur Jambi.

Bagaimana mungkin, perjalanan ke Jambi yang terjauh? Karena dikunci kemacetan yang amat membagongkan. Pasalnya, pemicunya tak ada selain perilaku kendaraan yang nyodok jalur berlawanan arah, istilahnya maling jalur di kanan yang semestinya berkendara tetap di jalur kiri.

Itu penafsiran saya untuk perjalanan terjauh dalam arti yang melelah. Sebenarnya perjalanan terjauh dalam arti yang benar-benar jauh karena melintasi samudra dan benua, adalah saat penerbangan menuju Jeddah ketika hendak menunaikan ibadah umrah 8--11 Oktober 2024.

Ke Jambi yang memang sudah jauh, eh ditambah bonus macet berjam-jam oleh alasan yang tidak masuk akal, membuat badan benar-benar lelah. Tetapi, hati tetap happy lantaran bertemu para penulis puisi etnik dari nusantara, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Brunei Darussalam.

Di google maps tertera perkiraan lama waktu  tempuh perjalanan dari Lampung ke Jambi selama 13 jam. Karena macet tadi malam, maka lama waktu tempuh menjadi 18 jam. Baru tiba di BPMP Provinsi Jambi pukul 14:10. Langsung registrasi dan dikasih kunci kamar + ransum.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Jalan-jalan

Siang baru saja melanjutkan perjalanan menuju barat, setelah istirahat sejenak di waktu zuhur, yang ditandai Matahari tepat di atas kepalanya. Tak lama sekira pukul 14:12 Kakang Paket datang mengantarkan kiriman buku dari Taman Inspirasi Sastra Indonesia. Komunitas sastra disingkat TISI pimpinan Bang Octavianus Masheka, ini baru saja usai merampungkan proses produksi dan terbitnya buku antologi “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” yang merupakan puisi bahasa Indonesia dan bahasa daerah masing-masing penulisnya. Buku-buku yang joss tenan Ada 100 orang penulis puisi dwi bahasa yang terhimpun di dalam buku bersampul merah menyala dengan gambar sampul siluet wajah Ibu yang di wajah, leher, dan dadanya dihiasi taburan wajah penulis puisi yang sengaja di- crop tertinggal bagian dada dan kepala saja. Sebelum buku “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” terlebih dahulu tiba di rumah buku “Zamrud” yaitu antologi puisi Dari Negeri Poci seri ke-15 yang saat datang kebetulan saya sedang tidak berada di rumah ...

Note ato Catatan (1)

Banyak momentum kelewat gak ingat. Kelewat dan berlalu begitu saja, tahu dan sadar ketika ada yang memberi tahukan dan menyadarkan. Di sini sebenarnya letak pentingnya menulis catatan dalam note atau memo agar selalu ingat atau tidak terlupa. Di ponsel tersedia yang namanya 'note' atau 'catatan', bergantung apa bahasa yang disetting dan digunakan si punya ponsel. Ponsel saya disetting bahasa Inggris, maka terbaca 'note' untuk aplikasi bawaan gawai itu. Ilustrasi | image source: Career Advice Jobs.ac.uk | Membuat catatan di kalender pun bisa, bahkan lebih representatif coz begitu tanggal itu akan tiba, sudah ada notifikasinya. Seperti tanggal kelahiran karena saya tandai ulang tahun, selalu di-notif oleh google. Berapa hari sebelum tanggal lahir akan tiba, google mengingatkan saya 'akan ulang tahun' dan saat tiba tanggal itu, google memberi ucapan 'selamat ulang tahun zabidi' dengan hiasan balon beterbangan. Satu hari sebelum tanggal lahir saya, ...

Puisi Tentang Puisi

Inilah enam puisi tentang puisi yang dimuat di NusaBali asuhan Warih Wisatsana. Puisi tentang puisi. Entah mengapa saya tiba-tiba terpikirkan membuatnya. Lalu, saya kirimkan ke Koran NusaBali. Agak lama menunggu kabar dimuat atau tidak. Bersamaan pula mengirim puisi ke Koran Bali Politika. Bali Politika asuhan Wayan Jengki Sunarta. Dua kali saya bertemu dengan Bli Wayan. Pertama sewaktu menghadiri Ubud Writers and Readers Festival, 18–22 Oktober 2023. Kami sarapan dan ngopi di Sagitarius Inn, hotel tempat kami menginap. Pertemuan kedua sewaktu menghadiri Jambore Sastra Asia Tenggara. Inilah 6 sajak-sajak saya yang dimuat di NusaBali (Minggu, 9/3/2025) Menghadiri Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT), 24–26 Oktober 2024, saya dan istri baru empat hari pulang dari ibadah umrah, tapi tak merasakan capek sama sekali. Lalu, setelah lama menunggu, akhirnya yang di BaliPolitika dimuat. “Maaf menunggu agak lama karena sesuai antrean,” kata Bli Wayan Jengki Sunarta. "Wah, saya senang s...