Langsung ke konten utama

Cara Sehat Sederhana

Saat hujan deras kemarin siang, saya tidak ngerasa kedinginan, tetapi justru ngerasa kepanasan. Saya diajak makan sop kambing di rumah kakak. Kontan badan jadi panas imbas sop itu. pulang ke rumah menjelang Asar, saya ngerasa kepala kok agak pening. Saya membatin, pastilah tensi saya mendaki ketinggian. Sedikit was-was.

Bakda salat Asar, saya keluarkan alat pengukur tensi digital yang sudah lama tidak saya gunakan. Saya pasang baterainya dan memasangkannya ke lengan bagian atas, saya tekan "on", hasilnya 136/69 mmHg dan detak nadi 81. Kata mesin pintar itu tensi darah saya normal. Setidaknya untuk lansia ukuran segitu dianggap normal.

Ini gambar dipinjam pakai sebagai penghias belaka | Gisella Anastasia jogging di GBK dengan outfit seksi | matamata.com |

Tadi pagi saya jalan keliling perumahan. Sebuah cara untuk tetap sehat yang sederhana. Tidak perlu jadi member pada sebuah klub kebugaran yang kerennya disebut gym. Banyak orang jadi member gym dengan alasan agar terprogram. Tetapi, faktanya banyak yang tidak konsisten mempergunakan benefit keanggotaannya itu.

Asas manfaat jadi member pada sebuah klub kebugaran tidak berbanding lurus dengan kedisiplinan yang melekat pada diri sebagai sebuah karakter. Butuh political will untuk bisa konsisten mengikuti program kebugaran agar manfaatnya terasa. Tubuh yang atletis dan nilai tambahnya tentu badan bugar dan lebih sehat.

Di akhir pekan (Sabtu dan Minggu) bagi sebagian warga Jakarta adalah waktu yang berharga, bisa dipergunakan untuk istirahat dengan rileks dan santai. Tapi, bagi yang bukan pemegang kartu klub kebugaran, hari Sabtu dan Minggu dimanfaatkan untuk jogging dan lari cepat mengeliling GBK atau jogging track di taman yang ada di lingkungannya.

Nah, semacam jogging track yang sering saya bersama istri manfaatkan untuk berjalan santai adalah kompleks perumahan Bukit Kemiling Permai. Bila diukur secara kilometer, putaran yang kami tempuh bisa mencapai lebih dari 2 kilometer. Itu yang terjauh, yang paling dekat, ya, sekitar 1,5 sampai 2 kilometer. Cukuplah untuk cari keringat.     


Komentar

Postingan populer dari blog ini

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...

Hikmah Safari

Jika pada 'safari jumat' saya telah menemukan masjid Al-Hikmah di Jalan Pagaralam (Jumat, 16/1), kemarin sewaktu ‘safari ramadan’ saya kembali menemukan masjid Al-Hikmah di perumahan Merpati Asri. Dengan begitu sudah ada dua masjid Al-Hikmah yang saya cium sajadahnya. Nah, itulah hikmah safari. Hari ini, dalam melakukan perjalanan 'safari ramadan', saya dipertemukan dengan masjid Darul Hikmah. Nah, lagi-lagi ada kata kembar. Setelah bersua kata kembar ‘khoir’ pada masjid Thoriqul Khoir dan Nurul Khoir, hari ini kembali bersua kata kembar ‘hikmah’ pada masjid Al-Hikmah dan masjid Darul Hikmah. "Hikmah safari." Benar, begitulah hikmah daripada ‘safari ramadan’ yang saya jalani, yaitu bersua kata kembar pada nama-nama masjid yang saya jadikan target ‘safari ramadan’ salat Zuhur. Begitulah kegaliban nama-nama ‘Rumah Allah’ di muka bumi ini, tak lari dari nama-nama yang memberi spirit beribadah pada hamba-Nya di bulan Ramadan. Masjid Darul Hikmah Jl. Karet, Sumbe...