Hujan deras kemarin siang, saya tidak merasa kedinginan, tetapi justru kepanasan. Pasalnya, saya disuguhi sop kambing. Ya, kontan badan saya merasa panas imbas makan sop kambing itu. pulang ke rumah menjelang Asar, saya merasa kepala kok agak pening. Saya membatin, ini niscaya tensi saya mendaki ketinggian.
Bakda salat Asar, saya keluarkan alat
pengukur tensi digital yang sudah lama tidak saya pergunakan. Saya pasang
baterainya dan memasangkannya ke lengan bagian atas, saya ukur tensi, hasilnya
136/69 mmHg dan detak nadi 81. Kata mesin pintar itu tensi darah saya normal. Setidaknya
untuk lansia ukuran segitu itu normal.
Tadi pagi saya jalan keliling perumahan. Sebuah
cara untuk tetap sehat yang sederhana. Tidak perlu jadi member pada sebuah klub kebugaran yang kerennya disebut gym. Banyak orang jadi member gym dengan alasan agar terprogram. Tapi, faktanya banyak yang tidak
konsisten mempergunakan keanggotaannya itu.
Asas manfaat jadi member pada sebuah klub kebugaran tidak berbanding lurus dengan
kedisiplinan yang melekat pada diri sebagai sebuah karakter. Butuh political will untuk konsisten mengikuti
program kebugaran agar manfaatnya terasa. Tubuh yang atletis dan nilai
tambahnya tentu saja bada bugar dan lebih sehat.
Di akhir pekan (Sabtu dan Minggu) bagi sebagian
warga Jakarta adalah waktu yang bisa dipergunakan untuk istirahat dengan rileks
dan santai. Tapi, bagi yang bukan pemegang kartu klub kebugaran, hari Sabtu dan
Minggu dimanfaatkan untuk jogging dan
lari cepat mengeliling GBK atau jogging
track di berbagai taman.
Nah, semacam jogging track yang sering saya bersama istri manfaatkan untuk jalan
santai adalah kompleks perumahan Bukit Kemiling Permai. Bila diukur secara
kilometer, putarana yang kami tempuh bisa mencapai lebih dari 2 kilometer. Itu yang
terjauh, yang paling dekat, ya, sekitar 1,5 sampai 2 kilomter. Cukup berkeringat.
Komentar
Posting Komentar