Langsung ke konten utama

Dua Kegiatan Besar

Pada Senin (22 Juni 2026) kemarin, dua kegiatan besar diselenggarakan secara bersamaan, tapi berbeda tempat dalam penyelenggaraan. Yang pertama, ulang tahun ke-499 DKI Jakarta, tentu dilaksanakan di Jakarta. Dan, yang kedua, pembukaan Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV di Tanah Rencong, Aceh.

Yang pertama, HUT ke-499 DKI Jakarta, dibuka tentu saja oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung didampingi Rano “si Doel” Karno sebagai Wakil Gubernur bersama jajaran stakeholder Pemerintah Provinsi dan swasta dengan sajian berbagai macam atraksi kesenian khas Betawi.

Ilustrasi | PPN XIV Aceh | Instagram 

Yang kedua, PPN XIV Aceh, dibuka oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. dan ada pula sambutan Gubernur Aceh. Bertempat di Istana Wali Nangroe. Dihadiri Bupati dan Walikota daerah pelaksana; Banda Aceh, Aceh Tengah, Bireuen, dan Aceh Besar.

Mengutip Instagram panitia penyelenggara PPN XIV Aceh, “Kegiatan ini mempertemukan penyair, sastrawan, akademisi dan pegiat budaya dari 14 negara untuk memperkuat jejaring sastra, pererat hubungan kebudayaan, serta membangun dialog lintas bangsa melalui karya dan gagasan.”

Ke 14 negara; Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Tailan, Laos, Filipina, Kamboja, Vietnam, Myanmar, Timor Leste, Turki, Jepang, dan Tasmania. Banyaknya negara yang terlibat, menunjukkan bahwa sastra adalah ruang dialog strategis bagi pesahabatan dan perdamaian.

Ada sekitar 200 peserta dan 20 penyair ternama nasional yang akan mengikuti kegiatan besar ini. Dibuka kemarin dan akan berlangsung hingga 28 Juni (22—28 Juni). Rencananya akan ditutup oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan juga Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...

Pulang ke Rumah Sunyi

Ramalan cuaca yang muncul di layar hp menyatakan hari cerah. Alhamdulillah, batin saya. Kendati tidak berencana ke mana-mana, menyiasati cuaca penting juga. Sebagai kompas atau pedoman bahwa cuaca akan baik-baik saja atau sebaliknya akan merundung kita. Pulang jemaah subuh di masjid, saya mesti buka hp . Bukan untuk scroll memeriksa media sosial, melainkan untuk ngaji Surah (tertentu) yang rutin saban pagi (subuh) saya baca. Surah apakah itu? Hmm meh… mau tahu aja apa mau tahu banget ? Puisi "Pulang ke Rumah Sunyi" Gimana kalau saya kasih tahu isi, mau nggak ? Itu camilan favorit yang kami jadikan teman ngopi. Tapi, pagi ini belum ada penjual gorengan yang buka lapak (gerobak). Beruntung Iman Jaya, toko kue jajanan pasar di Kemiling sudah buka. Saya memang hendak ke ATM buat ngasih tali asih untuk anak konco lawas yang kemarin senja ijab kabul di Omah Pakem, Jogja dan dilanjutkan resepsi malam harinya bakda Magrib. Saya tak hadir, hanya bisa kasih doa dan ucapan se...