Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label pacitan

Ngulon Ngetan

Bali ngulon ngetan . Begitulah halnya. Setelah stay  empat hari di kota kelahiran bojo , dua kendara berangkat pulang, pagi ini, kembali ke asal masing-masing. Satu ke Lampung ( ngulon ) dan satu lagi ke Mojokerto ( ngetan ). Giliran kami nanti. Akan ngetan  terlebih dahulu, baru kemudian ngulon juga. Tadi malam klimaks kulineran, keluar sejak Asar ke Pantai Pancer Dorr menikmati pizza. Habis Magrib tilik dulur yang baru saja pulih dari stroke, sempat nggak bisa berjalan. Setelah menjalani terapi pada seorang dokter di Sleman, Yogyakarta, alhamdulillah bisa berjalan kembali. Seperti mendapat mukjizat. Hujan lagi hari ini Setelah tilik dulur , pamuncak kulineran, makan mie rebus --kalo di Jogja disebut mie godok-- seberang minimarket biru. Saya memilih nasgor, pengin coba seperti apa nasgor di sini. Biasa nasgor gerobak di Kota Tapis Berseri, sudah khatam rasanya. Di sini tentu ada perbedaan. Wih, ternyata porsinya jumbo. Nyerah saya, gak kuat menghabiskan nasgor jumbo it...

Hujan Kiriman

Weather Report atawa ramalan cuaca kalau nggak akurat, ya, nggak dipercaya publik. Kemarin terbaca di layar hape "besok Pacitan hujan" dan benar belaka. Subuh tadi hendak ke masjid, titik-titik hujan jatuh satu-satu. Membatin, bakal hujan. Begitu pun sewaktu pulang. Alhamdulillah setelah sampai homestay hujan baru menderas. Lumayan segar udara setelah dimandikan hujan sepagi tadi. Hujan kiriman di tengah cuaca yang begitu  sumuk menyergap membuat gerah , jadi anugerah terindah. Titik Nol Pacitan, sekadar ilustrasi Kiriman kok hujan, ya? Enaknya dapat kiriman kue kesukaan. Tetapi, hujan juga diterima oleh mereka yang lama diringkus waktu dalam deraan kemarau. Dirasa lebih enak daripada makanan kesukaan yang diidamkan. Tentu, hujan membuat udara jadi sejuk. Soal 'hujan kiriman' bukan baru di Pacitan yang 'harga hujan mahal' kami dapatkan, melainkan di perjalanan tol Jakarta--Merak juga kami dapatkan. Terbayang kan bila hujan, jalan tol akan tergenang, air terc...

Sumuk

"Widih, enak bener," komentar kakak yang di Pacitan juga Mojokerto, waktu kami katakan di Lampung masih sering hujan. Dua hari ini, kemarin dan hari ini, kata tetangga, yang mengabari via WA, di perumahan kami hujan deras. Ih, mantap. Pada waktu ke Pacitan Agustus lalu, cuaca di Pacitan masih bersahabat. Masih ketemu hujan. Pada saat ini, bulan Oktober, cuaca panas melanda, rasanya tidak kuat dan pengin cepat-cepat pulang. Tetapi, tujuan ke sini karena menengok kakak yang sakit, yo wis . Alun-alun Pacitan di malam hari Malam Minggu ini, sehabis makan, kami  kongkow di alun-alun Pacitan mencari angin dan memang terasa sejuk. Angin berembus sepoi-sepoi, lagu-lagu ceria mengalun dari segenap penjuru. Malam ini alun-alun penuh, waktu cari tempat parkir saja muter-muter. Lumayan, mendinginkan badan sejenak dari merasa sumuk sambil menyeruput es soda gembira di alun-alun. Ada gejala turun hujan, namun hanya titik-titik satu dua lalu hilang. Kupikir pantes  sumuk siang tadi, suh...

Angkringan Mbak Agil

Angkringan mbak Agil depan rumah kakak di Pacitan ini idola keluarga. Kuliner yang dijual tentu saja khas angkringan, yaitu sego kucing. Tetapi yang legend dan jadi idola kami adalah pisang goreng wijen (diberi toping taburan wijen) dan wedang jahe. Selama stay delapan hari di Pacitan, semenjak Jumat silam hingga Sabtu hari ini, ditunggu-tunggu nggak juga buka. Eh, ndilalah malam ini buka, langsung deh kami gasken menikmati sego kucing dan pisgor wijen serta minum wedang jahe. Gak sia-sia nunda pulang. Angkringan mbak Agil idola keluarga Foto angkringan ini saya share di grup WA keluarga, ada yang merasa gelo lho karena jauh hari sebelum berangkat dari Trowulan, Mojokerto, mewacanakan pengin menikmati sego kucing dan pisang goreng wijen di angkringan mbak Agil. Penasaran kayaknya. Tapi, hingga pulang kembali ke Trowulan pagi tadi, apa yang diharapkan tak kesampaian. Hanya kuliner makanan berat-berat yang kelakon , seperti ayam goreng krispi Mekar Jaya, soto langganan keluarga Pak S...

Sebuah Keniscayaan

Revitalisasi Pantai Pancer Door menjadi sentra wisata dan kuliner, memberi dampak sepinya alun-alun Pacitan. Lapak-lapak kuliner seperti jadah bakar, sate tahu, wedang tape, wedang jahe, kopi, es teh atau teh panas, dll. terlihat sepi pengunjung, tadi malam kami makan di kafe Teras Alun-Alun, sesudah itu kongkow di alun-alun. Kesan sepi begitu terasa. Sebuah keniscayaan, ada pihak yang maju dan ramai akan diikuti pihak lainnya yang stagnan bahkan sepi. Begitulah dinamika kehidupan di sentra kuliner dan pariwisata suatu daerah. Akan datang masa panen raya, lalu perlahan ditinggalkan pengunjung. Sepi. Lapak-lapak pedagang kuliner alun-alun Pacitan Pasang surut seperti laut. Ada masanya pasang dan ada masanya surut. Saat ini sentra kuliner tepi laut di Pancer Door sedang naik daun, nanti akan sampai juga ke titik jenuh pengunjung, satu per satu lapak berguguran. Sepi seperti halnya alun-alun saat ini. Ya, tidak menyangka alun-alun yang baru saja kami tengok, penjual jadah bakar (kuliner k...

Kota 1001 Gua

Pacitan sering disebut hidden paradise of java karena keindahan beberapa pantainya. Kota tempat lahirnya Presiden SBY, ini juga dijuluki "kota 1001 gua" karena memiliki banyak gua, cantik-cantik. Memang tidak sampai 1000 apalagi lebih 1. Tapi, dari sekian goa yang ada, memang indah-indah, membuat pengunjung terkagum dan berdecak. Situs baru yang diresmikan 16 Mei 2024, yaitu Museum Song Terus. "Song" bukan bermakna nyanyian atau lagu, artinya adalah goa. Sementara "Terus" karena dari mulut gua lorong di dalam bisa tembus ke belakangnya sejauh 70 meter yang di dalamnya mengalir air sungai. Sungai yang keluar dari dalam gua (yang tembus atau terus ke belakangnya tersebut) bisa mengairi sawah penduduk. Itulah asal muasal kenapa disebut "Song Terus" karena lorong dalam goa itu tembus belakang. Tadi sore pukul 15.00 pembukaan acara Ekspedisi Merah Putih 70-Mile Sea Paradise di Pantai Pancer Door. Tapi, kami pilih pergi ke Museum Song Terus untuk meli...

Pancer Door

Pantai Pancer Door, di Pacitan, terus dibenahi jadi sentra kuliner tepi pantai seperti  ala - ala pantai Legian di Bali. Menu yang ditawarkn beragam khas Jawa Timuran, seperti ketupat tahu, sgpc (sego pecel) madiun, serta serbaneka yang dibakar-bakar. Minuman pendamping tidak ketinggalan degan dan cendol dawet seperti di lagu koplo itu. Ada memang yang ala-ala kafe, seperti fizza dan roti bakar untuk mengakomodasi selera milenial dan Gen Z. Jika tak begitu, maka akan sepi pengunjung. Mubazir jadinya. Sentra kuliner Pancer Door Di sini ada jogging track yang asri terlindung pohon pinus, bisa dibuat tempat foto syantik bareng besti, bahkan  prewed . Ada tempat penangkaran penyu juga. Ada masjid apung di muara Sungai Grindulu yang dekat banget dengan bibir Samudra Hindia. Masjid ini pernah hanyut ke laut. Seperti yang sudah saya ceritakan pada postingan kemarin, kalau hujan deras di hulu, sungai Grindulu ini akan membanjir-bandangkan apa pun yang diamuknya, diantarkan menuju ...

Sungai Gerindulu

Sungai Gerindulu yang bermuara di Samudra Hindia, Pacitan, ini dulu saat banjir bandang 27-28 November 2017 memporakporandakan desa yang dilaluinya hingga alun-alun Pacitan, kerugian mencapai 1 miliar rupiah. Disebabkan siklon tropis. Setiap hujan deras di hulu, niscaya akan mengirim banjir bandang menuju ke arah kota, menyapu apa pun yang dilaluinya, beberapa desa di kiri kanannya dan juga poros jalan yang menghubungkan Pacitan dan Ponorogo. Lalu lintas lumpuh, ekonomi rubuh. Sungai Grindulu Hari ini sembari menilik rumah keprabon  warisan orang tua istri, saya melongok ke sungai. Beberapa orang menambang pasir. Saya juga menyinggahi patung Ganesha di tikungan jalan yang dahulu jadi 'barang' yang begitu menakutkan di mata anakku. Dahulu, saat anak sulungku berusia 1,5 tahun, sedang senang-senangnya jalan, pagi-pagi saya ajak jalan ke patung itu. Melihat sosok patung yang mengerikan, ia jadi ketakutan. Tapi, saya pegangkan tangannya ke tubuh patung, eh, lama-lama muncul juga b...

Memandang Laut

Lama tak pulang kampung ke Pacitan, ternyata banyak destinasi wisata baru. Siang tadi yang kami kunjungi adalah Mentari Ocean View, tak jauh-jauh amat, hanya sekitar 12 menit dari tengah kota. Ada jembatan kaca berikut spot foto lainnya. Tentu butuh keberanian untuk meniti jembatan kaca itu. Kendati tidaklah tinggi-tinggi amat, namun bila tak memiliki keberanian sedikit pun, ya, gagal berakting. Samudra Hindia difoto dari Mentari Ocean View Hanya beberapa gelintir saja yang memiliki sedikit keberanian itu. Beruntunglah karena bisa memiliki foto di situ. Nggak hanya foto, ada video juga bisa bersarang di galeri ponsel. Memperbanyak koleksi. Berada pada puncak bibir Samudra Hindia di daerah Pacitan, maka pandangan akan melepas ke samudra yang hijau. Tepat sekali dinamai ocean view . Karena bisa melihat sunset, disematkanlah kata "mentari."

‘Pemudik Sesungguhnya’

ilustrasi, para pemudik memenuhi terminal bus. (Bisnis.com) Akhirnya hujan ‘mudik’ juga ke kota kami. Menyambut para pemudik sesungguhnya yang datang dari rantau, pulang ke rumah keprabon tempat mereka lahir dan tumbuh besar sebelum akhirnya menikah dan merantau. Di tanah rantau mereka bekerja membanting tulang memeras keringat. Ada di antara mereka yang pulang ke rumah keprabon , masih bertemu Ayah, Ibu, dan kerabat yang dituakan. Ada pula yang hanya bertemu cungkup makam mereka. Tentu terdapat perbedaan rasa yang meriasi suasana Lebaran antara yang masih bertemu Ayah dan Ibu dengan yang tidak lagi bertemu. Kami (saya dan istri) tidak mudik ke kampung saya di Ranau dan kampung istri di Pacitan. Alasannya itu tadi, Ayah Ibu kami sudah tinggal cungkup makamnya saja, begitu pun kerabat yang dituakan sudah pada berpulang. Semakin ke sini semakin ke sana, suasana mudik Lebaran bertambah beda. Silaturahmi telah berganti melalui jendela virtual. Tidak lagi harus pulang agar bisa berte...