Selama dalam masa pemulihan kesehatan pasca-demam tipes yang menjadikan pola makan mesti menghindari yang enak-enak. Kendati tetap bisa keluar mencari sayur dan kebutuhan harian, setelah kembali ke rumah, tak banyak gerak yang saya lakukan selain duduk manis di depan laptop, menulis.
Tentu, yang tak pernah
tinggal adalah memroduksi tulisan untuk menyuapi blog ini setiap hari. Karena itu, saya butuh ransum yang akan saya
suapkan. Dari mana mendapatkannya? Salah satunya adalah membaca. Seperti sudah
pernah saya tulis di blog ini, yang saya
baca tidak mesti buku. Saya baca juga sosial media.
![]() |
| Sebagian buku yang ada di rak buku sayah |
Tetapi, selama istirahat
pemulihan kesehatan, ada beberapa buku yang segel plastiknya belum dibuka, saya
buka dan sekalian membacanya. Terutama empat hari belakangan, saya merasakan
asyiknya membaca buku cerpen pilihan Kompas. Dari hasil membaca terbit ide
untuk mengarang puisi, saya tulis di WA pribadi.
Seperti yang sudah pula saya
tulis di blog ini, saya lebih menyukai membaca buku fisik. Oleh karena
itu, ketika bepergian ke mana pun, saya selipkan satu atau dua eksemplar buku
tipis ke dalam tas selempang yang saya bawa. Kendati nantinya buku itu tidak saya
baca karena asyik mengobrol dengan seseorang, lain soal.
Ternyata, sains menjelaskan
bahwa membaca buku fisik lebih baik dari e-book atau pdf. Pasalnya, menurut sains tersebut, layar gawai ‘mengkhianati’ memori
kita. Membaca di layar gawai, otak kita hanya melakukan skimming bukan deep processing.
Saat aplikasi baca ditutup, 70 persen informasi menguap dalam 24 jam.
Kebetulan hari ini dirayakan
sebagai Hari Buku Sedunia yang juga dikenal sebagai Hari Buku dan Hak Cipta
Sedunia (World Book and Copyright Day).
Peringatannya kali pertama dilakukan UNESCO pada 23 April 1995 sebagai bentuk
penghormatan terhadap buku, hak cipta, serta upaya meningkatkan budaya literasi.
UNESCO memilih tanggal 23
April karena bertepatan dengan meninggalnya beberapa sastrawan besar dunia seperti
William Shakespeare, Miguel de Cervantes, Inca Garcilaso de La Vega, Rupert Brooke, Rolf Dieter Brink Mann. Yang unik, tanggal kematian Shakespeare, Cervantes, dan Vega di tahun yang sama, yaitu 1616.

Komentar
Posting Komentar