Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label menulis

Makanan Pokok Fisik dan Psikis

Acapkali ketika kehendak menulis puisi berdenyut di jidat, saya membuka laptop sebagai panggung serta mempersilakan jari-jari untuk menari. Tapi, apakah jari-jarinya malu-malu atau kehendak yang berdenyut kurang membetot, alhasil tak juga diksi-diksi terbariskan oleh “word 13” menjadi larik dan tubuh puisi di layar laptop. Begitu pun halnya dengan yang menyebut dirinya “inspirasi” ketika datang berkunjung ke ruang lamunan, begitu hendak saya tuliskan tiba-tiba saja lenyap seperti guguran daun sirsak di depan rumah dalam got yang disapu air hujan. Ide yang melintas dalam pikiran hilang ketika hendak saya tuliskan. Gejala pelupa, tanda-tandanya datang. Ilustrasi | gambar praolah dari Mizanstore.com | Degradasi daya ingat. Menurut ringkasan AI di halaman peramban Google, dijelaskannya sebagai penurunan kemampuan otak dalam menyimpan , mengolah , dan mengingat kembali informasi . Kondisi ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor , mulai dari penuaan alami , stres , gaya ...

Hari Buku, Baca Buku

Selama dalam masa pemulihan kesehatan pasca-demam tipes yang menjadikan pola makan mesti menghindari yang enak-enak. Kendati tetap bisa keluar mencari sayur dan kebutuhan harian, setelah kembali ke rumah, tak banyak gerak yang saya lakukan selain duduk manis di depan laptop, menulis. Tentu, yang tak pernah tinggal adalah memroduksi tulisan untuk menyuapi blog ini setiap hari. Karena itu, saya butuh ransum yang akan saya suapkan. Dari mana mendapatkannya? Salah satunya adalah membaca. Seperti sudah pernah saya tulis di blog ini, yang saya baca tidak mesti buku. Saya baca juga sosial media. Sebagian buku yang ada di rak buku sayah Tetapi, selama istirahat pemulihan kesehatan, ada beberapa buku yang segel plastiknya belum dibuka, saya buka dan sekalian membacanya. Terutama empat hari belakangan, saya merasakan asyiknya membaca buku cerpen pilihan Kompas . Dari hasil membaca terbit ide untuk mengarang puisi, saya tulis di WA pribadi. Seperti yang sudah pula saya tulis di blog ini,...

Jam Karet

Tadi malam doa tahlilan hari kedua di rumah sahibul musibah RT.011 dilaksanakan bakda Magrib karena bakda Isya akan diadakan perayaan Israk Mikraj di masjid. Waktu memang bisa diatur mulur mengkerut. Dari situlah dikenal istilah jam karet. Orang mengulur waktu dalam masalah apa pun, datang ke undangan telat, menghadiri rapat telat, sampai di kantor telat. Begitulah jam karet dijadikan suatu kebiasaan, bahkan membudaya. Sudah keberangkatan terlambat, eh di jalanan didera macet, ya, sudah sampai di tempat tujuan terlambat jadinya. Begitulah yang terjadi pada pemeluk teguh “penglaju” di kota Jakarta yang datang dari penjuru bodetabek (Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) dengan commuter line atau KRL. Salah seirang dari ribuan “penglaju” mengaku rata-rata menghabiskan waktu 4–5 jam di jalanan sejak dari rumah hingga sampai kantor, tempatnya bekerja di tengah Kota Jakarta. Takmir masjid foto bareng ustaz  “Pengin resign , tapi eman - eman karena bekerja ini di samping cari tambahan b...

Tulisan Random

Agak santai, telah saya kirim puisi untuk dua even menulis puisi bertema bencana, menyikapi kejadian banjir bandang yang melanda sebagian daerah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Satu even lainnya menulis puisi bertema lansia, untuk penyair uisa 60+. Saya saling mengingatkan dengan kawan penyair di Banjarmasin agar jangan sampai lupa mengirimkan karya puisi apabila sudah siap. Kami jadi satu buku di “Semesta Ingatan – Tragedi dan Imaji Kebebasan” atau mungkin juga di buku antologi puisi lainnya. Belum saya perhatikan betul, sudah berapa buku bersama dengannya. Dengan Wijatmoko BS sudah beberapa buku bareng sebagai kontributor. Mulai sejak di buku “Si Binatang Jalang” hingga yang masih hangat (yang terbaru) “A Tribute to Pipiet Senja.” Untuk buku antologi puisi “A Tribute to Pipiet Senja” sedang dalam perjalanan, dari Jakarta dikirim via J&T kemarin, mungkin besok siang akan sampai di teras rumah. Buku “Sipakamase” dari Makassar belum ada konfirmasi sudah mulai pengirim...

Nge-goblog

Kerja ngeblog (nulis di blog) hari gini, dibilang gak ada manfaatnya, gak juga. Dikatakan ada manfaat, entah juga. Karena tautan link blog ini saya sematkan di semua media sosial (medsos) yang saya miliki, secara tidak sengaja atau iseng, orang yang kesasar dan singgah di medsos itu akan mengeklik tautan link itu dan (iseng juga) membuka-buka atau bahkan membacanya. Jumlahnya tidak sedikit lho . Siapa mereka? Ya, ndak tau, kok tanya saya. Tidak sedikit itu tersimpul dari perhatian saya ketika melihat grafik pengunjung (pembaca) blog fluktuatif, naik turun di kisaran 100--200an per hari. Dan, yang bikin saya tersandung (maunya sih tersanjung) yaitu jumlah pengunjung pada tanggal 26 September 2025, mencapai 841 views, dalam hati, saya bertanya, siapa sih orangnya yang serius bener mau mengobok-obok blog saya hari itu. Terima kasih lah  sudah mau iseng. Kalo cuma satu orang, ya, berarti serius tho , tapi kalo banyak orang, berarti memang iseng. Antara serius atau iseng, beda tipis tho...

Mencatat Sesuatu

Meluncur sudah di 10.15 WIB tadi, seukuran A4 e-mail buat antarkan lima judul puisi dengan tema zamrud untuk diikutkan antologi puisi DNP 15 yang ditaja Komunitas Radja Ketjil atau Dari Negeri Poci untuk periode ke-15. Baru kali ini mengikuti DNP, barangkali  aja  ada keberuntungan, ada hoki. Siapa tahu  kan ! DL masih lumayan lama, 30 Juni. Karena minimal lima puisi, agak sikit kerja keras mengelaborasi isi kepala. Baru saya bikin puisinya sejak tiga hari lalu,  beguyur bae, sikok duo  jadi  limo . Untuk antologi bertema Teh, Imajinasi, Puisi masih ada waktu dua hari menuju tenggat 20 Juni, tapi saya sudah kirim pada 6 Mei lalu. Lepas separuh beban.  Ilustrasi teh poci (creator: Albert AF/Shutterstock) Setelah utak atik tema  blog  dan menemukan tema yang sekarang, saya perhatikan post blog yang tidak dihiasi foto ataupun ilustrasi di atasnya, menampilkan  drop cop . Kemarin lanjut eksperimen, bagaimana kalo foto atau ilustrasi ditar...

Momen Mengharu Biru

Ilustrasi (gambar: IG Forum TBM) Dua hari lalu tahlilan 40 hari Effendi disusul tadi malam tahlilan 7 hari Edi. Kendati ditingkah hujan sejak Magrib hingga selepas Isya, namun tak mengurangi antusiasme bapak-bapak jemaah masjid untuk hadir. Demikian juga ibu-ibu perumahan dan majlis taklim. Di bawah ricih gerimis, doa bagi Edi dilangitkan. Momen mengharu biru. Setelah tepat di pukul 9:17 kemarin pagi saya larungkan tiga puisi ke alamat e - mail yang diterakan di flyer nubar antologi Peace Poet , pada pukul 9:45 saya dimasukkan WAG. Saya periksa, 100 orang tergabung dalam WAG termasuk 3 admin. Dari 2 admin di WAG ini, 1 merupakan admin di nubar bertema “Pagar Laut.” Ibu Tuti, yang habis kecelakaan. 1 adalah admin nubar bertema “Si Binatang Jalang” yang waktu malam puncak perayaan Hari Puisi Nasional mendampingi pembacaan “Deklarasi Kembali Hari Puisi Nasional” di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki. Sebuah momen mengharu biru (juga) ketika saya dipanggil naik panggung untuk menerima s...

Harap-harap Cemas

Ilustrasi (image: Lektur.ID) Ini even menulis puisi bertema yang paling ketat kompetisinya. Masuk 360 nama peserta dan lolos seleksi awal 144 nama. Dari jumlah itu yang akan masuk buku antologi hanya 50 nama penulis. Karena ada peserta yang tidak mencantumkan nomor WA, maka di WAG hanya terdaftar 111 peserta. Masih menunggu hasil perasan terakhir itu dengan dag-dig-dug. Tidak terlampau menaruh ekspektasi tinggi-tinggi, itu kunci agar tidak kecewa. Dalam hal apa pun. Dalam lomba, sayembara atau apa pun namanya. Apalagi dalam hal cinta-cintaan (dicintai dan/atau mencintai) janganlah terlampau berharap. Selama proses kurasi berjalan, selama dewan juri bekerja, ya, tunggu saja apa pun hasilnya. Begitupun cinta-cintaan, selama lagi proses pedekate , saling kenal dan apa pun istilahnya, ya, tunggu saja. Apalagi sebelum dilamar dengan hantaran yang bejibun , sebaiknya pasang hati dengan penuh harap dan doa. Harap-harap cemas dan doa yang dilangitkan, luruskan harapan agar jalan jodoh te...

Kerja Belum Selesai

Pada pukul 10:05 kemarin satu file untuk antologi puisi bertema “Teh, Imajinasi, Puisi” meluncur terkirim ke e-mail yang diterakan dalam flyer lomba menulis Antologi Puisi Indonesia Tingkat ASEAN dengan tema itu. Tambah satu lagi even yang diikuti. Lega sudah, tinggal mempersiapkan yang lainnya. Sebenarnya file puisi yang terkirim kemarin ini, batas deadline yang ditentukan nanti 20 Juni 2025, tapi karena sewaktu menghadiri malam puncak peringatan Hari Puisi Nasional di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, tangan saya mulai mengetikkan bahan di ponsel, jadi 2 puisi. 1 puisi saya tulis setelah pulang. Nah, yang batas deadline 30 Mei sebenarnya Antologi Puisi Penyair Nusantara untuk helatan Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) ke-XIII pada September mendatang. Justru belum satu pun dari tiga puisi bertema “Puisi untuk Perdamaian dan Persaudaraan” saya buat. Cemmana ini, Lae . Kerja belum selesai. Perdamaian dan persaudaraan adalah tema yang layak diapungkan di masa yang serba ruwe...

Dari Even ke Even

Buku antologi puisi "Si Binatang Jalang" Setelah kutelusuri flyer - flyer yang di- share kawan-kawan dan kuhitung ada 12 even lomba atau nubar (nulis bareng). Puisi tema ‘Cinta Lintas Negara’ tidak lolos kurasi, puisi tema Ramadan Suci tidak jelas kabarnya. Puisi bertema ‘pagar laut’ tidak lolos kurasi, puisi tema ‘Chairil Anwar Si Binatang Jalang’ buku antologinya di- launching pada puncak perayaan Hari Puisi Nasional di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Selasa, 29 April 2025. Puisi tentang Bogor untuk menyambut Hari Jadi ke-543 Kabupaten Bogor on progress kurasi dan menunggu hasil. Oke, selamat jalan puisi tema ‘Swara-Swara Anak Pulau’ Ahli Waris Sah Republik Indonesia telah ngandang di Google Drive panitia. Saya mengkreasi puisi tentang pulau Rempang yang penduduknya terusir dan pulau-pulau kecil sekitar Gunung Anak Krakatau yang penduduknya hidup berdampingan dengan pusat bencana. Ada even nubar pentigraf (cerita pendek tiga paragraf) yang ‘agak laen’ karena pe...

“Mind Games”

Ilustrasi, image source: YouTube Sickick Cemas itu sebenarnya cerita yang berdenging dalam kepala. Endingnya bergantung hendak dibawa ke mana. Hidup bukannya tidak bisa bebas dari ‘masalah’ sama sekali, masalah sebenarnya adalah ketika ‘masalah’ itu menciptakan gelisah karena kepala penuh kisah. Itu yang bikin hidup tidak tenang. Selalu dihantui cemas. Hidup akan terasa tenang bukan karena terbebas dari ‘masalah’, melainkan karena kisah yang memenuhi kepala dieksplor menjadi cerita yang indah. Sesuatu yang penting bisa terlupa begitu saja, tapi sesuatu yang tidak penting malah diingat-ingat terus. Bahkan, dibuat seperti dendam yang mesti dibayar tuntas. Kenapa bisa begitu? Karena ‘masalah’ yang menciptakan gelisah tadi. Begitulah pikiran, suka berperilaku nyelenéh, unik, dan licik. Orang mudah saja lupa kunci kontak kendaraan yang baru saja ditaruh, tapi ingat rasa sakit oleh luka di masa lalu. Kenapa? Karena otak pilih kasih, ingat yang tak mudah dilupakan. Otak lebih mudah mengin...

Antusiasme

Ilustrasi antusiasme (image source: EXPERD) Grup WhatsApp Partey Penulis Puisi (PPP) beranggota 789 (sementara), dan akan ada kecenderungan terus bertambah seiring dimasukkan anggota baru oleh admin atau masuk melalui tautan undangan. Sedekat pengetahuan saya, inilah grup WA terbesar jumlah penghuninya. Tapi, entah juga di luar (negeri), bisa jadi ada yang lebih besar lagi. PPP sedang menaja lomba cipta puisi bertema pagar laut. Hingga deadline 25 Maret, jumlah peserta yang sudah mengunggah karya puisi terbaiknya ke google form sebanyak 432, mungkin di detik terakhir ( injury time ) masih akan bertambah. Antusiasme, begitulah. Lebih separuh anggota yang ikut berpartisipasi. Ada anggota grup merupakan juri lomba. Tidak banyak, hanya tiga orang saja. Tentu saja tiga orang anggota grup yang menjadi juri lomba itu tidak ikut mengirim karya puisi. Memang begitu kegaliban, setiap lomba akan mengundang banyak peserta. Apalagi #LCP #PialaKebangsaan2025 bertema pagar laut ini, panitia men...

Menulis Tangan

Ilustrasi, image source: Merdeka.com Profesor Nedret Kiliceri mengamati bahwa banyak mahasiswa saat ini kurang menguasai dasar-dasar menulis. Mereka cenderung menghondari pembuatan kalimat panjang atau paragraph yang kohesif, lebih memilih gaya tulisan yang menyerupai unggahan media sosial. Bahkan, tidak jarang mahasiswa datang ke kampus tanpa membawa pena, bergantung sepenuhnya pada keyboard untuk mencatat dan menyelesaikan tugas. Menulis tangan sesuatu yang telah menjadi bagian penting dalam interaksi manusia. Menulis tangan adalah keterampilan yang berusia 5.500 tahun. Generasi Z yang lahir antara 1990—2010an kehilangan keterampilan menulis tangan karena di era digital yang serba cepat ini, menulis tangan mulai terasa seperti seni yang hampir punah. Perubahan ini menimbulkan pertanyaan besar tentang masa depan komunikasi dan cara berpikir kita. Kemajuan teknologi digital telah mengubah cara kita berinteraksi satu sama lain. Aplikasi seperti WhatsApp dan platform media sosial sep...

Kesasar Menemukan

Ilustrasi, image source: AQskill Cerita pendek sepanjang 500 kata untuk serial “Dari Pogung ke Pugung” dengan tokoh Nurhidayah dan Fauzi, saya tulis 8 seri. Bila dieksplor lagi dengan pengembangan cerita sepertinya bisa jadi kumpulan cerita pendek hingga belasan atau puluhan seri. Hal itu saya sadari setelah kembali menulis cerita pendek 500 kata dengan tokoh Shilla dan Panji. Serial pertama berjudul “Dari Halte ke Hati” telah dimuat di blog ini tanggal 25/7/2024 pukul 10:10 PM. Sampai tadi sore sudah sampai seri ke-6 yang selesai. Seri ke-7 bakda Asar tadi penulisannya terhalang waktu magrib. Cerita dengan setting anak kos, kisah asmara akan jadi bumbu penyedapnya. Asmara yang tidak mulus, putus nyambung, ghosting, dan putus beneran, niscaya akan seru bila ada juga déjà vu. Jika iya bisa saya tulis hingga belasan atau puluhan seri, maka bisa jadi satu buku, apa pun namanya, apa kumpulan cerita pendek, novelet atau novel. Di tangan penyunting atau editor hal itu tahu jawabnya. Ya...

Willingness to Write

Ilustrasi, dalam menulis dibutuhkan referensi Sebuah video masuk ke WAG yang saya jadi bagian di dalamnya. Video yang menyarankan agar jangan hanya berdiam di rumah, tetapi pergi keluar (ke mana kek ), ke rumah kawan bersilaturahim, mengobrol, berinteraksi agar tetap sehat. Jangan  rebahan , malas bergerak. Pergi bertamu ke rumah kawan, silaturahim, mengobrol niscaya pikiran menjadi fresh . Benar juga, bila hanya berdiam saja di rumah tentu lama kelamaan pikiran akan suntuk. Kesuntukan tidak ada obat selain berinteraksi dengan orang lain, kawan akrab lebih afdal. Ada lho orang yang merasa setelah bebas dari kesibukan bekerja, setelah pensiun saatnya istirahat panjang, maka berdiam di rumah lebih banyak dilakukan. Seminggu, sebulan, mungkin tidak ada pengaruh, mereka tetap enjoy saja. Tapi, setelah itu niscaya berdampak. Dampak psikologis atas tiadanya kesibukan, lama kelamaan muncul rasa jenuh dan tidak nyaman. Akhirnya, keluar rumah pun merasa “kesepian di tengah keramaian...

Mimpi, Menulis, dan Bacaan

Ilustrasi, Buku LMCR 2013. Melanjutkan postingan kemarin, Lomba Menulis Cerita Remaja (LMCR) pertama (2011) membuat para juri terkejut. Seperti diakui Agus R. Sarjono, salah satu dewan juri, saat kali pertama membaca dan menilai karya para peserta LMCR, ia terkejut: “Anak-anak remaja Indonesia ternyata dapat menulis dengan menarik, lincah, dan bahkan otentik,” ujarnya. Karena itu, beberapa juri sempat ragu, benarkah karya-karya tersebut ditulis oleh anak SMP/sederajat? “Jangan-jangan itu bukan karya mereka melainkan karya guru atau orang tua mereka. Keraguan semacam itu masuk akal, di tengah cukup seringnya kita mendengar berita tentang penjiplakan karya sastra termasuk karya ilmiah,” lanjut Agus. Agus R. Sarjono tidak heran pada keraguan teman-teman jurinya. Jangankan anak remaja, di kalangan perguruan tinggi pun penjiplakan ( plagiarism ) dilakukan segelintir mahasiswa bahkan dosen yang mengajar mereka. Namun, dengan segera baik Agus maupun juri lain dapat merasakan, sebuah cerit...

Andaipun Bukan Juara

Dua buku bergizi Bagaimana sih agar bisa menulis? Pertanyaan seperti itu acap terlontar dari mereka yang menganggap dirinya tidak bisa menulis. Padahal, bisa saja dalam dirinya terendap potensi untuk jadi seorang penulis. Kuncinya, mau mengeluarkan potensi yang terendap itu dengan menggalinya, dengan cara mencoba. Atas pertanyaan seperti di atas, tidak ada jawaban yang tepat benar. Satu-satunya cara untuk jadi penulis, ya, menulislah. Tulis saja, tentang apa saja. Intinya, melakukan, jangan hanya berhenti di pertanyaan kok bisa, ya, seseorang itu bisa menulis dan tulisannya enak dibaca. Jangan berhenti di keinginan. Kemarin beberes buku-buku yang sewaktu mau hajatan bulan Januari lalu disingkirkan di rumah sebelah, tak menduga ternyata ada buku “15 Naskah Terbaik Lomba Menulis Cerita Remaja (LMCR) 2012” dan “13 Naskah Terbaik Lomba Menulis Cerita Anak (LMCA) 2012” yang isinya memantik kekaguman saya. Disaat mengikuti lomba menulis itu mereka masih SD dan SMP atau rata-rata ber...

Mempertautkan Soul Searching

Ilustrasi, pembaca Laskar Pelangi (Nina/Jawa Pos).  Menulis adalah bagian dari soul searching kata Bre Redana, pensiunan wartawan Kompas yang esainya rutin saya baca di rubrik “Udar Rasa” Kompas Minggu. Dua bukunya “Silat, Surat Minggu Bersama Guru” dan “Menulislah Seumur Hidup” baru juga habis saya santap. Rasanya sama lezat dengan tulisan-tulisannya yang pernah saya baca di koran Kompas. Soul searching , pencarian jiwa. Ya, jiwa yang sehat harus ditemukan dengan mencarinya, di mana letaknya, dengan cara bagaimana menemukannya? Menulis adalah cara saya mencatat peristiwa, cara saya mengekalkan teks-teks yang saya baca, cara saya menunda kepikunan, cara saya menolak lupa, cara saya menemukan (sikit jadilah) kepuasan batin. Untuk menemukan jiwa yang sehat, carilah pada raga yang sehat. Raga atau fisik yang sehat akan memancarkan psikis yang sehat, mencerminkan akal yang berpikir jernih. Raga yang diberi asupan makanan bergizi dan bacaan yang memberi pencerahan, niscaya memunc...

Hari yang Fitri, Fanta Merona

Kerja menyair adalah kerja penuh berkah seperti bulan Ramadan yang baru saja lewat beberapa hari. Di hari kemenangan, hari yang fitri ini, Fanta yang merah merona begitu menggoda. Tetapi, lebih menggoda gelitik tawa adalah tamu rombongan bocil yang ngalap berkah THR dari rumah ke rumah. Tamu yang memendam rasa dapat mengumpulkan cuan sebanyak-banyaknya. Yang bisa buat saling mengadu sesama kawan mana di antara mereka paling banyak mendapatkan. Nah, ini bisa digali jadi inspirasi membuat cerita "Serba-Serbi Idulfitri", Hore mereka tatkala disuguhi Fanta merah merona. Imajinasi memang sering liar, godaannya tidak kalah dahsyat dari godaan Syetan yang baru saja lepas dari masa  ‘ dibelenggu ’  selama tigapuluh hari di bulan Ramadan lalu. Hati-hati, godaan selalu akan dilakukannya seberapa kuat iman dan seberapa bertakwa yang diraih hasil digembleng puasa sebulan. Kerja menulis apakah fakta atau fiksi, adalah kerja mengekspresikan ide yang terjaring oleh pikiran dan imajinasi. S...

Hobi Entah dari Mana

Buku Bre Redana (foto: koleksi pribadi) Seperti yang saya ungkap di cerita berjudul “Cungkup Makam Ibu” –yang sayang sekali naskahnya dibatasi 700 kata atau 5000 karakter– bahwa saya dianugerahi hobi baca, entah dari mana. Terangkum dalam buku “Terkenang Kampung Halaman – Ingatan-Ingatan pada Tanah Kelahiran”, diterbitkan Sijado Institute. Ya, hobi baca yang menempel erat bak perangko pada saya, entah dari mana asal trah yang menurunkannya. Tahu-tahu saya gandrung aja terhadap bahan bacaan. Buku, koran, majalah, tabloid, bahkan setiap terpergok berjumpa  link blog siapa pun di X (twitter) atau media sosial apa pun, akan saya terabas masuki membaca. Pada Kompas edisi Sabtu dan Minggu, entah kolom atau feature niscaya akan saya lahap. Bahkan rubrik konsultasi psikologi semenjak zaman diampu M.A.W Brouwer tahun ‘80an hingga kini, takkan tereliminasi. Bila ada hal yang saya pandang penting mengingat bobot pembahasannya mumpuni, akan saya kliping. Saking demen melahap bacaan...