Puisi buat antologi “Ramu-Ramu Warteg” yang ditaja Dewan Kesenian Kabupaten Tegal (DKKT) deadline 30 Mei dan diumumkan 16 Juni 2026. Ini kali kedua saya ikut even tahunan DKKT. Tahun lalu bertema “Teh, Imaji, dan Puisi” saya tidak lolos kurasi. Tahun ini Alhamdulilah lolos kurasi. Buat memperpanjang catatan.
Ada yang nyelenéh (baca: nyeni) dalam cara DKKT mengumumkan hasil kurasi. Pada even
lain, nama penyair diikuti judul puisi yang lolos kurasi, ditulis urut berdasar
alfabetis. Pada even DKKT ini, judul puisi ditulis dahulu baru diikuti nama penyair
dan dibiarkan acak. Terpaksa mesti melusuri secara perlahan dan hati-hati. Dipelototi satu per satu.
![]() |
| Nama inyong nangkring di nomor urut 44 |
Hati-hati –maksud saya penuh debaran– harap-harap
cemas, kira-kira gue lolos kurasi kagak, ya. Begitulah yang terjadi
kemarin, sepanjang hari. Berkali-kali saya sambangi akun Instagram dan facebook
DKKT yang disebut di flyer, tapi hingga sore tak menjumpai pengumuman hasil kurasi tersebut. Harap-harap
cemas kian menjadi.
Habis Asar saya mengobrol via WhatsApp dengan
teman penyair di Banjarmasin. Saya katakan padanya, “Hingga sore ini pengumuman even ini belum ada.” Balasan
darinya, “Saya ada dapat ucapan selamat puisi saya lolos kurasi.” Ia kirim grafis pengumuman. Saya tanya dapat dari mana? Coba mintakan link sama temanmu
itu.
“Dari facebook
si Anu,” katanya menyebut nama penyair. Saya langsung googling di facebook nama penyair yang ia sebutkan. Betul belaka, sebanyak 5 grafis
pengumuman diunggahnya di facebook, saya telusuri satu per satu dan ketemu nama saya di grafis ke-2,
lega. Saya unduh semua grafis dan mengirimkannya utuh ke teman di Banjarmasin.
Teman penyair di Banjarmasin ini tidak punya akun IG dan
fb, itulah yang jadi lambatnya mendapatkan pengumuman hasil kurasi. Sedangkan saya
tidak terhubungkan pertemanan dengan penyair si "Anu" yang ia sebutkan. Hingga ambang petang kemarin, hasil kurasi itu tidak ada yang menyebarkannya di grup WhatsApp, ini juga yang menjadi "satu hal."
Ya, “satu hal” yang membuat saya tidak atau
belum mendapatkan infonya. Agar teman-teman lain tidak terlalu lama menunggu,
saya sebarkan grafis pengumuman yang saya unduh di facebook itu ke 2 grup WhatsApp
yang di sana ada beberapa teman lolos kurasi. Tentu saja disambut dengan
panjatan syukur dan haturan terima kasih mereka.
Ya, siapa yang tidak bersyukur manakala puisinya
lolos kurasi. Siapa yang tidak senang namanya masuk dalam buku antologi. Tak terbayang bukan main senang, lolos dari 216 pengirim puisi. Dan, yang masuk buku 105. Ini ada
(semacam) bonus 5 dari rencana awal DKKT menetapkan hanya 100 puisi/penyair
yang akan dimasukkan dalam buku.

Komentar
Posting Komentar