Langsung ke konten utama

Jelang 5 Abad Jakarta

Hari ini, 22 Juni 2026, DKI Jakarta berusia 499 tahun atau satu tahun menuju 5 abad. Pemerintah Provinsi mencanangkan mencanangkan tema “Bergerak Menuju Era Baru Jakarta”. Untuk merayakannya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menghadirkan berbagai kado spesial berupa tariff transportasi publ;ik seharga Rp1 dan promo masuk tempat wisata gratis. Semua itu berlaku bagi warga ber-KTP atau KIA DKI Jakarta, tentunya.

Bukan rahasia bahwa, moda tranportasi di DKI Jakarta telah terintegrasi dengan kota-kota penyangga. Karena itu, transJakarta (BRT, Non BRT, transJabodetabek), MRT Jakarta serta LRT Jakarta, jadi andalan bukan saja warga DKI Jakarta, melainkan juga warga Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (BoDeTaBek), bahkan warga Karawang yang mengais rezeki di tengah Kota Jakarta pun merasa terbantu sebagai komuter (pelanju).

Sajak-Sajak kado jelang 5 abad Jakarta, terbit di orbit8.id, sebuah media digital di Lampung 

Di X (dahulu twitter), bekuan getah sedih saya mencair membaca curahan hati para pelaju dari Karawang yang saban hari menghabiskan waktu 3–4 jam di jalan. Berangkat dari rumah saat matahari belum bangun dan pulang kembali ke rumah saat matahari telah tidur. Analogi ini sama dengan saat orang tua berangkat kerja di pagi buta, anak-anak belum bangun. Nanti saat mereka pulang, anak-anak sudah tidur. Absurditas.

Pulang ke rumah memanggul lelah, sebuah ironi yang tak terhindari dan menggejala di semua pekerja di kota Jakarta. Lebih lelah lagi, tentunya, para pelaju dari luar Jakarta. Perasaan lelah menuju stres ketika terjebak kemacetan di jalan. Sebuah cara sederhana yang acap kali ditempuh pekerja untuk menghindar dari macet adalah memperlambat waktu beranjak dari kantor. Atau mampir masjid magriban atau ngaso sambil ngopi di kedai dekat kantor.

Urun rasa bungah buat merayakan HUT ke-499 DKI Jakarta dan menyambut 5 abad usianya, saya membuat puisi panjang yang saya penggal menjadi tiga judul. Tapi, bila dibaca secara berurutan, napas kesatuan dari tiga judul puisi akan terasa karena poin ceritanya tentang milenial dan genzi yang sama. Milenial dan genzi yang mewakili kebanyakan urban pencari kerja. Yang milenial korban layoff dan genzi baru berjuang.

Korban layoff (PHK) besar-besaran atau fresh graduate yang lama berjuang tak kunjung dapat pekerjaan, jadi satu sisi narasi yang memicu naiknya asam lambung. Sementara, di sisi lain, narasi tentang korupsi yang jadi jalan bebas hambatan para elit politik (eksekutif dan legislatif) berkomplot dengan pemilik modal yang menguasai tanah, air, dan hajat hidup lainnya yang dieksploitasi secara brutal menjadikan mereka yang sudah kaya bertambah kaya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...

Pulang ke Rumah Sunyi

Ramalan cuaca yang muncul di layar hp menyatakan hari cerah. Alhamdulillah, batin saya. Kendati tidak berencana ke mana-mana, menyiasati cuaca penting juga. Sebagai kompas atau pedoman bahwa cuaca akan baik-baik saja atau sebaliknya akan merundung kita. Pulang jemaah subuh di masjid, saya mesti buka hp . Bukan untuk scroll memeriksa media sosial, melainkan untuk ngaji Surah (tertentu) yang rutin saban pagi (subuh) saya baca. Surah apakah itu? Hmm meh… mau tahu aja apa mau tahu banget ? Puisi "Pulang ke Rumah Sunyi" Gimana kalau saya kasih tahu isi, mau nggak ? Itu camilan favorit yang kami jadikan teman ngopi. Tapi, pagi ini belum ada penjual gorengan yang buka lapak (gerobak). Beruntung Iman Jaya, toko kue jajanan pasar di Kemiling sudah buka. Saya memang hendak ke ATM buat ngasih tali asih untuk anak konco lawas yang kemarin senja ijab kabul di Omah Pakem, Jogja dan dilanjutkan resepsi malam harinya bakda Magrib. Saya tak hadir, hanya bisa kasih doa dan ucapan se...