Hari ini, 22 Juni 2026, DKI Jakarta berusia 499 tahun atau satu tahun menuju usia 5 abad. Pemerintah Provinsi mencanangkan tema “Bergerak Menuju Era Baru Jakarta”. Untuk merayakannya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menghadirkan berbagai kado spesial berupa tarif transportasi publik seharga Rp1 dan promo masuk tempat wisata gratis pada tanggal 22, 27, dan 28 Juni 2026. Semua itu berlaku bagi warga ber-KTP atau KIA DKI Jakarta, tentunya. Ayo, manfaatkan!
Bukan rahasia bahwa, moda transportasi di
DKI Jakarta telah terintegrasi dengan kota-kota penyangga (luar Jakarta). Karena itu, transJakarta
(BRT, Non BRT, transJabodetabek), MRT Jakarta serta LRT Jakarta, jadi andalan bukan
saja warga DKI Jakarta, melainkan juga warga Bogor, Depok, Tangerang, dan
Bekasi (BoDeTaBek), bahkan warga Karawang yang mengais rezeki di tengah Kota
Jakarta pun merasa sangat terbantu sebagai komuter (pelanju) dengan keberadaan MRT.
![]() |
| Sajak-Sajak kado jelang 5 abad Jakarta, terbit di orbit8.id, sebuah media digital di Lampung |
Di X (dahulu twitter), bekuan getah sedih
saya mencair membaca curahan hati para pelaju dari Karawang yang saban hari
menghabiskan waktu 3–4 jam di jalan. Berangkat dari rumah saat matahari belum
bangun dan pulang kembali ke rumah saat matahari telah tidur. Analogi ini sama
dengan saat orang tua berangkat kerja di pagi buta, anak-anak belum bangun. Nanti
saat mereka pulang, anak-anak sudah tidur. Absurditas hidup yang buat memahaminya, butuh kejernihan pikir.
Pulang ke rumah memanggul lelah, sebuah
ironi yang tak terhindari dan menggejala di semua pekerja di kota Jakarta. Lebih
lelah lagi, tentunya, para pelaju dari luar Jakarta. Perasaan lelah menuju stres
ketika terjebak kemacetan di jalan. Sebuah cara sederhana yang acap kali
ditempuh pekerja untuk menghindar dari macet adalah memperlambat waktu beranjak
dari kantor. Atau mampir masjid magriban atau ngaso sambil
ngopi di kedai kopi dekat kantor atau minimarket.
Urun rasa bungah buat merayakan HUT ke-499
DKI Jakarta dan menyambut 5 abad usianya, saya membuat puisi panjang yang saya penggal/bagi menjadi tiga judul. Tetapi, apabila dibaca secara berurutan, napas kesatuan dari
tiga judul puisi akan terasa. Sebab, poin cerita atau narasinya tentang dua cewek milenial dan genzi
yang sama. Milenial dan genzi yang mewakili kebanyakan urban pencari kerja di belantara Ibu Kota. Yang
milenial korban layoff dan genzi baru
berjuang.
Korban layoff (PHK) besar-besaran atau fresh graduate yang lama berjuang tak kunjung dapat pekerjaan, jadi satu sisi narasi yang memicu naiknya asam lambung. Sementara, di sisi lain, tindakan korupsi 'dijadikan jalan bebas hambatan menuju level semakin kaya' oleh para elit politik (eksekutif dan legislatif) yang berkomplot dengan pemilik modal, mencakar perut bumi Indonesia jadi tambang. Seolah Indonesia ini milik mereka pribadi, padahal milik semua warga negara.

Komentar
Posting Komentar