Langsung ke konten utama

Grup WhatsApp dan Buku (2)

Ini grup WhatsApp ke-36. Seperti saya posting di blog ini (24/11) berjudul “Grup WhatsApp dan Buku” perihal grup WA ke-33. Lalu, ada lagi-ada lagi grup WA baru seiring akan lahirnya buku-buku antologi puisi yang saya ikuti yang ndilalah puisi saya lolos kurasi. Alhamdulillah, berkah. Selalu ada yang baru.

Selumbari (Senin) jelang pergantian waktu ke Selasa (dini hari) tetiba muncul satu grup WA baru memerangkap nama saya sebagai anggota. Nama grupnya “Puisi Peduli Sumatera” yang meng-invite secara bersinambung nama-nama penulis puisi yang puisinya dinyatakan lolos kuratorial dewan kurator.

cover buku "Tanda Cinta Bagi Korban Bencana Sumatera" | foto: arahmerdeka.com |

36 grup WA ini, tidak semuanya grup penulis puisi. Ada grup keluarga, grup alumnus sekolah, alumnus Himpunan Mahasiswa Islam, alumnus kerabat kerja di Koran, grup RT, Takmir Masjid. Isinya macam-macam, tak melulu tentang puisi, diselundupkan juga berita-berita politik dan hal ihwal yang lucu-lucu.

Kendati penalti dari admin mengingatkan bahwa ini grup penulis puisi, masih saja postingan berita politik dijejalkan. Entah dari situs web media berita digital atau sekadar share akun media sosial seperti facebook. Atau forward dari grup WA yang mereka ikuti. Istilahnya “grup sebelah”. Diteruskan bebas.

Seperti saya ucap di postingan (24/11), saya tak keluar dari grup kecuali dikeluarkan admin. Untuk menghindari memori telepon penuh, siasatnya tiap kiriman foto atau gambar yang masuk grup WA tercegat pengaturan untuk tetap di grup WA itulah, tak masuk ke memori. Isi memori foto pribadi saja.

Ya, senang ada grup baru dan bakal dapat tambahan buku baru buat ngeramein koleksi. Hingga hari ini, ada barangkali 7 antologi yang saya tunggu. Ada yang kejar tayang untuk diluncurkan berbarengan dengan perayaan Hari Ibu, 22 Desember. Ada yang prosesnya santai, namun semoga saja pasti dong terbitnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Jalan-jalan

Siang baru saja melanjutkan perjalanan menuju barat, setelah istirahat sejenak di waktu zuhur, yang ditandai Matahari tepat di atas kepalanya. Tak lama sekira pukul 14:12 Kakang Paket datang mengantarkan kiriman buku dari Taman Inspirasi Sastra Indonesia. Komunitas sastra disingkat TISI pimpinan Bang Octavianus Masheka, ini baru saja usai merampungkan proses produksi dan terbitnya buku antologi “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” yang merupakan puisi bahasa Indonesia dan bahasa daerah masing-masing penulisnya. Buku-buku yang joss tenan Ada 100 orang penulis puisi dwi bahasa yang terhimpun di dalam buku bersampul merah menyala dengan gambar sampul siluet wajah Ibu yang di wajah, leher, dan dadanya dihiasi taburan wajah penulis puisi yang sengaja di- crop tertinggal bagian dada dan kepala saja. Sebelum buku “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” terlebih dahulu tiba di rumah buku “Zamrud” yaitu antologi puisi Dari Negeri Poci seri ke-15 yang saat datang kebetulan saya sedang tidak berada di rumah ...

Note ato Catatan (1)

Banyak momentum kelewat gak ingat. Kelewat dan berlalu begitu saja, tahu dan sadar ketika ada yang memberi tahukan dan menyadarkan. Di sini sebenarnya letak pentingnya menulis catatan dalam note atau memo agar selalu ingat atau tidak terlupa. Di ponsel tersedia yang namanya 'note' atau 'catatan', bergantung apa bahasa yang disetting dan digunakan si punya ponsel. Ponsel saya disetting bahasa Inggris, maka terbaca 'note' untuk aplikasi bawaan gawai itu. Ilustrasi | image source: Career Advice Jobs.ac.uk | Membuat catatan di kalender pun bisa, bahkan lebih representatif coz begitu tanggal itu akan tiba, sudah ada notifikasinya. Seperti tanggal kelahiran karena saya tandai ulang tahun, selalu di-notif oleh google. Berapa hari sebelum tanggal lahir akan tiba, google mengingatkan saya 'akan ulang tahun' dan saat tiba tanggal itu, google memberi ucapan 'selamat ulang tahun zabidi' dengan hiasan balon beterbangan. Satu hari sebelum tanggal lahir saya, ...

Reuni Emas AMP YKPN

Setelah tidak ada lagi Kompas Minggu, kini hari Minggu benar-benar jadi hari berlibur. Jangankan perempatan lampu merah ada pengecer koran, kantor agency pun menggembok rolling door . Saya kecele saat hendak mengambil pesanan koran. Ya, koran Kompas Akhir Pekan sebagai pengganti Kompas hari Minggu yang sudah saya pesan pada agency , belum bisa saya nikmati wajahnya sebab saat akan saya ambil tadi, rupanya agen koran lumayan berusia tua itu menggembok rolling door  kiosnya. Liburan sekolah berakhir hari ini. Besok mulai lagi aktivitas belajar mengajar semester gasal tahun pelajaran 2025/2026. Akun Instagram @jogjaku dan @halojogjakarta memposting video begitu padatnya pengunjung Pasar Beringharjo dan Stasiun Tugu. Liburan nataru mendatangkan berkah bagi Jogja karena banyaknya wisatawan yang datang dari berbagai kota. Bali jadi kalah. Di samping jauh, biaya yang dibutuhkan untuk liburan di Bali lebih besar. Anomali Jogja ini, benar-benar istimewa temenan . Bayangkan, dari man...