Langsung ke konten utama

Solilokui

Dalam hal membaca, di era digital ini, buku fisik seperti kehilangan pamor. Dan saya, akan tetapi, masih suka saja menyelipkan satu-dua eksemplar buku tipis ke dalam tas selempang yang sering saya bawa ke mana-mana ketika bepergian.

Kendati nanti, pada akhirnya, tidak juga saya baca tersebab perhatikan teralih ke gawai, tentu saja lain persoalan. Pada gawai itu juga ujungnya kesenangan membaca saya berpindah dari (mestinya) buku yang ada dalam tas. Saya buka X (twitter), baca di situ.

Ilustrasi|puisi dalam lagu|youtube

Saya buka Threads, saya baca di situ. Pun, ketika pilih buka Instagram, saya baca di situ. Dari ketiga platform sosial media tersebut banyak sekali bahan bacaan yang saya temui dan membuat waktu saya tersita, tenggelam membaca. Dahaga baca hilang.

Pagi ini, ada dua 'igauan' di Threads yang membuat asam lambung nyaris naik ke ulu hati. Pertama, soal saos Abang bakso yang ternyata 0% bahannya cabe. Agar ada sensasi rasa pedas dan merah warna cabe, semua hasil rekayasa. Ternyata sebuah penipuan.

Kedua, ada kapal tanker berbendera Pertamina, tapi seluruh krunya berkebangsaan India, lagi-lagi 0% orang Indonesia. Cemana asam lambung saya tidak pengin naik, coba. Kapal milik BUMN, tetapi orang yang bekerja di atasnya jebule wong asing semua.

Rasanya, tidak bisa disalahkan apabila anak-anak muda (Gen Z) kita pengin kabur ke luar negeri demi mendapatkan pekerjaan dan penghasilan karena di dalam negeri mereka kesulitan mencari kursi di kantor atau perusahaan, jauh tangeh sebuah posisi.

Jangankan posisi, sekadar kursi sebagai pekerja kelas rendah dengan gaji UMR saja sulit mereka dapatkan. Sementara pejabat-pejabat merangkap jabatan dua atau tiga sekaligus, membuat penghasilan mereka naik berlipat-lipat menjadikan mereka tambah kaya.

Dari hasil membaca Threads pagi ini, melahirkan permenungan mbulet di rongga kepala, hendak dibawa ke mana 'generasi cemas' kita. Apalah daya, permenungan saya cuma bisa saya tuangkan jadi solilokui. Tulisan bak angin lalu belaka di blog ini.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...