Langsung ke konten utama

Filosofi Teras 100

Di Koran Kompas terpajang iklan buku Filosofi Teras, yaitu mega best seller karya Henry Manampiring cetakan ke-100 yang dibuka pre-order sejak 4 hingga 15 Juni 2026. Penawaran terbatas ditujukan untuk pembaca Harian Kompas.

Buku yang membahas tentang ajaran stoik ini telah terjual 500.000 eksemplar sejak terbit pertama tahun 2018. Kini mencapai cetakan ke-100. Momen ini dirayakan dengan box set limited edition bernomor seri eksklusif seharga Rp369.000.

Buku Filosofi Teras yang saya miliki 

Harga special box set (atau bundling eksklusif) Rp369.000 itu berlaku selama masa pre-order. Di luar masa pre-order harganya Rp475.000. Setiap Rp10.000 dari penjualan akan didonasikan untuk gerakan kesehatan mental melalui Yayasan Pulih.

Sementara di lokapasar Shopee atau yang lebih sering diistilahkan dengan toko oren, pre-order Filosofi Teras cetakan ke-100 dari 29 Mei hingga 15 Juni 2026 dibandrol dengan harga Rp125.000–Rp589.000. Ini juga edisi box set.

Di Gramedia.com harga yang ditawarkan lumayan miring, yaitu Rp108.000 selama pre-order 29 Mei hingga 15 Juni 2026. Mematok harga tinggi itu adalah kiat penerbit menghadapi pembajak dan konsumen buku bajakan, akhirnya penerbit memperlakukan buku best seller seperti layaknya barang antik atau khazanah kolektor.

Iklan buku Filosofi Teras di lokapasar oren

Saya punya cetakan ke-9, Agustus 2019, masih dengan cover sejak awal terbit. Anak sulung kami punya yang sudah cover terbaru. Entah sejak cetakan keberapa berganti cover itu. Sayangnya saya lupa memperhatikan punya anak saya.

Filosofi Teras mengajarkan kita untuk tidak memberikan kuasa kepada orang lain untuk mengganggumu. Artinya, kuasa itu sudah ada di tangan kita. Perasaan terganggu oleh perilaku orang lain sepenuhnya terserah kita, dan kitalah yang menentukan mau memberi power itu ke orang lain atau tidak. (hal. 154)

Menurut filsuf Stoa, orang berbuat jahat akibat ketidaktahuannya (ignorant) dan dia tidak tahu bahwa dia tidak tahu. Atau, dia sesaat kehilangan nalar/akal sehat (khilaf) untuk mengetahui mana yang baik dan jahat. Jika dia memiliki kebijaksanaan dan nalarnya sedang berfungsi baik, dia pasti akan memilih yang baik. (hal. 162)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah Sunyi

Ramalan cuaca yang muncul di layar hp menyatakan hari cerah. Alhamdulillah, batin saya. Kendati tidak berencana ke mana-mana, menyiasati cuaca penting juga. Sebagai kompas atau pedoman bahwa cuaca akan baik-baik saja atau sebaliknya akan merundung kita. Pulang jemaah subuh di masjid, saya mesti buka hp . Bukan untuk scroll memeriksa media sosial, melainkan untuk ngaji Surah (tertentu) yang rutin saban pagi (subuh) saya baca. Surah apakah itu? Hmm meh… mau tahu aja apa mau tahu banget ? Puisi "Pulang ke Rumah Sunyi" Gimana kalau saya kasih tahu isi, mau nggak ? Itu camilan favorit yang kami jadikan teman ngopi. Tapi, pagi ini belum ada penjual gorengan yang buka lapak (gerobak). Beruntung Iman Jaya, toko kue jajanan pasar di Kemiling sudah buka. Saya memang hendak ke ATM buat ngasih tali asih untuk anak konco lawas yang kemarin senja ijab kabul di Omah Pakem, Jogja dan dilanjutkan resepsi malam harinya bakda Magrib. Saya tak hadir, hanya bisa kasih doa dan ucapan se...

Lolos Kurasi, Wak!

Tadi malam, pulang takziah tahlilan dua hari jemaah masjid yang wafat 30 Mei lalu, pukul 20:32 masuk pesan WhatsApp dari teman penyair di Banjarmasin, ia meng- share- kan pengumuman hasil kurasi antologi puisi PPN XIV Aceh. "Alhamdulillah... puisi kita lolos kurasi untuk antologi PPN XIV Aceh," tulisnya di pesan WhatsApp penuh perasaan syukur.  "Iya, alhamdulilah, barusan dua menit lalu saya lihat di Instagram," jawab saya menanggapi. Teman saya, penyair di Banjarmasin ini tak punya akun facebook dan Instagram. Tapi, yang bikin saya heran, ia bisa dapat flyer pengumuman kemudian menge- share -kannya ke saya. Dari manalah coba? Bisa jadi dapat share -an dari teman lain lalu meneruskan ke saya. Tidak berhenti di meneruskan ke saya saja, ia juga meneruskan ke beberapa grup WhatsApp yang ia ikuti. Bagus juga sih , biar teman penyair lain cepat mendapat tahu pengumuman dan cepat merasakan kegembiraan. Atau mungkin mengunggahnya ke akun facebook atau Instagram seperti te...

Sastra Jalan-jalan

Siang baru saja melanjutkan perjalanan menuju barat, setelah istirahat sejenak di waktu zuhur, yang ditandai Matahari tepat di atas kepalanya. Tak lama sekira pukul 14:12 Kakang Paket datang mengantarkan kiriman buku dari Taman Inspirasi Sastra Indonesia. Komunitas sastra disingkat TISI pimpinan Bang Octavianus Masheka, ini baru saja usai merampungkan proses produksi dan terbitnya buku antologi “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” yang merupakan puisi bahasa Indonesia dan bahasa daerah masing-masing penulisnya. Buku-buku yang joss tenan Ada 100 orang penulis puisi dwi bahasa yang terhimpun di dalam buku bersampul merah menyala dengan gambar sampul siluet wajah Ibu yang di wajah, leher, dan dadanya dihiasi taburan wajah penulis puisi yang sengaja di- crop tertinggal bagian dada dan kepala saja. Sebelum buku “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” terlebih dahulu tiba di rumah buku “Zamrud” yaitu antologi puisi Dari Negeri Poci seri ke-15 yang saat datang kebetulan saya sedang tidak berada di rumah ...