Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label jogja

Kota Paling Kesepian

Kota "paling kesepian" ini ternyata ramai saja pengunjungnya. Minggu malam suasananya seperti malam Minggu. Kenapa begitu? Gaes, sejauh pengetahuan saya, sejak zaman tahun 1980-an, pada malam Minggu lah orang keluar kandang, berkencan. Toko buku Gramedia di Jalan Jend. Soedirman ramai pengunjung, toko Gardena di Jalan Solo, toko Ramai di Jalan Malioboro atau toko Samijaya yang demikian legendaris pun ramai pada malam Minggu. Hanya itu tempat-tempat yang paling  happening  pada saat itu. Terhanyut nostalgi Tapi, Minggu malam kali ini kekecualian. Libur cuti bersama 18 Agustus 2025 dimanfaatkan orang untuk datang ke Jogja. Nuansanya kental terasa. Orang-orang di Malioboro adalah pendatang, termasuk yang ngamen dan bekerja dadakan jadi juru foto. Setelah mulai ramai dibangun mal dengan Matahari Departemen Store dan Supermarket jadi jenama di garda depan, toko-toko yang saya sebutkan di atas perlahan meredup. Samijaya hilang dari Malioboro, hanya tinggal legenda sebagai toko ter...

“Keris Paku” Buatanku

Ilustrasi, keris, keris, keris. (image source: detik.com) Pagi ini, tiba-tiba saya teringat sebuah peristiwa hampir setengah abad silam. Tatkala saya panaskan paku besar lalu menmpanya di atas batu, membentuk sesuatu yang tanpa bentuk, hanya besi tempa lurus belaka. Bukan membentuk kelok sehingga menyerupai keris sungguhan. Itu ketika saya masih SD. Besi hasil tempa yang tidak berbentuk apa-apa itu saya beri gagang dan dibuatkan sarung sekalian dari kayu. Saya taruh saja di meja belajar masa SD itu. Ketika kakakku (saya panggil Cék) merantau ke Jogja menyusul Abang yang sudah duluan merantau. “Keris paku” buatanku itu, tanpa saya ketahui, dibawanya. Untuk jelasnya, peristiwa tahun 77an. Abang sudah sudah rasan-rasan, jika Cék hendak nonton Sekatenan  bareng  saja. “Nggak ikut,” kata Cék. Abang berangkat bersama kawan indekos lainnya ke alun-alun utara Jogja. Tanpa Abang ketahui, Cék menyusul pergi sendirian dengan  menggowes  sepeda  onthel . Tahun 70an hi...

Jogja

Tugu Putih. (foto: jogja keren) Setelah “Serampai Kata Blambangan” membuka cakrawala tahun 2025, ini satu lagi calon antologi yang akan menyusul. Padahal, sejak 26 Desember 2024 flyer pengumumannya di- share di WAG JSAT, namun baru kemarin siang saya geber menulis cerpen yang akan saya ikutkan. Hingga siang dan sore tadi masih saya lakukan self editing . Semula pas 2000 kata, setelah diedit ulang jadi tinggal 1855 kata. Alur yang maju mundur menceritakan peristiwa, kenangan atau nuansa tahun ‘80an. Tentu, hal yang mengena dengan masa saya sekolah SMA dan kuliah di Jogja, adalah adanya ‘petrus’ –penembakan misterius–, yaitu operasi senyap memberantas premanisme oleh pemerintah. Pemilu 1982 yang baru kali pertama saya ikuti, menjadi salah satu bahan cerita yang, sayang bila tidak diikutsertakan. Untuk kali kedua pemilu dengan 3 partai peserta pemilu sejak 1977, yaitu PPP, PDI, dan Golkar. Pemenangnya, masih seperti hasil pemilu 1977, yaitu Golkar. Melanggengkan kekuasaan Soeharto u...

Lempuyangan—Dagen

Stasiun Lempuyangan (foto: kotajogja.com) Jogja—Solo berjarak 60 Km. Jika menggunakan sepeda motor dengan kecepatan 60 Km/jam, maka dapat ditempuh dalam satu jam. Itu berdasar teori jarak dan kecepatan. Faktanya, bila dijalani akan memakan waktu antara 1,5—2 jam karena begitu keluar kota Jogja akan bertemu banyak perempatan bangjo yang abang (merah) lebih lama dibanding ijo . Itu yang membuat waktu tempuh tidak mutlak satu jam, tetapi bisa molor jadi 1,5 — 2 jam. Libur Lebaran adalah masa paling crowded lalu lintas kendaraan di sekujur kota Jogja. Ramainya pemudik atau pelancong yang liburan ke kota Jogja, kendaraan yang tumplek niscaya akan membuat kemacetan di mana-mana. Yang jadi korban warga lokal yang akan pulang kerja seringkali tanpa menyana tiba-tiba disuruh putar ke arah jalan lain yang lebih jauh dari jarak yang biasa dilalui dari rumah ke kantor dan/atau sebaliknya. Seorang karyawan yang akan pulang ke rumah di Jl. Kusbini dari kantor di Jl. Mataram, tidak habis pikir ...

Biarkan Tagar Berlalu

Seorang pelajar, DHP (16), dibacok gerombolan remaja di Jalan Kaliurang Km 9, Senin (27/12/2021) sekira pukul 01.30 WIB. Gerombolan remaja seperti yang disebutkan berita Sindonews.com , 29/12/2021 di atas, diduga adalah anggota geng klitih . Apa itu klitih ? Mulanya klitih bermakna positif karena merupakan aktivitas untuk mengisi waktu luang, keliling naik motor. JJS ( nyore ). Sayangnya aktivitas positif klitih ditelikung menjadi aktivitas yang mengarah aksi kriminal, menyerang korban secara sadis. Pelaku klitih motoran keliling membawa sajam mencari sasaran untuk diserang. Korbannya bisa menyasar pada siapa saja. Sajam yang dibawa tidak main-main. Clurit, gergaji, klewang, pedang, bahkan sekadar pecahan botol pun dianggap cukup. Mereka bacok korbannya secara acak. Tak dibatasi jender dan usia, tak peduli suku, ras, dan agama. Siapa saja pokoknya. Laki-laki maupun perempuan, anak-anak maupun dewasa sama. Hanya sekadar melukai, tak merampas motor atau benda. Lantas ...