Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2026

Kebersamaan Penuh Berkah

Biasa, Broh … saya ke Iman Jaya menjemput kawan ngopi pada Minggu yang cerah, tapi menurut ramalan cuaca di layar hp : berawan. Saya mendongak menghadapkan wajah ke atas langit tak ada awan sedikit pun, bahkan matahari ramah, hangat, tersenyum semringah di ufuk timur sana. Melewati rumah pertokoan (ruko) Springhill yang sebagian kosong karena pembelinya tidak kiyeng memberdayakannya sebagai apa gitu . Sementara sebagian lain memang kosong karena nggak atau belum juga laku sebab harganya susah dijangkau ekonomi kelas medium, terlalu premium harganya. Ilustrasi, keberkahan dalam kebersamaan | sumber gambar: Instagram Islamidotco |  Di halaman pertokoan Springhill saya melihat grup senam baru akan memulai bergerak badan. Dress code yang ibu-ibu kenakan, baju kaos biru celana (training) putih dan jilbab putih. Sementara bapak-bapak yang cuma enam orang berpakaian bebas. Tak ada lagi Pak Syukur di antara bapak-bapak itu. Kepulangan beliau ke Rahmatullah dua pekan lalu berarti ...

Tetangga dalam Ibadah

Lagi, TOA masjid melafalkan sepotong nama anak manusia yang berpulang ke Haribaan Ilaihi Rabbi tadi dini hari di bangsal dingin rumah sakit Bintang Amin. Sepotong nama yang sebelum disebutkan, tidak saya tahu. Maka, saya menebak-nebak yang mana orangnya. Mereka wajahnya. Begitulah, ada beberapa jemaah masjid yang hanya saya kenali wajahnya dan tidak namanya. Satu per satu dipertukarkan tempat berdiri berjajar di shaf terdepan atau belakang. Kadang di kiri kadang di kanan saya dalam salat lima waktu. Pagi subuh, di siang saat Zuhur, petang Asar, dan malam Magrib. Bendera kuning di mulut jalan tertunduk lunglai. Sesekali terjembak-jembak ditiup angin. Tangan saling berjabat seusai salat ditutup salam, tanpa menyebutkan nama karena itu kan sedang beribadah, bukan berkenalan. Kemudian kita pulang ke rumah masing-masing mengisi jeda dan bertemu lagi di ibadah berikutnya. Sampai akhirnya ada (di antara kita) yang dipanggil pulang ke Haribaan Ilaihi. Satu lagi bendera kuning terjembak-jembak ...

Petik Pahala Kebaikan

Ada dua penyintas penyakit yang pagi tadi kami besuk. Satu ibu sedang satunya lagi bapak. Yang ibu, habis operasi breast tumor. Yang si bapak habis operasi batu ginjal. Kedua-duanya sehat, hanya saja si bapak terlihat agak kurusan. Kedua penyintas di atas adalah anggota grup bapak/ibu pensiunan guru yang membentuk klub arisan reuni. Saya jadi semacam penggembira, diminta tuk menemani suami salah satu ibu-ibu pensiunan agar suaminya tak merasa canggung. Sudah lama tidak reunian karena tidak ada yang mau ambil giliran. Jadi, semacam macet di jalan, maka tadi salah satu ibu berinisiatif mengambil giliran. Kemudian untuk selanjutnya akan dikocok nomor supaya ada kepastian giliran siapa. Kami besuk kedua penyintas di rumah masing-masing. Si bapak kebetulan tidak jauh dari rumah, dibedakan Blok. Kami Blok P, ia Blok O. Si bapak ini setelah pensiun jadi imam salat 5 waktu masjid Blok O dan imam Subuh masjid Al-Anshor. Pasca-operasi ini, katanya ia masih belum kuat ke masjid. Salat d...

Pulang ke Rumah Sunyi

Ramalan cuaca yang muncul di layar hp menyatakan hari cerah. Alhamdulillah, batin saya. Kendati tidak berencana ke mana-mana, menyiasati cuaca penting juga. Sebagai kompas atau pedoman bahwa cuaca akan baik-baik saja atau sebaliknya akan merundung kita. Pulang jemaah subuh di masjid, saya mesti buka hp . Bukan untuk scroll memeriksa media sosial, melainkan untuk ngaji Surah (tertentu) yang rutin saban pagi (subuh) saya baca. Surah apakah itu? Hmm meh… mau tahu aja apa mau tahu banget ? Puisi "Pulang ke Rumah Sunyi" Gimana kalau saya kasih tahu isi, mau nggak ? Itu camilan favorit yang kami jadikan teman ngopi. Tapi, pagi ini belum ada penjual gorengan yang buka lapak (gerobak). Beruntung Iman Jaya, toko kue jajanan pasar di Kemiling sudah buka. Saya memang hendak ke ATM buat ngasih tali asih untuk anak konco lawas yang kemarin senja ijab kabul di Omah Pakem, Jogja dan dilanjutkan resepsi malam harinya bakda Magrib. Saya tak hadir, hanya bisa kasih doa dan ucapan se...

Di Bawah Atap Rindu

Opor ayam kampung yang dibikin oleh istri kemarin tidak kami gandengkan dengan ketupat sebagaimana lazimnya seperti Idulfitri lalu. Nasi yang jadi jodohnya di Iduladha ini. Anak-anak tak pulang pada hari raya haji ini. Telah aku santap tadi sepulang salat id. Setelah ‘berpuasa’ alias tidak makan dan minum terlebih dahulu sebelum berangkat ke masjid untuk salat id. Beda dengan hari raya besar yang mesti atau disunahkan untuk makan minum terlebih dahulu. Ilustrasi | sejarah idul kurban | Hajinews.co | Diiringi lagu “Adaptasi” dari solois Tulus melalui MP3 yang ada liriknya “Dari Rabu hingga Rabu lagi” seperti mengena betul karena Iduladha ini jatuh pada hari Rabu dan yang berdiam dalam rumah hanya kami berdua istri tanpa anak-anak. Dilanjutkan Tulus, “Kita di bawah atap rindu-Nya yang sama, menunggu tenangnya langit pagi.” Sejalan pula dengan isi khutbah khatib salat id tadi, hendaklah senyampang masih hidup dan sehat, suami dan istri saling kasih mengasihi. “Ada suami-istri yang...

Pemburu Santan

Karena besok lebaran haji, hari ini istri mau buat opor. Ayam kampung potong sudah siap sejak dua hari lalu, dikarantina di freezer. Saya bagian ke pasar belanja bumbu dapur dan santan. Tak terkira banyaknya yang butuh santan, antrean panjang mengular meliuk-liuk si 'pemburu santan'. Tadinya saya ke pasar tempel SPBU Langkapura. Setelah dapat bumbu giliran santan, tapi melihat antrean mak-mak saya beralih ke pasar tempel di dekat masjid Baiturrahim. Sama juga kudu antre. Weslah , kadung pindah daripada cari tempat lain belum tentu ada. Saya nyelip di barisan mak-mak. Barisan mak-mak pemburu santan yang mengantre di pasar tempel SPBU Langkapura  Saya lanang sendiri, lainnya wadon . Yo , weslah orak opo - opo . Dahulu, waktu zaman edan langka minyak goreng, saya juga suka-suka saja nyelip pada barisan mak-mak demi dapat minyak goreng 2 liter dengan harga murah. Macam zaman perang saja, menguber minyak goreng orang mesti bersabar mengantre. Dari urutan sekian belas, nggak me...

Kematian Berkesiur

Lagi, kabar kematian berkesiur seperti tiupan angin pagi yang lembab oleh hujan semalam. Aloeth Pathi (Noer Lutfi) divisi sastra Lesbumi PCNU Kabupaten Pati, pagi ini di grup WhatsApp terkabar meninggal dunia. Dan, lafaz ' Innalilahi wa inna ilaihi raji'un ' bertumbuhan memekarkan kembang duka. Penyair kelahiran Pati, ini menyematkan nama kota tempatnya lahir menjadi nama pena dalam aktivitas kesastraan. Mengingatkan saya pada sosok Akhlis Suryapati yang juga kelahiran Pati dan menyisipkan kata 'pati' pada nama belakangnya. Dulu wartawan Minggu Pagi, kini Akhlis dikenal sebagai sutradara. Ada lagi penyair asal Pati menyematkan 'pati' pada namanya, yaitu Ragil Suwarno Pragolapati. Nama dan puisinya kerap dibaca dalam acara "Apresiasi Sastra" di radio Retjo Buntung, Jogja, tahun 1980-an. Balik dari Malang 1990, saya baca di KR, RSP dinyatakan moksa di pantai laut selatan saat laku yoga sastra . Sebelumnya ada seorang penyair laskar PMK (Puisi ...

Apa pun, Tetap Ngopi

Betapa syahdunya cuaca, sepagi ini hujan dengan langkah pelan menapaki jalan yang dilaluinya. Tidak cepat jalannya (deras jatuhnya), tapi tak mengizinkan (menghalangi) saya untuk keluar mencari camilan teman ngopi. Apa daya. Untung ada persediaan biskuit dan buah pir. Jadi ada persimpangan kebiasaan. Biasanya ngopi bersahabat gorengan, pagi ini dipertemankan dengan buah dan biskuit. Yang penting ngopinya, tak peduli apa yang dipersandingkan dengannya. Sekadar ilustrasi | foto: Basajan.net | Seperti tagline teh botol yang sudah ngetop sejak zaman saya SMA tahun ‘80an yang kala itu masih satu varian rasa, teh melati thok . Sekarang sudah ada rasa madu, anggur, dan jeruk. “Apa pun juga makanannya, minumnya teh botol COCOK.” 🤔 Frasa COCOK itu sekadar buat memplesetkan merek teh botol yang sudah amat  legend tersebut. Saking legendarisnya teh botol COCOK itu, muncul kemudian merek teh botol lainnya. Buat apa tho ? Tentu buat bermain di gelanggang persaingan. Memang begitulah ...

Black Out

Tadinya agak ragu berangkat apa tidak, tahlilan nujuh hari almarhum Pak RT yang wafat Sabtu, 6 Mei 2026 – (lihat “Yang Pulang Tengah Hari”)– oleh sebab mati lampu tiba-tiba. Karena memang sudah niat hendak hadir tersebab kedekatan hubungan anak almarhum dengan istri saya yang bestian , gelap jalanan perumahan kami terabas. Di TKP sudah banyak jemaah tahlilan yang hadir menempati kursi-kursi di bawah tenda. Saya mencari posisi duduk yang jauh dari asap/bau rokok, agak tengah-tengah belakang orang-orang yang bagian dari jemaah “hisapiyah” alias ahli hisap, bukan ahli hisab. Sementara istri saya diantar masuk ke dalam rumah sahibul musibah. Sosok ustaz K.H. Gusnedi, S.Ag di kejauhan sedang menyampaikan tausiahnya.  Saya sangat sensitif terhadap asap rokok. Dalam hal ini, saya mengarang puisi yang menarasikan ‘mengapa orang kok merokok di tempat tahlilan’ apakah tidak bisa menahan diri barang sebentar, nanti setelah pulang ke rumahnya baru merokok. Agak aneh memang saya. Pernah p...

Jumat Taqwa

Nah, kesampaian 'safari jumat' di masjid Taqwa Jl. Kotaraja Tanjungkarang yang sejak tiga pekan lalu saya hajatkan dan baru pada hari ini  kelakon . Untuk salat jumatan memang baru kali ini, tapi untuk salat Zuhur sudah berkali-kali. Agak laen ini masjid. Khutbah Jumat setengah jam lebih. Pukul 12:32 WIB baru selesai khutbah pertama, ditambah khutbah kedua 10 menit. Praktis hampir pukul 01 baru selesai jumatan. Apakah selalu begitu? Beberapa orang jemaah di depan saya sudah berganti gaya duduk berapa kali karena merasa kakinya pegal. Begitu juga dengan saya, tak luput mengubah posisi persilangan kaki, kanan dan kiri saling dipertukarkan agar tidak sampai keram. Bahaya kalo sampai keram. Alhamdulillah, kendati masuk kategori lansia secara usia, tapi ketahanan fisik saya masih bisa mengikuti bagaimana tarian hidup. Hal yang membuat begitu karena jogging sesekali. Nggak tiap hari, cuma dua atau tiga kali seminggu. Itu pun kalo lagi gak malas. Jumatan di masjid Taqwa ini me...

Jam Rusak Jangan Dibuang

Nah, benar belaka apa yang saya ujarkan dalam postingan blog kemarin, bahwa ada orang membiarkan jam dinding mati, terpacak bisu di tembok ruang tamu (dijadikan hiasan dinding). Padahal, tinggal ganti mesin bisa hidup kembali. Bapak pemilik “Omega Arloji” di Bambu Kuning Trade Center, mengemukakan hal itu. Sambil si Bapak dan putrinya mengganti mesin jam kami, si Bapak berkata, “Ada orang main buang jam yang udah mati, padahal masih bisa diganti mesinnya.” Berbagai merek jam tangan jualan "Omega Arloji" kios No.254 Bambu Kuning Trade Center. “Kemarin siang ada orang bawa tiga jam ke sini. Sebelumnya ada empat jam dibuangnya,” lanjut si Bapak menceritakan ketertegunan klien yang baru ngeh ternyata jam dinding mati masih bisa dipakai dengan cara mengganti mesinnya. Sesepele itu. Si Bapak juga terkagum-kagum pada merek jam dinding kami, NAGOYA. Katanya, ini sudah nggak diproduksi, tadinya banyak kami jual, sekarang tinggal satu itu seraya ia tunjukkan jam di tembok kio...

Mesti Ganti Mesin

Pagi, kehendak pergi dikutuk hujan. Baiklah, berdiam diri dulu sejenak mengukur cuaca, ke mana arah angin, apakah akan bisa menjinakkan mendung agar tak lagi hujan turun di tengah hari. Pagi ini kami rencanakan hendak mengganti mesin jam dinding yang kendati diganti baterai, bisa hidup sebentar, tapi ujung-ujungnya masih juga mati suri. Berarti pokok masalah adalah mesinnya kudu ganti. "Omega Arloji", kios nomor 254 di Bambu Kuning Trade Center, memang sering jadi tempat kami mengganti baterai jam tangan. Kali ini akan kami datangi untuk ganti mesin jam dinding "stroke". Tanpa makan pagi terlebih dahulu, kami gegas ke BK (sebutan untuk Bambu Kuning). Berencana sesudah selesai urusan ganti mesin jam dinding, baru makan siang (merapelkan sarapan) di depan Simpur Center. Sarapan kami kopi + camilan. Sudah lama tidak ke warung makan sederhana, tapi lumayan enak itu. Tiap ke Karang (Tanjungkarang) kami berdua istri selalu menghibur perut lapar di warung makan itu. Dua j...

Pantulan Cermin

Bercerminlah untuk melihat sosok diri secara gamblang. Tapi, ada yang bisa dilihat tanpa menggunakan cermin sebagai medium meneropong. Apa itu? perhatikan siapa saja yang datang melayat saat seseorang wafat. Tentu juga termasuk seberapa banyak. Jika banyak yang datang melayat dan kiriman bunga papan ucapan turut berdukacita berderet-deret, bisa ditebak bahwa yang wafat adalah pejabat atau paling tidak mantan pejabat (yang tidak punya cela). Seberapa banyak yang datang melayat dan kiriman bunga papan, itu adalah pantulan cermin seberapa bermakna seseorang yang wafat itu di mata publik (masyarakat kebanyakan). Atau dengan perkataan lain seberapa gaul seseorang tersebut di masa hidupnya dalam bermasyarakat sebagai pengamalan hablum min an - naas . Seberapa mesra hubungan baik dengan jiran tetangga, kawan, dan sanak saudara. Akan berlaku juga untuk sebaliknya, seberapa sedikit yang datang layat. Tadi malam tahlilan hari/malam ketiga ( nigahari ) atas kepulangan Pak RT yang mangkat Sabt...

Lansia Energik itu Hilang

Masih melanjutkan cerita postingan blog kemarin, 17 Mei berjudul "Yang Pulang Tengah Hari" yang merupakan lanjutan dari cerita berjudul "Si Darah Manis" pada postingan tanggal 6 Mei atau tepat sepuluh hari sebelum ia berpulang. Jadi, ceritanya, si Bapak yang berpulang ini adalah pensiunan pegawai Kantor Wilayah (Kanwil) Depag (sekarang Kemenag). Setelah pensiun, oleh warga didapuk menjadi ketua RT, jadi timses caleg jelang pemilu. Kesibukan lain aktif di komunitas senam. Ibu-ibu anggota senam seusai senam, menyimak edukasi dari dokter pengelola komunitas. Saat kami besuk Selasa, 6 Mei, itu ia katakan sudah dua minggu nggak senam, kawan-kawan curiga kok Pak Syukur nggak nongol-nongol, didatangilah ke rumahnya, ternyata sedang dirawat di RS Bintang Amin. Diburulah ke ruang rawat inapnya di RS itu. "Kami sengaja nggak ngomong-ngomong kepada tetangga dan kawan-kawan di komunitas senam, tetapi karena digelitik rasa penasaran, ada kawan senam datang ke rumah. Te...

Yang Pulang Tengah Hari

Hanya dalam rentang waktu 10 hari dari kami membesuk (Rabu 6 Mei), kemarin (Sabtu, 15 Mei) ia berpulang. Seperti yang saya tulis di blog ini 6 Mei di bawah judul "Si Darah Manis" pada waktu kami besuk itu, ia masih mengeluarkan jokes - jokes segar dalam bercanda. Ia memang humoris. Bukan sembarangan bercanda apalagi bualan kopong alias tak ada isinya, melainkan nasihat yang dikerubungi jubah canda. “ Di saat sakit begini baru terasa, kita ini sendiri. Dirawat di RS bila tak ada yang menunggui, terasa betul betapa sepinya hidup ini, nangis dalam hati. ” Setelah jenazah Pak Syukur disalatkan  Saya renungkan apa yang ia katakan. Betul sekali, tak keliru. “Maka, penting bagi kita untuk menyayangi istri. Saat dirawat di RS begini,  dijagain  istri adalah 'surga dunia' bagi kita,” lanjutnya dengan wajah serius, tak terlihat canda di balik kata-katanya. Pukul 13:05 ia dipanggil pulang oleh Sang Khalik Pemilik Kehidupan. Kabar pun menyebar di grup WhatsApp . Jiran tetan...

Loh, kok Sepi, tetapi.

Bah , baru tiga hari panas sudah datang pula hujan pagi ini. Kupikir sudah hendak serius masuk musim kemarau yang menurut BMKG bakal panjang dan kering. Terdengar mengerikan sekali. Di bawah guyuran hujan yang tak deras dan belum pasti kapan hendak reda, sepertinya enak bila balik lagi ke dalam kemul . Tapi, kopi masih ada setengah cangkir, seruput ah... pelan-pelan, dinikmati gitu . Masjid Istiqomah Jl. Mangkubumi (Pension)  Sambil nyeruput kopi, jari bermain-main di tuts keyboard gawai mengetik bahan blog ini. Hendak nulis apa? Biasa, cerita tentang 'safari jumat' yang saya jalani kemarin. Sebuah upaya tuk istiqamah. Saya kok tertarik salat Jumat di masjid Al-Mahya yang ada di area Gedung Balai Krakatau Jl. Imam Bonjol, mampirlah ke sana kemarin jelang masuk waktu jumatan. Loh , kok sepi, tetapi. What is it ? Saya teruskan perjalanan ke bawah menuju arah Gedong Air. Maksud hendak ke masjid At-thoriq sepertinya tidak bakal terkejar waktu untuk salat Dhuha. Saya putuskan...

Datang dan Pergi (2)

Saya mempergunakan lagi judul di atas dengan menambahkan angka 2 dalam tanda kurung, setelah mempergunakannya di postingan blog ini pada 10 Mei. Tentu, saya mesti merevisi judul di tanggal 10 Mei itu dengan menambahkan angka 1 dalam tanda kurung sebagai garis sambung keterkaitan judul itu. Teman lama saya yang masih bertungkus lumus di dunia media siber atau media daring, meminta puisi saya untuk dimuat di media yang ia kelola, “Lumayan buat nambah-nambah halaman,” alasannya. Media dengan kru lapangan terbatas, memang susah-susah gampang menangguk bahan berita buat isi halaman. Itulah kenapa banyak media daring di daerah berafiliasi dengan media besar di ibu kota Jakarta (Jakarta masih ibu kota, ya) setelah sengketa hukum IKN di MK ditolak oleh Majelis Hakim MK lewat putusan Nomor.71/PUU-XXIV/2026 yang menegaskan bahwa Daerah Khusus Jakarta (DKJ) tetap berstatus sebagai ibu kota negara. Dengan berafiliasi dengan media besar di Jakarta atau kota besar lainnya (Bandung, Semarang ata...

Jukut Goreng

Sewaktu kulineran di “Sego Tempong Warga” Tanah Baru, Depok, ada menu Jukut Goreng. Anak ragil yang sejak tahun 2021 bermukim di Jaksel udah pernah mencicipinya. Spontan ia terlonjak ketika membaca daftar menu ada jukut goreng itu. ditulislah di daftar menu yang dipesan. Namun sayang, sekian menit kemudian, pramusaji mendatangi meja kami. Membawa buku daftar menu dan kertas pesanan kami. Pikir kami akan mengonfirmasi ulang menu yang kami pesan. Tak tahunya memberi tahu bahwa jukut goreng sedang tidak tersedia. Yah, anak ragil gelo . Kami yang penasaran pengin coba lebih gelo lagi. Kepalang dah. Untuk sementara kami nikmati menu yang ada dulu. Jukut goreng | foto: RRI | Kami simpan keinginan mencoba jukut goreng menjadi tabungan. Nanti bila kapan-kapan ke Jakarta lagi akan memburunya di mana yang ada. Nah, dua hari lalu anak ragil ngirimin video tiktok tentang jukut goreng warung kuliner milik Aa' Epy Kusnandar (Kang Mus) di Jakarta Selatan. “Nanti kita ke sana, ya, Dek,” komen...

Biling dan Zonasi

Nama ini adalah nama kedua yang dilekatkan setelah sebelumnya bernama SMA Taruna Raden Intan Lampung (kalau tidak salah, cuma ingat 'taruna'-nya). Saya pikir nama Taruna akan jadi nama yang abadi karena bernapaskan kepahlawanan Radin Inten, bakal lama dipakainya sebagai brand teranyar, tapi rupanya saya keliru menganggapnya seperti itu. Ketika lewat kapan waktu, mata melihat banner dan mulut membaca apa yang tertulis, kuping menyimak apa yang terucap. Tertera, tersebut, dan tersimaklah "SMA Bintang Plus - excellent and character" sebagai pengganti nama SMA Taruna Raden Intan Lampung. Bakal abadikah nama yang kedua ini? Wallahu 'alam. SMA Bintang Plus  Dahulu sekolah ini bernama SMA Budaya. Terletak di Jalan Pendidikan, Sumberejo, Kemiling. Alkisah, nasib SMA Budaya merana setelah ada program biling (bina lingkungan) bikinan wali kota Herman HN yang kelak membuat sekolah swasta se-kota Bandar Lampung kesulitan mendapat siswa/siswi baru, tak terkecuali SMA Budaya...

Si "Kesayangan" 2

Barusan sebulan lalu (13/4) di "kesayangan" ini diservis untuk kemudian cek fisik dan bayar pajak serta ganti plat nomor, kemarin ketika hendak ke RS Urip Sumoharjo, terdengar klesek-klesek pada bagian rem depan. Saya minggir ke bahu jalan, turun memeriksa. Jelas tak terdeteksi oleh mata telanjang. Awam pula soal motor. Saya teruskan perjalanan. Lama kelamaan hilang timbul, hilang timbul dan hilang beneran hingga sampai RS Urip. Sewaktu pulang semalam hanya sesekali terdengar suara klesek-klesek yang lembut, tidak kencang seperti sorenya. Pagi ini saat saya bawa ke bengkel nggak bersuara. Kepada si owner bengkel langganan saya kemukakan apa yang terjadi pada si "kesayangan." Mas Bowo, si owner bengkel melihat ke tempat rem cakram dan mengatakan, "Ini pecah klahar." Saya tanya, "Piro?" Dijawabnya sekian. Okelah kata saya. Diambilnya klahar pengganti dan menyuruh anak buahnya memasangkan. Sat set sat set sot, proses mengganti klahar pun selesai....

Kangen Menyeruak

Saya mengirim igauan semacam pendapat atau saran yang saya beri judul "Insight Pagi" pada seorang kawan lamo uji wong pelembang, untuk ia baca sambil nyeruput kopi. Termasuk orang yang bukan menjadikan "bangun siang" atau "ninggi ari" uji wong pelembang lagi, sebagai sebuah budaya hidup. WA saya pukul 6 seperempat tadi langsung ia sambar macam ikan kelaparan dilempar pancing. Sepertinya memang sedang nyeruput kopi kawan lamo ini. Tapi, bukan seperti bapak kito ngopi zaman orba, sambil baca koran. Sekarang zaman milenial dan Gen Z ini, orang ngopi sambil baca komen di fb , bukan koran. sesekali mejeng di blog  Buka-buka arsip puisi yang sudah terpublikasi di beberapa media digital, saya juga dapat insight bahwa, ternyata pada sebuah media digital, ada penyair yang puisinya kerap muncul. Sedangkan diriku, sejak dimuat sekali, menahan diri untuk kembali mengirim puisi ke meja redaksi media tersebut. Kangen pun menyeruak di hati saya. Maka, dua menit...

Datang dan Pergi (1)

Kemarin pagi muncul hasil kurasi puisi untuk kado ulang tahun Mas Adri Darmadji Woko yang diunggah di facebook "Koloni Seniman Ngopi Semeja Depok." Ini adalah suatu hal yang datang. Lalu, saya mengirim puisi untuk Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh. Ini suatu hal yang pergi. "Datang dan Pergi", begitu judul postingan hari ini. Kawan penyair di Banjarmasin rupanya tidak ikut mengirim puisi untuk kado ulang tahun Mas Adri Darmadji Woko ini. Entah kenapa dan apa alasannya, ia tidak menjelaskan. Ia justru selalu menanyakan apakah hasil kurasi puisi bertema "kemanusiaan" yang ditaja Ruang Merdeka Inspira (RMI), Lingkar Sajak Jaksel, dan Puisi Peduli tuk menyambut HPN. Ilustrasi untuk 'kemanusiaan' pada Psicologos Standar | Anna Bizon/Gpoint Studio | Jika saja apa yang direncanakan tiga komunitas (RMI, LSJ, dan PP) di atas, menerbitkan buku antologi puisi "kemanusiaan" lancar proses dan progres, buku akan diluncurkan bersamaan dengan ...

Kado Puisi

Pagi tadi pas membuka facebook , grup "Koloni Seniman Ngopi Semeja Depok" mengunggah pengumuman kontributor puisi kado ulang tahun 75 untuk penyair senior, Mas Adri Darmadji Woko, yang akan berulang tahun pada 28 Juni 2026 mendatang. Hingga limit waktu ( deadline ) menghimpunkan puisi, terbilang ada 94 penulis puisi (pemuisi, penyair) yang mengirimkan puisi untuk selanjutnya dibungkus jadi kado terindah tuk hari spesialnya penyair sepuh  Mas Adri Darmadji Woko. Sayalah orangnya di urutan 94. Sosok penyair senior Adri Darmadji Woko  Kado puisi. Begitu narasinya. Daripada kado dalam bentuk material yang bisa musnah setelah momen ulang tahun berlalu, lebih afdal kado dalam bentuk buku. Isinya, ialah testimoni atau pendapat kawan-kawan yang berisi kenangan paling mengesankan. Kenangan mengesankan itu yang oleh kawan-kawan diungkapkan dalam bentuk tulisan bertajuk "pesan dan kesan" yang tak mesti berisi hal yang bernuansa suka cita, tetapi ada juga yang bernuansa duka l...

Tanjungkarang

Setelah batal 'safari jumat' di masjid Taqwa Tanjungkarang pada 24 April karena hujan dan saya alihkan ke masjid Al-Anshor BKP, hari ini jadi juga saya salat jumatan di Tanjungkarang, tapi bukan di masjid Taqwa, melainkan masjid Al-Iman Bambu Kuning. Lokasi dekat RM Kamang Ampera. Dahulu suka ngajak anak bojo makan di RM Kamang. Salat Jumat di masjid ini baru sekali ini. Tapi, berkali-kali salat Zuhur di sini kalau pas sedang ada perlu ke pasar Bambu Kuning, seperti mengantar istri vermak baju. Beliau agak susah cari baju yang ukurannya pas ngebody dengan tubuhnya yang 'teramat' mungil. Kota Tanjungpinang dipotret dari Holiday Inn Hotel Bukit Randu  Meskipun ketika membeli baju (tunik atau kaos) dia sudah memilih ukuran M, niscaya masih harus juga ngecilin bagian pundak dan motong lengan. Untuk body dia, yang pas memang size S, tapi amat jarang menemukan yang cocok dengan selera dia, apakah corak, model, warna yang sedang trend tentu saja. Tanjungkarang, kota yang ...

Puisi Ramadan

Pada tahun lalu (2025), Eki Thadan, pemilik penerbit metaforma internusa, menggagas penerbitan buku antologi puisi bertema Ramadan. Mengirimlah saya, cuma satu judul puisi. Lama kali menunggu, seperti tidak ada proses serta progres. Saya antara sabar menunggu dan pesimis terwujud. Yang jadi faktor sebab musababnya adalah karena Bung Eki Thadan sakit dan mesti menjalani dialysis (cuci darah) dua kali dalam seminggu. Saya maklum dan mengirimkan doa bagi kesehatannya. Di ambang hampir melupakan antologi puisi Ramadan tersebut, ternyata selesai juga layout -nya. Dibagikan pdf -nya. Buku antologi puisi Ramadan "Dalam Cahaya Ramadan" dari PERRUAS oleh 183 penulis. Oleh Bung Eki Thadan dikirimkan pdf hasil layout buku ke WhatsApp Grup yang dinamai "Antologi Sufistik" dengan anggota cuma 11 orang. Ternyata jumlah penulis yang tergabung dalam antologi ini sebanyak 22 orang. Ada penulis yang menyumbang cuma satu, ada yang dua, tiga bahkan empat puisi. Sampai akhirnya pada...

Si Darah Manis

Bapak RT satu ini aktif senam jasmani saban Minggu pagi dan senam pernapasan di sore harinya, bakda Asar. Penyintas gula darah tinggi dan diabetes, mengharuskan ia mesti rajin gerak badan. Sejak hari Sabtu lalu Pak RT ini diopname di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin (RS PBA), keluhannya pegal-pegal dan nyeri sendi lutut (arthralgia lutut). Rencananya pagi tadi akan disuntik di bagian lutut itu, tapi gula darahnya 200+, tak jadi disuntik. Saran dokter rawat jalan saja dulu nanti setelah keluar dari rumah sakit, dan apabila gula darahnya sudah turun, baru bisa disuntik obat. Lumayan krusial, ya, urusan gula darah tinggi itu. Sungguh serba repot jadinya. Sebelum pulang besuk, saya sempatkan memotret Perum BKP dengan latar belakang Gunung Betung di kejauhan  Apa yang menyebabkan gula darahnya tinggi, tadi saat kami besuk di kamar perawatannya, saya tanyakan hal itu. Jawabnya, karena kurang tidur. Selama dirawat di RS ia tak bisa tidur nyenyak. "Nah, kurang tidur itu bisa menaikkan t...