Karena besok lebaran haji, hari ini istri mau buat opor. Ayam kampung potong sudah siap sejak dua hari lalu, dikarantina di freezer. Saya bagian ke pasar belanja bumbu dapur dan santan. Tak terkira banyaknya yang butuh santan, antrean panjang mengular meliuk-liuk. Tadinya saya ke pasar tempel SPBU Langkapura. Setelah dapat bumbu giliran santan, tapi melihat antrean mak-mak saya beralih ke pasar tempel dekat masjid Baiturrahim. Sama juga kudu antre. Ya, sudahlah daripada beralih tempat lagi belum tentu dapat. Saya nyelip di barisan mak-mak. Barisan mak-mak pemburu santan yang mengantre di pasar tempel SPBU Langkapura Saya lanang sendiri. Yo , wis rapopo . Dahulu, lagi zaman edan langka minyak goreng, saya juga suka-suka saja nyelip di barisan mak-mak demi dapat minyak goreng 2 liter harga murah. Macam zaman perang saja, untuk mendapatkan minyak goreng orang mesti bersabar mengantre. Dari urutan sekian belas, nggak menghitung pastinya berapa, akhirnya sampai juga giliran saya. S...
Lagi, kabar kematian berkesiur seperti tiupan angin pagi yang lembab oleh hujan semalam. Aloeth Pathi (Noer Lutfi) divisi sastra Lesbumi PCNU Kabupaten Pati, pagi ini di grup WhatsApp terkabar meninggal dunia. Dan, lafaz ' Innalilahi wa inna ilaihi raji'un ' bertumbuhan memekarkan kembang duka. Penyair kelahiran Pati, ini menyematkan nama kota tempatnya lahir menjadi nama pena dalam aktivitas kesastraan. Mengingatkan saya pada sosok Akhlis Suryapati yang juga kelahiran Pati dan menyisipkan kata 'pati' pada nama belakangnya. Dulu wartawan Minggu Pagi, kini Akhlis dikenal sebagai sutradara. Ada lagi penyair asal Pati menyematkan 'pati' pada namanya, yaitu Ragil Suwarno Pragolapati. Nama dan puisinya kerap dibaca dalam acara "Apresiasi Sastra" di radio Retjo Buntung, Jogja, tahun 1980-an. Balik dari Malang 1990, saya baca di KR, RSP dinyatakan moksa di pantai laut selatan saat laku yoga sastra . Sebelumnya ada seorang penyair laskar PMK (Puisi ...