Langsung ke konten utama

Postingan

Ke Negeri Bahari

Setelah menunggu lumayan lama di agen bawah flyover Wayhalim, bus datang juga. Berangkatlah saya ngebis ke Tegal pukul 20:47 WIB. Sampai RM Siang Malam Kalianda singgah makan malam dengan menukarkan kupon.
Postingan terbaru

Ke Negeri Poci

Malam ini saya berangkat ke Tegal. "MOZAIK di Negeri Poci" itulah acara yang akan saya hadiri. Bertempat di Gedung DPRD Kota Tegal, Sabtu, 24 Oktober 2026. Peluncuran buku MOZAIK dan baca puisi, itu acara pokoknya. Di samping itu, ada tausiah mengenai kesehatan dari dr. Hendrawan Nadesul, penyair senior dan salah satu pendiri komunitas sastra Dari Negeri Poci (DNP) bersama kawan-kawan. Ada puisi saya di buku antologi MOZAIK (DNP seri ke-16). Ini adalah buku kedua setelah sebelumnya ZAMRUD (DNP seri ke-15) yang meringkus puisi saya. Bisa dikatakan agak terlambat bergabung dengan komunitas ini. Setelah bergabung di facebook DNP, baru saya tersirami info nulis bareng ( nubar ) dalam seri DNP yang sudah sejak lama saya ketahui, tapi tidak paham pintu masuknya. Gambar made in AI Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Aforisme ini barangkali umurnya lebih tua dari saya. Begitulah selalu dikemukakan orang yang membela diri apalagi menghadapi tudingan kok baru sekarang,...

Reunian Lagi

Setelah reunian terakhir pada 8 Juli 3026 di Jl. Purnawirawan Gang Swadaya VI, baru siang ini kembali diadakan, bertempat di perumahan Karunia Indah Blok B, Jl. Tirtayasa masuk gerbang Cendana Indah. Beginilah cara pensiunan guru SMPN 28 menjalin silaturahmi. Ketemuan, kangen - kangenan , ngerumpi , makan siang, lalu mengundi nomor giliran siapa yang akan ketempatan pada dua bulan berikutnya. Ketemu ulang 2 bulan sekali. Sebagai bapak-bapak pengantar atau pengiring, saya dan Mas Tanto ikutan mengan dawah alias nutuk bangik dan menyelaraskan dengan obrolan buk-ibuk yang reuni beserta beberapa bapak pensiunan. Secara cacah jiwa, jumlah yang tergabung dalam grup WhatsApp pensiunan ada 14 orang dengan porsi 9 orang perempuan dan 5 laki-laki. say dan Mas Tanto (kiri) ikut mejeng juga  Istri saya karena sewaktu masih aktif mengajar ditunjuk sebagai bendahara koperasi sekolah, setelah pensiun diberi kepercayaan sebagai bendahara keuangan pensiunan ini. Ada iuran dana sosial untuk ...

Reduksi Lansia KAI

Kendati tidak begitu kerap naik sepur, tapi karena reduksi lansia tiket dari PT KAI, dari segi manfaat untuk mengikis anggaran beli tiket, cukup bermanfaat, maka kami (saya dan istri) memutuskan melakukan registrasi di ruang customer care stasiun Tanjungkarang siang ini. Datang, duduk, tunjukkan KTP dicatat, lalu wajah kita dipotet. Selesai, sesimpel itu. Dijelaskan mbak cs, registrasi reduksi lansia akan aktif setelah 24 jam, berarti besok baru bisa dipergunakan azas manfaatnya dalam pembelian tiket. Kali aja awal bulan depan bakal nyepur  Jogja--Jakarta, pembelian tiket sudah bisa merasakan dapat reduksi. Sudah lama saya tahu program reduksi lansia tiket kereta api dari PT KAI ini. Abang di Jatibarang sudah merasakan manfaatnya dan menganjurkan agar kami melakukan registrasi, tapi masalahnya karena jarang naik kereta api, maka kami bergeming. Mengingat beberapa trip yang kami lakukan, seperti ke Jember untuk menghadiri Temu Karya Serumpun dan peluncuran buku “Semesta Ingatan...

Ngerukuni Tetangga

Memang betul, tujuan seseorang dirawat di RS itu agar pengobatan efektif karena si pasien di bawah pengawasan dokter dan perawat. Itu kesatu. Kedua, agar beristirahat dengan cukup tanpa dirusuhi tetangga. Tapi, dalam hidup bertetangga itu ada hukum tidak tertulis. Yaitu, saling ngerukuni (merawat atau menjaga), baik dan damai (tidak bertengkar), bersatu dalam kehidupan sosial atau masyarakat. Semua itu berhulu pada kata rukun . Dilekatkan pada nama lembaga kemasyarakatan tingkat terendah (RT). Karena kehidupan sosial masyarakat Indonesia penuh toleransi dan menjunjung nilai-nilai gotong royong dan keguyuban , menjenguk orang sakit (di RS atau rumah) adalah pengejawantahan atau manifestasi dari sikap peduli, simpati, dan empati. Dan, termasuk salah satu ibadah ghairu mahdhah yang dianjurkan bagi umat muslim karena ada ganjaran pahala bagi yang melakukannya. Rasulullah Muhammad SAW mengajarkan doa khusus berikut tuntunan menjenguk orang sakit. Dalam kitab Lubbabul Hadis bab ke tig...

Hangat oleh Ingatan

Dari kabar grup WhatsApp “15 th SBP”, acara perayaan ulang tahun ke-15 Sastra Bulan Purnama (SBP) yang bertajuk “Bulan Purnama di Kota Kita” di aula kampus STPMD “APMD” kemarin, berlangsung hangat. Bukan hangat disebabkan udara musim kemarau, melainkan hangat karena acara itu mempertemukan penyair beserta ingatan-ingatan yang mereka simpan. Sastra Bulan Purnama (SBP) adalah salah satu dari empatpuluhan komunitas sastra yang tumbuh di Kota Budaya Yogyakarta. Saya mengetahui SBP sejak beberapa tahun silam, saat masih berkegiatan di Tembi Rumah Budaya Jl. Parangtritis Km. 8,4, Tembi, Sinduharjo, Sewon, Bantul. Pengin sekali rasanya nonton, tapi waktunya selalu tidak tepat. Tajuk HUT 15 SBP  “ Bulan Purnama di Kota Kita ”  berwarna biru muda pada bidang biru tua. Sesuai namanya Sastra Bulan Purnama, kegiatan yang digelar di Tembi Rumah Budaya itu, selalu pas di bawah sorotan bulan purnama. Seperti halnya juga pengajian Padang Bulan milik Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) bersama kelo...

Mangayubagyo SBP

Buku kumpulan puisi atau antologi puisi dengan judul “Kata Kota Kita” digagas oleh komunitas Sastra Bulan Purnama (SBP) diterbitkan oleh penerbit Tonggak Pustaka, Yogyakarta, memuat puisi karya 158 penyair dari berbagai kota, akan diluncurkan hari ini pukul 15:00 WIB hingga selesai bertempat di aula kampus STPMD “APMD” Jl. Timoho Yogyakarta. Ini buku ketiga bagi saya di Sastra Bulan Purnama. Buku pertama “Kitab Omon-Omon” memuat puisi “Kata Siapa, Politik itu Kotor.” Kemudian buku kedua berjudul "Manuskrip Indonesia" memuat puisi "Di Bawah Langit Kebangsaan" dan "Identitas Absurd", lalu buku ketiga “Kata Kota Kita” ini kabarnya dimuat dua puisi untuk setiap penyair. Dari 158 penyair terhimpun 316 puisi. Ilustrasi hasil tangkapan video SBP  Seperti yang telah saya tulis di postingan tanggal 7 Oktober di bawah judul “Dua Buku Menanti” bahwa, sebenarnya menarik minat saya untuk hadir dalam perayaan ulang tahun Sastra Bulan Purnama, tapi karena ada juga renc...