Tadi malam, pulang takziah tahlilan dua hari jemaah masjid yang wafat 30 Mei lalu, pukul 20:32 masuk pesan WhatsApp dari teman penyair di Banjarmasin, ia meng- share pengumuman hasil kurasi antologi puisi PPN XIV Aceh. "Alhamdulillah puisi kita lolos kurasi untuk antologi PPN XIV Aceh," ujarnya penuh syukur. "Iya, alhamdulilah, barusan dua menit lalu saya lihat di Instagram," jawab saya. Teman penyair di Banjarmasin ini tak punya akun facebook dan Instagram. Tapi, yang bikin saya heran, ia bisa mendapat flyer pengumuman kemudian meng- share -kannya ke saya. Dari mana coba? Bisa jadi dapat share-an dari teman lain. Tidak berhenti di meneruskan ke saya, ia juga meneruskan ke beberapa grup WhatsApp yang ia ikuti. Bagus juga sih , biar teman penyair lain cepat tahu pengumuman dan cepat merasakan kegembiraan. Atau mungkin mengunggahnya ke akun facebook atau Instagram seperti teman penyair saya di Depok, Jawa Barat. PPN XIII Jakarta puisi saya tidak lolos. PPN XIV Aceh...
Biasa, Broh … saya ke Iman Jaya menjemput kawan ngopi pada Minggu yang cerah, tapi menurut ramalan cuaca di layar hp : berawan. Saya mendongak menghadapkan wajah ke atas langit tak ada awan sedikit pun, bahkan matahari ramah, hangat, tersenyum semringah di ufuk timur sana. Melewati rumah pertokoan (ruko) Springhill yang sebagian kosong karena pembelinya tidak kiyeng memberdayakannya sebagai apa gitu . Sementara sebagian lain memang kosong karena nggak atau belum juga laku sebab harganya susah dijangkau ekonomi kelas medium, terlalu premium harganya. Ilustrasi, keberkahan dalam kebersamaan | sumber gambar: Instagram Islamidotco | Di halaman pertokoan Springhill saya melihat grup senam baru akan memulai bergerak badan. Dress code yang ibu-ibu kenakan, baju kaos biru celana (training) putih dan jilbab putih. Sementara bapak-bapak yang cuma enam orang berpakaian bebas. Tak ada lagi Pak Syukur di antara bapak-bapak itu. Kepulangan beliau ke Rahmatullah dua pekan lalu berarti ...