Langsung ke konten utama

Postingan

Kabar Penyair Pergi (4)..

Subuh kemarin, sepulang dari masjid saya buka ponsel, satu kabar duka tersampaikan di grup WhatsApp warga. Ibu (atau mertua) dari warga RT kami meninggal dunia di Krui pada Kamis (17/9) sekira pukul 23-an. Kabar duka disampaikan Pak RT. Larik kalima t   innalillahi wa inna ilaihi raji ' un menyertai ucapan duka dan doa beruntun disampaikan anggota grup. Duka kedua, Bapak Sam Mukhtar Chaniago, dikabarkan meninggal di RS PON Jakarta pada pukul 00:20. Kabar di- share Datuk Sri Asrizal Nur, pimpinan Perkumpulan Rumah Seni Asnur (PERRUAS) yang juga penggagas penerbitan kitab Talibun, kitab Puisi Etnik Nusantara, dan kitab Pantun Majelis di grup WhatsApp “Partey Penulis Puisi” pada pukul 01:25. Anton Kurnia dan Sam Mukhtar Chaniago (gambar hasil olah Gemini ♊) Di beberapa grup WhatsApp lainnya kabar duka kepulangan Bapak Sam Mukhtar Chaniago diteruskan sekira pukul 06-an. Ada yang menge- tag nama Bapak Sam Mukhtar Chaniago karena beliau ada di dalam grup WhatsApp tersebut. Meng...
Postingan terbaru

Sujud di Ratusan Masjid

Antara kelingan karo kelalen (ingat sama lupa), dahulu sepertinya pernah saya salat jumatan di masjid ini. Sudah lama saya jadwalkan untuk 'safari jumat' di sini. Alhamdulillah hari ini kelakon . Rupanya ramai juga jemaahnya, terutama para ASN di Pemkot Bandar Lampung yang memiliki akses (gedung parkir kantor pelayanan satu atapnya) terhubung langsung ke Masjid Agung Al-Furqon oleh sbentang jembatan penyeberangan orang (JPO) Siger Milenial. Saya sendiri belum pernah naik atau menyeberangi JPO estetik tersebut. Sepertinya mesti disengajakan karena aksesnya harus dari halaman parkir Masjid Agung Al-Furqon atau dari gedung parkir kantor pelayanan satu atap Pemkot Bandar Lampung. Di tengah-tengah jembatan persis di atas ruas jalan Diponegoro ada space semacam gardu pandang, biasa dijadikan tempat swafoto pengunjung yang naik JPO. Latar belakangnya lalu lintas di bawahnya. Masjid Agung Al-Furqon Bandar Lampung  Pemkot Bandar Lampung membangun JPO Siger Milenial, sepertinya pengi...

Gak Hilang, Baguslah

Nah, akhirnya sampai juga pada tanggal 15 September 2026 (2 hari yang lalu), seperti tertera di flyer kegiatan lomba cipta puisi bertema “Toponimi Lampung Barat” dalam ajang “Penghargaan Sastra Udo Z Karzi (Pengahut jak Udo Z Karzi 2026), penerimaan naskah puisi adalah 21 Juni – 31 Agusus 2026. Pengumuman hasil kurasi 15 Sepetmber 2026. Dua hari yang lalu, “Penghargaan Sastra Udo Z Karzi (Pengahut jak Udo Z Karzi 2026)" ini berisi 10 puisi nominasi dan 60 puisi pilihan. 70 puisi ini hasil seleksi ketat yang dilakukan kurator tunggal, yaitu Udo Z Karzi, terhadap 116 puisi yang masuk di periode itu. Pengumuman puisi nomine dan puisi pilihan ini dalam bentuk grafis dipublikasikan Udo Z Karzi di Instagram yang juga tertaut ke facebook-nya. Di facebook bisa dilihat dan dibaca sedangkan di Instagram-nya hilang (dihilangkan) entah karena apa. Udo Z Karzi mengirim grafis pengumuman itu ke WA saya berikut tautan Instagram-nya seraya menanyakan apakah saya bisa membukanya. Saya coba buka t...

Masuk Nomine

Kemarin (15/9), seperti tertera dalam flyer adalah hari pengumuman even menulis puisi "Penghargaan Sastra Udo Z Karzi (Pengahut jak Udo Z Karzi 2026)" tapi tak ada tanda-tandanya, misalnya notif di layar gawai. Saya masuk ke facebook, muncul langsung. Ada 5 grafis yang 1 berisi maklumat "Inilah Puisi Nomine dan Pilihan." Tapi, tak ada daftar puisi nomine, hanya ada daftar puisi pilihan dalam 4 grafis yang masing-masing berisi 15 puisi dan penulisnya. Saya pindah ke Instagram, sayangnya di akun IG Udo Z Karzi tak ada lagi. Sudah dihapus entah oleh siapa. Karena masuk waktu magrib, saya bersiap-siap ke masjid, tapi ada notif masuk. Udo Z Karzi mengirim tautan IG yang sudah dihapus itu. Tidak langsung saya buka tapi saya tinggal dulu ke masjid. Pulang dari masjid baru saya buka. Ada 6 grafis, di sini baru muncul daftar nomine yang mencantumkan nama saya sebagai salah satu dari 10 nama yang masuk. " Nerima nihan , Udo" balas saya ke WhatsApp Udo Z Karzi. Dib...

Percakapan di Jalan

Kemarin sore melihat tubuh gocar yang kami tumpangi dari jalan Sultan Agung seperti dipupuri saya bertanya kepada sopirnya, "Apakah masih ada debu?" Jawabnya, "Masih ada dikit-dikit." "Waduh, kayak apa kabar rumah yang habis ditinggal lima hari," kata saya nyeletuk. "Habis dari mana, Pak," tanyanya. "Habis dari Cirebon," jawab saya. Begitulah percakapan kami menembus kemacetan di Kedaton. Ilustrasi | radio gocar di Jakarta yang menyiarkan percakapan interaktif penyiar--pendengar  Sampai di rumah, buka pagar saya lihat lantai teras tidak begitu begitu berdebu karena memang kami titipkan sama saudara. Yang dititipkan sebetulnya nyiram kembang. Rupanya teras disentor olehnya. Sampai rumah pukul 17:11, habis mandi istri ngepel lantai di bagian dalam rumah, mulai dari ruang tamu, kamar, ruang keluarga hingga ke dapur. Beruntung ventilasi sudah ditutup dengan koran jadi aman. Yang lebih beruntung lagi sebenarnya "untung masih nyimpan k...

Jakarta City

Seperti sudah saya prediksi di cerita kemarin, bahwa Senin jalan tertentu di Jakarta dibelit kemacetan parah. Begitulah yang terjadi tadi di jalan Hajjah Tuty Alawiyah, mengkhawatirkan bakal telat sampai stasiun Gambir. Beruntung bisa putar balik dan menyusuri jalan alternatif, tapi lepas dari sana dicegat macet lagi di jalan Mampang Prapatan. Dua titik itu krusial banget. Macet ga mesti hari Senin. Begitulah Jakarta City. Sependek pengamatan saya, semacet-macetnya berkendara di Jakarta, masih bisa dimengerti. Namanya juga Daerah Jhusus Ibu kota (DKI) Jakarta atau Daerah Khusus Jakarta (DKJ) saja. Macetnya Bandar Lampung pun (harusnya) bisa kan dimengerti karena jalan protokol di dalam kota Tapis Berseri itu cuma sebentang jalan Z.A. Pagaralam. Jika sudah macet ga bisa kan ditolong. Mestinya ada jalan lingkar untuk dapat keluar dari "lingkaran masalah." Sekadar ilustrasi | salah satu sudut jalan di Ibu kota Jakarta  Tapi, di samping tidak memungkinkan membuka jalan lingkar ...

Journey [Lagi]

Nyambung cerita berjudul "journey" 15/8 with Cakrabuana Gambir--Cirebon, siang ini saya dan istri journey with Fajar Utama Yogya dari Jatibarang to Pasar Senen. Waktu ke Cirebon sebulan lalu, menghadiri ijab kabul putri bungsu Abang. Ke Jatibarang Kamis lalu untuk menghadiri acara "ngunduh mantu" yang diadakan Abang hari Sabtu kemarin. Ceritanya di sini "journey [Lagi]." Bukan tak ada pilihan kereta pagi. Argo Cheribon yang dahulu itu namanya, tapi kini berganti nama menjadi Gunungjati jadwalnya ada di pukul 06:09. Dahulu naik Argo Cheribon, kepagian masuk Jakarta. Check in hotel kan pukul 14:00, daripada tegambuy di stasiun lama, baru ke hotel, koper kami titipkan di locker luggage storage (penitipan bagasi), lalu makan di Solaria terus kami tinggal jalan-jalan di Senen. Commuter Line Jabodetabek in the shot  Journey kali ini akan berhenti di Teduh Simatupang, sebuah hotel di kawasan Pasar Minggu yang sudah di- booking anak ragil. Ia kemarin ultah,...