Saya masih menunggu datangnya buku "Ramu-Ramu Warteg" dari Tegal. Antologi ini belum merupakan kloter terakhir, masih ada beberapa buku sedang proses. "81 Penyair Bicara Tentang Indonesia -- Merdeka Katamu" karena peminatnya mbeludak sementara dibatasi hanya 81 penyair sesuai dengan HUT ke-81 RI, maka dibuat menjadi dua jilid. Tapi, jilid 2 sepertinya agak lambat terpenuhi kuotanya. Deadline 15 Agustus, baru separuh yang mendaftar. "MOZAIK", "Dapur Sastra Jakarta (DSJ)", "Rohmantik" masih dalam proses yang tidak bisa diprediksi kapan selesai. Rangkaian yang mesti dilalui begitu panjang mulai dari pengumpulan naskah puisi, dikurasi oleh tim kurator, layout , pengajuan ISBN, pencetakan dan penjilidan serta packaging buku untuk selanjutnya didistribusikan ke penulis. Cukup melelahkan bagi yang mengolah maupun yang menunggu bukunya. Ilustrasi | credit foto: ISBN Service Baik buku antologi bersama (himpunan para penulis) maupun buku tung...
Maju mundur saya untuk ikutan atau tidak FSY tahun 2026. Tiga tahun ikutan belum mujur lolos kurasi. Even tahunan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta ini benar-benar buat nguji adrenalin dalam menciptakan puisi bertema. Tahun ini FSY mengusung tema besarnya “LAKU.” Di luar tema besar “LAKU” itu, bebas saja hendak mengirim puisi bertema apa saja yang penting bebas SARA dan pornografi. Karya sastra emang sering menjamah ranah pornografi sebagai objek penulisan. Apakah tokohnya yang digambarkan sensual atau tempatnya berada di zona abu-abu. flyer FSY di Instagram Karya sastra yang mengeksplor dunia hitam atau zona abu-abu tentu tak terlepas dari narasi yang menyentuh hal yang sensitif, apakah bentuk tubuh secara transparan atau gender tokoh dalam cerita. Minimal menggambarkan pakaian yang seksi dan dibuat sebisanya mengundang syahwat pembaca. Dalam dunia perbukuan (karya sastra), penerbit mayor memiliki aturan ketat masalah pornografi. Tapi, novel IQ84 Haruki Mur...