Langsung ke konten utama

Postingan

“Ibu Suri” Sudah Nongki

Kalau “Ibu Suri” ini sudah nongki di pasar, itu pertanda bulan puasa sudah dekat. Si “Ibu Suri” ini merupakan entitas paling hebring di masa bulan puasa. Gak di pasar, gak di pinggir jalan, “Ibu Suri”  nongki menunggu orang menyamperi dan menyalaminya. Jika cucok dalam percandaan dan ketemu akad pertukaran rupiah dengannya, maka “Ibu Suri” sudi diajak pulang untuk buka puasa bersama. Memang, “Ibu Suri” ini entitas paling asyik buat teman buka bersama, mukanya yang glowing dengan saputan bedak warna nude kekuning-kuningan dan senyumnya menawan kendati tak dipoles gincu, terasa manis saat dicecap bila sebelumnya ditambahkan sirup Marjan Cocopandan yang merah merona. Uh, rasanya beduk tanda berbuka tak sabar ditalu saking menggodanya. "Ibu Suri" sudah nongki menyambut Ramadan  “Ibu Suri” ini penggoda paling centil di bulan puasa. Penjual es campur yang menambahkan “Ibu Suri”, membuat orang pengin “ maling telon ” membeli es campur dan menikmatinya, jika saja tak takut...
Postingan terbaru

Prajurit TAMTAMA

Buat merayakan Hari Pers Nasional 2026, saya mengunggah ke facebook foto 4 eksemplar koran TAMTAMA terbitan tanggal 10, 11, 12, dan 14 Juni 1998. Headline   News koran berwarna pertama di Lampung, ini semua tentang Soeharto yang baru saja berhenti dari jabatan presiden RI pada 21 Mei 1998 setelah didesak oleh sejumlah “Tokoh Reformasi.” Pada pemilu 1997  –sebagai ulah Harmoko –  Soehato kembali menjadi presiden untuk jabatan ke-6 kalinya sejak pemilu 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, 1997. Krisis ekonomi (krismon) awal 1998, membuat pemerintahan Soeharto melemah. Ia dituntut mengmundurkan diri. Ada empat tokoh penting reformasi; Amien Rais, Gus Dur, Hamengku Buwono X, Megawati Soekarnoputri. Koran TAMTAMA terbitan Juni 1998 Selain 4 tokoh penting di atas, ada 4 mahasiswa turut berjuang menurunkan Soeharto. Mereka adalah Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie (Mahasiswa Universitas Trisakti). Keempatnya gugur dalam  “ Tragedi 12 Mei 19...

HPN

Kemarin, 9 Februari adalah Hari Pers Nasional (HPN). Insan pers dari media dan organisasi apa pun hadir merayakannya. Tahun 2026 ini sebagai tuan rumah adalah Provinsi Banten. Teman-teman wartawan koran tempat kami bekerja dahulu, masih bertungkus lumus di media online  pada HPN kali ini, tentu ada yang hadir ke Banten menyemarakkannya. Saya tidak mendaftarkan diri sebagai wartawan atau kerennya jurnalis, sehingga saya tak memiliki kartu anggota organisasi kewartawanan apa pun. Saya ini cuma pekerja pers biasa di bagian pracetak. Tugas nyambi  sebagai pekerja teks (redaktur) pada desk berita apa pun yang ditugaskan pemimpin redaksi, berganti-ganti, berpindah-pindah. Tour of duty . Kios koran sebatang kara di kota Metro  Di antaranya desk olahraga, kriminal, daerah, seni & budaya. Itu untuk 'jabatan' pekerja teks (redaktur), sementara untuk 'jabatan' kepala bagian pracetak, saya bertanggung jawab memegang halaman 1 atau perwajahan koran. Make over tata letak be...

Jalan Jodoh itu “Teman”

“Tahun 2022, saat di mana saya masih lajang dengan sejuta trauma cinta. Berawal di saat saya sedang KKN. Teman satu kamar saya berinisiatif mencomblangkan saya dengan teman pacarnya yang berinisial YF, punya profesi sebagai driver. Komunikasi awal kami bangun dalam 1 bulan hingga tiba first date , 26 Agustus 2022, tuk saling mengenal satu sama lain. Dalam pertemuan pertama itu, kami mengambil suatu kesepakatan untuk menjalani hubungan yang, nantinya ternyata penuh cobaan bertubi dan tantangan berupa teror yang tak henti menembak. Tetapi, Alhamdulillah, kami bisa melewati itu semua. Hingga sampai pada 27 Februari 2025, kami memutuskan untuk bertunangan. Alhamdulillah, atas kemantapan hati bersama, kami memutuskan melanjutkan hubungan pertunangan untuk memasuki gerbang perkawinan. Kami sepakat 4 Februari 2026 adalah tanggal yang kami yakin sebagai hari baik untuk menggelar acara paling sakral di muka bumi, yaitu akad nikah dan resepsi walimatul urusy.” Bait-bait cerita dalam tiga b...

Masjid Agung Taqwa

Yang sudah saya singgung di postingan blog ini terdahulu, perihal jantung kota Metro ini di mana? Apakah Masjid Agung Taqwa? Ataukah ada "Titik Nol-nya." Saya sungguh awam karena kendati sudah lebih 25 tahun bermukim di Bandar Lampung, saya belum pernah ke Metro. Agak   laen , ya 🙂‍↕️  Sebagai penambah catatan amal, eh... catatan masjid (di luar safari jumat), Masjid Agung Taqwa sekiranya layak juga ditulis. Saya masuk masjid ini Rabu pagi untuk mendirikan salat dhuha yang diawali tahyatul masjid. Hendak ke masjid saat subuh, masih hujan ricih-ricih. Apadaya jemaah subuh tak kesampaian. Foto Selasa (3/2) siang saat ngaso baru tiba Masjid yang struktur bangunannya bulat ini sangat luas. Air wudu melimpah, kamar kecil tempat buang hajat tentu juga representatif (saya tidak sempatkan melongok ke ruang privat itu). Karpet merah marun sudah terbilang lama, sudah terlihat belang-belang ada perubahan warna dan aroma tanda telah tua. Waktu saya masuk hendak mendirikan salat dhuha, ...

Donor Lagi

Pulang dari safari jumat di masjid Al-Istiqomah dengan membawa seporsi mie ayam sedekah ‘Jumat Berkah’, tatkala melewati jalan depan masjid Al-Anshor, saya dipanggil tetangga yang salat jumatan di sana. Saya lihat ada ramai-ramai, saya tanya ada apa? “Ada donor darah, mau donor apa,” jawab tetangga itu. Sejak donor pertama 27 Serptember 2024 sebelum umrah 8 Oktober 2024, kendati diingatkan aplikasi Kartu Donor digital yang saya tanam di pekarangan gawai, tak saya gubris dan pergi ke PMI untuk disedot sebanyak 350 cc darah lalu disimpan dalam kantong kedap udara ditaruh di lemari pendingin kantor PMI. foto pendonor saat darah sedang disedot  Entah kenapa pula saya abaikan peringatan ‘waktunya untuk donor’ dari Kartu Donor digital tersebut. Padahal, secara kondisi kesehatan sepulang dari umrah, itu saya sangat sehat. Bahkan, selama menjalani rangkaian ibadah umrah, baik di Madinah maupun di Mekah, saya termasuk yang paling sehat di rombongan keluarga. Secara keseluruhan rombong...

Jalan Menuju Istikamah

Melanjutkan kehendak istikamah langkahkan kaki safari jumat, tadi saya sempat mutar-mutar hendak ke masjid mana karena tidak ada perencanaan. Saya menujua ke masjid Al-Aqso di Blok R, eh… rupanya masjid itu tidak dipakai salat jumatan karena warga di sana sepertinya jumatan di masjid Al-Anshor. Akhirnya saya masuk ke Gang Bayur. Nah, masjid yang hendak saya tuju juga sepi, tak ada bunyi-bunyian spiker masjid ke luar dari TOA di atas atap. Kembali saya keluar ke jalan raya menuju arah Kurungan Nyawa, balik masuk Gang Bayur, ke masjid yang memang dari jauh terdengar lantunan ayat suci di TOA. Saya parkir motor dan masuk ke dalam masjid. Eh, ada penikmat MBG, jadi anak saleh, ya! Sejuk hawa dalam masjid dari pendingin udara di dinding menyergap tubuh saya, nyaman merasuk ke alam sadar saya. Usai salat tahyatul masjid dan dhuha, saya langsung buka gawai dan membaca Surah Ar-Rahman sebagaimana biasa saya lakukan. Selesai, saya cecelinguk mencari jadwal salat digital di dinding. Terba...