Kesedihan terjepit gerbong KRL yang ditabrak KA Argo Bromo. Di blog ini saya sudah sering mengisahkan para penglaju pejuang rupiah yang berangkat subuh dari rumah demi mengejar setapak tempat berdiri di dalam gerbong KRL seandainya tidak mendapatkan tempat duduk, berdiri sekalipun mereka tahan yang penting bisa sampai tempat kerja tidak terlambat. Begitu pun sebaliknya, saat hendak pulang ke rumah, mereka berjibaku mengegas langkah untuk secepatnya sampai stasiun agar tidak ketinggalan KRL yang akan mengangkut mereka ke alamat masing-masing, dengan memanggul lelah setelah bekerja seharian. Kendati di ruangan berpendingin udara, tak ayal rasa lelah terakumulasi dari loyalitas, beban kerja, dan stres. Beginilah KRL yang dihajar KA Argo Bromo yang melaju dengan kecepatan 110 km/jam. | gambar pinjam pakai milik detik.com | Para penglaju dari luar Jakarta, menyerbu Jakarta di pagi buta. Mereka dari Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi bahkan Karawang. Tiga sampai empat jam dalam perjalanan, bi...
Inilah enam puisi tentang puisi yang dimuat di NusaBali asuhan Warih Wisatsana. Puisi tentang puisi. Entah mengapa saya tiba-tiba terpikirkan membuatnya. Lalu, saya kirimkan ke Koran NusaBali. Agak lama menunggu kabar dimuat atau tidak. Bersamaan pula mengirim puisi ke Koran Bali Politika. Bali Politika asuhan Wayan Jengki Sunarta. Dua kali saya bertemu dengannya. Pertama sewaktu menghadiri Ubud Writers and Readers Festival, 18–22 Oktober 2023. Kami sarapan dan ngopi di Sagitarius Inn, hotel tempat kami menginap. Pertemuan kedua sewaktu menghadiri Jambore Sastra Asia Tenggara. Inilah 6 puisi saya yang dimuat di NusaBali (Minggu, 9/3/2025) Menghadiri Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT), 24–26 Oktober 2024, saya dan istri baru empat hari pulang dari ibadah umrah, tapi tak merasakan capek sama sekali. Setelah lama menunggu, akhirnya yang di BaliPolitika dimuat. “Maaf menunggu agak lama karena sesuai antrean,” kata Wayan Jengki Sunarta. Wah, saya senang sekali. “Terima kasih, tidak a...