Lagi, kabar kematian berkesiur seperti tiupan angin pagi yang lembab oleh hujan semalam. Aloeth Pathi (Noer Lutfi) divisi sastra Lesbumi PCNU Kabupaten Pati, pagi ini di grup WhatsApp terkabar meninggal dunia. Dan, lafaz ' Innalilahi wa inna ilaihi raji'un ' bertumbuhan memekarkan kembang duka. Penyair kelahiran Pati, ini menyematkan nama kota tempatnya lahir menjadi nama pena dalam aktivitas kesastraan. Mengingatkan saya pada sosok Akhlis Suryapati yang juga kelahiran Pati dan menyisipkan kata 'pati' pada nama belakangnya. Dulu wartawan Minggu Pagi, kini Akhlis dikenal sebagai sutradara. Ada lagi penyair asal Pati menyematkan 'pati' pada namanya, yaitu Ragil Suwarno Pragolapati. Nama dan puisinya kerap dibaca dalam acara "Apresiasi Sastra" di radio Retjo Buntung, Jogja, tahun 1980-an. Balik dari Malang 1990, saya baca di KR, RSP dinyatakan moksa di pantai laut selatan saat laku yoga sastra . Sebelumnya ada seorang penyair laskar PMK (Puisi ...
Betapa syahdunya cuaca, sepagi ini hujan dengan langkah pelan menapaki jalan yang dilaluinya. Tidak cepat jalannya (deras jatuhnya), tapi tak mengizinkan (menghalangi) saya untuk keluar mencari camilan teman ngopi. Apa daya. Untung ada persediaan biskuit dan buah pir. Jadi ada persimpangan kebiasaan. Biasanya ngopi bersahabat gorengan, pagi ini dipertemankan dengan buah dan biskuit. Yang penting ngopinya, tak peduli apa yang dipersandingkan dengannya. Sekadar ilustrasi | foto: Basajan.net | Seperti tagline teh botol yang sudah ngetop sejak zaman saya SMA tahun ‘80an yang kala itu masih satu varian rasa, teh melati thok . Sekarang sudah ada rasa madu, anggur, dan jeruk. “Apa pun juga makanannya, minumnya teh botol COCOK.” 🤔 Frasa COCOK itu sekadar buat memplesetkan merek teh botol yang sudah amat legend tersebut. Saking legendarisnya teh botol COCOK itu, muncul kemudian merek teh botol lainnya. Buat apa tho ? Tentu buat bermain di gelanggang persaingan. Memang begitulah ...