Bercerminlah untuk melihat sosok diri secara gamblang. Tapi, ada yang bisa dilihat tanpa menggunakan cermin sebagai medium meneropongnya. Apa itu? perhatikan siapa saja yang datang melayat saat seseorang wafat. Tentu juga termasuk seberapa banyak. Jika, banyak yang datang melayat dan kiriman bunga papan ucapan turut berdukacita berderet-deret, bisa ditebak bahwa yang wafat adalah pejabat atau paling tidak mantan pejabat. Seberapa banyak yang datang melayat dan kiriman bunga papan, itu adalah pantulan cermin seberapa bermakna seseorang yang wafat itu di mata masyarakat. Atau dengan kata lain seberapa gaul ia/dia di masa hidupnya dalam bermasyarakat sebagai pengamalan hablum min an - naas . Seberapa mesra hubungan baik dengan jiran tetangga, kawan, dan sanak saudara. Akan berlaku juga untuk sebaliknya, seberapa sedikit yang datang melayat. Tadi malam tahlilan hari/malam ketiga ( nigahari ) atas kepulangan Pak RT yang mangkat Sabtu siang pukul 13:05 WIB (01:05 PM). Betapa banyak yang ...
Masih melanjutkan cerita postingan kemarin, 17 Mei berjudul "Yang Pulang Tengah Hari" yang merupakan lanjutan cerita berjudul "Si Darah Manis" pada postingan tanggal 6 Mei, sepuluh hari sebelum ia berpulang. Jadi, ceritanya, si Bapak yang berpulang ini pensiunan pegawai Kantor Wilayah (Kanwil) Depag (sekarang Kemenag). Setelah pensiun, oleh warga didapuk menjadi ketua RT. Kesibukan lain aktif di komunitas senam. Ibu-ibu anggota senam seusai senam, menyimak edukasi dari dokter pengelola komunitas. Saat kami besuk Selasa, 6 Mei, itu ia katakan sudah dua minggu nggak senam, kawan-kawan curiga kok Pak Syukur nggak nongol-nongol, didatangilah ke rumahnya, ternyata sedang dirawat di RS Bintang Amin. "Kami sengaja nggak ngomong-ngomong kepada tetangga dan kawan-kawan di komunitas senam, tapi digelitik rasa penasaran, ada kawan senam datang ke rumah. Tetangga juga datang besuk ke sini," katanya menerangkan. Entah kapan ia pulang dari RS Bintang Amin, mungkin k...