Langsung ke konten utama

Postingan

Suara yang Hilang

Tadi malam kami nonton pemilihan ketua RT di RT 14 Lk II Perum BKP, dua calon duduk bersanding, satu incumbent dan satu lagi penantang. Panitia mencatat ada 72 mata pilih, tapi yang hadir memberikan suara hanya 62 orang. Semula 61 orang yang sudah mencoblos surat suara bertanda gambar foto kedua calon. Empat menit sebelum dinyatakan ditutup pada pukul 21:00 WIB atau 09:00 PM, datang seorang Ibu tergopoh-gopoh, istri imam masjid kami (alm). Ibu Asrori menggenapi 62 suara pemilih, tepat pukul 21:00 WIB atau 09:00 PM, pemilihan ketua RT 14 LK II Perum BKP Blok P dinyatakan ditutup dan dilanjutkan dengan penghitungan suara. Kertas suara pertama jatuh untuk calon nomor urut 1, incumbent . Selanjutnya perolehan suara kejar mengejar hingga posisi imbang 25 vs 25, lalu saling kejar lagi hingga berhenti di angka 29 untuk calon penantang dan 33 untuk calon  incumbent . Ketua RT lama kembali terpilih, lanjutkan. TPS calon ketua RT 14 LK II Perum BKP  Yang jadi pertanyaan, siapa pemi...
Postingan terbaru

Telokbetong

Bertahun tidak pernah ke Telukbetung agak lupa-lupa ingat tempat jalan yang namanya diambil dari nama ikan. Saya berdua istri kemarin hendak ke jalan ikan mas. Kendati sudah membuka g - maps , tapi tetap saja masih  mbelasuk-mbelasuk . "Malu bertanya sesat di jalan" begitu kan kata orang bijak. Dua kali di dua tempat kami bertanya. Yang pertama , ngejawabnya tidak tahu. Yang kedua , jukir, biasanya yang lebih paham dengan tempat-tempat. Posisi kami sudah di jalan ikan mas, hanya saja tidak ada tulisan menandakan itu di jalan ikan mas. Toko-toko seperti enggan memasang plang nama berikut nama jalan agar orang mudah menemukan alamat. Karena sudah di jalan ikan mas, langsung saja Pak jukir menudingkan jari menunjuk alamat yang kami cari yang cuma 50 meteran dari posisi kami bertanya kepadanya. Tempatnya tidak jauh dari gudang lelang. Dahulu kerap ke gudang lelang membeli jaring atau jala dan mengirimkannya ke Ranau untuk dipakai Ayah melawai (mencari ikan) di Danau Ranau. Atau ...

Mengenang Kengerian

Tadi saya dan istri lewat depan bekas kantor LE Jl. Diponegoro, Kupang Teba. Saya pikir masih kosong tak berguna, ternyata difungsikan jadi markas Badan Gizi Nasional (BGN) entah milik siapa. Di gedung berdinding kaca gelap dan sekat-sekat kaca, itulah dulu (tahun 2000) saya terbirit-birit lari dari lantai 3 turun ke bawah dan keluar dari gedung karena digoda makhluk astral penunggu gedung itu. Sepertinya makhluk astral di situ tak senang tempat tinggal mereka dikotori dengan gerakan dan bacaan salat. Mereka pengin tempat itu suci sebagaimana mereka tinggal di kegelapan, bebas dari ruh islami. Karena selesai kerja malam saya salat lalu berebah tidur, pagi baru pulang ke rumah di BKP. Pikir si makhluk astral di situ, "Ini siapa berani-beraninya tidur di sini, digodain dulu, ah." Ya, takutlah saya. Tadi sambil lewat saya sempatkan menoleh, lho jadi markas BGN rupanya. Untuk membatasi akses orang yang tidak berkepentingan, dipasang pagar seng di halamannya. Khusus karyawan yang...

Curhatlah ke Tetangga

Tetangga yang opname di RSUD dr. A. Dadi Tjokrodipo, tadi magrib saya lihat sudah salat berjemaah di masjid, tapi tidak lagi sebagaimana biasa ia duduk berzikir dan pulang paling belakangan setelah semua jemaah pulang. Selesai doa dipandu imam sepertinya ia bergegas pulang. Barangkali kondisi badannya belumlah fit betul pasca-perawatan di RS. Jadi tidak sempat mengobrol dan menanyakan bagaimana kondisi kesehatannya serta sakit apa gerangan kemarin. Tapi, saat saya pulang beriringan dengan tetangga depannya. Saya iseng bertanya kepadanya tentang penyakit yang diidap tetangganya itu. Apa jawaban (teman jalan subuh saya itu), “Entah, tidak nanya.” Jawaban simpel, tapi menyimpan makna. Makna yang saya maksud, peduli dan empati antartetangga. Di kota, harga sebuah perhatian begitu mahal. Orang mudah terinfeksi virus ketidakpedulian. Tak acuh pada tetangga yang seyogianya butuh perhatian. Karena susah mencari dan mendapatkan simpati, orang memendam perasaan sakit, enggan curhat takut...

Antologi Lagi

Kemarin ada dua pengumuman hasil kurasi puisi. Satu , Festival Sastra Yogyakarta (FSY). Dua , puisi untuk merayakan HUT ke-15 Sastra Bulan Purnama. Yang pertama FSY, menghasilkan 20 besar puisi terpilih, dibagi menjadi kategori juara 1, juara 2, dan juara 3 serta dua puisi favorit 1 dan favorit 2. Tercatat 4.136 puisi masuk, dikurasi tim kuratorial (Ramayda Akmal, Fairuzul Mumtaz, Paksi Raras Alit). Di samping 5 puisi kategori juara dan favorit di atas, ada 15 lainnya dinilai memiliki keunggulan sehingga menggenapi 20 besar Sayembara Puisi Nasional. Yang kedua, dari 214 puisi yang masuk meja tim kuratorial, setelah dibaca dan dinilai dari segi tema, yaitu "kota kita" dan sebagainya, dicari puisi yang memenuhi syarat, maka dinyatakan 158 puisi lolos kurasi akan dibukukan dalam antologi 15 tahun SBP. Dari 158 penyair lolos terdapat beberapa penulis generasi muda dari pulau garam Madura. Beberapa tahun terakhir, khususnya dari kabupaten Sumenep muncul penyair muda sebagai peneru...

Diagnosis yang Lamban

Kemarin bakda magrib Bapak RT mengajak besuk tetangga yang opname di RSUD A. Dadi Tjokrodipo, kumpul dan berangkat dua mobil bakda isya. Sampai RS naik lantai 3, salaman dengan tetangga itu, telapak tangan dan lengannya terasa hangat, menandakan suhu badannya belum normal. Waktu kami besuk ia baru saja pindah dari IGD ke ruang perawatan. Rombongan ibu-ibu RT besuk waktu masih di IGD itu, istri tidak ikut karena tak dikasih info oleh mereka. Istri pengin nengok, tadi siang kami berdua balik lagi ke RS. Salaman terasa hangat, lho suhu tubuhnya kok belum normal, ya. RS Tjokrodipa kota Bandar Lampung  Pengalaman saya yang sudah-sudah, 3 hari setelah minum obat penurun panas sebagai pertolongan pertama, tapi panas badan tidak turun juga. Atau turun naik, saya langsung ke dokter praktik di klinik. Kalau kata dokter periksa darah, berarti diagnosis awal dokter sudah menduga antara DBD atau tipes. Pernah saya kena dua-duanya. Ya DBD, ya tipes. Hal seperti itu agak berat menanggulanginya,...

Dag Dig Dug

Dahulu, saat istri masih aktif ngajar, di sela menunggu dia berkegiatan MGMP, saya pergi ke masjid salat Dhuha. Suatu waktu, dia MGMP di SMP 1, saya niatkan Dhuha di masjid Ahmad Sarbini Jl. HOS Cokroaminoto, sayangnya teralis pintu masuknya digembok, saya beralih ke masjid Taufiqurrahman Jl. K.H. Mas Mansyur. Tadi, ‘safari jumat’ saya niatkan ke masjid Ahmad Sarbini lagi, dahulu pernah jumatan di situ. Begitu masuk halaman parkir kok sepi, tidak ada tanda-tanda bakal diselenggarakan salat jumatan. Saya langsung keluar dan berubah haluan hendak ke masjid Al-Bakrie saja, ternyata tidak jauh dari masjid Ahmad Sarbini, rupanya ada masjid lain. Nama masjid Robeatul Aziz di pagarnya  Terkaget saya melihat motor nggak lagi ada di tempat parkirnya. Wah, berabe kalau hilang. Masa hilang sih, padahal sudah ditambahkan kunci roda. Rupanya dah dipindahkan secara dipaksakan oleh jukir. Oalah, apakah di situ bukan tempat parkir? Mengapa tidak ada petunjuk pengarah agar parkir di tempat yang...