Selain dirayakan sebagai Hari Raya Idulfitri, 21 Maret dirayakan sebagai Hari Puisi Sedunia. Sebentar, sebelum lanjut, perlu dikemukakan bahwa hari raya ada dua versi. Pertama, versi Muhammadiyah, yaitu jatuh pada 20 Maret kemarin. Kedua, versi Pemerintah yang diikuti Nahdiyin, jatuh pada 21 Maret hari ini. Ucapan selamat hari raya, minal aidin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin, berseliweran di grup WhatsApp dan menjadi hiasan dinding media sosial. Ada yang sebatas ucapan konvensional dari peninggalan rezim Orde Baru yang tak lekang oleh zaman, itu saja. Ada yang disertai foto keluarga dan larik-larik puisi. Joko Pinurbo yang akrab disapa Jokpin, seorang penyair Jogja, menulis puisi tentang ibadah puisi sebagai interpretasi ibadah puasa yang dijalankan umat Islam selama satu bulan penuh, kemudian merayakan Lebaran dengan napas kapitalis dalam bentuk belanja barang yang serba baru dan makanan yang serba enak.
Setelah ikut salat jumatan bersamaan dengan peresmiannya oleh Menteri Agama Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar pada 12 September 2025, baru hari ini saya kembali jumatan Masjid Raya Lampung Al-Bakri sebagai pengejawantahan perjalanan 'safari jumat' yang saya lakukan mulai sejak 3 Januari 2026. Karena cukup lama (setengah tahunan) tidak ke sana, saya tidak tahu bagaimana kondisi di dalam masjid, terutama berapa baris karpet yang disediakan untuk jemaah, maka saya mengantisipasi dengan membawa sajadah kecil. Eh... rupanya karpet yang tersedia ada barangkali 10 baris. Jumlah persisnya mesti dihitung. Seusai salat jumatan di Masjid Al-Bakrie Saya tidak menghitung sehingga tidak tahu persis ada berapa bariskah, tapi lebih dari 5 baris. Alhasil, praktis sajadah kecil yang saya bawa buat digunakan berdua (saya dan anak), tidak perlu digelar melapisi karpet yang disediakan masjid. Setelah maju tiga kali berpindah, saya di shaft kedua di belakang khatib. Yang menjadi khatib bukan orang asing...