Langsung ke konten utama

Postingan

Meraba Jantung Metro

Sayang sekali bermalam di kota tua ini berhiaskan hujan. Niat semula hendak keluar melihat seperti apa nuansa malam di sini. Ah, di Metro juga hujan gelisah, pengin senantiasa turun menghiba ke tanah. Kupikir hanya di kota Bandar Lampung saja yang begitu. Kota tua ini penuh cerita. Lama jadi inang pengasuh (ibu kota) bagi kabupaten Lampung Tengah, akhirnya berdiri di kaki sendiri, mandiri sebagai kota dengan wajah semakin menua, setelah membelah diri dan terpisah dari kabupaten yang dulu disusuinya. Masjid Agung Taqwa Kota Metro  Sayang tak berhasil menikmati lekuk liku tubuh malam di jantungnya. Jantung kota Metro ini sesungguhnya di mana. Masjid Agung Taqwa angkuh di sudut persilangan empat jalan yang di tengahnya ada tugu sebagai pemisah ke mana langkah orang bergerak. Lalu lintas tidak begitu ramai. Orang datang dan pergi dari luar kota, menjadikan kota Metro ini sebagai titik jeda sesaat melalui terminal. Orang transit ke penjuru Lampung. Datang dari Jawa mencari ladang kehidu...
Postingan terbaru

Motoran ke Metro

Kami dapat undangan hajat manten di Desa Banjarejo, Kecamatan Trimurjo, Lampung Timur. Kubilang sama istri, "Kita motoran aja, lewat jalan Untung Suropati, konon lebih cepat dan aman ketimbang lewat jalan raya Natar yang agak ngeri - ngeri sedap  sebab banyak kendara truk gede - gede . Berangkat jelang pukul 11 dari rumah, mampir soto SSB buat sarapan. Pukul setengah 12 selesai sarapan bergerak menuju jalan Untung lewat By Pass, pelan menyusurinya terus lurus sesuai petunjuk saudara yang anak gadisnya kuliah di PGSD Unila kampus Metro. Tiba di kota Metro kurang dari pukul 1 siang. Masih banyak becak kayuh di Metro  Wah, cepat juga kendati hanya dengan kecepatan 40 kilometer per jam. Kendati jalan mulus, tapi banyak lubang jeglokan yang sangat membahayakan apabila njengkang . Padahal, kalo pengin ngebut bisa aja sih karena jalanan relatif sepi dari lalu lintas kendaraan, bahkan hampir terbilang lengang, lewat kebun karet. Setelah keliling-keliling cari hotel, habis salat Zu...

13 Tahun di X

Lagi, diingatkan X sudah berapa tahunkah saya bergabung di akun media sosial yang dahulu didirikan Jack Dorsey, Noah Glass, Biz Stone, dan Evan Williams dengan nama Twitter.Inc. pada 21 Maret 2006 dan diluncurkan bulan Juli. Enam tahun sejak didirikan, tercatat lebih dari 100 pengguna dengan aktivitas menge-tweet 340 juta kicauan per hari. Pada November 2013 go public dan enam tahun setelah itu, pengguna Twitter memiliki lebih dari 330 juta pengguna aktif. Pada 25 April 2022, Twitter.Inc. menyetujui pembelian senilai $44 miliar oleh ‘Mas’ Elon Musk (CEO Space X dan Tesla. Tetapi, penjualan ini tidak berjalan mulus karena pada 8 Juli ‘Mas’ Elon Musk membatalkan kesepakatan yang membuat harga saham Twitter jatuh merosot. Keadaan itu memicu petinggi Twitter berang, menggugat ‘Mas’ Elon Musk di Pengadilan Chancery Delaware tiga hari setelah ‘Mas’ Elon Musk, Bos Tesla, membatalkan kesepakatan (tanaggal 12 Juli 2022). Merayakan 13 tahun di Twitter (X) Gugatan petinggi Twitter itu tak ur...

Hari Gizi dan MBG

Hari Gizi Nasional (HGN) sudah lama berlalu, tepatnya jatuh pada tanggal 25 Januari. Tiap tanggal itulah selalu diperingati. Hari Gizi Nasional merupakan momentum penting dalam menggalang kepedulian serta meningkatkan komitmen berbagai pihak untuk mewujudkan Indonesia Sehat melalui penerapan konsumsi gizi seimbang dan dukungan terhadap produksi pangan yang berkelanjutan. Peringatan HGN ini menjadi sarana strategis dalam penyebarluasan informasi dan edukasi gizi kepada masyarakat secara luas. Dalam rangka memperbaiki gizi anak usia sekolah, ibu hamil (bumil), dan lansia (orang lanjut usia), maka pemerintah mengadakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di bawah Badan Gizi Nasional (BGN) dan dijalankan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lapangan. Peringatan HGN ke-66 | foto: kemenkes.go.id | Kendati di lapangan banyak menimbulkan masalah, di antaranya menu makanan yang disajikan masih berupa bahan mentah. Telur mentah, jagung mentah, dan ada juga ayam goreng yang menguarka...

Menuju Ramadan

Alhamdulillah jumat pekan lalu saat safari jumat di masjid Baiturrahim, di Beringin Raya, ingus yang sedang meler bisa “tahu diri”, tak iseng mengganggu selama salat jumat berlangsung, dari khutbah hingga selesai dan salat ghaib untuk almarhum (warga di sana) yang meninggal dunia. Kemarin, saat saya safari jumat di masjid Husnul Khatimah, masih di Beringin Raya juga, ingus yang sudah mengental masih sering minta dienyahkan dari rongga hidung. Setelah selesai salat tahyatal masjid dan lanjut dhuha, saya sempatkan buang air kecil dan ingus agar tenang saat salat jumatan. Masjid Husnul Khatimah, Beringin Raya  Betul saja, salat jumatan saya bisa khusyuk tanpa gangguan ingus yang usil minta dibuang. Dalam khutbahnya, khatib menjelaskan perihal betapa agung bulan Sya’ban (bulannya Nabi Muhammad SAW). Karena itu sang khatib mengimbau jemaah memperbanyak amal kebajikan jelang Ramadan. Kata khatib, “Nikmat sehat itu baru terasa ketika dalam keadaan sakit. Orang yang sudah mati minta ...

“Berpulang tanpa Utang”

Beruntungnya tidak keluar grup WhatsApp even menulis puisi buat antologi, itu salah satunya tidak kehilangan informasi baik dan tidak atau kurang baik. informasi baik, misalnya, adanya even baru atau lanjutan untuk menulis bareng (nubar) lagi. Informasi tidak atau kurang baik, seperti halnya kabar duka bila ada di antara penyair (teman nubar) yang berpulang. Kemarin saya hanya menyinggung satu nama penyair yang berpulang, ia adalah Drs. Abdul Karim, M.M. alias Abah Karim alias Oka Miharzha S (nama pena), penyair dari Tanah Laut, Kalimantan Selatan yang juga menjadi Penasihat di Dewan Kesenian Tanah Laut. Karena pagi kemarin, memang baru namanya yang menghiasi grup WhatsApp perihal kabar duka (ada di beberapa grup). Ucapan dukacita Koperasi Insan Sastra Indonesia  Padahal, Mas Oki Tadhan (Edi Kayatno) yang berpulang pada pukul 07.21 AM (WIB), tapi kabar duka berpulang itu baru disebar pada grup WhatsApp “Antologi Sufistik” tepat pukul 12.08 AM (WIB). “Antologi Sufistik” adal...

Belum Ia Baca

Tadi malam rampung saya membaca 103 puisi dari 49 pemuisi (termasuk saya) dalam buku “HIJAU” yang hampir kesemuanya menarasikan hutan, pohon, hijau, melestarikan alam serta bencana apabila hutan gundul karena kayu ditebangi secara destruktif. Pagi ini, kabar duka disampaikan admin di WhatsApp Grup (WAG) kontributor "HIJAU" bahwa satu penulis dalam buku ini berpulang. Ia bernama asli Drs. Abdul Karim, M.M. (Abah Karim) dan dalam tiap karya tulis memakai nama alias (nama pena) Oka Miharzha S. Ucapan dukacita Dewan Kesenian Tanah Laut  Ucapan belasungkawa dan doa semoga beliau husnul khotimah disampaikan teman-teman di WA grup. Yang membuat saya sedikit masygul, bahwa buku “HIJAU” jatah untuknya belum sempat dikirimkan admin/panitia karena beliau pesan kaos juga. Akan dikirim bersama. Dengan begitu, berarti 3 judul puisi karyanya yang ada di buku “HIJAU” belum sempat ia baca setelah termuat di halaman buku (halaman 193–195). Kendati sudah dibacanya pada saat menulisnya, na...