Langsung ke konten utama

Postingan

Petik Pahala Kebaikan

Ada dua penyintas penyakit dalam yang kami besuk pagi tadi. Satu ibu dan satunya lagi bapak. Yang ibu, habis operasi breast tumor sementara si bapak juga operasi batu ginjal. Kedua-duanya tampak sehat, hanya saja si bapak terlihat kurusan. Kedua penyintas di atas adalah anggota grup bapak/ibu pensiunan guru yang membentuk klub arisan reuni. Saya jadi semacam penggembira, diminta menemani suami salah satu ibu-ibu pensiunan yang beberapa waktu lalu saya ikut mereka reuniun. Karena sudah lama tidak reunian lagi, tidak ada yang mau ambil giliran jadi semacam macet di jalan, maka tadi salah satu ibu berinisiatif mengambil giliran. Kemudian untuk selanjutnya akan dikocok nomor supaya ada kepastian giliran siapa. Kami besuk kedua penyintas di rumah masing-masing. Si bapak kebetulan tidak jauh dari rumah, dibedakan Blok. Kami Blok P, ia Blok O. Si bapak ini setelah pensiun jadi imam salat 5 waktu masjid Blok O dan imam Subuh masjid Al-Anshor. Pasca-operasi ini, katanya ia masih belum ...
Postingan terbaru

Pulang ke Rumah Sunyi

Ramalan cuaca yang muncul di layar hp menyatakan hari cerah. Alhamdulillah, batin saya. Kendati tidak berencana ke mana-mana, menyiasati cuaca penting juga. Sebagai kompas atau pedoman bahwa cuaca akan baik-baik saja atau sebaliknya akan merundung kita. Pulang jemaah subuh di masjid, saya mesti buka hp . Bukan untuk scroll memeriksa media sosial, melainkan untuk ngaji Surah (tertentu) yang rutin saban pagi (subuh) saya baca. Surah apakah itu? Hmm meh… mau tahu aja apa mau tahu banget ? Puisi "Pulang ke Rumah Sunyi" Gimana kalau saya kasih tahu isi, mau nggak ? Itu camilan favorit yang kami jadikan teman ngopi. Tapi, pagi ini belum ada penjual gorengan yang buka lapak (gerobak). Beruntung Iman Jaya, toko kue jajanan pasar di Kemiling sudah buka. Saya memang hendak ke ATM buat ngasih tali asih untuk anak konco lawas yang kemarin senja ijab kabul di Omah Pakem, Jogja dan dilanjutkan resepsi malam harinya bakda Magrib. Saya tak hadir, hanya bisa kasih doa dan ucapan se...

Di Bawah Atap Rindu

Opor ayam kampung yang dibikin oleh istri kemarin tidak kami gandengkan dengan ketupat sebagaimana lazimnya seperti Idulfitri lalu. Nasi yang jadi jodohnya di Iduladha ini. Anak-anak tak pulang pada hari raya haji ini. Telah aku santap tadi sepulang salat id. Setelah ‘berpuasa’ alias tidak makan dan minum terlebih dahulu sebelum berangkat ke masjid untuk salat id. Beda dengan hari raya besar yang mesti atau disunahkan untuk makan minum terlebih dahulu. Ilustrasi | sejarah idul kurban | Hajinews.co | Diiringi lagu “Adaptasi” dari solois Tulus melalui MP3 yang ada liriknya “Dari Rabu hingga Rabu lagi” seperti mengena betul karena Iduladha ini jatuh pada hari Rabu dan yang berdiam dalam rumah hanya kami berdua istri tanpa anak-anak. Dilanjutkan Tulus, “Kita di bawah atap rindu-Nya yang sama, menunggu tenangnya langit pagi.” Sejalan pula dengan isi khutbah khatib salat id tadi, hendaklah senyampang masih hidup dan sehat, suami dan istri saling kasih mengasihi. “Ada suami-istri yang...

Pemburu Santan

Karena besok lebaran haji, hari ini istri mau buat opor. Ayam kampung potong sudah siap sejak dua hari lalu, dikarantina di freezer. Saya bagian ke pasar belanja bumbu dapur dan santan. Tak terkira banyaknya yang butuh santan, antrean panjang mengular meliuk-liuk si 'pemburu santan'. Tadinya saya ke pasar tempel SPBU Langkapura. Setelah dapat bumbu giliran santan, tapi melihat antrean mak-mak saya beralih ke pasar tempel di dekat masjid Baiturrahim. Sama juga kudu antre. Weslah , kadung pindah daripada cari tempat lain belum tentu ada. Saya nyelip di barisan mak-mak. Barisan mak-mak pemburu santan yang mengantre di pasar tempel SPBU Langkapura  Saya lanang sendiri, lainnya wadon . Yo , weslah orak opo - opo . Dahulu, waktu zaman edan langka minyak goreng, saya juga suka-suka saja nyelip pada barisan mak-mak demi dapat minyak goreng 2 liter dengan harga murah. Macam zaman perang saja, menguber minyak goreng orang mesti bersabar mengantre. Dari urutan sekian belas, nggak me...

Kematian Berkesiur

Lagi, kabar kematian berkesiur seperti tiupan angin pagi yang lembab oleh hujan semalam. Aloeth Pathi (Noer Lutfi) divisi sastra Lesbumi PCNU Kabupaten Pati, pagi ini di grup WhatsApp terkabar meninggal dunia. Dan, lafaz ' Innalilahi wa inna ilaihi raji'un ' bertumbuhan memekarkan kembang duka. Penyair kelahiran Pati, ini menyematkan nama kota tempatnya lahir menjadi nama pena dalam aktivitas kesastraan. Mengingatkan saya pada sosok Akhlis Suryapati yang juga kelahiran Pati dan menyisipkan kata 'pati' pada nama belakangnya. Dulu wartawan Minggu Pagi, kini Akhlis dikenal sebagai sutradara. Ada lagi penyair asal Pati menyematkan 'pati' pada namanya, yaitu Ragil Suwarno Pragolapati. Nama dan puisinya kerap dibaca dalam acara "Apresiasi Sastra" di radio Retjo Buntung, Jogja, tahun 1980-an. Balik dari Malang 1990, saya baca di KR, RSP dinyatakan moksa di pantai laut selatan saat laku yoga sastra . Sebelumnya ada seorang penyair laskar PMK (Puisi ...

Apa pun, Tetap Ngopi

Betapa syahdunya cuaca, sepagi ini hujan dengan langkah pelan menapaki jalan yang dilaluinya. Tidak cepat jalannya (deras jatuhnya), tapi tak mengizinkan (menghalangi) saya untuk keluar mencari camilan teman ngopi. Apa daya. Untung ada persediaan biskuit dan buah pir. Jadi ada persimpangan kebiasaan. Biasanya ngopi bersahabat gorengan, pagi ini dipertemankan dengan buah dan biskuit. Yang penting ngopinya, tak peduli apa yang dipersandingkan dengannya. Sekadar ilustrasi | foto: Basajan.net | Seperti tagline teh botol yang sudah ngetop sejak zaman saya SMA tahun ‘80an yang kala itu masih satu varian rasa, teh melati thok . Sekarang sudah ada rasa madu, anggur, dan jeruk. “Apa pun juga makanannya, minumnya teh botol COCOK.” 🤔 Frasa COCOK itu sekadar buat memplesetkan merek teh botol yang sudah amat  legend tersebut. Saking legendarisnya teh botol COCOK itu, muncul kemudian merek teh botol lainnya. Buat apa tho ? Tentu buat bermain di gelanggang persaingan. Memang begitulah ...

Black Out

Tadinya agak ragu berangkat apa tidak, tahlilan nujuh hari almarhum Pak RT yang wafat Sabtu, 6 Mei 2026 – (lihat “Yang Pulang Tengah Hari”)– oleh sebab mati lampu tiba-tiba. Karena memang sudah niat hendak hadir tersebab kedekatan hubungan anak almarhum dengan istri saya yang bestian , gelap jalanan perumahan kami terabas. Di TKP sudah banyak jemaah tahlilan yang hadir menempati kursi-kursi di bawah tenda. Saya mencari posisi duduk yang jauh dari asap/bau rokok, agak tengah-tengah belakang orang-orang yang bagian dari jemaah “hisapiyah” alias ahli hisap, bukan ahli hisab. Sementara istri saya diantar masuk ke dalam rumah sahibul musibah. Sosok ustaz K.H. Gusnedi, S.Ag di kejauhan sedang menyampaikan tausiahnya.  Saya sangat sensitif terhadap asap rokok. Dalam hal ini, saya mengarang puisi yang menarasikan ‘mengapa orang kok merokok di tempat tahlilan’ apakah tidak bisa menahan diri barang sebentar, nanti setelah pulang ke rumahnya baru merokok. Agak aneh memang saya. Pernah p...