Bertandang ke rumah Zahdi Basran, Jumat (3 Juli), saya ditawari kopi. Semula saya enggan karena kopi yang saya minum di rumah masih setengah gelas, saya tinggalkan berangkat ‘safari jumat’ yang memang sengaja meniatkan menuju masjid Nurul Iman di jalan Untung Suropati, Labuhan Ratu. Sebab, nanti sepulangnya, hendak ke rumah Zahdi Basran ini. “Di rumah tadi kopi saya masih setengah gelas,” kilah saya. Langsung disambar Zahdi, “Tapi kan lain, ini kopi dari Liwa,” ujarnya seperti hendak pamer kalau di rumahnya selalu dapat kiriman kopi dari Liwa. “Ya, bolehlah, tapi jangan dikasih gula,” kata saya. Lama juga tidak menyeruput kopi tubruk sangrai heni (pasir) dan ditumbuk di lesung. Kopi yang baru dipetik di halaman rumah panggung di pekon - pekon | credit foto: scopophilia.net | Menyangrai ( roasting ) kopi pakai heni (pasir) dan menumbuknya di lesung memang tradisi orang di pedalaman Sumatra atau istilahnya jelma pekon (orang kampung). Rasa kopi beda dengan roasting (sangrai) a l...
Zahdi Basran, S.Sos, nama kawan sesama pensiunan KKT (Kerabat Kerja tamTAMA) serta Lampung Ekspres Plus. Namanya sudah saya singgung sekilas pada tulisan di blog ini hari Sabtu (4/7) selumbari . Seusai ‘safari jumat’ di masjid Nurul Iman jalan Untung Suropati, saya menyambangi ia ke rumahnya di Labuhan Dalam. Si kawan ini penyintas stroke sejak tahun 2009 pasca-pileg tahun itu. Ia nyaleg berperahukan partai beringin alias partai kuning. Nyaris jadi, kalah perolehan suara sedikit dari anaknya ketua partai provinsi. Setelah jadi, anak ketua partai nyalon sebagai wakil wali kota mendampingi mantan wakil wali kota sebagai calon wali kota. Obrolan warna warni di teras rumah Zahdi Dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) 2010, KHADO (Kherlani – M. W. Heru Sambodo) kalah telak melawan pasangan Herman HN–Thobroni Harun. Qodarullah, jika KHADO yang menang, si kawan ini dapat tiket PAW untuk beneran jadi anggota legislatif. Tapi, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. ...