Kemarin-kemarin logo Google berwarna pink, melihatnya bagaikan memandang cewek di hari valentine, cantik menawan. Ada karakter pemain bola menegaskan kejuaraan piala 🏆 dunia sedang berlangsung. Tapi, kenapa pink? Tidak kontradiksi dengan sportivitas bola? Hari ini tiba-tiba logo Google berubah rupa dan warna. Ada karakter alat musik gendang, suling, dan piano. Ada pula mikropon, alat bantu untuk melangtangkan vokal orang yang berbicara atau sedang menyenandungkan lagu. Yang menarik, ada karakter truk sedang melaju di jalan raya. Doodle Google merayakan Dangdut Saya ketik di peramban Google menanyakan apa makna Doodle yang ditampilkannya. Ternyata Hari Musik Sedunia. Agak unik, yang diangkat Google sebagai tema adalah alat musik dangdut, salah satu genre musik populer yang amat disukai oleh sebagian (tertentu) masyarakat Indonesia. Saya katakan cuma "sebagian" untuk menafikan. Karena tidak semua masyarakat Indonesia suka dangdut. Artinya, tidak bisa digeneralisasi. Tapi...
Sebagai ketua RT. 05 Blok N/O yang berarti pamong bagi warganya, Pak Syukur dalam “mengabdi” kepada warganya tidak pengin bertindak setengah hati. Satu contoh, masalah kurban —dikemukan putranya saat menyampaikan sambutan tahlilan nujuh hari kepulangan beliau. Daging kurban bagian warga di RT yang ia bawahi, diantarkan langsung olehnya atau dibantu oleh putranya ke rumah-rumah warga. Putranya pernah mempertanyakan hal itu, “Mengapa, sih , Yah, kok , mesti diantarkan. Bukan warga yang mengambil?” “Itu bentuk tanggung jawab Ayah,” jawabnya. Putranya pun maklum. Apa yang dilakukan Pak Syukur itu sebuah pengabdian totalitas. Beliau memiliki keperibadian yang penuh tanggung jawab. Orang Batak mengistilahkan agak laen . Iduladha 1447 H tak ada lagi peran penuh dedikasi itu. Nama putrinya terdaftar sebagai salah seorang pekurban. Dan, tentu saja digandengkan dengan namanya sebagai binti bagi putrinya. Namanya ikut dilangitkan dalam gema takbir penjagal. Kendati beliau tak hadir ...