Langsung ke konten utama

Postingan

Masjid Tua yang Baru

Masjid tua dulunya, lalu oleh warga cum pengurus atau takmir disepakati untuk dibongkar dan dibangun ulang, muncullah masjid yang representatif dalam arti baru, besar, megah, dan artistik membuat jemaah nyaman beribadah. Sewaktu proses pembangunan ulang itu, tentu butuh biaya yang besar. Setiap masjid tentulah punya tabungan di bank yang didapat dari uang sedekah jemaah salat jumatan. Uang itu dapat dialokasikan untuk operasional harian masjid. Ornamen dinding pengimaman Masjid Baitul Muttakin, Kemiling Raya, ada replika pintu Kakbah  Untuk yang lebih besar, ialah renovasi masjid. Itu jadi pikiran pengurus masjid yang mengimpikan masjidnya megah, modern, nyaman, dan embuh apa maning. Bagaimana caranya mendapatkan uang untuk mewujudkannya? Carilah donatur! Setiap lewat jalan Imam Bonjol –tidak jauh dari bekas terminal Kemiling yang diubah menjadi bangunan pasar dan karena tidak tuntas kini mangkrak, menjadi prasasti si mantan pejabat– ada aktivitas menjaring uang pada orang l...
Postingan terbaru

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...

Tak ISBN, QRCBN Jadi

Puisi untuk buku antologi ini saya kirim 8 Juli 2025, bukunya baru saya terima 2 Juni 2026 pukul 13:14 WIB. Hampir saja genap 1 tahun lamanya proses buku ini dari mulai pengumpulan karya, kurasi, layout , cetak, dan terbit jadi buku. Mengapa sedemikian lama? Entahlah. Yang bisa saya kira-kira jawabnya, ialah karena PJ even ini admin pula di beberapa komunitas sastra yang sepanjang tahun 2025 hingga 2026 giat sekali menyelenggarakan even nulis bersama. Buku Terang Bulan Tepi Lautan  Agak lupa saya berapa even nulis puisi yang saya ikuti sejak 2025 yang kesemua bukunya sudah nagkring di lemari buku. Sementara buku Terang Bulan Tepi Lautan ini, baru selesai setelah kegiatan PJ-nya di beberapa komunitas agak mereda. Membuat buku kumpulan puisi bersama begini memang tidak tentu waktu selesainya. Yang paling membuat lama waktu prosesnya adalah ketika ‘menjaring’ uang pengganti ongkos cetak. Ada yang cepat transfer, ada yang lemot minta ampun. Memang betul, keadaan ekonomi para p...

Waktu yang Bersinggungan

Postingan blog  pada 28 Mei tentang pengumuman Sastra Rumah Bamboe di laman facebook mereka yang ternyata puisi saya “Pulang ke Rumah Sunyi” masuk 10 besar. Akan tetapi menyisakan tanda tanya yang bikin saya dag-dig-der di ruang sunyi. Saya katakan ruang sunyi karena Sastra Rumah Bamboe yang menaja even Rohmantik Jilid 3 memang memanggul tema “Pulang dalam Sunyi yang Abadi” sebagai upaya merawat sunyi agar melalui puisi kita pulang ke sunyi yang abadi. flyer even lomba puisi Rohmantik Jilid 3 "merawat sunyi" Sastra Rumah Bamboe  Tanda tanya itu, adalah siapakah atau berjudul apakah puisi yang akan dinobatkan sebagai juara 1. Jawabnya disuruh menunggu diumumkan pada 2 Juni. Terang saja dag-dig-der dong . Tadi malam hingga pukul 23 WIB atau 11 PM, belum ada. Tapi, hati yang sunyi terhibur oleh pengumuman hasil kurasi puisi untuk antologi PPN XIV Aceh. Saya lolos kurasi, terpincut dari 552 pendaftar ( submission ) dengan 1.018 karya puisi. Yang lolos 304 penyair, saya nang...

Puisi di Buku Yaa Siin

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Lolos Kurasi, Wak!

Tadi malam, pulang takziah tahlilan dua hari jemaah masjid yang wafat 30 Mei lalu, pukul 20:32 masuk pesan WhatsApp dari teman penyair di Banjarmasin, ia meng- share- kan pengumuman hasil kurasi antologi puisi PPN XIV Aceh. "Alhamdulillah... puisi kita lolos kurasi untuk antologi PPN XIV Aceh," tulisnya di pesan WhatsApp penuh perasaan syukur.  "Iya, alhamdulilah, barusan dua menit lalu saya lihat di Instagram," jawab saya menanggapi. Teman saya, penyair di Banjarmasin ini tak punya akun facebook dan Instagram. Tapi, yang bikin saya heran, ia bisa dapat flyer pengumuman kemudian menge- share -kannya ke saya. Dari manalah coba? Bisa jadi dapat share -an dari teman lain lalu meneruskan ke saya. Tidak berhenti di meneruskan ke saya saja, ia juga meneruskan ke beberapa grup WhatsApp yang ia ikuti. Bagus juga sih , biar teman penyair lain cepat mendapat tahu pengumuman dan cepat merasakan kegembiraan. Atau mungkin mengunggahnya ke akun facebook atau Instagram seperti te...

Kebersamaan Penuh Berkah

Biasa, Broh … saya ke Iman Jaya menjemput kawan ngopi pada Minggu yang cerah, tapi menurut ramalan cuaca di layar hp : berawan. Saya mendongak menghadapkan wajah ke atas langit tak ada awan sedikit pun, bahkan matahari ramah, hangat, tersenyum semringah di ufuk timur sana. Melewati rumah pertokoan (ruko) Springhill yang sebagian kosong karena pembelinya tidak kiyeng memberdayakannya sebagai apa gitu . Sementara sebagian lain memang kosong karena nggak atau belum juga laku sebab harganya susah dijangkau ekonomi kelas medium, terlalu premium harganya. Ilustrasi, keberkahan dalam kebersamaan | sumber gambar: Instagram Islamidotco |  Di halaman pertokoan Springhill saya melihat grup senam baru akan memulai bergerak badan. Dress code yang ibu-ibu kenakan, baju kaos biru celana (training) putih dan jilbab putih. Sementara bapak-bapak yang cuma enam orang berpakaian bebas. Tak ada lagi Pak Syukur di antara bapak-bapak itu. Kepulangan beliau ke Rahmatullah dua pekan lalu berarti ...