Tiga pot bunga wijayakusuma memekarkan 13 kuncup kembang tadi malam. Pot pertama (pot gantung) memekarkan 5 kuncup kembang, pot kedua (yang diikatkan di batang pohon kelengkeng, memekarkan 7 kuncup kembang, dan pada pot ketiga (juga pot gantung) memekarkan 1 kuncup kembang. Saya keluar pintu pada pukul 21:25, kuncup kembang sudah bermekaran. Hanya saja, mekarnya belum merekah sempurna. Saat hendak subuh ke masjid pukul 04:40, saya lihat bunga wijayakusuma sudah memekarkan kembangnya dengan sempurna. Semerbak bau wangi terhidu oleh hidungku, ohh.. sedap. Puncak perjalanan dari kuncup menjadi mekar Ini peristiwa berkembang yang kedua. Sebelumnya, bertepatan dengan valentines day Februari lalu, bunga wiku (wijayakusuma) ini memekarkan kembang untuk kali pertama. Saat itu tidak banyak, hanya 5 kuncup kembang yang mekar. Tapi, tetap saja menghadirkan pengalaman baru di teras rumah. Selama ini pot gantung berisi tanaman merambat (yang) dijungkirbalikkan (menggantun g) ke bawah. Se...
Mumpung sorot matahari terik menyengat, saya gotong kursi teras ke jalan di depan rumah, duduk berjemur. Perlahan hangat meningkat jadi panas, saya rasa punggung bagaikan disetrika. Balik badan, menghadap ke arah sorot matahari, bagian dada yang menghangat. Berjemur banyak manfaatnya, tetapi tidak sedikit lho orang yang tak menyukai, justru menghindar dari sengat matahari. Sambil berjemur, saya merancang kira-kira hendak ke masjid mana saya 'safari jumat' hari ini. Badan sih sudah berangsur pulih. Namun, daya dorong tenaga masih agak kekurangan karena dibatasi pantangan. Hanya mengandalkan telur rebus, ikan pepes serta tahu rebus sebagai sumber nutrisi saya selama sakit ini. Daging tidak diperbolehkan oleh dokter, kecuali digiling halus, boleh. Malnutrisi jadinya dong deh .... Buah dan sayuran juga disuruh setop dahulu selama pemulihan dinding usus dari serangan virus pemicu sakit tipes. Padahal, buah dan sayuran sumber serat yang dibutuhkan tubuh bagi sehatnya metabolisme.