Biasa, Broh … saya ke Iman Jaya menjemput kawan ngopi di Minggu yang cerah, tapi kata ramalan cuaca di layar hp : berawan. Saya tengok ke atas langit tak ada awan sedikit pun, bahkan matahari tersenyum semringah di ufuk timur sana. Melewati pertokoan Springhill yang sebagian kosong karena pembelinya tidak memberdayakannya sebagai apa gitu . Dan, sebagian lain memang kosong karena nggak atau belum terjual sebab harganya susah dijangkau ekonomi kelas medium. Ilustrasi, keberkahan dalam kebersamaan| sumber gambar: Instagram Islamidotco | Di halaman pertokoan Springhill saya lihat grup senam baru akan memulai gerak badan. Dress code yang ibu-ibu kenakan, baju kaos biru celana (training) putih dan jilbab putih. Sementara bapak-bapak yang cuma enam orang berpakaian bebas. Tak ada lagi Pak Syukur di antara bapak-bapak itu. Kepulangan beliau ke Rahmatullah berarti kehilangan bagi teman-teman senamnya. Kehilangan jokes - jokes yang sering dilontarkan dan kehilangan orang yang spi...
Lagi, TOA masjid melafalkan sepotong nama anak manusia yang berpulang ke Haribaan Ilaihi Rabbi tadi dini hari di bangsal dingin rumah sakit Bintang Amin. Sepotong nama yang sebelum disebutkan, tidak saya tahu. Maka, saya menebak-nebak yang mana orangnya. Mereka wajahnya. Begitulah, ada beberapa jemaah masjid yang hanya saya kenali wajahnya dan tidak namanya. Satu per satu dipertukarkan tempat berdiri berjajar di shaf terdepan atau belakang. Kadang di kiri kadang di kanan saya dalam salat lima waktu. Pagi subuh, di siang saat Zuhur, petang Asar, dan malam Magrib. Bendera kuning di mulut jalan tertunduk lunglai. Sesekali terjembak-jembak ditiup angin. Tangan saling berjabat seusai salat ditutup salam, tanpa menyebutkan nama karena itu kan sedang beribadah, bukan berkenalan. Kemudian kita pulang ke rumah masing-masing mengisi jeda dan bertemu lagi di ibadah berikutnya. Sampai akhirnya ada (di antara kita) yang dipanggil pulang ke Haribaan Ilaihi. Satu lagi bendera kuning terjembak-jembak ...