Langsung ke konten utama

Postingan

JPO Siger Milenial

Antara kelingan karo kelalen (ingat dan lupa), dahulu pernah jumatan di masjid ini. Sudah lama saya jadwalkan untuk 'safari jumat' di sini. Alhamdulillah hari ini kelakon . Ternyata ramai juga jemaahnya, terutama pegawai Pemkot Bandar Lampung yang gedung parkir kantor pelayanan satu atapnya terhubung dengan Masjid Agung Al-Furqon oleh jembatan penyeberangan orang (JPO) Siger Milenial. Saya sendiri belum pernah naik JPO tersebut. Sepertinya mesti sengaja karena aksesnya harus dari halaman parkir Masjid Agung Al-Furqon atau dari gedung parkir kantor pelayanan satu atap Pemkot Bandar Lampung. Di tengah-tengah jembatan persis di atas ruas jalan Diponegoro ada space semacam gardu pandang, biasa jadi tempat swafoto oleh pengunjung yang naik JPO. Latar belakangnya lalu lintas di bawahnya. Pemkot Bandar Lampung membangun JPO Siger Milenial, sepertinya pengin meniru DKI Jakarta memiliki JPO Instagramable, seperti: JPO Dukuh Atas, JPO Senen, JPO Sudirman tanpa atap, JPO Sumarno, JPO ...
Postingan terbaru

Gak Hilang, Baguslah

Nah, akhirnya sampai juga pada tanggal 15 September 2026 (2 hari yang lalu), seperti tertera di flyer kegiatan lomba cipta puisi bertema “Toponimi Lampung Barat” dalam ajang “Penghargaan Sastra Udo Z Karzi (Pengahut jak Udo Z Karzi 2026), penerimaan naskah puisi adalah 21 Juni – 31 Agusus 2026. Pengumuman hasil kurasi 15 Sepetmber 2026. Dua hari yang lalu, “Penghargaan Sastra Udo Z Karzi (Pengahut jak Udo Z Karzi 2026)" ini berisi 10 puisi nominasi dan 60 puisi pilihan. 70 puisi ini hasil seleksi ketat yang dilakukan kurator tunggal, yaitu Udo Z Karzi, terhadap 116 puisi yang masuk di periode itu. Pengumuman puisi nomine dan puisi pilihan ini dalam bentuk grafis dipublikasikan Udo Z Karzi di Instagram yang juga tertaut ke facebook-nya. Di facebook bisa dilihat dan dibaca sedangkan di Instagram-nya hilang (dihilangkan) entah karena apa. Udo Z Karzi mengirim grafis pengumuman itu ke WA saya berikut tautan Instagram-nya seraya menanyakan apakah saya bisa membukanya. Saya coba buka t...

Masuk Nomine

Kemarin (15/9), seperti tertera dalam flyer adalah hari pengumuman even menulis puisi "Penghargaan Sastra Udo Z Karzi 2026" tapi tidak ada tanda-tandanya, misal notif di layar gawai. Saya masuk ke facebook, eh... muncul langsung. Ada 5 grafis yang 1 berisi maklumat "Inilah Puisi Nomine dan Pilihan." Tapi, tak ada daftar puisi nomine, hanya ada daftar puisi pilihan dalam 4 grafis masing-masing berisi 15 puisi dan penulisnya. Saya pindah ke Instagram karena penasaran, sayangnya di akun IG Udo Z Karzi tak ada. Rupanya dihapus oleh Meta. Karena masuk waktu magrib, saya siap-siap ke masjid, tapi ada notif masuk. Udo Z Karzi mengirim tautan IG yang dihapus Meta itu. Tidak langsung saya buka tapi saya tinggal dulu ke masjid. Pulang dari masjid baru saya buka. Ada 6 grafis, di sini baru muncul daftar nomine yang mencantumkan nama saya sebagai salah satu dari 10 nama yang masuk. " Nerima nihan , Udo" balas saya ke WhatsApp Udo Z Karzi. Dibalasnya " jejama ...

Percakapan di Jalan

Kemarin sore melihat tubuh gocar yang kami tumpangi dari jalan Sultan Agung seperti dipupuri saya bertanya kepada sopirnya, "Apakah masih ada debu?" Jawabnya, "Masih ada dikit-dikit." "Waduh, kayak apa kabar rumah yang habis ditinggal lima hari," kata saya nyeletuk. "Habis dari mana, Pak," tanyanya. "Habis dari Cirebon," jawab saya. Begitulah percakapan kami menembus kemacetan di Kedaton. Ilustrasi | radio gocar di Jakarta yang menyiarkan percakapan interaktif penyiar--pendengar  Sampai di rumah, buka pagar saya lihat lantai teras tidak begitu begitu berdebu karena memang kami titipkan sama saudara. Yang dititipkan sebetulnya nyiram kembang. Rupanya teras disentor olehnya. Sampai rumah pukul 17:11, habis mandi istri ngepel lantai di bagian dalam rumah, mulai dari ruang tamu, kamar, ruang keluarga hingga ke dapur. Beruntung ventilasi sudah ditutup dengan koran jadi aman. Yang lebih beruntung lagi sebenarnya "untung masih nyimpan k...

Jakarta City

Seperti sudah saya prediksi di cerita kemarin, bahwa Senin jalan tertentu di Jakarta dibelit kemacetan parah. Begitulah yang terjadi tadi di jalan Hajjah Tuty Alawiyah, mengkhawatirkan bakal telat sampai stasiun Gambir. Beruntung bisa putar balik dan menyusuri jalan alternatif, tapi lepas dari sana dicegat macet lagi di jalan Mampang Prapatan. Dua titik itu krusial banget. Macet ga mesti hari Senin. Begitulah Jakarta City. Sependek pengamatan saya, semacet-macetnya berkendara di Jakarta, masih bisa dimengerti. Namanya juga Daerah Jhusus Ibu kota (DKI) Jakarta atau Daerah Khusus Jakarta (DKJ) saja. Macetnya Bandar Lampung pun (harusnya) bisa kan dimengerti karena jalan protokol di dalam kota Tapis Berseri itu cuma sebentang jalan Z.A. Pagaralam. Jika sudah macet ga bisa kan ditolong. Mestinya ada jalan lingkar untuk dapat keluar dari "lingkaran masalah." Sekadar ilustrasi | salah satu sudut jalan di Ibu kota Jakarta  Tapi, di samping tidak memungkinkan membuka jalan lingkar ...

Journey [Lagi]

Nyambung cerita berjudul "journey" 15/8 with Cakrabuana Gambir--Cirebon, siang ini saya dan istri journey with Fajar Utama Yogya dari Jatibarang to Pasar Senen. Waktu ke Cirebon sebulan lalu, menghadiri ijab kabul putri bungsu Abang. Ke Jatibarang Kamis lalu untuk menghadiri acara "ngunduh mantu" yang diadakan Abang hari Sabtu kemarin. Ceritanya di sini "journey [Lagi]." Bukan tak ada pilihan kereta pagi. Argo Cheribon yang dahulu itu namanya, tapi kini berganti nama menjadi Gunungjati jadwalnya ada di pukul 06:09. Dahulu naik Argo Cheribon, kepagian masuk Jakarta. Check in hotel kan pukul 14:00, daripada tegambuy di stasiun lama, baru ke hotel, koper kami titipkan di locker luggage storage (penitipan bagasi), lalu makan di Solaria terus kami tinggal jalan-jalan di Senen. Commuter Line Jabodetabek in the shot  Journey kali ini akan berhenti di Teduh Simatupang, sebuah hotel di kawasan Pasar Minggu yang sudah di- booking anak ragil. Ia kemarin ultah,...

Harapan Terbaik

Lazimnya waktu yang dicantumkan di surat undangan hajatan walimatul urusy adalah pukul 08 sampai selesai untuk prosesi ijab kabul, lalu dilanjutkan pukul 10:00 sampai selesai untuk resepsi. Abang saya mencantumkan pukul 11 di acara resepsi "ngunduh mantu" yang ia lakukan. Ini kurang lazim. Ngunduh mantu saya apit tanda kutip karena kurang lazim juga. Sebab, lazimnya yang ngunduh mantu itu keluarga mempelai pria. Ini yang ngunduh mantunya Abang saya ini, anaknya yang jadi mempelai wanita. Agak laen ini, ngunduh mantu terbalik demi harapan terbaik tentunya, bagi keluarga dan kedua mempelai. Ornamen tenda di gedung tempat acara  Ijab kabul sudah dilaksanakan 15 Agustus lalu. Yang punya "hajat" kedua mempelai atas biaya tanggung berdua. Dilaksanakan di Metland Hotel Cirebon dengan konsep intimate wedding  yang diundang besti keduanya dari lingkungan kerja dan keluarga besar kedua belah pihak dengan jumlah terbatas. Sementara tetangga serta teman Abang dan Yayu lumay...