Puisi buat antologi “ Ramu-Ramu Warteg ” yang ditaja Dewan Kesenian Kabupaten Tegal (DKKT) deadline 30 Mei dan diumumkan 16 Juni 2026. Ini kali kedua saya ikut even tahunan DKKT. Tahun lalu bertema “Teh, Imaji, dan Puisi” saya tidak lolos kurasi. Tahun ini Alhamdulilah lolos kurasi. Buat memperpanjang catatan. Ada yang nyelenéh (baca: nyeni) dalam cara DKKT mengumumkan hasil kurasi. Pada even lain, nama penyair diikuti judul puisi yang lolos kurasi, ditulis urut berdasar alfabetis. Pada even DKKT ini, judul puisi ditulis dahulu baru diikuti nama penyair dan dibiarkan acak. Terpaksa mesti melusuri secara perlahan dan hati-hati. Dipelototi satu per satu. Nama inyong nangkring di nomor urut 44 Hati-hati –maksud saya penuh debaran– harap-harap cemas, kira-kira gue lolos kurasi kagak , ya. Begitulah yang terjadi kemarin, sepanjang hari. Berkali-kali saya sambangi akun Instagram dan facebook DKKT yang disebut di flyer , tapi hingga sore tak menjumpai pengumuman hasil kurasi ter...
Saat hujan deras kemarin siang, saya tidak ngerasa kedinginan, tetapi justru ngerasa kepanasan. Saya diajak makan sop kambing di rumah kakak. Kontan badan jadi panas imbas sop itu. pulang ke rumah menjelang Asar, saya ngerasa kepala kok agak pening. Saya membatin, pastilah tensi saya mendaki ketinggian. Sedikit was-was. Bakda salat Asar, saya keluarkan alat pengukur tensi digital yang sudah lama tidak saya gunakan. Saya pasang baterainya dan memasangkannya ke lengan bagian atas, saya tekan " on ", hasilnya 136/69 mmHg dan detak nadi 81. Kata mesin pintar itu tensi darah saya normal. Setidaknya untuk lansia ukuran segitu dianggap normal. Tadi pagi saya jalan keliling perumahan. Sebuah cara untuk tetap sehat yang sederhana. Tidak perlu jadi member pada sebuah klub kebugaran yang kerennya disebut gym . Banyak orang jadi member gym dengan alasan agar terprogram. Tetapi, faktanya banyak yang tidak konsisten mempergunakan benefit keanggotaannya itu. Asas manfaat jadi m...