Langsung ke konten utama

Postingan

Mengisi Waktu

Saudara istri sesama asal Pacitan rajin sekali gowes di hari Minggu. Ia sempatkan mampir ke rumah minimalis kami. Saling bertanya kabar dan berbagi cerita tentang keluarga. Maklum jarang sekali ketemu, tentu kangen . Di jalan Teuku Cik Ditiro, bila saya sedang beli sayur di warung depan SMPN 14, acap juga melihat iring-iringan rombongan penggowes lewat. Senang melihatnya. Saya membatin, alangkah kuat jantung mereka itu. Ilustrasi | credits title : MainSepeda | Di Jakarta, oleh mantan gubernur Anies Baswedan, dibuatkan jalur khusus buat sepeda. Dengan begitu, para penggowes merasa aman dan nyaman saat gowes. Apalagi yang gowes tak sedikit wanita-wanita cantik dan manis. Tadi pagi, kembali saudara kerabat istri sesama asal Pacitan itu mampir. Cerita tentang hari raya kemarin mereka mudik ke Pacitan. Kami tidak mudik karena anak-anak dan mantu tahun ini gilirannya kumpul bersama di rumah. Saudara itu cerita, pernah katanya ramean gowes ke Kotabumi, menginap lalu besoknya balik lagi ke Ba...
Postingan terbaru

Duh, Gusti

Tanggal 1 April lalu diingatkan oleh facebook, berusia 1 tahun pertemanan kami (saya dengan Amiruddin Sormin) di facebook . Tadi pagi, kembali diingatkan oleh facebook , hari ini ulang tahun Amiruddin Sormin. Duh , Gusti . Cemana cara saya mesti memberikan kata selamat pada kawan yang telah tiada ini. Hanya ada satu cara tersisa. Saya langitkan doa ke Hadirat Allah SWT dengan membacakan Surah Al-fatihah yang pahalanya dihadiahkan baginya. Khususon ila ruhi Amiruddin Sormin alfatihah.... Husnul khotimah ia, ditandai wafatnya di hari Jumat. Selama karirnya sebagai jurnalis juga terkesan baik. Muncul di layar gawai  Saat ia wafat, 26 September 2025, pertemanan kami di facebook belum genap berusia 6 bulan. Interaksi kami di 'kotak ajaib' milik Meta hasil karya Mark Zuckerberg, itu tidak begitu intensif. Pasalnya, saya bukan tipe orang yang maniak bermain-main di facebook . Bahkan, pernah saya log out facebook selama 1 tahun. Muncul di layar gawai  Tetapi, saya rajin memb...

Gerah di Ruang Ber-AC

Seperti labu yang akan runtuh dengan batang yang kepayahan menyangganya. Seperti itulah perumpamaan mendung menjelang jumatan tadi. Saya batalkan rencana ‘safari jumat’ ke masjid Taqwa di Jl. Kotaraja, Tanjungkarang Pusat. Saya alihkan ke masjid terdekat, masjid Al-Anshor di Jl. Dua Jalur Perum BKP. Tepat pukul 11 saya tancap gas berangkat ke masjid. Memarkir motor lalu masuk ke dalam masjid. Sedang salat tahyatul masjid, hujan runtuh. Suhu dingin ruang masjid jadi lebih terasa dinginnya setelah cuaca hujan meningkahinya. Saya menggeser posisi duduk dari sejajar AC di tembok, mundur mendekati tiang masjid. ilustrasi, duduk di ruang ber-AC | enervon Saya pikir hujan akan lebat amat sehingga membasahi jemaah yang nekat berangkat. Lho, ternyata tidak lama kemudian reda. Berangsur-angsur jemaah berdatangan lalu mengisi shaf-shaf yang masih kosong. Perlahan-lahan suhu dingin ruang bertambah hangat oleh makin banyaknya kerumunan jemaah. Begitulah kegalibannya. Suhu tubuh manusia yang h...

Hari Buku, Baca Buku

Selama dalam masa pemulihan kesehatan pasca-demam tipes yang menjadikan pola makan mesti menghindari yang enak-enak. Kendati tetap bisa keluar mencari sayur dan kebutuhan harian, setelah kembali ke rumah, tak banyak gerak yang saya lakukan selain duduk manis di depan laptop, menulis. Tentu, yang tak pernah tinggal adalah memroduksi tulisan untuk menyuapi blog ini setiap hari. Karena itu, saya butuh ransum yang akan saya suapkan. Dari mana mendapatkannya? Salah satunya adalah membaca. Seperti sudah pernah saya tulis di blog ini, yang saya baca tidak mesti buku. Saya baca juga sosial media. Sebagian buku yang ada di rak buku sayah Tetapi, selama istirahat pemulihan kesehatan, ada beberapa buku yang segel plastiknya belum dibuka, saya buka dan sekalian membacanya. Terutama empat hari belakangan, saya merasakan asyiknya membaca buku cerpen pilihan Kompas . Dari hasil membaca terbit ide untuk mengarang puisi, saya tulis di WA pribadi. Seperti yang sudah pula saya tulis di blog ini,...

"Untung Ada Saya"

Mbah Google itu nolong banget . Apa yang tak kita ketahui, bila ditanyakan kepada ‘beliau’ niscaya akan diberi jawaban dengan sejelas-jelasnya olehnya. Bisa dikatakan nggak cuma nolong, tapi juga ngemong dan serba tahu sesuatu atau bagai macam hal ihwal yang mungkin amat awam bagi kita. Ada kabar lelayu di grup WhatsApp perihal kepulangan seseorang yang dari namanya masih awam bagi saya. Sejauh ingatan saya, belum pernah mendengar namanya apalagi profesinya. Karena di WAG komunitas sastra, tentu ia seorang sastrawan juga. Ilustrasi | credit title: SlashGear | Saya langsung googling mencari tahu. Mbah Google menjelaskan kalau beliau dijuluki sebagai dedengkot Teater Bulungan (ia lulusan di SMA VI Jalan Mahakam 1966) yang pada Maret ini genap berusia 78 tahun. Dikatakan juga ia jebolan FISIP UI 1975. Mafhumlah saya kalau ia adalah teaterwan yang kegiatannya itu tak terpisahkan dengan lakon berdasarkan naskah cerita yang beririsan dengan sastra. Dijelaskan pula ia aktif memba...

Solilokui

Dalam hal membaca, di era digital ini, buku fisik seperti kehilangan pamor. Dan saya, akan tetapi, masih suka saja menyelipkan satu-dua eksemplar buku tipis ke dalam tas selempang yang sering saya bawa ke mana-mana ketika bepergian. Kendati nanti, pada akhirnya, tidak juga saya baca tersebab perhatikan teralih ke gawai, tentu saja lain persoalan. Pada gawai itu juga ujungnya kesenangan membaca saya berpindah dari (mestinya) buku yang ada dalam tas. Saya buka X (twitter), baca di situ. Ilustrasi|puisi dalam lagu|youtube Saya buka Threads, saya baca di situ. Pun, ketika pilih buka Instagram, saya baca di situ. Dari ketiga platform sosial media tersebut banyak sekali bahan bacaan yang saya temui dan membuat waktu saya tersita, tenggelam membaca. Dahaga baca hilang. Pagi ini, ada dua 'igauan' di Threads yang membuat asam lambung nyaris naik ke ulu hati. Pertama , soal saos Abang bakso yang ternyata 0% bahannya cabe. Agar ada sensasi rasa pedas dan merah warna cabe, semua hasil reka...

Mitos-Mitos

Tadi pagi saya kembali jogging setelah lama vakum. Keliling perumahan hanya sandalan saja. Biasanya komplit dengan sepatu kets, bertopi. Celana tetap training, tapi kaos polo yang mestinya bukan untuk olaraga karena tadinya  gak begitu niat. Belum sampai rumah, digiring hujan gerimis tipis-tipis. Tapi, ada hal yang membuat bulu kuduk saya berdiri, hujan disertai panas. Hujan panas, begitu disebutnya. Mengapa bulu kuduk saya berdiri? Ingat mitos-mitos pada masa kecil dahulu, itu katanya “hujan orang mati.” Ilustrasi | gambar: Rumah Makan Duta Minang  Memang, sayup-sayup terdengar suara kabar lelayu dikumandangkan dari TOA masjid di daerah sekolah PERSADA. Jadi, ceritanya, di masa kecil di kampung dahulu, bila hujan panas, itu pertanda “hujannya orang mati.” Nah, c emana tak bergidik ketemu hujan panas. Ada kiatnya, akan tetapi, diajarkan orang tua. Supaya terhindar dari bala atau hal-hal yang kurang sedap bila terkena hujan panas. Kiat itu saya praktikkan. Sampai rumah ...