Satu per satu penyair MOZAIK pamit meninggalkan kota Bahari, kota Poci menuju rumah masing-masing. Menepi, mengadon kata jadi puisi lagi, untuk jadi antologi DNP berikutnya, tahun 2027. Itu pun kalau lolos kurasi. Jika lolos, berarti ada pemantik semangat untuk kembali berjumpa, berkumpul, kangen-kangenan, dan baca puisi di Plataran Sastra Piek Tegal atau panggung yang ditentukan tempat buku diluncurkan. Jika tak lolos, jangan jadi tangis di hati. Agak laen kota Tegal ini. Becak kayuh masih banyak. Jarang menemukan bentor (becak motor), becak yang ditenagai mesin motor atau motor yang dimodifikasi menjadi becak. Kemarin dari gedung DPRD kota Tegal, pulang ke hotel saya pilih naik becak, dibawa melawan arus oleh pebecaknya. Sempat bablas karena pebecaknya tak hapal peta jalan. Ujung-ujungnya, minta ongkos dobel. Pagi ini, ke stasiun kembali saya mbecak. Ladalah , jalan arah stasiun diportal. Berpuluh tahun ga pernah naik becak Oleh pebecaknya dibawa blusukan masuk gang sehingga ...
Rangkaian acara ulang tahun ke-33 Dari Negeri Poci (DNP) dan peluncuran buku MOZAIK telah dimulai tadi malam di Plataran Sastra Piek Tegal di Jl. Ciremai 4 atau yang dahulunya dikenal juga sebagai Gang Marpangat 4. Pembacaan esai Piek Ardijanto Suprijadi oleh Ida Fitri Yuzmanah dan Surat Sastra Piek Ardijanto Suprijadi untuk STA (Sutan Takdir Alisjahbana) oleh Faizal Umar dan puisi oleh Linda Jalil, Julia Utami, Lily Multatuliana, dan penyair lainnya. Pagi ini bertempat di Ruang Paripurna Gedung DPRD kota Tegal, peluncuran dan diskusi antologi puisi MOZAIK (Dari Negeri Poci 16) dengan narapramana (narasumber) pertama Suriali Andi Kustomo (Ketua Dewan Kesenian Kota Tegal). Dan, setelah rehat isoma dilanjutkan dengan tampilnya narapramana kedua, yaitu dr. Handrawan Nadesul (salah satu pendiri DNP) akan membincangkan persoalan kesehatan dengan topik "Sehat Seniman Mozaik." Moderator Nindra dan narasumber Suriali Dewan Kesenian Kota Tegal mengapungkan dua tagline , "Tanpa S...