Berangkat dari Jogja pukul 11:44 tiba di Pacitan pukul 15:45, berarti 4 jam dibutuhkan muter - muter untuk bisa keluar dari Jogja termasuk berhenti menunggu penumpang di titik jemput. Ada dua kali berhenti setelah saya naik, yaitu di depan hotel Arte jalan sarkem atau samping stasiun dan satu lagi tidak paham saya, tidak begitu memperhatikan karena mata digoda kantuk. Satu penumpang di daerah Semanu, Wonosari, terpaksa ditinggal karena tidak mengangkat panggilan telepon dari sopir. Setelah travel jalan lumayan jauh eh... dia menelepon. Tentu, tidak mungkin kan sopir putar balik demi menjemput dia. Sopir tidak asal main tinggal begitu saja. Sopir berkoordinasi dengan admin di kantor. Kalau kata admin tinggalkan, ya baru ditinggal. Aslinya Jogja--Pacitan atau sebaliknya, bisa ditempuh hanya dalam waktu 3 jam. Tapi, itu kalau mobil pribadi. Untuk travel tentu berbeda, ada kekecualian. Dibutuhkan waktu satu jam terbuang untuk muter - muter menjemput atau mengantar penumpang. Itu untuk da...
Kembali Google kasih peringatan dan perhatian pada hari ulang tahunku yang spesial. Tepat tadi pukul 09:00 muncul di layar gawai notifikasinya. Sebelumnya, Ayunda Sas mengirim ucapan di time line saya punya akun facebook . Kemudian disusul oleh besti Aminoto Unzir, nakanda Evi Afrita, dan sedulur Cici (Sri Istini) di Surabaya. Postingan kali ini, di hari spesial ini. Saya cerita tentang tiga perayaan ulang tahun di tiga kota. Kota pertama, Surabaya saat ulang tahun 2024 kami rayakan di lontong balap Pak Gendut Jl. Embong Malang 38, Genteng, Surabaya saat singgah dari menghadiri Jambore Sastra Asia Tenggara di Banyuwangi, 24--26 Oktober. Kota kedua, yaitu saat ulang tahun 2025. Kali ini tempat perayaannya adalah Bebek Carok di Pulau Garam Madura saat singgah di Surabaya sepulang dari menghadiri TKS (Temu Karya Serumpun) di Jember, 24--25 Oktober sebagai rangkaian acara peluncuran buku "Semesta Ingatan -- Trauma dan Imaji Kebebasan." Kota ketiga, Jogja. Kota kenangan yang k...