Bah, baru tiga hari panas sudah datang pula hujan pagi ini. Kupikir sudah hendak serius masuk musim kemarau yang menurut BMKG bakal panjang dan kering. Di bawah hujan yang tidak deras dan belum pasti kapan hendak reda, sepertinya enak bila balik lagi ke dalam kemul. Tapi, kopi masih ada setengah cangkir, seruput ah... Sambil nyeruput kopi, jari bermain-main di tuts keyboard gawai mengetik bahan blog ini. Hendak nulis apa? Biasa, cerita tentang 'safari jumat' yang saya jalani kemarin. Saya kok tertarik salat Jumat di masjid Al-Mahya yang ada di area Gedung Balai Krakatau Jl. Imam Bonjol, mampirlah ke sana kemarin jelang jumatan. Loh, kok sepi, tapi. Saya teruskan perjalanan ke arah
Saya mempergunakan lagi judul di atas dengan menambahkan angka 2 dalam tanda kurung, setelah mempergunakannya di postingan blog ini pada 10 Mei. Tentu, saya mesti merevisi judul di tanggal 10 Mei itu dengan menambahkan angka 1 dalam tanda kurung sebagai garis sambung keterkaitan judul itu. Teman lama saya yang masih bertungkus lumus di dunia media siber atau media daring, meminta puisi saya untuk dimuat di media yang ia kelola, “Lumayan buat nambah-nambah halaman,” alasannya. Media dengan kru lapangan terbatas, memang susah-susah gampang menangguk bahan berita buat isi halaman. Itulah kenapa banyak media daring di daerah berafiliasi dengan media besar di ibu kota Jakarta (Jakarta masih ibu kota, ya, setelah sengketa hukum IKN di MK ditolak oleh Majelis Hakim). Dengan berafiliasi memungkinkan media daerah "bisa seenaknya" main copy paste saja berita yang ada di situs web media daring induknya. Padahal, dengan mengelola sendiri media di daerah, justru akan menguatkan j...