Langsung ke konten utama

Postingan

Saudi apa Muhammadiyah?

Saya sengaja menunggu apakah Masjidil Haram akan memulai mendirikan salat Tarawih pada 17 Februari kemudian esoknya 18 Februari memulai puasa Ramadan 1447 H? Semua beranjak dari rasa pengin tahu, bukan sekadar penasaran. Tak terbayang lamanya waktu menunggu. Saya nyalakan televisi kanal Kingdom of Saudi Arabia saat di sana baru saja hendak salat Magrib. Nah, salat Tarawih kan setelah salat Isya. Waktu Magrib di Saudi pukul 18.21 Waktu Jeddah, itu bersamaan dengan pukul 22.21 WIB. Dan salat Isya di sana pukul 19.32 Waktu Jeddah atau pukul 23.32 WIB. Selesai salat Isya lalu muncul seseorang berpidato di depan corong, tentu saja bahasa Arab, gak ngerti saya apa yang ia bicarakan, tapi kira-kira semacam sebuah pengumuman hasil rukyatul hilal penentuan tanggal 1 Ramadan 1447 dan keputusan memulai ibadah puasa. Saat-saat akan dimulainya salat Isya di TV Saudi Selesai orang tersebut pidato, layar TV Saudi seperti berhenti bergerak, tidak memantulkan sudut-sudut ruang yang terekan CCTV. Ta...
Postingan terbaru

Belangiran

Menyambut datangnya bulan suci Ramadan, di Lampung ada tradisi belangiran (turun mandi) di kali Akar, Batuputu, Telukbetung Barat. Di masa Gubernur Lampung, Drs. H. Sjachroedin Z.P., dijadikan ritual sakral kental nuansa adat budaya. Nuansa adat budaya di sini, maksudnya ada unsur budaya leluhur dalam pelaksanaannya, yaitu ada air langir (ialah campuran air dari tujuh mata air), ada kembang tujuh rupa, ada setanggi, dan daun pandan. Itulah kelengkapan belangiran tradisi   para leluhur. Rycko Menoza SZP, ketua harian DPP Lampung Sai, pada acara belangiran di kolam renang Pahoman, 25/2/2025. | rri.co | Kendati masih dipelihara sebagai tradisi menyambut Ramadan, belangiran  pernah deh berpindah-pindah tempat penyelenggaraannya. Tahun 2023 bukan di kali Akar, melainkan di Boemi Kedaton Resort, zona wisata milik keluarga Sjachroedin Z.P. di Batuputu. Tahun 2025, belangiran  diadakan di kolam renang Pahoman karena kali Akar banjir. Ditaja oleh Majlis Penyimbang Adat Lampung...

“Kembang mBagusi”

Setelah selumbari (Kamis, 14 Februari) saya posting cerita di blog , tentang bunga ‘wiku’ (wijayakusuma) yang mekar kembangnya. Kemarin yang diikatkan pada batang pohon kelengkeng ambil giliran mekar kembangnya, dua sekaligus. Saya lihat pukul 11, rupanya sudah mekar. Waduh kecele saya. Artinya, saat mekarnya memang malam di hari, tetapi tepatnya pukul berapa tidak pasti. Hanya orang yang betah menunggu detik-detik mekarnya yang tahu pasti, maka orang bisa punya konten video proses mekarnya kembang bunga wijayakusuma ini. Bukan kebetulan. Penampakan saat kembang mekar malam hari  Ya, bukanlah kebetulan, melainkan memang sengaja berniat ngonten. Betah menunggui detik-detik proses mekarnya kembang bunga wijayakusuma. Nyatanya, seperti saya alami, tidak mesti malam amat, kurang dari pukul 11 PM saya keluar, kembang sudah mekar. Setelah melihat kembangnya mekar, tidak benar juga kalau di postingan selumbari itu, saya narasikan bunga ‘wiku’ ini sebagai “kembang mbingungi”. Yang be...

Pedas pake Banget

Tidak pernah lagi saya menemukan nasi goreng yang enak, padahal waktu dahulu masih kerja di koran berkantor di jalan Urip Sumoharjo, mulai dari depan RS Urip Sumoharjo hingga bunderan BKP, saya hafal di mana saja nasi goreng yang enak mangkal. Semenjak koran itu tutup tahun 2016 dan pandemi Covid melanda sepanjang tahun 2020 hingga 2022, pedagang makanan apa pun kolaps. Ya, jangankan pedagang kecil pinggir jalan, wong pengusaha besar pun rontok dan tutup, melakukan PHK besar-besaran. Habis Isya tadi saya menelusuri jalan di perum BKP mencari pilihan nasi goreng mana yang akan saya uji coba (cek ombak). Ada empat pilihan pedagang nasi goreng gerobak. Yang tiga, kesemuanya sudah saya coba, uh... kurang rekomended. Jauh dari ekspektasi. Ada satu yang baru saya lihat tadi, saya mampir dan nyoba beli. Dari cara mengolahnya saja jauh berbeda dengan cara penjual nasi goreng gerobak umumnya, saya sudah bisa membayangkan bakal seperti apa rasanya. Nah, benar belaka, rasanya sungguh aneh....

Kembang "Mbingungi"

Jiah, bunga Wijayakusuma yang ditanam di pot gantung teras rumah minimalis kami akhirnya mekar menampakkan kembang putih berseri. Waktu mekarnya kembang yang juga memiliki nama pendek wiku (akronim dari wijayakusuma) ini adalah tengah malam, entah pukul berapa. Mesti betah menunggu. Banyak video beredar menampakkan detik-detik proses mekarnya kembang wiku. Dalam hati, saya membatin, alangkah iseng serta telatennya orang mengisi waktu menunggu detik-detik mekarnya kembang dengan memposisikan kamera ponsel ke arah putik kembang yang akan mekar perlahan. Bunga Wijayakusuma mekar tadi malam  Yang sudah ditanamkan di pot gantung ada dua, satu pot diikatkan di batang pohon kelengkeng, dan satu pot masih di tanah belum dibelikan pot gantungnya, semacam masih dikarantina. Nanti kalau sudah di pot gantung semua dan berkembang barengan , tak terbayang indahnya. Begitu semarak penampakan. Juga, seumpama kembangnya gak melulu berwarna putih, misalkan berwarna-warni, tentu meriah sekali. Tapi,...

“Membayar Kekalahan”

Pekan lalu, sedianya saya berniat safari jumat di masjid perumahan Springhill, tapi agak merasa sungkan karena ini nih perumahan elit, di pintu gerbang mesti melewati portal yang dijaga sekuriti. Sebenarnya tidak apa-apa, dengan dress code baju koko dan kepala bertengger kopiah atau kupluk , mereka sudah mafhum bahwa masuk ke sana punya tujuan hendak ke masjid yang ada di dalam perumahan, tentu saja dibolehkan. Akhirnya saya mutar-mutar tidak menentu arah tujuan hendak ke masjid mana, lalu berlabuhlah di masjid Al-Istiqomah di jalan Bayur. Demi “membayar kekalahan” pada pekan lalu, tadi saya langsung saja masuk arah Springhill. Saat melewati portal, sekuriti mengarahkan pandang mata, menyotot ke pelat nomor polisi motor. Barangkali sudah SOP bagi yang bukan penghuninya. Interior masjid Entah, apakah dicatat atau tidak. Karena sudah pernah salat Zuhur di masjid itu saat menghadiri undangan aqiqah cucu sohib istri, maka saya masih ingat arah jalan yang mesti dilewati menuju masjid....

“Ibu Suri” Sudah Nongki

Kalau “Ibu Suri” ini sudah nongki di pasar, itu pertanda bulan puasa sudah dekat. Si “Ibu Suri” ini merupakan entitas paling hebring di masa bulan puasa. Gak di pasar, gak di pinggir jalan, “Ibu Suri”  nongki menunggu orang menyamperi dan menyalaminya. Jika cucok dalam percandaan dan ketemu akad pertukaran rupiah dengannya, maka “Ibu Suri” sudi diajak pulang untuk buka puasa bersama. Memang, “Ibu Suri” ini entitas paling asyik buat teman buka bersama, mukanya yang glowing dengan saputan bedak warna nude kekuning-kuningan dan senyumnya menawan kendati tak dipoles gincu, terasa manis saat dicecap bila sebelumnya ditambahkan sirup Marjan Cocopandan yang merah merona. Uh, rasanya beduk tanda berbuka tak sabar ditalu saking menggodanya. "Ibu Suri" sudah nongki menyambut Ramadan  “Ibu Suri” ini penggoda paling centil di bulan puasa. Penjual es campur yang menambahkan “Ibu Suri”, membuat orang pengin “ maling telon ” membeli es campur dan menikmatinya, jika saja tak takut...