Setelah status Gunung Anak Krakatau level 3 (siaga) diturunkan ke level 2 (waspada) dan setelah pagi sore menyentor teras menyingkirkan paparan debu vulkanik, hari ini nyeteam AC. Mekanik yang pekan lalu nyervis mesin cuci, sesuai janji hari ini datang untuk mencuci blower dan AC dalam kamar. Setelah selesai mencuci AC, sambil menikmati suguhan teh dan kudapan, ia cerita kalau kemarin sore pamit mengundurkan diri dari tempat bekerja. Itu ia lakukan setelah mendapat dorongan moril dari klien kemarin sore. Si klien melihat ia muram durja, lalu ditanya ada masalah apa. Buka suaralah ia tentang HRD yang toxic. Bla bla bla ... ia cerita. “Sudah resign aja , itu mobil saya satu pake aja mau usaha apa kamu,” kata Bapak kliennya itu mengekspresikan rasa kesal dan emosi. Merasa dikasih pemasukan positif, si Bapak mekanik langsung mengambil hp dan ngetik pesan WhatsApp pamit mundur dan mengirimnya ke bos perusahaan. Balasan dari bos, meminta ia menghadap besok Senin untuk ngobrol. Dahulu...
Setelah menunggu penuh debar dari tanggal 15 September lalu saat diumumkannya 10 puisi nomine dan 60 puisi pilihan, kemarin (25/9/26) diumumkan 1 puisi pemenang utama, 9 puisi nomine, dan 60 puisi pilihan “Penghargaan Sastra Udo Z Karzi (Pengahut Sastra Jak Udo Z Karzi 2026)” melalui situs labrak.co yang dibagikan di facebook Udo Z Karzi. Puisi yang ditetapkan sebagai pemenang adalah “Air Tarung: Suoh, 1933—Ketika Sebuah Kampung Hilang dari Peta”. Membaca dengan cermat pengantar pengumuman hasil penjurian yang Udo Z Karzi tulis di labrak.co tentang 70 puisi yang diperas dari 116 karya yang masuk, sangat menarik dan melecut rasa penasaran saya untuk segera membacanya satu-satu. Menurut hemat saya, agak sayang rasanya, hasil penjurian "Penghargaan Sastra Udo Z Karzi (Pengahut Sastra Jak Udo Z Karzi 2026)" ini tidak diterbitkan dalam bentuk buku cetak, tetapi hanya dalam bentuk buku digital. Ilustrasi | sumber gambar: labrak.co | Padahal, isinya tentang toponimi Lampung B...