Jangan dalam bahasa Jawa artinya sayur. Jadi, kalau orang Jawa menyuguhi kita makan, maka yang mereka katakan, " Monggo dipun dahar , niki jangan , niki lauhe ." Artinya, mari silakan dimakan (dinikmati), ini sayur, ini lauknya." Saya biasa kopi tanpa gula. Sehabis menghadiri HUT ke-33 DNP (Dari Negeri Poci) di Tegal, saya ke Jogja menunggu empat hari kedatangan istri dan mbak yang berangkat dari Lampung hari Kamis, 29 Oktober, mampir semalam di Solo. Saya hari Kamis itu lanjut ke Pacitan dari Jogja siang, tiba di Pacitan sore. Langsung disuguhi mbak kopi manis yang bukan kebiasaan saya. Hanya saya cecap sedikit, lalu saya anggurkan . Padahal, sudah saya katakan tak usah dibuatin . Ketika hal itu saya ceritakan ke istri, jawabnya "Itu tanda sayang mbak kepada Ayah." Eh, iya juga. Makanya untuk menghormati tanda sayang mbak itu, kopi manis yang disuguhkannya tetap saya cecap, tapi tidak sampai saya habiskan. Siang ini mbak kembali menanyakan kepada saya dan...
Postingan kemarin tentang mitos dan fakta. Hari ini kembali saya menulis tentang mitos juga. Pagi tadi dua keluarga pulang lebih dulu. Mbak Sas ke Lampung dan mbak Yul ke Mojokerto. Saya dan istri sementara tinggal dulu. Ada mitos bahwa tidak baik semua berangkat pergi bersamaan. Dan, yang namanya mitos, legenda, dan cerita rakyat terserap oleh ingatan masa kecil atau masa kanak-kanak saya. Atau barangkali oleh sebagian orang lainnya --kalau pun tidak mau dikatakan oleh banyak individu. Kedua mbak yang berangkat pulang tadi pagi, menurut bahasa orang Jawa, yang satu lungo ngetan dan satu lagi lungo ngulon (satu menuju arah timur dan satu lainnya mengarah ke barat). Hampir setiap habis mudik, di hari keluarga mbak yang pulang ke arah barat memutuskan berangkat, keluarga mbak yang ke timur pun ikut-ikutan pamit. Bisa dikatakan tidak pernah bertahan dulu barang sehari baru kemudian pergi. Saya (terutama) dan istri yang akhirnya memutuskan untuk tinggal dulu barang semalam. M...