Masih tentang buku, dapat WA dari kawan di Banyuwangi memberi tahu bahwa buku antologi PPN XIV Aceh sedang proses pencetakan. Ia menanyakan buku itu kepada salah seorang penyair yang mungkin hadir dan mengikui kegiatan PPN XIV di Aceh. Kabar baik itu disampaikannya kepada saya pukul 05:41 PM pagi tadi. “Sungguh kabar baik itu,” kata saya membalas WA darinya. Semakin terang kepastian akan adanya buku antologi puisi PPN XIV Aceh terutama bagi penyair yang nggak hadir ke Aceh. Tidak ada saluran informasi tentang kelanjutan hasil kurasi puisi untuk PPN XIV Aceh. Tidak ada grup WA yang meringkus nama kami ke dalamnya sehinggga mudah mengetahui apa dan bagaimana perhelatan PPN XIV Aceh di empat kabupaten/kota. Sebenarnya ada grup khusus bagi yang hadir ke Aceh. Yang tidak hadir dan masuk gabung ke grup WA tersebut, pada akhirnya dikeluarkan. Terang saja buntu akal dibuatnya. Seterusnnnya cuma bisa menunggu dengan penuh sabar dan keyakinan. Keyakinan itu datang dari kanal berita warta...
Setelah “Kado yang Terbungkus dalam Rumah Kata” dan “MBGendam” tiba di rumah, berikutnya buku yang akan tiba “Ramu-Ramu Warteg” masih dalam perjalanan dari Tegal ke penjuru kota-kota alamat para kontributor puisi yang bertema warteg ditaja Dewan Kesenian Kabupaten Tegal (DKKT). Setelah "Ramu-Ramu Warteg" ini, konon untuk selanjutnya DKKT menetapkan akan mengadakan even sastra (antologi puisi) tiap dua tahun sekali. Berarti tahun 2028 baru akan ada lagi. Ini DKKT yang “Kabupaten Tegal” lho, ya. DKKT yang “Kota Tegal” tentu lain lagi kebijakan atau programnya. Setelah “Ramu-Ramu Warteg” menunggu empat buku sedang proses. Yaitu, MOZAIK, 81 Penyair Bicara Indonesia - Merdeka Katamu, DSJ (Dapur Sastra Jakarta), dan Rohmantik (Sastra Roemah Bambu). Dari buku ke buku, itulah hasil membaca dan menulis merawat literasi agar meninggi. Predikat literasi rendah di tengah pemangkasan dana pendidikan dialihkan ke MBG, kita lawan dengan puisi, lahirlah "MBGendam" sebagai alter...