Menemukan cerpen yang lama nyumput di folder dan menelusuri ulang tulisan yang sudah saya unggah di blog. Menghimpun puisi dari berbagai folder. Itulah yang saya sedang kerjakan. Ada yang saya baca ulang dan sunting ulang, menggali metafora mengganti diksi baru. Sampai di sini, saya berpikir hendak menulis apa saya hari ini. Ah, iya, tentang ingatan pada ruang dan waktu selagi masa SMP di kampung dahulu, sebelum melanjutkan ke SMA di Jogja. Ruang dan waktu berupa tempat-tempat yang melekat dalam ingatan jadi peta jalan menulisnya jadi kenangan. Danau Ranau dan gunung Seminung di kejauhan Toponimi, begitu disebutkan. Yang paling melekat tentu kebun kopi dan sawah di Senangkalan yang kini mulai menumbuhkan rumah tinggal, home stay, dan destinasi wisata berbasis pantai pesisir Danau Ranau. Rumah-rumah yang kosong karena ditinggal merantau anak-anak dan tak kembali. Cungkup makam orang tua (Ayah, Ibu, Kakak), dan mertua serta leluhur yang tak pernah lagi dibelai jari-jari ta...
Kali ini saya 'safari jumat' di masjid Nurul Ulum Islamic Center Rajabasa. Masjid ini diresmikan Bapak Suparjo Rustam, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat RI pada 2 Mei 1991. Baru sekali ini saya masuk dan salat di sini. Masjid yang besar ternyata, begitu lega malahan. Apakah bisa menampung 1.000 jemaah? Sangat mungkin. Saya coba menaksir, bila satu deret shaf berisi 100 jemaah dan ada 10 shaf ke belakang, maka masuk akal bisa menampung 1.000 jemaah. Selfi di bawah menara masjid Nurul Ulum. Kopiah tertinggal di tas, tak bawa tas jadi tak pakai kopiah. Tapi, banyak juga jemaah yang tak kopiahan. Di komplek Islamic Center ada wisma haji yang biasa digunakan untuk transit semalam jemaah calon haji dari luar kota Bandar Lampung sebelum besok diberangkatkan menuju wisma haji Pondok Gede Jakarta. Kemudian diterbangkan ke Saudi. Baru pula selesai dibangun Graha Multazam. Bisa jadi fasilitas yang disediakan setara hotel bintang 4. Sepertinya untuk memberi pelayanan terbaik kepad...