Langsung ke konten utama

Postingan

Dari Buku ke Buku

Setelah “Kado yang Terbungkus dalam Rumah Kata” dan “MBGendam” tiba di rumah, berikutnya buku yang akan tiba “Ramu-Ramu Warteg” masih dalam perjalanan dari Tegal ke penjuru kota-kota alamat para kontributor puisi yang bertema warteg ditaja Dewan Kesenian Kabupaten Tegal (DKKT). Setelah "Ramu-Ramu Warteg" ini, konon untuk selanjutnya DKKT menetapkan akan mengadakan even sastra (antologi puisi) tiap dua tahun sekali. Berarti tahun 2028 baru akan ada lagi. Ini DKKT yang “Kabupaten Tegal” lho, ya. DKKT yang “Kota Tegal” tentu lain lagi kebijakan atau programnya. Setelah “Ramu-Ramu Warteg” menunggu empat buku sedang proses. Yaitu, MOZAIK, 81 Penyair Bicara Indonesia - Merdeka Katamu, DSJ (Dapur Sastra Jakarta), dan Rohmantik (Sastra Roemah Bambu). Dari buku ke buku, itulah hasil membaca dan menulis merawat literasi agar meninggi. Predikat literasi rendah di tengah pemangkasan dana pendidikan dialihkan ke MBG, kita lawan dengan puisi, lahirlah "MBGendam" sebagai alter...
Postingan terbaru

Belum Merdeka

Akhirnya nongol juga si penjual bambu tiang bendera keliling perumahan. Sesapuan mata saya lihat, ikatan bambu yang digendongnya masih tergolong muda, niat ingin membeli saya urungkan. Pulang salat subuh tadi, Pak RT berseloroh sambil menyebut nama tiga tetangga yang belum pasang bendera. "Belum merdeka," kata Pak RT. "Berarti masih terjajah dong," timpalku. Kami pun tertawa. Pas pagi, satu nama yang disebut Pak RT, membeli bambu dari penjual dan mengibarkan bendera di depan rumahnya. Dua nama lain bertahan "belum merdeka" karena tak ikut-ikutan pasang bendera. Padahal, tak ada uzur yang membuat mereka tak bisa pasang bendera. Bambu tiang bendera yang dipakai tahun kemarin masih kokoh, tidak lapuk dimakan bubuk dan patah. Tidak bisa dijelaskan apa alasan. Political will (kemauan politik) untuk bersama warga lainnya menyemarakkan jalan depan rumah dengan bendera dan umbul-umbul tidak tumbuh subur di ladang kesadaran diri mereka. Mungkinkah begitu? Sudah j...

Mena Cutik

Sektor Kemiling. Begitulah menandai tempat tinggal kami (saya dan Udo Z Karzi) di maps google . Maka, jikalau ada suatu buku antologi puisi mengumpulkan nama kami berdua, si Abang kurir ekspedisi akan mengantar paket pada waktu yang berdekatan. Entah siapa yang didatangi dahuluan. Paket buku antologi puisi menolak korupsi (PMK) MBGendam yang kami tunggu telah kami terima siang ini. Kebetulan teras Udo Z Karzi yang lebih dahulu didatangi si Abang kurir, tadi pukul 12:41 kemudian baru ke teras rumah kami pukul 13:31. Buku antologi PMK MBGendam  Kurang 10 menit untuk jarak 1 jam selisih waktu yang ditunjukkan angka di atas. Waktu Udo Z Karzi woro-woro menyampaikan di grup WhatsApp bahwa buku sudah ia terima, saya kasih komentar, "Mena niku" dibalasnya "Mena cutik." Cutik -nya itu, satu jam-an. Ya, selisih waktu yang hampir 1 jam itu memang masih terbilang "cutik" (sedikit, bhs. Lampung). Kemiling kan luas dan seperti saya ceritakan di tulisan berjudul "J...

Bendera sang Pelopor

Biasanya jelang datangnya bulan Agustus gini, penjual tiang bendera keliling di perumahan BKP sejak pertengahan Juli menjajakan bambu buat mengibarkan bendera dan umbul-umbul. Tapi, agak aneh, semakin ciut ujung bulan dan masuk Agustus hari ini, tak ada penjual bambu keliling perumahan. Beruntunglah bambu buat memasang bendera dan umbul-umbul dari tiga tahunan silam masih dalam kondisi bagus. Fungsi ganda yang disandang bambu, selain buat tiang bendera saat Agustusan, ialah buat menggantung jemuran. Jadi, masihlah bisa dijemur bersama bendera dan umbul-umbul mulai hari ini. Bendera sang Pelopor  Era Jokowi jadi presiden (2014 –2024) , bambu tiang beserta bendera dijemur sebulan full  selama bulan Agustus, sesekali kena hujan  “ bulan Agustus ”  ada dua kemungkinan. Bendera niscaya cepat pudar. Bambu tiang yang saat dibeli sudah tua, bisa jadi akan lebih kokoh karena dijemur, semakin kering. Untuk bambu yang saat dibeli masih muda, biasanya akan dimakan bubuk dan memb...

Jumat Berbagi

Siang tadi kembali saya 'safari jumat' di masjid Asy-Syuhada Jalan Imam Bonjol sebelah Nuju Coffee. Pilihan ke masjid ini karena sekalian hendak mentransfer uang di BRI Jl. Teuku Cik Ditiro (TCD), Kemiling. Jl. Teuku Cik Ditiro minim sekali U - turn . Ada beberapa, tapi jaraknya jauh-jauh. Nemen, Coy.. U-turn adanya di bawah flyover , di dekat Superindo, depan La Kita. Yang agak berdekatan jaraknya depan lapangan kalpataru, depan SMPN 14, depan gerai nasi ayam bakar Mbok Jum, dan depan jalan masuk arah perumahan Polda. Terbayang kan dari Superindo bila hendak memutar mesti jauh dulu ke bawah  flyover . Cewek-cewek bagi-bagi di "Jumat Berbagi" Sungguh ruwet berumah di Langkapura. Urusan muter kendaraan mesti jauh. Belanja di Superindo, misalkan, hendak pulang ke Citra Mas, kan mesti muter di bawah flyover . Masih mending belanja di Chandra Mart, hendak pulang ke arah Imam Bonjol, muter di U - turn di depan Alfamart atas Superindo. Keluar masjid 'safari jumat'...

Jawaban Jujurmu

Terhadap petugas sensus, apakah yang kita katakan menjawab pertanyaannya adalah, yang sebenar-benarnya atau ada yang kita anggap perlu untuk tidak dikatakan. Bila yang dikatakan adalah yang sebenar-benarnya, berarti Anda jujur. Bila tidak sebenar-benarnya, berarti Anda korup. Jujur atau korup, terpulang kepada mereka yang ditanyai petugas sensus tersebut adalah orang yang antara perkataan dan perbuatannya sejalan atau tidak. Orang yang dalam kehidupan sehari-harinya biasa bertindak lurus serta berkata jujur, kepada petugas sensus akan menjawab yang sebenarnya. Koruptor yang menyimpan kekayaan (gepokan duit dan emas berkilo-kilo dalam bunker) mutlak bisa dikategorikan sebagai orang yang tidak bertindak lurus dan berkata jujur. Kepada petugas sensus pun mereka akan menunjukkan tindakan tidak lurus dan perkataan tidak jujur sesuai jati dirinya "koruptor". Jadi, tadi ada petugas sensus ekonomi datang ke rumah. Mempertanyakan sesuai yang ada di daftar pertanyaan di layar gawainya ...

BTC, Bukan BKTC

Kemarin ceritanya ngantar istri cari jilbab. Tempat tujuan adalah BK. Dulu disebut Bambu Kuning doang dan disingkat BK, lalu setelah dikembangkan pemkot, ditambah Trade Center lantas jadi Bambu Kuning Trade Center, tapi singkatannya BTC, bukan BKTC. Kaget, Bro melihat keadaan di dalam BTC lantai 1dan 2. Keramik retak-retak, jalan seperti merasa goncangan kayak gempa. Kios banyak kosong ditinggalkan pemilik atau penyewa. Toilet tak mengucurkan air, tak ada lagi yang jaga untuk menarik salar kepada mereka yang buang hajat. Masuk area parkir lantai dua ada portal manual digerakkan tangan manusia yang berjaga di pos. Karcis parkir ditulis manual pakai tangan dengan bolpoin (pulpen). Portal terkesan modern, tapi setengah-setengah. Yang dicatat petugas plat nomor kendaraan dan waktu masuk parkir. Kemarin pas kami masuk si penjaga tak berada dalam pos jaga. Saya parkir dan memotret plat nomor, untuk nanti saya tunjukkan pada petugas pukul berapa saya mulai parkir supaya ketahuan berapa...