Tidak kerap melewati jalan ini, hanya bila armada yang kami tumpangi akan masuk pintu tol mesti lewat depan lamban gedung kuning ini. Itu waktu hendak mengarah ke Bakauheni. Begitupun sebaliknya, saat mengarah pulang, lewat jalan di sisi sebelahnya. Tadi pagi-pagi sekali, saya bonceng istri menuju lamban gedung kuning yang jadi melting pot keberangkatan mereka jalan-jalan ke Dieng, Jogja, dan Solo. Santai melalui jalan Soekarno-Hatta (bypass) yang karena masih pagi belum terlalu ramai apalagi macet. Lamban Gedung Kuning kerajaan Sekala Berak Badanku yang habis 'digempur' tipes berangsur sehat. Makan tidak lagi dengan bubur, tapi sudah dengan nasi yang dimasak-lembutkan. Dibanyakkan air saat ngaron -nya lalu dikukus lagi di langseng selama seperempat jam baru dipindahkan ke dalam magic com . Setelah Tour Sumatera dan Tour Lombok, kini mereka Tour Dieng. Pada dua tour sebelumnya, ada beberapa bapak yang mendampingi. Kali ini semuanya ibu-ibu. Sepertinya para pensiunan. Sebab, b...
Tiga pot bunga wijayakusuma memekarkan 13 kuncup kembang tadi malam. Pot pertama (pot gantung) memekarkan 5 kuncup kembang, pot kedua (yang diikat di batang pohon kelengkeng, memekarkan 7 kuncup kembang, dan pada pot ketiga (juga pot yang digantung) memekarkan hanya satu kuncup kembang. Saya keluar pintu pada pukul 21:25, kuncup kembang sudah bermekaran. Tetapi, mekarnya belum merekah sempurna. Saat hendak subuh ke masjid pukul 04:40, saya melihat bunga wijayakusuma sudah memekarkan kembangnya dengan sempurna. Semerbak bau wangi terhidu oleh hidungku. Oi, baunya sedap juga, rupanya. Puncak perjalanan dari kuncup menjadi mekar Ini peristiwa berkembang untuk kali kedua. Sebelum ini, bertepatan dengan Valentine's Day Februari lalu, bunga wiku (wijayakusuma) ini memekarkan kembang untuk kali pertamanya. Saat itu tidak banyak, hanya 5 kuncup kembang yang mekar. Tapi, tetap saja menghadirkan pengalaman baru di teras rumah minimalis kami. Selama ini pot gantung berisi tanaman meram...