“Lama berjalan banyak dilihat”, seperti itu yang sohor sebagai aforisme. Pagi tadi sengaja saya chat kawan, tetangga se-RT, dan juga sesama jemaah salat. Saya mengajaknya jalan pagi bareng. Sudah lama kami tak jalan bareng. Seringnya sendiri-sendiri. Kangen pengin dengar cerita darinya. Dahulu pernah jalan bareng, banyak cerita saya dengar darinya. Tadi pun banyak cerita tumpah dari mulutnya. Macam-macam, warna warni, pahit getir. Padahal, putaran komplek perumahan BKP yang kami jelajah dan kelilingi lebih jauh dari yang biasanya saya tempuh sendiri, tapi rasanya masih saja kurang jauh buat menghabiskan cerita. Sampai perempatan jalan yang memisahkan arah ke rumah masing-masing, belum tuntas apa yang kami obrolkan, saking banyak apa pun yang ia ceritakan. Terpaksa berhenti dahulu di perempatan itu, melanjutkan obrolan sampai habis. Ilustrasinya ini saja, matahari yang beranjak meninggi saat kami berdua mulai jalan Terungkap apa yang jadi tanda tanya saya. Salah seorang jemaa...
Pekan lalu saya ‘safari jumat’ di masjid Jami' Nurul Hidayah, Jalan Raya Kurungan Nyawa, Pesawaran. Kemarin kawan ngasih tahu ada masjid bagus di sebelah sananya lagi dari tempat saya jumatan. “Kemarin saya mampir salat di situ,” katanya. Saya tanya emang dari mana? “Kondangan,” jawabnya. Saya minta ketegasan padanya, berapa jauh dari masjid tempat saya jumatan kemarin? “Masih terus ke sana lagi, setelah kuburan Cina,” tegasnya. Tadi saya gas ke sana, memang lumayan jauh dari masjid tempat saya jumatan pekan lalu. Melewati beberapa masjid tipikal kampung yang nggak begitu besar dan tampak bagus. Dalam rangka memperingati Hari Batik, maka saya jumatan pakai hem batik. Masjid yang dimaksud kawan adalah masjid Al-Hidayah Tiyuh Sinar Negeri, Pesawaran. Memang tidak jauh dari kuburan Cina. Halamannya luas ada menara menjulang satu, kubahnya besar, dan uang kasnya, Broh . Seperti yang diumumkan petugas, 143 jeti sekian ratus-puluh-ribu-rupiah. “ Aguy , sugih benar masjid ini,” bati...