Langsung ke konten utama

Postingan

Waktu yang Bersinggungan

Postingan blog  pada 28 Mei tentang pengumuman Sastra Rumah Bamboe di laman facebook mereka yang ternyata puisi saya “Pulang ke Rumah Sunyi” masuk 10 besar. Akan tetapi menyisakan tanda tanya yang bikin saya dag-dig-der di ruang sunyi. Saya katakan ruang sunyi karena Sastra Rumah Bamboe yang menaja even Rohmantik Jilid 3 memang memanggul tema “Pulang dalam Sunyi yang Abadi” sebagai upaya merawat sunyi agar melalui puisi kita pulang ke sunyi yang abadi. flyer even lomba puisi Rohmantik Jilid 3 "merawat sunyi" Sastra Rumah Bamboe  Tanda tanya itu, adalah siapakah atau berjudul apakah puisi yang akan dinobatkan sebagai juara 1. Jawabnya disuruh menunggu diumumkan pada 2 Juni. Terang saja dag-dig-der dong . Tadi malam hingga pukul 23 WIB atau 11 PM, belum ada. Tapi, hati yang sunyi terhibur oleh pengumuman hasil kurasi puisi untuk antologi PPN XIV Aceh. Saya lolos kurasi, terpincut dari 552 pendaftar ( submission ) dengan 1.018 karya puisi. Yang lolos 304 penyair, saya nang...
Postingan terbaru

Puisi di Buku Yaa Siin

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Lolos Kurasi, Wak!

Tadi malam, pulang takziah tahlilan dua hari jemaah masjid yang wafat 30 Mei lalu, pukul 20:32 masuk pesan WhatsApp dari teman penyair di Banjarmasin, ia meng- share- kan pengumuman hasil kurasi antologi puisi PPN XIV Aceh. "Alhamdulillah... puisi kita lolos kurasi untuk antologi PPN XIV Aceh," tulisnya di pesan WhatsApp penuh perasaan syukur.  "Iya, alhamdulilah, barusan dua menit lalu saya lihat di Instagram," jawab saya menanggapi. Teman saya, penyair di Banjarmasin ini tak punya akun facebook dan Instagram. Tapi, yang bikin saya heran, ia bisa dapat flyer pengumuman kemudian menge- share -kannya ke saya. Dari manalah coba? Bisa jadi dapat share -an dari teman lain lalu meneruskan ke saya. Tidak berhenti di meneruskan ke saya saja, ia juga meneruskan ke beberapa grup WhatsApp yang ia ikuti. Bagus juga sih , biar teman penyair lain cepat mendapat tahu pengumuman dan cepat merasakan kegembiraan. Atau mungkin mengunggahnya ke akun facebook atau Instagram seperti te...

Kebersamaan Penuh Berkah

Biasa, Broh … saya ke Iman Jaya menjemput kawan ngopi pada Minggu yang cerah, tapi menurut ramalan cuaca di layar hp : berawan. Saya mendongak menghadapkan wajah ke atas langit tak ada awan sedikit pun, bahkan matahari ramah, hangat, tersenyum semringah di ufuk timur sana. Melewati rumah pertokoan (ruko) Springhill yang sebagian kosong karena pembelinya tidak kiyeng memberdayakannya sebagai apa gitu . Sementara sebagian lain memang kosong karena nggak atau belum juga laku sebab harganya susah dijangkau ekonomi kelas medium, terlalu premium harganya. Ilustrasi, keberkahan dalam kebersamaan | sumber gambar: Instagram Islamidotco |  Di halaman pertokoan Springhill saya melihat grup senam baru akan memulai bergerak badan. Dress code yang ibu-ibu kenakan, baju kaos biru celana (training) putih dan jilbab putih. Sementara bapak-bapak yang cuma enam orang berpakaian bebas. Tak ada lagi Pak Syukur di antara bapak-bapak itu. Kepulangan beliau ke Rahmatullah dua pekan lalu berarti ...

Tetangga dalam Ibadah

Lagi, TOA masjid melafalkan sepotong nama anak manusia yang berpulang ke Haribaan Ilaihi Rabbi tadi dini hari di bangsal dingin rumah sakit Bintang Amin. Sepotong nama yang sebelum disebutkan, tidak saya tahu. Maka, saya menebak-nebak yang mana orangnya. Mereka wajahnya. Begitulah, ada beberapa jemaah masjid yang hanya saya kenali wajahnya dan tidak namanya. Satu per satu dipertukarkan tempat berdiri berjajar di shaf terdepan atau belakang. Kadang di kiri kadang di kanan saya dalam salat lima waktu. Pagi subuh, di siang saat Zuhur, petang Asar, dan malam Magrib. Bendera kuning di mulut jalan tertunduk lunglai. Sesekali terjembak-jembak ditiup angin. Tangan saling berjabat seusai salat ditutup salam, tanpa menyebutkan nama karena itu kan sedang beribadah, bukan berkenalan. Kemudian kita pulang ke rumah masing-masing mengisi jeda dan bertemu lagi di ibadah berikutnya. Sampai akhirnya ada (di antara kita) yang dipanggil pulang ke Haribaan Ilaihi. Satu lagi bendera kuning terjembak-jembak ...

Petik Pahala Kebaikan

Ada dua penyintas penyakit yang pagi tadi kami besuk. Satu ibu sedang satunya lagi bapak. Yang ibu, habis operasi breast tumor. Yang si bapak habis operasi batu ginjal. Kedua-duanya sehat, hanya saja si bapak terlihat agak kurusan. Kedua penyintas di atas adalah anggota grup bapak/ibu pensiunan guru yang membentuk klub arisan reuni. Saya jadi semacam penggembira, diminta tuk menemani suami salah satu ibu-ibu pensiunan agar suaminya tak merasa canggung. Sudah lama tidak reunian karena tidak ada yang mau ambil giliran. Jadi, semacam macet di jalan, maka tadi salah satu ibu berinisiatif mengambil giliran. Kemudian untuk selanjutnya akan dikocok nomor supaya ada kepastian giliran siapa. Kami besuk kedua penyintas di rumah masing-masing. Si bapak kebetulan tidak jauh dari rumah, dibedakan Blok. Kami Blok P, ia Blok O. Si bapak ini setelah pensiun jadi imam salat 5 waktu masjid Blok O dan imam Subuh masjid Al-Anshor. Pasca-operasi ini, katanya ia masih belum kuat ke masjid. Salat d...

Pulang ke Rumah Sunyi

Ramalan cuaca yang muncul di layar hp menyatakan hari cerah. Alhamdulillah, batin saya. Kendati tidak berencana ke mana-mana, menyiasati cuaca penting juga. Sebagai kompas atau pedoman bahwa cuaca akan baik-baik saja atau sebaliknya akan merundung kita. Pulang jemaah subuh di masjid, saya mesti buka hp . Bukan untuk scroll memeriksa media sosial, melainkan untuk ngaji Surah (tertentu) yang rutin saban pagi (subuh) saya baca. Surah apakah itu? Hmm meh… mau tahu aja apa mau tahu banget ? Puisi "Pulang ke Rumah Sunyi" Gimana kalau saya kasih tahu isi, mau nggak ? Itu camilan favorit yang kami jadikan teman ngopi. Tapi, pagi ini belum ada penjual gorengan yang buka lapak (gerobak). Beruntung Iman Jaya, toko kue jajanan pasar di Kemiling sudah buka. Saya memang hendak ke ATM buat ngasih tali asih untuk anak konco lawas yang kemarin senja ijab kabul di Omah Pakem, Jogja dan dilanjutkan resepsi malam harinya bakda Magrib. Saya tak hadir, hanya bisa kasih doa dan ucapan se...