Saya mempergunakan lagi judul di atas dengan menambahkan angka 2 dalam tanda kurung, setelah mempergunakannya di postingan blog ini pada 10 Mei. Tentu, saya mesti merevisi judul di tanggal 10 Mei itu dengan menambahkan angka 1 dalam tanda kurung sebagai garis sambung keterkaitan judul itu. Teman lama saya yang masih bertungkus lumus di dunia media siber atau media daring, meminta puisi saya untuk dimuat di media yang ia kelola, “Lumayan buat nambah-nambah halaman,” alasannya. Media dengan kru lapangan terbatas, memang susah-susah gampang menangguk bahan berita buat isi halaman. Itulah kenapa banyak media daring di daerah berafiliasi dengan media besar di ibu kota Jakarta (Jakarta masih ibu kota, ya, setelah sengketa hukum IKN di MK ditolak oleh Majelis Hakim). Dengan berafiliasi memungkinkan media daerah "bisa seenaknya" main copy paste saja berita yang ada di situs web media daring induknya. Padahal, dengan mengelola sendiri media di daerah, justru akan menguatkan j...
Sewaktu kulineran di “Sego Tempong Warga” Tanah Baru, Depok, ada menu Jukut Goreng. Anak ragil yang sejak tahun 2021 bermukim di Jaksel udah pernah mencicipinya. Spontan ia terlonjak ketika membaca daftar menu ada jukut goreng itu. ditulislah di daftar menu yang dipesan. Namun sayang, sekian menit kemudian, pramusaji mendatangi meja kami. Membawa buku daftar menu dan kertas pesanan kami. Pikir kami akan mengonfirmasi ulang menu yang kami pesan. Tak tahunya memberi tahu bahwa jukut goreng sedang tidak tersedia. Yah, anak ragil gelo . Kami yang penasaran pengin coba lebih gelo lagi. Kepalang dah. Untuk sementara kami nikmati menu yang ada dulu. Jukut goreng | foto: RRI | Kami simpan keinginan mencoba jukut goreng menjadi tabungan. Nanti bila kapan-kapan ke Jakarta lagi akan memburunya di mana yang ada. Nah, dua hari lalu anak ragil ngirimin video tiktok tentang jukut goreng warung kuliner milik Aa' Epy Kusnandar (Kang Mus) di Jakarta Selatan. “Nanti kita ke sana, ya, Dek,” komen...