Langsung ke konten utama

Postingan

Pelangkah

Di tanggal cantik hari Minggu, 10-10-26 ini, cewek yang ketika ibunya wafat amat terpukul, melepas masa lajangnya. Kami kondangan di gedung Graha Pramuka. Dekorasi terlihat kaya dengan warna burgundi berpadu orange dan hijau tua, terkesan gelap. Mestinya dipadukan dengan warna putih atau kuning baru kelihatan kontras dan terkesan cerah. Cewek ini satu angkatan dengan anak ragil kami di TK dan SD. SMP dan SMA berlainan sekolah. Kuliah di fakultas hukum. Ayahnya aktif salat berjemaah di masjid kami. Jadi, biasa saya hello , salaman atau bersebelahan berdiri di shaf. Cowok yang menyuntingnya seorang polisi berpangkat Briptu dengan titel S.H. juga seperti istrinya. Bagaimana jalan jodoh mereka? Seperti apa kisahnya? Entahlah. Perjodohan mereka perpaduan anak pertama (mempelai pria) dan anak kedua (mempelai wanita). Si mempelai pria karena sulung tidak ada hambatan, sedangkan mempelai wanita karena ragil dan kakak lelakinya belum menikah, maka dia menghadapi hambatan berupa melangkahi ...
Postingan terbaru

Buku, Besuk, Safari

Setelah merampungkan membaca buku antologi 27 penyair Sastra Rumah Bamboe (Rohmantik), ada yang mengejutkan. Selain saya, ternyata ada dua orang penulis puisi lainnya dari Lampung, yaitu Hendra Pratama dan Nina Hijaz. Yang pertama seorang pelajar sedangkan yang kedua ahli madya komputer jebolan akademi manajemen informatika dan komputer (AMIK) yang menekuni usaha mandiri atau wiraswasta. Selain ada yang mengejutkan, juga ada yang unik di buku Rohmantik ini. Beberapa penulis seperti “janjian” menerakan titi mangsa (tanggal penulisan) yang sama. Yang menulis titi mangsa 16/1/26 ada 2 orang, titi mangsa 22/1/26 ada 2 orang, titi mangsa 25/3/28/6 ada 2 orang, titi mangsa 26/3/26 ada 3 orang, titi mangsa 2/5/26 ada 2 orang, dan titi mangsa 22/5/26 ada 2 orang. Selebihnya titi mangsa yang bervariasi. Itu ulasan saya tentang buku antologi 27 penyair Sastra Rumah Bamboe (Rohmantik) ini. Hal lain yang mengisi kegiatan hari ini adalah menengok kolega istri (sesama pensiunan) yang baru saja m...

Jati Diri

Bunga rampai esai yang saya culik dari blog ini setali tiga uang dengan sehimpun puisi, berisi sama-sama 65. Yang sehimpun puisi berisi 65 judul puisi dan yang bunga rampai berisi 65 esai. Satu esai mengulas perihal pesan Ayah kepada kami bertiga anak lelakinya bahwa, silakan hidup di mana saja dan menikah dengan siapa saja asal hindari yang berasal dari dua suku, Ayah sebutkan sukunya, xxxx dan yyyy. Ketika ragil kami menjalani hubungan asmara dengan cewek dari suku yang (satunya) Ayah sebutkan, saya cuma bisa menelan ludah. Akan tetapi, doa supaya ia dipertemukan dengan calon pendamping, wanita yang Sholehah, terus saya langitkan setiap bakda salat. Apa yang Ayah pesankan kepada kami perihal suku yang ditabukan itu pernah saya singgung pada anak-anak. Ada postingan di  blog  ini saya menyoal “jalan jodoh” yang berliku-liku. Tentang menemukan atau ditemukan. Tentang bibit , bebet , bobot . Bibit itu menyangkut garis keturunan, bebet menyangkut status sosial ekonomi, dan...

Dua Buku Menanti

Duh, dua acara ini waktu penyelenggaraannya beriringan. SBP launching buku “Kosa Kata Kita” di Jogja tanggal 17 dan DNP launching buku “MOZAIK” di Tegal tanggal 23-25 Oktober. Dua-duanya penting dan menarik untuk dihadiri, tapi yang mana yang kupilih untuk kudatangi, akhirnya ke Tegal. Sebenarnya ada rencana hendak ke Jogja dan  bablas Pacitan. Tetapi, waktunya masih akhir Oktober. Kalau sekiranya yang di Jogja sesudah di Tegal, cocok sekali. Hadir dulu yang di Tegal, lalu ke Jogja. Jadinya bisa menghadiri kedua-duanya. Sayangnya, acara yang di Jogja lebih dahulu baru disusul acara yang di Tegal. Dua buku menanti. Keduanya launching di Jogja dan Tegal. Keduanya ditandai momen pertemuan para penulis puisi (penyair) yang ada dalam buku itu, baik yang di Jogja maupun yang di Tegal. Mereka datang jauh-jauh dari daerah masing-masing. Setidaknya itu yang menjadi penutup Bulan Bahasa tahun 2026 ini. Di luar dua buku itu masih ada buku lainnya. Di SBP (Sastra Bulan Purnama) ada a...

Merayakan Sputnik 1

Tampilan Doodle Google hari ini tampak lain dari biasanya yang memajang nama Google secara mencolok. Hari ini tulisan Google tampak kecil di bidang yang menyerupai kanvas lukisan abstrak dengan ada titik-titik cahaya dibiaskan planet. Planet yang besar (mungkin Bulan) cahayanya lebih tajam dan planet kecil-kecil bertaburan seperti bintang. Setelah saya klik pada bidang tulisan Google di layar gawai, gambar doodle jadi tambah besar dan lebih menyerupai lukisan lanskap alam, di bawahnya muncul keterangan yang menjelaskan bahwa itu adalah penanda Pekan Antariksa Dunia (PAD) 2026 atau dalam bahasa Inggris World Space Week (WSW). Hemmm… ada, ya, perayaan ini. Doodle Google Pekan Antariksa Dunia  Berlangsung pada tanggal 4 hingga 10 Oktober 2026 dengan mengusung tema “Revolusi Roket (Rocket Revolution)”. Fokus tema yang diusung adalah tranformasi cepat dalam peluncuran antariksa, mulai dari pengembangan roket yang dapat digunakan kembali ( reusable rocket ) hingga pesatnya penerbanga...

Kasih Dia Tulang

“Anjing menggonggong kafilah berlalu” ini aforisme mencerminkan ketidakpedulian alias bodo amat pada apa yang dihadapi atau dialami. Siapa saja presiden yang merasa tidak nyaman dengan kritik? Rasanya semua presiden yang pernah menghuni istana. Karena itu, mereka yang mendaku sebagai kritikus dan vokal menyuarakan kritikan, oleh presiden  “ dilawan ”  dengan dua cara. Pertama , bodo amat terhadap kritikan yang mereka dengung-dengungkan. Kedua , menjinakkan mereka dengan jabatan atau kedudukan. Ada ruang-ruang nyaman yang bisa membuat kritikus terlena dengan fasilitas yang disediakan sehingga mereka lupa diri bahwa mereka dahulunya vokal, kini diam seribu bahasa. Ruang-ruang nyaman itu, misalnya sebagai wantimpres, komisaris BUMN dan jabatan yang lebih strategis seperti menteri dan wakil menteri atau “dibuang” jauh-jauh sebagai duta besar. Yang mana yang akan dipilih di antara pilihan pertama atau kedua , terserah kepada presiden sepenuhnya. Mau bodo amat boleh saja, bebas k...

Super Gemoy

Dahulu ada lembaga negara bernama Dewan Pertimbangan Agung (DPA) tugasnya sesuai namanya, yaitu memberikan pertimbangan. Intinya adalah menjawab segala pertanyaan presiden serta memberikan usul, saran, nasiha t , pertimbangan kepada pemerintah un t uk ke pemimpinan  ya ng baik. Kemudian, melalui amandemen UUD 1945 pada tahun 2003 saa t  di bawah pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri, DPA dibubarkan. Tahun 2004 SBY yang jadi presiden hasil pemilihan umum langsung. Mulai ia memerintah dengan tanpa ada DPA, tahun 2007 SBY membentuk wantimpres. Tumben kepikiran Pak Be y e. Ilustrasinya cover Majalah TEMPO Setelah SBY menyelesaikan jabatan dua periode hingga 2009, Jokowi yang menjadi presiden. Dan, wantimpres masih dipertahankannya, bahkan masih dengan jumlah sama seper t i di masa SBY, y ai t u  hanya 9 orang. Jumlah ini merupakan pola konsisten sejak era SBY yang jadi presiden. Masalah anggota kabinet J o k o wi pun sama. Di masa Jokowi, jumlah wantimpres maupun j...