Dari kabar grup WhatsApp “15 th SBP”, perayaan ulang tahun ke-15 Sastra Bulan Purnama (SBP) yang bertajuk “Bulan Purnama di Kota Kita” di aula kampus STPMD “APMD” kemarin, berlangsung hangat. Bukan hangat disebabkan udara musim kemarau, melainkan hangat karena acara itu mempertemukan penyair beserta ingatan-ingatan yang mereka simpan. Sastra Bulan Purnama (SBP) adalah salah satu dari empatpuluhan komunitas sastra yang tumbuh di Kota Budaya Yogyakarta. Saya mengetahui SBP sejak beberapa tahun silam, saat masih berkegiatan di Tembi Rumah Budaya Jl. Parangtritis Km. 8,4, Tembi, Sinduharjo, Sewon, Bantul. Pengin sekali rasanya nonton, tapi waktunya selalu tidak tepat. Tajuk HUT 15 SBP “ Bulan Purnama di Kota Kita ” berwarna biru muda pada bidang biru tua. Sesuai namanya Sastra Bulan Purnama, kegiatan yang digelar di Tembi Rumah Budaya itu, selalu pas di bawah sorotan bulan purnama. Seperti halnya juga pengajian Padang Bulan milik Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) bersama kelompok m...
Buku kumpulan puisi atau antologi puisi dengan judul “Kata Kota Kita” digagas oleh komunitas Sastra Bulan Purnama (SBP) diterbitkan oleh penerbit Tonggak Pustaka, Yogyakarta, memuat puisi karya 158 penyair dari berbagai kota, akan diluncurkan hari ini pukul 15:00 WIB hingga selesai bertempat di aula kampus STPMD “APMD” Jl. Timoho Yogyakarta. Ini buku ketiga bagi saya di Sastra Bulan Purnama. Buku pertama “Kitab Omon-Omon” memuat puisi “Kata Siapa, Politik itu Kotor.” Kemudian buku kedua berjudul "Manuskrip Indonesia" memuat puisi "Di Bawah Langit Kebangsaan" dan "Identitas Absurd", lalu buku ketiga “Kata Kota Kita” ini kabarnya dimuat dua puisi untuk setiap penyair. Dari 158 penyair terhimpun 316 puisi. Ilustrasi hasil tangkapan video SBP Seperti yang telah saya tulis di postingan tanggal 7 Oktober di bawah judul “Dua Buku Menanti” bahwa, sebenarnya menarik minat saya untuk hadir dalam perayaan ulang tahun Sastra Bulan Purnama, tapi karena ada juga renc...