Tidak pernah lagi saya menemukan nasi goreng yang enak, padahal waktu dahulu masih kerja di koran berkantor di jalan Urip Sumoharjo, mulai dari depan RS Urip Sumoharjo hingga bunderan BKP, saya hafal di mana saja nasi goreng yang enak mangkal. Semenjak koran itu tutup tahun 2016 dan pandemi Covid melanda sepanjang tahun 2020 hingga 2022, pedagang makanan apa pun kolaps. Ya, jangankan pedagang kecil pinggir jalan, wong pengusaha besar pun rontok dan tutup, melakukan PHK besar-besaran. Habis Isya tadi saya menelusuri jalan di perum BKP mencari pilihan nasi goreng mana yang akan saya uji coba (cek ombak). Ada empat pilihan pedagang nasi goreng gerobak. Yang tiga, kesemuanya sudah saya coba, uh... kurang rekomended. Jauh dari ekspektasi. Ada satu yang baru saya lihat tadi, saya mampir dan nyoba beli. Dari cara mengolahnya saja jauh berbeda dengan cara penjual nasi goreng gerobak umumnya, saya sudah bisa membayangkan bakal seperti apa rasanya. Nah, benar belaka, rasanya sungguh aneh....
Jiah, bunga Wijayakusuma yang ditanam di pot gantung teras rumah minimalis kami akhirnya mekar menampakkan kembang putih berseri. Waktu mekarnya kembang yang juga memiliki nama pendek wiku (akronim dari wijayakusuma) ini adalah tengah malam, entah pukul berapa. Mesti betah menunggu. Banyak video beredar menampakkan detik-detik proses mekarnya kembang wiku. Dalam hati, saya membatin, alangkah iseng serta telatennya orang mengisi waktu menunggu detik-detik mekarnya kembang dengan memposisikan kamera ponsel ke arah putik kembang yang akan mekar perlahan. Bunga Wijayakusuma mekar tadi malam Yang sudah ditanamkan di pot gantung ada dua, satu pot diikatkan di batang pohon kelengkeng, dan satu pot masih di tanah belum dibelikan pot gantungnya, semacam masih dikarantina. Nanti kalau sudah di pot gantung semua dan berkembang barengan , tak terbayang indahnya. Begitu semarak penampakan. Juga, seumpama kembangnya gak melulu berwarna putih, misalkan berwarna-warni, tentu meriah sekali. Tapi,...