Langsung ke konten utama

Postingan

Cara Sehat Sederhana

Hujan deras kemarin siang, saya tidak merasa kedinginan, tetapi justru kepanasan. Pasalnya, saya disuguhi sop kambing. Ya, kontan badan saya merasa panas imbas makan sop kambing itu. pulang ke rumah menjelang Asar, saya merasa kepala kok agak pening. Saya membatin, ini niscaya tensi saya mendaki ketinggian. Bakda salat Asar, saya keluarkan alat pengukur tensi digital yang sudah lama tidak saya pergunakan. Saya pasang baterainya dan memasangkannya ke lengan bagian atas, saya ukur tensi, hasilnya 136/69 mmHg dan detak nadi 81. Kata mesin pintar itu tensi darah saya normal. Setidaknya untuk lansia ukuran segitu itu normal. Tadi pagi saya jalan keliling perumahan. Sebuah cara untuk tetap sehat yang sederhana. Tidak perlu jadi member pada sebuah klub kebugaran yang kerennya disebut gym . Banyak orang jadi member gym dengan alasan agar terprogram. Tapi, faktanya banyak yang tidak konsisten mempergunakan keanggotaannya itu. Asas manfaat jadi member pada sebuah klub kebugaran tidak b...
Postingan terbaru

Orang Gemuk, Warning Ini

Negeri-negeri sedap. Begitu yang tersirat dalam hati saya ketika tahu duduk soal bagaimana asal mula ia tahu-tahu sudah di rumah sakit. Ceritanya, ia jalan pagi, saya mengistilahkan jogging . Sesampainya depan klinik pratama IDSA, penglihatannya seperti berkunang-kunang. Ia pun tanggap dan langsung saja masuk ke dalam klinik, menyampaikan keluhannya kepada dokter jaga. Dokter mempersilakan ia tidur di examination bed (ranjang periksa) dan dokter mengambil alat tensi darah. Sekembalinya dokter, mendapati ia sudah pingsan. Langsung oleh klinik dirujuk ke RS Abdul Moeloek. Pukul 02 dinihari baru sadar dari pingsan itu. Berarti itu kondisi koma, bukan sekadar pingsan biasa menurut bahasa awam. Syukur Alhamdulillah akhirnya beliau sadar, kalau tidak sadar, piye  Jal. Beliau adalah teman jemaah salat di masjid. Baru kisaran satu tahun ini aktif berjemaah. Tubuhnya memang tambun, bobotnya di atas 90 kg. Sudah memegang riwayat kesehatan sebagai penyintas diabetes melitus dengan gula dara...

Adat dan Adab

Beneran , baru sekali ini tadi nemui  tempat kondangan yang belum selesai sambutan-sambutan, tapi para tamu sudah ada yang makan. Saat kami mencari kursi tempat duduk, melewati pondokan, lohh kosong melompong, tak ada lagi isinya. Tandas diserobot para tetamu, sepertinya. Baiklah, kami (saya dan istri) duduk manis dulu saja. Tunggu... barangkali nanti ada anjuran kepada tamu undangan untuk menikmati hidangan. Tetapi, pada akhirnya kami beringsut dari tempat duduk, masuk barisan antrean menuju meja prasmanan. Mengisi piring dengan porsi makanan. Lalu, menikmatinya. Mak-mak di depan ini dah makan, di kiri itu antrean di meja prasmanan ambil makanan. Dan, biduanita melantunkan lagu "Aduhai senangnya pengantin baru, duduk bersanding bersenda gurau" diiringi orgen tunggal. Lohh , kapan suara si pewara menganjurkan para tamu makan? Biasanya sesudah selesai pembacaan doa oleh ustaz yang ditunjuk. Saya lalu merasa seperti tepat waktu, antara kami menikmati makanan dan biduan bernyan...

Lelaki Sholeh Itu...

Saya sedikit memendekkan langkah karena Kamis (11/6) selumbari, saya menempuh perjalanan ke Garuntang, menghadiri temu kangen reuni kecil mantan Kerabat Kerja tamTAMA (KKT) dan Lampung Ekspres Plus, maka ‘safari jumat’ cukup di masjid terdekat. Kembali lagi saya ke masjid Al-Anshor, BKP. Apalagi panas terik bikin segan pergi jauh-jauh terpapar panas matahari. Masjid Al-Anshor selalu penuh, entah dari mana para jemaah itu berdatangan. Yang pasti dari luar Perumahan Bukit Kemiling Permai. Parkiran mobil dan motor selalu terisi kendaraan pengunjung yang akan salat Jumat. Warga sekitar yang salat jumatan di Al-Anshor bisa dihitung jari. Pasalnya, tiap blok di Perum BKP ada masjid. Blok O yang terdekat Al-Anshor (blok N) punya masjid sendiri. Ilustrasi | YouTube Dari rumah saya berjarak +400 meter. Jogging pagi biasa melewati jalan di dekat masjid ini, bablas ke Blok M lalu turun ke arah Blok T, U dan Blok Z. Lalu mengarah ke Blok Y, mampir beli gorengan untuk teman ngopi. Di masji...

Makanan Pokok Fisik dan Psikis

Acapkali ketika kehendak menulis puisi berdenyut di jidat, saya membuka laptop sebagai panggung serta mempersilakan jari-jari untuk menari. Tapi, apakah jari-jarinya malu-malu atau kehendak yang berdenyut kurang membetot, alhasil tak juga diksi-diksi terbariskan oleh “word 13” menjadi larik dan tubuh puisi di layar laptop. Begitu pun halnya dengan yang menyebut dirinya “inspirasi” ketika datang berkunjung ke ruang lamunan, begitu hendak saya tuliskan tiba-tiba saja lenyap seperti guguran daun sirsak di depan rumah dalam got yang disapu air hujan. Ide yang melintas dalam pikiran hilang ketika hendak saya tuliskan. Gejala pelupa, tanda-tandanya datang. Degradasi daya ingat. Menurut ringkasan AI di halaman peramban Google, dijelaskannya sebagai penurunan kemampuan otak dalam menyimpan , mengolah , dan mengingat kembali informasi . Kondisi ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor , mulai dari penuaan alami , stres , gaya hidup , hingga penyakit seperti demensia . St...

Reuni Kecil tamTAMA/LE

Rasan - rasan hendak reuni kecil pensiunan karyawan tamTAMA & Lampung Ekspres Plus, kesampaian juga tadi siang. Bertempat di “kebun belakang rumah” Heri CH Burmelli. Sebuah wahana santai di lereng Bukit Mega Raya tepat di sisi rel. Setiap 15 menit kereta babaranjang lewat (pergi dan pulang) dari Bukit Asam, Tanjungenim ke Tarahan, Panjang mengangkut batubara. Pergi ke Tanjungenim membawa gerbong kosong dan pulang ke Tarahan penuh muatan batubara. Begitu terus setiap hari, siang dan malam. Ngerusuhi . Dari lereng bukit ini, saya buang jauh tatapan ke Teluk Lampung. Nun, di kejauahan tampak Pulau Pasaran, Gunung Kunyit yang kian kurus karena digerus, Lampung City Mal, Aston Hotel, Novotel, dll. Kapal-kapal nelayan tentu saja ada karena laut. Google Maps yang diser Heri di grup WA hanya sepenggal dengan titik mula patung-patung kuda di jalan menanjak menuju Bukut Mega Raya dan titik akhir di “kebun belakang rumah” itu. Agak membingungkan. Saya telusuri dari jalan yang paling jauh...

Mati Lampu dan Cerita Ibu

Melanjutkan cerita tentang mati lampu yang dibesut status facebooknya Bang Naim Emel Prahana. Membuat saya tiba-tiba saja membuka jendela ingatan. Reformasi baru berusia satu tahun, 1999 anak sulung kami baru masuk TK dan adiknya umur 1,5 tahun. Dunia politik belum stabil, reformasi masih mencari arah, jalan mana yang hendak dilalui dan ke mana hendak menuju. Seperti anak yang baru belajar berjalan, dunia ekonomi tertatih-tatih, harga barang kebutuhan pokok memang masih terjangkau masyarakat yang baru saja terbebas dari belenggu Orde Baru karena masih digandoli subsidi pemerintah. Pemerintah baru di bawah BJ Habibie, mencoba menenangkan rakyat yang mendukung gerakan mahasiswa, menumbangkan rezim Orde Baru. YouTube GOENG STORY | Spesial Hari Ibu  Tapi, yang namanya mati lampu masih rutin menyambanginya. Byar pet tanpa kulonuwun datang tak kenal waktu. Kalau tidak pagi, siang. Atau malam tiba-tiba pet mati, beberapa jam lamanya. Lampu ublik mengambil alih peranan, ditenagai m...