Mengulang yang pernah terjadi, ke arah Pesawaran lagi saya 'safari jumat' hari ini. Yang saya tuju kali ini Masjid Jami' Nurul Hidayah desa Kurungan Nyawa, agak terus sedikit dari masjid Baitul Amanah desa Margorejo Kurungan Nyawa, tempat saya 'safari jumat' 19 Maret 2026 silam. Halaman tempat parkir luas. Masuk ke dalam, bentuk bangunannya tidak persegi empat atau persegi panjang, ada sudut yang miring sehingga membuat bangunan masjid seperti penceng. Musababnya karena mengikuti bentuk lahan yang mepet dengan bangunan rumah warga. Di samping kanan merupakan kebun warga yang luas. Interior Masjid Jami Nurul Hidayah Kurungan Nyawa, Kabupaten Pesawaran Masjid ini dua lantai. Tangga untuk naik ke lantai atas berada di luar, bukan di dalam masjid sebagaimana lazimnya. AC yang terpasang di dinding cuma empat, selebihnya untuk membuat suhu udara jadi sejuk tersedia beberapa kipas angin. Jendela kaca dengan bingkai aluminium membuat ruangan jadi terang, tidak gelap. Buku ...
Setelah dua puisi mengendap lama di laptop, sabar menunggu satu puisi tambahan yang bolak-balik sunting ulang, bahkan bongkar pasang demi menjadi puisi yang sempurna, akhirnya di enam hari jelang deadline , pukul 10:41 tadi, tiga puisi meluncur ke surel “puisi kebangsaan” milik SBP (Sastra Bulan Purnama) Jogja. Karena memakai chat both , seketika puisi terkirim ke surel SBP, seketika itu juga masuk balasan bahwa puisi yang saya kirim telah diterima. Akun WhatsApp bisnis memang jamak menggunakan chat both untuk membalas pesan secara otomatis. Hal itu dilakukan demi terjalinnya interaksi dan komunikasi dua arah yang cepat. Antologi Puisi "Kata Kota Kita" untuk merayakan HUT ke-15 Sastra Bulan Purnama Jogja. Buku akan diluncurkan nanti 17 Oktober 2026. Kendatipun komunikasi dua arah yang dibantu oleh mesin pintar, layak belaka dan bukanlah sesuatu yang tabu. Sebab, di era digital dan serba instan, kecepatan dalam sebuah interaksi dan komunikasi sangat diperlukan. Maka, pen...