Langsung ke konten utama

Postingan

Obat Demam

Seiring perayaan pra Paskah (Kamis putih, Jumat agung, dan Sabtu suci), umat muslim di suasana bulan Syawal, pada Kamis, Jumat, dan Sabtu ini menjalankan puasa ayyaumul bidh. Saya baru mulai puasa Syawal sejak Kamis sekalian puasa ayyaumul bidh, tapi hanya bisa sampai Jumat, Sabtu terpaksa saya menyerah karena demam. Tahun lalu, agak lupa tepatnya tanggal berapa dan bulan apa, saya juga menyerah puasa ayyaumul bidh di hari kedua karena diserang vertigo. Demam kali ini tidak parah amat, mulai bab pukul 3 dini hari. Seharian berulang hingga tiga kali, begitu tengah hari keluar bintik-bintik (ruam merah) di bagian perut dan punggung. Tidak harus ke klinik, cukup minum obat yang ada di kotak obat. Paracetamol lebih dari cukup untuk menjinakkan demam yang tidak begitu parah. Untuk lebih mendapatkan tubuh yang prima, ditambah vitamin. Tapi, obat paling mujarab agar cepat sembuh adalah makan yang banyak, walaupun tidak nafsu kudu dipaksakan. Puasa Syawal saya baru dapat dua hari, Senin dilan...
Postingan terbaru

Jumat Agung

Jadi, bersamaan dengan Jumat Agung umat Katholik yang akan merayakan Paskah pada hari Minggu lusa, hari ini saya melanjutkan 'safari jumat' ke masjid Al-Huda, Beringin Jaya, Kemiling. Masjid yang berada di persilangan Jalan Banowati, masuk ke dalam di belakang Gabovira (toko batik khas Lampung), begitu masuk ruang dalam masjid, udara sejuk dari AC langsung memeluk tubuhku. Tampilan Masjid Al-Huda dari luar  Saya lihat banyak AC terpasang di dinding masjid, tapi tidak satu pun dihidupkan karena ada dua AC (seperti lemari es) di kiri kanan sudut depan masjid. Mampu mendinginkan ke seluruh penjuru ruangan. Ada beberapa tiang penyangga lantai dua, rasanya wajar saja, tidak begitu mengganggu ruang bawah masjid. Kendati lantai atas tidak jelas betul perihal fungsinya, tiang membuat masjid tambah estetik. Ruang dalam masjid  Di bagian belakang masjid sayap sebelah kanan ada satu menara tinggi. Mengalun syahdu dari atasnya bacaan Al-Quran dari audio, mengundang jemaah untuk bersegera ...

Kabar Penyair Pergi (2)

Lagi, penyair berpulang. Hafney Maulana, penyair kelahiran Sungai Luar, kabupaten Indragiri Hilir, Riau, tahun 1965. Wafat Selasa, 31 Maret 2026. Berarti ia berpulang ke Rahmatullah dalam usia 61 tahun, sudah masuk kategori warior (warga senior) yang ditetapkan oleh Yayasan Dari Negeri Poci, waktu menginisiasi antologi “Sang Warior – The Seventies Selected" diterbitkan Kosa Kata Kita, Februari 2026. Buku “Sang Warior” saya terima hari Minggu, 29 Maret 2026 pukul 14:02 WIB atau 02:02 PM. Apakah “Sang Warior” adalah buku antologi terakhir yang memuat puisi almarhum Hafney Maulana? Entahlah. Saya juga tidak tahu, apakah buku “Sang Warior” sudah sampai ke tangannya atau masih dalam perjalanan dari Jakarta menuju alamat rumahnya? Menjadi sebuah tanda tanya besar yang ditinggalkannya berpulang. Ini seperti ketika Drs. Abdul Karim, M. M. (Abah Karim) berpulang pada 29 Januari 2026. Penyair asli Tanah Laut, Kalimantan Selatan, ini dalam setiap karya puisi suka menggunakan nama pena Ok...

Kopi Pahit

Dulu, sewaktu Amiruddin Sormin berpulang ke Rahmatullah, masa pertemanan kami di facebook baru sekitar 6 bulan. Tadi malam, tatkala saya buka facebook , diingatkan oleh  platform  milik meta ini, pertemanan kami tepat berusia 1 tahun. Dapat kabar wafatnya almarhum Amiruddin Sormin --agak terlambat (baru besoknya)-- saya menulis di blog ini (agak lupa pula tepatnya diposting tanggal berapa), bersama pula cerita tentang pertemanan dengan almarhum Ahmad Yulden Erwin (AYE). Satu tahun pertemanan kami di facebook  Pengingat dari facebook tadi malam langsung saya skrinshut untuk saya pakukan di postingan blog  ini hari. Yang saya suka dari Amiruddin Sormin adalah tulisan kolomnya di lampungpro.co , sebuah portal berita digital yang ia sebagai pemimpin redaksinya. Kolom "Kopi Pahit" yang menyuarakan kritik satir Amiruddin Sormin Siregar (nama lengkap) jurnalis jebolan surat kabar Lampung Post , ini begitu pahit seperti menyeruput kopi. Pas banget dengan nama kolom yang...

Limus Super Besar

Lagi..... berangkat satu file puisi (berisi tiga judul) saya kirimkan barusan ke panitia. Sepulang dari Iman Jaya beli camilan buat teman ngopi dan ke pasar di dekat masjid Baiturahim, Beringin Raya, tapi sampai sana saya malah bingung, sebenarnya pengin beli apa. Akhirnya pulang saja mengingat di rumah masih ada stok tiga ikat pokcay. Istri menyiapkan rajangan pokcay untuk ditumis sembari menjerang air buat ngopi, saya membuka laptop untuk mengirim file puisi tadi. Beres dan terkirim, tak ada beban lagi. Plong rasanya hati. Limus super besar di pasar tempel Baiturahim  Di pasar tadi saya melihat buah pakel super besar di dalam keranjang plastik. Inilah buah pakel terbesar, yang sedang ada juga dan terkecil pun ada yang ulun Lampung menyebutnya limus pantis . Disebut limus pantis karena mengacu pada buah pantis atau lerak. Ya , pantis adalah lerak. Tahu kan buah lerak itu kecil seperti kelereng. Nah, pakel yang paling kecil disebut limus pantis oleh ulun Lampung. Di...

Mulai Merantau

Hari ini gaskeun dua file merantau setelah saya kirim melalui e mail ke hadapan Tim Kurator yang akan mengurasi secara ketat seluruh puisi kiriman penyair masuk ke hadapan mereka. Perhelatan menulis puisi untuk tahun 2026 mulai menapakkan langkah, pelan-pelan saja, tak perlu buru-buru. Satu per satu saya selesaikan dengan tekun dan penuh semangat. Selesai, saya kirim. Tapak langkah pertama, pada 12 Maret untuk even "Puisi Kebangsaan" dihelat Sastra Bulan Purnama, Jogja, yang tahun lalu menerbitkan Antologi "Kitab Omon-Omon. Pada tahun ini bertema kebangsaan. Tapak kedua, 15 Maret, saya kirim"Pantun Majelis" yang sudah lolos kurasi. Perhelatan ini ditaja Perkumpulan Rumah Seni Asnur (Perruas), tahun lalu menerbitkan Puisi Etnik Nusantara. Tapak ketiga, 16 Maret, juga masih dari Perruas berupa Puisi Ramadan. Rencana peluncuran buku dilaksanakan di Pekanbaru pada 18 April. Saya menyatakan tidak akan menghadirinya. "Mulai Merantau" sebagai judul postin...

Sebelum Terakhir

Pukul 14 lewat 2 menit (02:02 PM) datang kurir mengantar paket. Saya sudah bisa menebak dengan pasti bahwa yang diantar adalah buku “Sang Warior” karena memang sedang didistribusikan pada para penulis puisi gaek yang tergabung di dalamnya. Benar belaka, setelah saya terima, pada sampul paket terbaca jelas “Kosa Kata Kita” alias KKK, identitas sang penerbit yang menerbitkan buku Antologi Puisi Penyair 70-an (penyair berusia 70 tahun atau tepatnya 60 tahun ke atas) atau penyair kelahiran minimal tahun 1965. Sang Warior, The Seventies Selected Kenapa judul postingan blog kali ini Sebelum Terakhir? Karena buku ini adalah bagian dari antologi yang saya ikuti sepanjang tahun 2025. Bukan buku terakhir karena masih ada satu buku yang saya tunggu kedatangannya yang merupakan proyek lama. Sejak awal tahun 2025. Proyek nulis puisi bertema “Terang Bulan Tepi Lautan” yang puisinya saya kirim pada 8 Juli 2025. Admin yang mengampu proyek ini sibuk oleh kegiatan antologi lain, sehingga proyek ...