Langsung ke konten utama

Postingan

Donor Lagi

Pulang dari safari jumat di masjid Al-Istiqomah dengan membawa seporsi mie ayam sedekah ‘Jumat Berkah’, tatkala melewati jalan depan masjid Al-Anshor, saya dipanggil tetangga yang salat jumatan di sana. Saya lihat ada ramai-ramai, saya tanya ada apa? “Ada donor darah, mau donor apa,” jawab tetangga itu. Sejak donor pertama 27 Serptember 2024 sebelum umrah 8 Oktober 2024, kendati diingatkan aplikasi Kartu Donor digital yang saya tanam di pekarangan gawai, tak saya gubris dan pergi ke PMI untuk disedot sebanyak 350 cc darah lalu disimpan dalam kantong kedap udara ditaruh di lemari pendingin kantor PMI. foto pendonor saat darah sedang disedot  Entah kenapa pula saya abaikan peringatan ‘waktunya untuk donor’ dari Kartu Donor digital tersebut. Padahal, secara kondisi kesehatan sepulang dari umrah, itu saya sangat sehat. Bahkan, selama menjalani rangkaian ibadah umrah, baik di Madinah maupun di Mekah, saya termasuk yang paling sehat di rombongan keluarga. Secara keseluruhan rombong...
Postingan terbaru

Jalan Menuju Istikamah

Melanjutkan kehendak istikamah langkahkan kaki safari jumat, tadi saya sempat mutar-mutar hendak ke masjid mana karena tidak ada perencanaan. Saya menujua ke masjid Al-Aqso di Blok R, eh… rupanya masjid itu tidak dipakai salat jumatan karena warga di sana sepertinya jumatan di masjid Al-Anshor. Akhirnya saya masuk ke Gang Bayur. Nah, masjid yang hendak saya tuju juga sepi, tak ada bunyi-bunyian spiker masjid ke luar dari TOA di atas atap. Kembali saya keluar ke jalan raya menuju arah Kurungan Nyawa, balik masuk Gang Bayur, ke masjid yang memang dari jauh terdengar lantunan ayat suci di TOA. Saya parkir motor dan masuk ke dalam masjid. Eh, ada penikmat MBG, jadi anak saleh, ya! Sejuk hawa dalam masjid dari pendingin udara di dinding menyergap tubuh saya, nyaman merasuk ke alam sadar saya. Usai salat tahyatul masjid dan dhuha, saya langsung buka gawai dan membaca Surah Ar-Rahman sebagaimana biasa saya lakukan. Selesai, saya cecelinguk mencari jadwal salat digital di dinding. Terba...

Haul (Ngehol)

Ada dua haul yang saya hadiri berturut-turut dua malam berlalu. Selumbari (Rabu) malam haul ( nyeribu hari) Bapaknya Busi (besti istri), tadi (Kamis) malam haul ( nyeribu hari) imam masjid kami, Bapak Drs. Asrori (almarhum). Tak terasa sudah seribu hari (kurang lebih 3 tahunan) lamanya mereka berpulang. Haul ( nyeribu hari) adalah semacam ‘upacara’ buat mengenang kepulangan sesorang yang waktunya sudah genap 1.000 hari atau kurang lebihnya, tidak mesti tepat hitungannya. Adakalanya pihak keluarga menepatkan waktu kirim doa pada malam Jumat, sehingga meleset dari 1.000 hari. Soal pilihan waktu. Haul di tempat besti istri (Rabu malam) Saya pikir hanya wong Jowo saja, seperti keluarga besti istri di atas yang merawat tradisi ngehol (ngadain haul), ternyata keluarga imam masjid kami yang merupakan ulun Lampung, juga mengenal tradisi ngehol . Mereka mengundang bapak-bapak jemaah masjid bakda salat Isya, untuk mengenang kepergian beliau dan kirim doa. Atau mungkin memang ada ...

Lansia Bahagia

Punya alat ukur tensi darah digital sendiri di rumah bisa  sakwayah - wayah  cek tensi darah. Kemarin karena merasa kepala agak pening, saya cek tensinya 130/80, berarti normal untuk kategori lansia seperti saya. Bahkan, ada yang beranggapan 140/90 tergolong normal, di bawah itu masuk  ‘ darah rendah. ‘ Seperti pengakuan “teman jalan subuh” yang belum aktif salat berjemaah ke masjid pascaoperasi hernia kedua kalinya. “Masih terasa nyeri, di rumah pun saya salat duduk,” katanya. Saya suruh bawa kursi spesial untuk salat ke masjid. “Ah, malau,” ujarnya. Mengapa mesti malu. Para koruptor saja pede dan narsis abis. Suasana posbindu di rumah Pak RT. 13 Katanya, tensi 140/90 itu ukuran normal untuknya. Ia rutin periksa pada anak gadisnya sendiri yang lulusan pendidikan bidan. “Jika di bawah itu, rasanya badan lemas dan agak kliyeng - kliyeng ,” katanya. Ukuran kayak punyanya itu, kalau saya terbilang tinggi, bikin kepala pening. Waktu 160/90 saya usahakan turun ke normal. Pag...

Meraba Jantung Metro

Waduh, sayang sekali bermalam di kota tua ini berhiaskan hujan. Niat semula hendak keluar melihat seperti apa nuansa malam di sini. Ah, di Metro hujan gelisah, pengin selalu turun menghiba ke tanah, menghempaskan rasa gerah . Kupikir hanya di kota Bandar Lampung saja yang perangai begitu. Kota tua ini penuh cerita. Lama jadi inang pengasuh (ibu kota) bagi kabupaten Lampung Tengah, akhirnya mau berdiri di kaki sendiri, mandiri sebagai kota yang dengan wajah semakin menua, setelah membelah diri dan terpisah dari kabupaten yang dahulu disusui penuh cinta dan kasih sayang. Tanda punya wibawa. Yuh, masih ada becak genjot di Metro  Sayang kan tak berhasil menikmati lekuk liku tubuh malam di jantung Metro. Tapi, jantung kota Metro ini sesungguhnya di mana, saya kurang paham. Masjid Agung Taqwa angkuh di sudut persilangan empat jalan yang di tengahnya ada tugu sebagai pemisah ke mana langkah orang bergerak. Jantungnyakah? Lalu lintas di jalanan tidak begitu ramai. Orang yang datang ...

Motoran ke Metro

Kami dapat undangan hajat manten di Desa Banjarejo, Kecamatan Trimurjo, Lampung Timur. Kubilang sama istri, "Kita motoran aja, lewat jalan Untung Suropati, konon lebih cepat dan aman ketimbang lewat jalan raya Natar yang agak ngeri - ngeri sedap  sebab banyak kendara truk gede - gede . Berangkat jelang pukul 11 dari rumah, mampir soto SSB buat sarapan. Pukul setengah 12 selesai sarapan bergerak menuju jalan Untung lewat By Pass, pelan menyusurinya terus lurus sesuai petunjuk saudara yang anak gadisnya kuliah di PGSD Unila kampus Metro. Tiba di kota Metro kurang dari pukul 1 siang. Masih banyak becak kayuh di Metro  Wah, cepat juga kendati hanya dengan kecepatan 40 kilometer per jam. Kendati jalan mulus, tapi banyak lubang jeglokan yang sangat membahayakan apabila njengkang . Padahal, kalo pengin ngebut bisa aja sih karena jalanan relatif sepi dari lalu lintas kendaraan, bahkan hampir terbilang lengang, lewat kebun karet. Setelah keliling-keliling cari hotel, habis salat Zu...