Dalam hal membaca, di era digital ini, buku fisik seperti kehilangan pamor. Dan saya, akan tetapi, masih suka saja menyelipkan satu eksemplar buku ke dalam tas selempang yang sering saya bawa ke mana-mana ketika bepergian. Kendati nanti, pada akhirnya, tidak juga saya baca tersebab perhatikan teralih ke gawai. Pada gawai itu juga ujungnya kesenangan membaca saya berpindah dari buku yang ada di dalam tas. Saya buka X (twitter), saya baca di situ. Ilustrasi|puisi dalam lagu|youtube Saya buka Threads, saya baca di situ. Pun, ketika buka Instagram, saya baca di situ. Dari ketiga platform sosial media tersebut banyak sekali bahan bacaan yang saya temui dan membuat waktu saya tersita, tenggelam membaca. Pagi ini, ada dua 'igauan' di Threads yang membuat asam lambung nyaris naik ke ulu hati. Pertama , soal saos Abang bakso yang ternyata 0% bahannya cabe. Agar ada sensasi rasa pedas dan merah warna cabe, semua hasil rekayasa. Kedua , ada kapal tanker berbendera Pertamina, tapi seluruh ...
Tadi pagi saya kembali jogging setelah lama vakum. Keliling perumahan hanya dengan bersandal belaka yang biasanya komplit dengan sepatu kets. Celana, ya, tetap training, tapi kaos polo yang semestinya bukan untuk olaraga karena gak begitu niat. Belum sampai rumah, digiring hujan gerimis tipis-tipis. Tapi, ada hal yang membuat bulu kuduk saya berdiri, hujan disertai panas. Ya, hujan panas, begitulah menyebutnya. Mengapa bulu kuduk saya berdiri? Ingat mitos-mitos di masa kecil, “hujan orang mati.” Ilustrasi| gambar: Rumah Makan Duta Minang Memang, sayup-sayup suara kabar lelayu dikumandangkan dari TOA masjid di daerah sekolah PERSADA. Jadi, ceritanya, di masa kecil di kampung dahulu, bila hujan panas, itu pertanda “hujannya orang mati.” Nah, c emana tidak bergidik bertemu hujan panas. Ada kiatnya, akan tetapi, diajarkan orang tua. Agar terhindar dari bala atau hal-hal yang kurang sedap bila terkena hujan panas. Kiat itu saya praktikkan. Sesampai di rumah saya langsung mandi ...