Malam ini ada dua tempat tahlilan yang barengan . Satu niga hari dan satu lagi matangpuluh hari. Yang niga hari, tetangga sebelah RT yang kemarin dianggap anonim. Yang matangpuluh hari, Pak RT yang saya tulis cerita tentangnya beberapa kali sejak 6 Mei, saat saya besuk di RS Bintang Amin. Semua ada 8 tulisan dengan berbagai cerita tentangnya. Ini tulisan ke-9. Saya hadir untuk turut mendoakan serta membuktikan premis yang saya tulis tentangnya. Yaitu, beliau orang yang low profile dan humoris. Karena menjabat sebagai ketua RT, tentu dekat dengan warganya.
Baru saja pulang tahlilan di RT sebelah, hari kedua. Yang berpulang ke Rahmatullah ini seorang bapak pegawai BUMN – byar pet – . Masih muda, belum ada 50 tahun. Selama ini kami belum pernah melihat wajahnya. Kok bisa? Karena ia bukan jemaah masjid dan belum pernah ketemu saat ia keluar rumah. Begitu anggapan awalnya. Anggapan sebelum tahu sejelasnya. Akan mudah mengenal tetangga, apalagi berbeda RT bila sering bertemu di masjid atau sedang takziah tetangga meninggal. Bukan saya sendiri, melainkan teman-teman jemaah masjid juga bertanya-tanya, beliau yang meninggal ini yang mana sih orangnya? Ada satu dua tetangga yang tidak salat berjemaah di masjid, tapi karena sering ketemu dan bertegur sapa, maka jadi kenal bahkan akrab. Akan tetapi, agak laen jadinya bila hingga namanya disebut di TOA masjid saat wafat, banyak yang tidak tahu orangnya yang mana. Anggapan sebagai anonim. Kendati begitu, saat namanya diumumkan di TOA masjid kemarin pukul 03:00 PM setelah kabar wafatnya belia...