Langsung ke konten utama

Postingan

Apa pun, Tetap Ngopi

Betapa syahdunya cuaca, sepagi ini hujan dengan langkah pelan menapaki jalan yang dilaluinya. Tidak cepat jalannya (deras jatuhnya), tapi tak mengizinkan (menghalangi) saya untuk keluar mencari camilan buat teman ngopi. Apa daya. Untung ada persediaan biskuit dan buah pir. Jadilah ada persimpangan kebiasaan. Biasanya ngopi bersahabat dengan gorengan, pagi ini dipertemankan dengan buah dan biskuit. Yang penting ngopinya, tak peduli apa pun sandingannya. Sekadar ilustrasi | foto: Basajan.net | Seperti tagline teh botol yang sudah ngetop sejak zaman saya SMA tahun ‘80an yang kala itu masih satu varian rasa, teh melati thok . Sekarang sudah ada rasa madu, anggur, dan jeruk. “Apa pun makanannya, minumnya teh botol COCOK.” Frasa COCOK itu sekadar buat memplesetkan merek teh botol yang sudah legend tersebut. Saking legendarisnya teh botol COCOK itu, muncul kemudian merek teh botol lainnya. Buat apa? Tentu buat bermain di gelanggang persaingan. Memang begitulah galibnya dunia bisnis....
Postingan terbaru

Black Out

Tadinya agak ragu berangkat apa tidak, tahlilan nujuh hari almarhum Pak RT yang wafat Sabtu, 6 Mei 2026 – (lihat “Yang Pulang Tengah Hari”)– oleh sebab mati lampu tiba-tiba. Karena memang sudah niat hendak hadir tersebab kedekatan hubungan anak almarhum dengan istri saya yang bestian , gelap jalanan perumahan kami terabas. Di TKP sudah banyak jemaah tahlilan yang hadir menempati kursi-kursi di bawah tenda. Saya mencari posisi duduk yang jauh dari asap/bau rokok, agak tengah-tengah belakang orang-orang yang bagian dari jemaah “hisapiyah” alias ahli hisap, bukan ahli hisab. Sementara istri saya diantar masuk ke dalam rumah sahibul musibah. Sosok ustaz K.H. Gusnedi, S.Ag di kejauhan sedang menyampaikan tausiahnya.  Saya sangat sensitif terhadap asap rokok. Dalam hal ini, saya mengarang puisi yang menarasikan ‘mengapa orang kok merokok di tempat tahlilan’ apakah tidak bisa menahan diri barang sebentar, nanti setelah pulang ke rumahnya baru merokok. Agak aneh memang saya. Pernah p...

Jumat Taqwa

Nah, kesampaian 'safari jumat' di masjid Taqwa Jl. Kotaraja Tanjungkarang yang sejak tiga pekan lalu saya hajatkan dan baru pada hari ini  kelakon . Untuk salat jumatan memang baru kali ini, tapi untuk salat Zuhur sudah berkali-kali. Agak laen ini masjid. Khutbah Jumat setengah jam lebih. Pukul 12:32 WIB baru selesai khutbah pertama, ditambah khutbah kedua 10 menit. Praktis hampir pukul 01 baru selesai jumatan. Apakah selalu begitu? Beberapa orang jemaah di depan saya sudah berganti gaya duduk berapa kali karena merasa kakinya pegal. Begitu juga dengan saya, tak luput mengubah posisi persilangan kaki, kanan dan kiri saling dipertukarkan agar tidak sampai keram. Bahaya kalo sampai keram. Alhamdulillah, kendati masuk kategori lansia secara usia, tapi ketahanan fisik saya masih bisa mengikuti bagaimana tarian hidup. Hal yang membuat begitu karena jogging sesekali. Nggak tiap hari, cuma dua atau tiga kali seminggu. Itu pun kalo lagi gak malas. Jumatan di masjid Taqwa ini me...

Jam Rusak Jangan Dibuang

Nah, benar belaka apa yang saya ujarkan dalam postingan blog kemarin, bahwa ada orang membiarkan jam dinding mati, terpacak bisu di tembok ruang tamu (dijadikan hiasan dinding). Padahal, tinggal ganti mesin bisa hidup kembali. Bapak pemilik “Omega Arloji” di Bambu Kuning Trade Center, mengemukakan hal itu. Sambil si Bapak dan putrinya mengganti mesin jam kami, si Bapak berkata, “Ada orang main buang jam yang udah mati, padahal masih bisa diganti mesinnya.” Berbagai merek jam tangan jualan "Omega Arloji" kios No.254 Bambu Kuning Trade Center. “Kemarin siang ada orang bawa tiga jam ke sini. Sebelumnya ada empat jam dibuangnya,” lanjut si Bapak menceritakan ketertegunan klien yang baru ngeh ternyata jam dinding mati masih bisa dipakai dengan cara mengganti mesinnya. Sesepele itu. Si Bapak juga terkagum-kagum pada merek jam dinding kami, NAGOYA. Katanya, ini sudah nggak diproduksi, tadinya banyak kami jual, sekarang tinggal satu itu seraya ia tunjukkan jam di tembok kio...

Mesti Ganti Mesin

Pagi, kehendak pergi dikutuk hujan. Baiklah, berdiam diri dulu sejenak mengukur cuaca, ke mana arah angin, apakah akan bisa menjinakkan mendung agar tak lagi hujan turun di tengah hari. Pagi ini kami rencanakan hendak mengganti mesin jam dinding yang kendati diganti baterai, bisa hidup sebentar, tapi ujung-ujungnya masih juga mati suri. Berarti pokok masalah adalah mesinnya kudu ganti. "Omega Arloji", kios nomor 254 di Bambu Kuning Trade Center, memang sering jadi tempat kami mengganti baterai jam tangan. Kali ini akan kami datangi untuk ganti mesin jam dinding "stroke". Tanpa makan pagi terlebih dahulu, kami gegas ke BK (sebutan untuk Bambu Kuning). Berencana sesudah selesai urusan ganti mesin jam dinding, baru makan siang (merapelkan sarapan) di depan Simpur Center. Sarapan kami kopi + camilan. Sudah lama tidak ke warung makan sederhana, tapi lumayan enak itu. Tiap ke Karang (Tanjungkarang) kami berdua istri selalu menghibur perut lapar di warung makan itu. Dua j...

Pantulan Cermin

Bercerminlah untuk melihat sosok diri secara gamblang. Tapi, ada yang bisa dilihat tanpa menggunakan cermin sebagai medium meneropong. Apa itu? perhatikan siapa saja yang datang melayat saat seseorang wafat. Tentu juga termasuk seberapa banyak. Jika banyak yang datang melayat dan kiriman bunga papan ucapan turut berdukacita berderet-deret, bisa ditebak bahwa yang wafat adalah pejabat atau paling tidak mantan pejabat (yang tidak punya cela). Seberapa banyak yang datang melayat dan kiriman bunga papan, itu adalah pantulan cermin seberapa bermakna seseorang yang wafat itu di mata publik (masyarakat kebanyakan). Atau dengan perkataan lain seberapa gaul seseorang tersebut di masa hidupnya dalam bermasyarakat sebagai pengamalan hablum min an - naas . Seberapa mesra hubungan baik dengan jiran tetangga, kawan, dan sanak saudara. Akan berlaku juga untuk sebaliknya, seberapa sedikit yang datang layat. Tadi malam tahlilan hari/malam ketiga ( nigahari ) atas kepulangan Pak RT yang mangkat Sabt...

Lansia Energik itu Hilang

Masih melanjutkan cerita postingan blog kemarin, 17 Mei berjudul "Yang Pulang Tengah Hari" yang merupakan lanjutan dari cerita berjudul "Si Darah Manis" pada postingan tanggal 6 Mei atau tepat sepuluh hari sebelum ia berpulang. Jadi, ceritanya, si Bapak yang berpulang ini adalah pensiunan pegawai Kantor Wilayah (Kanwil) Depag (sekarang Kemenag). Setelah pensiun, oleh warga didapuk menjadi ketua RT, jadi timses caleg jelang pemilu. Kesibukan lain aktif di komunitas senam. Ibu-ibu anggota senam seusai senam, menyimak edukasi dari dokter pengelola komunitas. Saat kami besuk Selasa, 6 Mei, itu ia katakan sudah dua minggu nggak senam, kawan-kawan curiga kok Pak Syukur nggak nongol-nongol, didatangilah ke rumahnya, ternyata sedang dirawat di RS Bintang Amin. Diburulah ke ruang rawat inapnya di RS itu. "Kami sengaja nggak ngomong-ngomong kepada tetangga dan kawan-kawan di komunitas senam, tetapi karena digelitik rasa penasaran, ada kawan senam datang ke rumah. Te...