Langsung ke konten utama

Postingan

Kembang "Mbingungi"

Jiah, bunga Wijayakusuma di pot gantung ini akhirnya mekar menampakkan kembang putih berseri. Waktu mekarnya kembang yang juga memiliki nama pendek wiku (akronim dari wijayakusuma) ini adalah tengah malam, entah pukul berapa. Mesti ditunggu. Banyak video beredar menampakkan detik-detik proses mekarnya kembang wiku. Dalam hati, saya membatin, alangkah telaten orang mengisi waktu menunggu mekarnya kembang dengan memposisikan kamera ponsel ke arah putik kembang yang akan mekar. Bunga Wijayakusuma mekar tadi malam  Yang sudah ditanam di pot gantung ada dua, satu pot diikatkan di pohon kelengkeng, dan satu pot masih di tanah belum dibelikan pot gantungnya, semacam masih dikarantina. Nanti kalau sudah di pot gantung semua dan berkembang bareng, tak terbayang indahnya. Juga, seumpama kembangnya gak melulu putih, misalkan berwarna-warni, tentu meriah sekali. Tapi, karena kembangnya cuma putih itulah, maka namanya Bunga Wijayakusuma. Saya kirim fotonya ke kawan, ia menyangka buah naga, keti...
Postingan terbaru

“Membayar Kekalahan”

Pekan lalu, sedianya saya berniat safari jumat di masjid perumahan Springhill, tapi agak sungkan karena ini perumahan elit, di gerbang mesti melewati portal yang dijaga sekuriti. Sebenarnya tidak apa-apa, dengan dress code baju koko dan di kepala bertengger kopiah, mereka sudah mafhum bahwa masuk ke sana tujuannnya hendak ke masjid yang ada di dalam, tentu dibolehkan. Akhirnya saya mutar-mutar tak tentu arah tujuan hendak ke masjid mana, lalu berlabuh di masjid Al-Istiqomah Gang Bayur. Nah, demi “membayar kekalahan” pekan lalu, tadi saya langsung saja masuk kea rah Springhill. Melewati portal, sekuriti mengarahkan pandang matanya ke pelat nomor polisi motor. Barangkali sudah SOP bagi yang bukan penghuni mesti begitu bila masuk. Interior masjid Entahlah, apakah dicatat atau tidak. Karena sudah pernah dahulu salat Zuhur di masjid itu saat menghadiri undangan aqiqah cucu sohib istri, maka saya masih ingat arah jalan yang mesti dilewati menuju masjid. Tak tersasar ke mana-mana karena ...

“Ibu Suri” Sudah Nongki

Kalau “Ibu Suri” ini sudah nongki di pasar, itu pertanda bulan puasa sudah dekat. Si “Ibu Suri” ini merupakan entitas paling hebring di masa bulan puasa. Gak di pasar, gak di pinggir jalan, “Ibu Suri”  nongki menunggu orang menyamperi dan menyalaminya. Jika cucok dalam percandaan dan ketemu akad pertukaran rupiah dengannya, maka “Ibu Suri” sudi diajak pulang untuk buka puasa bersama. Memang, “Ibu Suri” ini entitas paling asyik buat teman buka bersama, mukanya yang glowing dengan saputan bedak warna nude kekuning-kuningan dan senyumnya menawan kendati tak dipoles gincu, terasa manis saat dicecap bila sebelumnya ditambahkan sirup Marjan Cocopandan yang merah merona. Uh, rasanya beduk tanda berbuka tak sabar ditalu saking menggodanya. "Ibu Suri" sudah nongki menyambut Ramadan  “Ibu Suri” ini penggoda paling centil di bulan puasa. Penjual es campur yang menambahkan “Ibu Suri”, membuat orang pengin “ maling telon ” membeli es campur dan menikmatinya, jika saja tak takut...

Prajurit TAMTAMA

Buat merayakan Hari Pers Nasional 2026, saya mengunggah ke facebook foto 4 eksemplar koran TAMTAMA terbitan tanggal 10, 11, 12, dan 14 Juni 1998. Headline   News koran berwarna pertama di Lampung, ini semua tentang Soeharto yang baru saja berhenti dari jabatan presiden RI pada 21 Mei 1998 setelah didesak oleh sejumlah “Tokoh Reformasi.” Pada pemilu 1997  –sebagai ulah Harmoko –  Soehato kembali menjadi presiden untuk jabatan ke-6 kalinya sejak pemilu 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, 1997. Krisis ekonomi (krismon) awal 1998, membuat pemerintahan Soeharto melemah. Ia dituntut mengmundurkan diri. Ada empat tokoh penting reformasi; Amien Rais, Gus Dur, Hamengku Buwono X, Megawati Soekarnoputri. Koran TAMTAMA terbitan Juni 1998 Selain 4 tokoh penting di atas, ada 4 mahasiswa turut berjuang menurunkan Soeharto. Mereka adalah Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie (Mahasiswa Universitas Trisakti). Keempatnya gugur dalam  “ Tragedi 12 Mei 19...

HPN

Kemarin, 9 Februari adalah Hari Pers Nasional (HPN). Insan pers dari media dan organisasi apa pun hadir merayakannya. Tahun 2026 ini sebagai tuan rumah adalah Provinsi Banten. Teman-teman wartawan koran tempat kami bekerja dahulu, masih bertungkus lumus di media online  pada HPN kali ini, tentu ada yang hadir ke Banten menyemarakkannya. Saya tidak mendaftarkan diri sebagai wartawan atau kerennya jurnalis, sehingga saya tak memiliki kartu anggota organisasi kewartawanan apa pun. Saya ini cuma pekerja pers biasa di bagian pracetak. Tugas nyambi  sebagai pekerja teks (redaktur) pada desk berita apa pun yang ditugaskan pemimpin redaksi, berganti-ganti, berpindah-pindah. Tour of duty . Kios koran sebatang kara di kota Metro  Di antaranya desk olahraga, kriminal, daerah, seni & budaya. Itu untuk 'jabatan' pekerja teks (redaktur), sementara untuk 'jabatan' kepala bagian pracetak, saya bertanggung jawab memegang halaman 1 atau perwajahan koran. Make over tata letak be...

Jalan Jodoh itu “Teman”

“Tahun 2022, saat di mana saya masih lajang dengan sejuta trauma cinta. Berawal di saat saya sedang KKN. Teman satu kamar saya berinisiatif mencomblangkan saya dengan teman pacarnya yang berinisial YF, punya profesi sebagai driver. Komunikasi awal kami bangun dalam 1 bulan hingga tiba first date , 26 Agustus 2022, tuk saling mengenal satu sama lain. Dalam pertemuan pertama itu, kami mengambil suatu kesepakatan untuk menjalani hubungan yang, nantinya ternyata penuh cobaan bertubi dan tantangan berupa teror yang tak henti menembak. Tetapi, Alhamdulillah, kami bisa melewati itu semua. Hingga sampai pada 27 Februari 2025, kami memutuskan untuk bertunangan. Alhamdulillah, atas kemantapan hati bersama, kami memutuskan melanjutkan hubungan pertunangan untuk memasuki gerbang perkawinan. Kami sepakat 4 Februari 2026 adalah tanggal yang kami yakin sebagai hari baik untuk menggelar acara paling sakral di muka bumi, yaitu akad nikah dan resepsi walimatul urusy.” Bait-bait cerita dalam tiga b...

Masjid Agung Taqwa

Yang sudah saya singgung di postingan blog ini terdahulu, perihal jantung kota Metro ini di mana? Apakah Masjid Agung Taqwa? Ataukah ada "Titik Nol-nya." Saya sungguh awam karena kendati sudah lebih 25 tahun bermukim di Bandar Lampung, saya belum pernah ke Metro. Agak   laen , ya 🙂‍↕️  Sebagai penambah catatan amal, eh... catatan masjid (di luar safari jumat), Masjid Agung Taqwa sekiranya layak juga ditulis. Saya masuk masjid ini Rabu pagi untuk mendirikan salat dhuha yang diawali tahyatul masjid. Hendak ke masjid saat subuh, masih hujan ricih-ricih. Apadaya jemaah subuh tak kesampaian. Foto Selasa (3/2) siang saat ngaso baru tiba Masjid yang struktur bangunannya bulat ini sangat luas. Air wudu melimpah, kamar kecil tempat buang hajat tentu juga representatif (saya tidak sempatkan melongok ke ruang privat itu). Karpet merah marun sudah terbilang lama, sudah terlihat belang-belang ada perubahan warna dan aroma tanda telah tua. Waktu saya masuk hendak mendirikan salat dhuha, ...