Hujan deras kemarin siang, saya tidak merasa kedinginan, tetapi justru kepanasan. Pasalnya, saya disuguhi sop kambing. Ya, kontan badan saya merasa panas imbas makan sop kambing itu. pulang ke rumah menjelang Asar, saya merasa kepala kok agak pening. Saya membatin, ini niscaya tensi saya mendaki ketinggian. Bakda salat Asar, saya keluarkan alat pengukur tensi digital yang sudah lama tidak saya pergunakan. Saya pasang baterainya dan memasangkannya ke lengan bagian atas, saya ukur tensi, hasilnya 136/69 mmHg dan detak nadi 81. Kata mesin pintar itu tensi darah saya normal. Setidaknya untuk lansia ukuran segitu itu normal. Tadi pagi saya jalan keliling perumahan. Sebuah cara untuk tetap sehat yang sederhana. Tidak perlu jadi member pada sebuah klub kebugaran yang kerennya disebut gym . Banyak orang jadi member gym dengan alasan agar terprogram. Tapi, faktanya banyak yang tidak konsisten mempergunakan keanggotaannya itu. Asas manfaat jadi member pada sebuah klub kebugaran tidak b...
Negeri-negeri sedap. Begitu yang tersirat dalam hati saya ketika tahu duduk soal bagaimana asal mula ia tahu-tahu sudah di rumah sakit. Ceritanya, ia jalan pagi, saya mengistilahkan jogging . Sesampainya depan klinik pratama IDSA, penglihatannya seperti berkunang-kunang. Ia pun tanggap dan langsung saja masuk ke dalam klinik, menyampaikan keluhannya kepada dokter jaga. Dokter mempersilakan ia tidur di examination bed (ranjang periksa) dan dokter mengambil alat tensi darah. Sekembalinya dokter, mendapati ia sudah pingsan. Langsung oleh klinik dirujuk ke RS Abdul Moeloek. Pukul 02 dinihari baru sadar dari pingsan itu. Berarti itu kondisi koma, bukan sekadar pingsan biasa menurut bahasa awam. Syukur Alhamdulillah akhirnya beliau sadar, kalau tidak sadar, piye Jal. Beliau adalah teman jemaah salat di masjid. Baru kisaran satu tahun ini aktif berjemaah. Tubuhnya memang tambun, bobotnya di atas 90 kg. Sudah memegang riwayat kesehatan sebagai penyintas diabetes melitus dengan gula dara...