Langsung ke konten utama

Postingan

Hantu Megatrust

Aduh, Byung ... kirain kemarin terakhir beberes menyingkirkan debu vulkanik dengan menyentorkan air pakai selang ke lantai teras, pagar, dan kursi. Rupanya Gunung Anak Krakatau masih erupsi kemarin pagi. Dengan begitu pagi ini tadi terasa masih ada debu di lantai teras, pagar, dan kursi teras. Akhirnya pagi ini tadi masih harus menyentorkan air. Menggiring debu agar terbuang ke selokan depan rumah. Menyentor jalan juga agar debu hanyut ke selokan dan tidak diterbangkan angin ke teras. Kalau cuma teras yang disentor jalan tidak, nanti debu vulkanik yang di jalan diterbangkan angin. Penampakan awan di langit  Anak-anak sekolah belajar daring dari rumah, mahasiswa juga begitu. Di Daerah Khusus Jakarta (DKJ) –sebenarnya masih DKI Jakarta karena masih jadi ibu kota– sebagian kantor pemerintah dan swasta memberlakukan kebijakan pegawainya bekerja dari rumah alias work from home . Jadi tidak ada libur untuk kegiatan belajar mengajar dan bekerja. Yang libur MBG. Iya lah coba kalau MBG ...
Postingan terbaru

Tehawol

“Tehawol.” Begitu terbaca di status WA kerabat. Saya mafhum maksudnya. Pasti dia kecapekan membersihkan debu vulkanik pasca-erupsinya Gunung Anak Krakatau yang dikirimkan angin ke mana-mana. “Ya, susah kalau mau menyalahkan angin,” kata Prabowo menanggapi argumen Anies Baswedan perihal polusi udara saat debat kandidat presiden. Ya, “angin tidak punya KTP,” kata netizen. Karena itu, bisa dikatakan angin nomaden, berpindah-pindah arah ke mana hendak bertiup. “Angin tidak punya paspor,” sahut yang lain. Karena itu, leluasa saja angin masuk negara jiran tetangga membawa jerebu dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia yang bikin tetangga kuesel bianget . Langit belum biru benar  Tidak keliru ungkapan “angin tidak punya KTP atau paspor” dan bebas bergerak ke mana pun karena angin bergerak atas kendali Allah SWT sebagai bukti kebesaran-Nya. Firman-Nya, “Allah lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan membentangkannya di langit menurut yang Dia kehen...

"Jalan Demokrasi"

Satu hajat pemilihan calon ketua RT dihelat tadi malam. Ini RT terakhir dan salah satu dari dua pemilihan calon ketua RT di Blok P. Dari empat RT di Blok P, dua melalui mekanisme aklamasi dan dua dengan pemilihan. Karena ketua RT lama sudah lebih dari dua periode, dan ada dua calon yang mau mengikuti alur pemilihan, maka ketua RT lama membuka “jalan demokrasi” bagi mereka untuk bertarung memperebutkan suara warga RT 011 pada pemilihan calon ketua RT. Yang bertarung dua orang, Ibu dan Bapak. Yang menang si Bapak dengan perolehan suara 42 sedangkan si Ibu mendapat 17 suara. Si Ibu itu pernah bertarung lima tahun lalu melawan calon incumbent dan dimenangkan incumbent . Artinya, pernah bertarung dan pernah kalah. Kini maju lagi dan kalah lagi. “Dulu saya kalah dan sekarang ‘Alhamdulillah’ kalah lagi,” ujarnya dalam kata sambutan menyampaikan kesan dan pesan atas pesta demokrasi yang baru saja dilaksanakan. "jalan demokrasi" pemilihan calon ketua RT  Begitulah semestinya demokr...

Seperti Dipupuri

Tadi malam ada dua hajatan. Satu, tahlilan 100 hari berpulangnya Ibu dari salah satu jemaah masjid, di RT sebelah. Yang kedua, pengukuhan calon ketua RT 012 LK II yang pada dua minggu lalu diaklamasikan. Hajatan pertama kami hadiri lebih dahulu baru kemudian hajatan kedua di RT kami sendiri. Semua jemaah salat isya menuju ke rumah sahibul hajat. Rumahnya penuh undangan tetangga dan saudara-saudaranya. Habis isya saya tidak langsung bareng rombongan jemaah masjid menuju rumah yang mengundang. Saya pulang dulu mengambil kunci rumah sekalian memasukkan motor karena istri hendak duluan bareng tetangga. Kaget, kok  menapaki lantai teras terasa berdebu. Belum ngeh dong apa musabab debu yang banyak itu. Nggak juga bisa menerka dari mana asalnya karena kemarau memang udara cenderung berdebu. Jadi sesuatu yang wajar. Penampakan GAK saat erupsi memijarkan api dan debu vulkanik| foto: Metro TV Di teras sahibul hajat juga terasa berdebu. Usai doa ditutup, teman menunjukkan layar hp , ...

Duit Bukan Segalanya

Ini sebuah fakta bahwa duit bukan segalanya. Sahdan, pada sebuah wilayah rukun tetangga mengadakan pemilihan ketua RT. Kebetulan kedua calon baru sebab ketua RT lama meninggal dunia bulan Mei lalu. Calon satunya (laki-laki) memang partner kerja ketua RT lama, sedangkan calon satu lagi (perempuan) merupakan warga yang belum terlalu lama tinggal di wilayah itu. Ada 35 mata pilih yang terdaftar, hadir ke TPS 34, sedangkan 1 pemilih berhalangan karena tak bisa meninggalkan pekerjaan. Sekira pukul 10:30 WIB atau 10:30 AM pemungutan suara dinyatakan ditutup setelah satu orang yang ditunggu datang dan mencoblos tanda gambar. Penghitungan suara pun dilakukan, hasilnya 25 suara untuk calon laki-laki, 9 suara untuk calon perempuan. Jejeran panitia berpose selesai acara  Nah, letak fakta bahwa duit bukan segalanya adalah, salah satu warga situ yang merupakan besti istri tadi malam ke rumah, bercerita bahwa calon perempuan  bikin “serangan fajar ”  dengan menyebar pesan WhatsAp...

Mal, Kota, dan Kita

Waktu istri sering ikutin kajian ummahat saban Senin di masjid Ad-Du'a, saya salat Dhuha di situ. Hari ini tadi saya 'safari jumat' di situ. Agak lupa apakah sebelumnya saya pernah jumatan di situ atau baru kali ini tadi. Tapi, waktu mendengar pengumuman saldo kas dan besaran perolehan infak jumatan, sepertinya baru tadi saya jumatan di situ. Usai jumatan saya sengaja pengin mampir sejenak ke Transmart Lampung yang ada di Jalan Sultan Agung, Wayhalim. Kaget sekali gue , Bro. Lantai 1 dan 2 sudah dikosongkan, tinggal lantai dasar (bawah) yang masih diisi barang jualan berupa sepatu sandal dan pakaian. Ada juga sepeda listrik dan sepeda gowes. Gerai kopi kenangan, dan beberapa gerai makanan siap saji. Pada postingan 29 Juli 2026 berjudul "BTC, Bukan BKTC" saya bercerita tentang Bambu Kuning Trade Center (BTC) yang kiosnya banyak kosong karena ditinggalkan pemilik atau penyewa. Toilet tak lagi mengucurkan air, tak ada lagi yang jaga menarik salar orang yang buang ha...

Suara yang Hilang

Tadi malam kami nonton pemilihan ketua RT di RT 14 Lk II Perum BKP, dua calon duduk bersanding, satu incumbent dan satu lagi penantang. Panitia mencatat ada 72 mata pilih, tapi yang hadir memberikan suara hanya 62 orang. Semula 61 orang yang sudah mencoblos surat suara bertanda gambar foto kedua calon. Empat menit sebelum dinyatakan ditutup pada pukul 21:00 WIB atau 09:00 PM, datang seorang Ibu tergopoh-gopoh, istri imam masjid kami (alm). Ibu Asrori menggenapi 62 suara pemilih, tepat pukul 21:00 WIB atau 09:00 PM, pemilihan ketua RT 14 LK II Perum BKP Blok P dinyatakan ditutup dan dilanjutkan dengan penghitungan suara. Kertas suara pertama jatuh untuk calon nomor urut 1, incumbent . Selanjutnya perolehan suara kejar mengejar hingga posisi imbang 25 vs 25, lalu saling kejar lagi hingga berhenti di angka 29 untuk calon penantang dan 33 untuk calon  incumbent . Ketua RT lama kembali terpilih, lanjutkan. TPS calon ketua RT 14 LK II Perum BKP  Yang jadi pertanyaan, siapa pemi...