Saya sengaja mengubah setelan alarm pada hp . Memajukan dua jam dari waktu bangun biasa saat akan subuhan. Ingin melihat Messi dan Rodrigo rebutan juara pada final piala dunia FIFA World Cup. Bangunlah saya seperti kehendak alarm berdering. Kuhidupkan TV mencari channel yang ada bola itu, gak ketemu. Kubikin mati itu TV dan balik ke kamar menarik selimut. Cuma sekadar untuk mengobati penasaran saja. Tak sama sekali senang menonton bola, tapi karena kejuaraan dunia FIFA World Cup. Logo Google momen final Argentina vs Spanyol Sebelum tidur, ada video di WhatsApp Grup, kayak tebak-tebakan atau ramalan siapa yang akan keluar sebagai juara dunia, apakah Argentina atau Spanyol. Dua bola warnanya menyimbolkan kostum kedua timnas yang akan berlanga di final pada dini hari itu. Saya tonton video, dua bola digulirkan di tangga, jalan sejajar, menambrak batu dan tercebur ke air, terus bergulir hingga akhirnya bola warna kostum Argentina pecah dan bola warna kostum Spanyol sampai tempat tropi...
Berangkat satu file berisi tiga puisi tema “Kota Kita” ke e - mail panitia ulang tahun Sastra Bulan Purnama (SBP) Yogjakarta. Sudah siap dikirim sejak kapan waktu lalu, tapi mengulur-ulur karena deadline masih panjang. Kemarin teman penyair di Banjarmasin kembali mengingatkan sambil mengirim satu flyer lomba menulis puisi lain yang akan ada kemah satranya. Nah, iya juga, baru ingat jadinya. Padahal, bila tak diingatkan begitu kok seperti tidak punya utang. Pohon salak durinya medeni Entahlah, kata saya kepadanya, apakah saya ikut atau gak mengirim puisi ke even kemah sastra itu. Di flyer memang tak disebutkan tema. Karena itu, teman penyair ini agak bingung hendak menulis puisi yang bagaimana. Ia pun betakun pada saya. Ya, tulis saja “Puisi yang menyejukkan, Islami, cinta kedamaian menyiratkan ukhuwah dan nasionalisme.” Saya menyarankan seperti itu, mengingat tempat digelarnya kemah sastra adalah pondok pesantren As-Salam Yogjakarta. Saya mencari tahu pondok pes...