Langsung ke konten utama

Postingan

"Untung Ada Saya"

Mbah Google itu nolong banget . Apa yang tidak kita ketahui, bila ditanyakan kepada ‘beliau’ niscaya akan dijawabnya dengan sejelas-jelasnya. Bisa dikatakan nggak cuma nolong, tapi juga ngemong dan serba-tahu segala hal yang mungkin awam bagi kita. Ada kabar lelayu di grup WhatsApp perihal kepulangan seseorang yang namanya masih awam bagi saya. Sejauh ingatan saya, belum pernah mendengar namanya apalagi profesinya. Karena di WAG komunitas sastra, tentu ia seorang sastrawan juga. Ilustrasi | credit title: SlashGear | Saya langsung googling mencari tahu. Mbah Google menjelaskan kalau beliau dijuluki sebagai dedengkot Teater Bulungan (ia lulusan di SMA VI Jalan Mahakam 1966) yang pada Maret ini genap berusia 78 tahun. Dikatakan juga ia jebolan FISIP UI 1975. Mafhumlah saya kalau ia adalah teaterwan yang kegiatannya itu tak terpisahkan dengan lakon berdasarkan naskah cerita yang beririsan dengan sastra. Dijelaskan pula ia aktif membaca puisi bersama Tarech Rasyid dan Tri Agus pa...
Postingan terbaru

Solilokui

Dalam hal membaca, di era digital ini, buku fisik seperti kehilangan pamor. Dan saya, akan tetapi, masih suka saja menyelipkan satu-dua eksemplar buku tipis ke dalam tas selempang yang sering saya bawa ke mana-mana ketika bepergian. Kendati nanti, pada akhirnya, tidak juga saya baca tersebab perhatikan teralih ke gawai, tentu saja lain persoalan. Pada gawai itu juga ujungnya kesenangan membaca saya berpindah dari (mestinya) buku yang ada dalam tas. Saya buka X (twitter), baca di situ. Ilustrasi|puisi dalam lagu|youtube Saya buka Threads, saya baca di situ. Pun, ketika pilih buka Instagram, saya baca di situ. Dari ketiga platform sosial media tersebut banyak sekali bahan bacaan yang saya temui dan membuat waktu saya tersita, tenggelam membaca. Dahaga baca hilang. Pagi ini, ada dua 'igauan' di Threads yang membuat asam lambung nyaris naik ke ulu hati. Pertama , soal saos Abang bakso yang ternyata 0% bahannya cabe. Agar ada sensasi rasa pedas dan merah warna cabe, semua hasil reka...

Mitos-Mitos

Tadi pagi saya kembali jogging setelah lama vakum. Keliling perumahan hanya sandalan saja. Biasanya komplit dengan sepatu kets, bertopi. Celana tetap training, tapi kaos polo yang mestinya bukan untuk olaraga karena tadinya  gak begitu niat. Belum sampai rumah, digiring hujan gerimis tipis-tipis. Tapi, ada hal yang membuat bulu kuduk saya berdiri, hujan disertai panas. Hujan panas, begitu disebutnya. Mengapa bulu kuduk saya berdiri? Ingat mitos-mitos pada masa kecil dahulu, itu katanya “hujan orang mati.” Ilustrasi | gambar: Rumah Makan Duta Minang  Memang, sayup-sayup terdengar suara kabar lelayu dikumandangkan dari TOA masjid di daerah sekolah PERSADA. Jadi, ceritanya, di masa kecil di kampung dahulu, bila hujan panas, itu pertanda “hujannya orang mati.” Nah, c emana tak bergidik ketemu hujan panas. Ada kiatnya, akan tetapi, diajarkan orang tua. Supaya terhindar dari bala atau hal-hal yang kurang sedap bila terkena hujan panas. Kiat itu saya praktikkan. Sampai rumah ...

Sop Iqbal

Setelah gagal menyambanginya kemarinnya kemarin ( selumbari ) karena diganggu hujan, pada akhirnya tadi malam berdua istri ke sini habis magrib. Kaget juga melihat pengunjung yang duduk penuh sabar menunggu pesanan terhidang di meja. Tidak semua kebagian meja. Ada yang duduk di teras ruko (yang berundak-undak) tempat warung tenda ini membuka lapak. Saya dan istri berdiri menunggu mereka yang sedang merampungkan makan malam yang nikmat suap demi suap. Bikin ngiler melihatnya. Menunggu menu terhidang  Ya, Sop Iqbal, begitulah kuliner tenda pinggir jalan Kartini, Kota Tapis Berseri, ini menyebut identitas dirinya. Tidak berapa lama saya dan istri berdiri, bapak yang rampung makan menyerahkan meja mereka kepada kami, "Sini, Bu," kata si Bapak itu. "Terima kasih," jawab kami. Saya dan istri duduk, satu per satu piring nasi di antar ke hadapan orang-orang yang sudah duluan duduk di meja dan teras ruko itu, hingga pada akhirnya sampai juga giliran kami. Saya ceklak ceklik ...

Sebuah Antusiasme

Ini kopi gerobak yang sudah saya ceritakan di postingan blog pada 28 Maret berjudul " Kopi Ngingi " karena memang yang mereka jual adalah kopi dingin ( ngingi,  bhs. Lampung). Kopi plus es. Tadi malam ketika saya ke Kemiling (atas) mencari obat di apotek, saya lihat kerumunan orang antre di depan gerobak hendak membeli kopi yang sedang kekinian ini. Menonton dua orang peracik di dalam. Kopi gerobak di Jl. Teuku Cik Ditiro, Kemiling  Sebuah antusiasme jadi pemandangan menggelikan. Memang demikianlah agaknya, di Tanoh Lada , Tapis Berseri , dan Sang Bumi Ruwa Jurai , ini sesuatu yang baru selalu menarik perhatian. Namanya juga 'baru.' Setiap ada kafe baru, diserbu pengunjung kendati hanya untuk mencoba atau menjadikannya tempat ngonten untuk diunggah di media sosial facebook, IG, Threads atau TikTok. Memvalidasi status sosial. Antusiasme warga pengin mencoba  Saya perhatikan di Pasar Pucang, Surabaya, kopi gerobak NESCAFE ini tidak begitu ramai pembeli. Biasa s...

Masjid Terbuka

Sudah lama saya pengin 'safari jumat' di Masjid Daarul 'Ilmi yang ada dalam komplek SMPIT - Daarul 'Ilmi, Perumahan Bukit Kemiling Permai ini. Tetapi, selalu saja dicegat oleh feeling  'entah' yang kemudian mengalihkan tujuan saya ke masjid lain. Tadi dengan stil yakin saya langsung saja menuju ke masjid ini kendati meraba-raba jalan sebab tak ada rambu-rambu menunjukkan bahwa ada masjid di situ. Saya bertemu bapak menggunakan tongkat menuju masjid. Saya hentikan motor dan bertanya. Masjid Daarul 'Ilmi, masjid terbuka sejuk terasa  Saya tanya di mana masjid? Di situ jawabnya. Saya putar balik motor masuk gerbang ke area sekolah Islam terpadu ini. Di dalam tetap saja saya bingung mencari yang mana masjidnya, kembali bertanya ke anak-anak yang duduk di pinggir lapangan basket. Ditunjukkan bangunan yang seperti masjid belum jadi. Setelah masuk ke dalamnya, saya perhatikan, ternyata memang bentuk bangunannya dibiarkan tanpa dinding. Malah tak terasa panas, angin...

Adaptor

Lah, kenapa pula charger hp ini jadi lemot. Sejak kemarin saat dicas terasa jadi lama penuhnya. Biasanya begitu dicolokkan, langsung mabur berjalan kencang sekali dan cepat penuh. Lain soal kalau ngecasnya di mobil atau di kereta memang lemot karena sistem kelistrikan di rumah dan di kendaraan berbeda. Kendati lemot ngecas     di kendaraan cukup membantu (darurat lowbat ). Bayangkan, berkendara di masa lalu, belum ada fasilitas ngecas hp. Atau di masa kini pun, pada kendaraan, tapi yang tidak/belum menyediakan terminal tempat nyolok adaptor, ya, sami mawon . Beberapa armada bus buatan karoseri modern sudah menyediakan tempat colokan cas hp, diletakkan di belakang sandaran kursi atau di atas kepala dekat dengan pengaturan suhu AC. Praktis dan fungsional. Pada layar hp saya baca peringatan, "Periksa apakah adaptor daya dan kabel tersambung dengan benar." Perasaan cas hp saya baik-baik saja deh. Terus yang jadi masalahnya apa dong ,  kok  tiba-tiba jadi beg...