Lumayan lama tidak ke pasar Koga. Tadi mampir karena hendak ngelèm sepatu yang terlepas. Mungkin karena sudah siang –jelang zuhur, suasana pasar begitu sepi. Oh, ya, namanya bukan lagi Pasar Koga seperi dahulu, melainkan Pasar Modern Raden Intan. Perubahan nama itu seiring peningkatan statuta Korem Garuda Hitam menjadi Kodam XXI Raden Intan. Pasar Koga dikelola atau dimiliki Korem, dengan sendirinya sekarang dikelola Kodam XXI Raden Intan. Nama baru itu, saya lihat menggantikan nama lama. Bukan hanya memajang nama baru itu saja, melainkan menambahkan ornamen di bagian depan bangunan pasar sehingga kesan “modern” itu terlihat nyata. Bukan hanya pasar ini saja yang berganti nama. Hotel Ria (dulu) yang jadi Wisma Gatam pun berubah jadi Wisma Raden Intan. Sebenarnya di Kepayang ada tukang sol sepatu, tapi sewaktu lewat hendak ke p o ol Damri terlewat tanpa sadar. Habis ke pool Damri bablas ke BK, istri cari jilbab. Pulang dari Karang itu mampir Pasar Modern Raden Intan unt...
Saya masih menunggu datangnya buku "Ramu-Ramu Warteg" dari Tegal. Antologi ini belum merupakan kloter terakhir, masih ada beberapa buku sedang proses. "81 Penyair Bicara Tentang Indonesia -- Merdeka Katamu" karena peminatnya mbeludak sementara dibatasi hanya 81 penyair sesuai dengan HUT ke-81 RI, maka dibuat menjadi dua jilid. Tapi, jilid 2 sepertinya agak lambat terpenuhi kuotanya. Deadline 15 Agustus, baru separuh yang mendaftar. "MOZAIK", "Dapur Sastra Jakarta (DSJ)", "Rohmantik" masih dalam proses yang tidak bisa diprediksi kapan selesai. Rangkaian yang mesti dilalui begitu panjang mulai dari pengumpulan naskah puisi, dikurasi oleh tim kurator, layout , pengajuan ISBN, pencetakan dan penjilidan serta packaging buku untuk selanjutnya didistribusikan ke penulis. Cukup melelahkan bagi yang mengolah maupun yang menunggu bukunya. Ilustrasi | credit foto: ISBN Service Baik buku antologi bersama (himpunan para penulis) maupun buku tung...