Langsung ke konten utama

Postingan

Dua Buku Menanti

Dua acara ini waktu penyelenggaraannya beriringan. SBP launching buku "Kosa Kata Kita" di Jogja tanggal 17 dan DNP launching buku "MOZAIK" di Tegal tanggal 23-25 Oktober. Dua-duanya penting dan menarik untuk dihadiri, tapi yang mana yang kupilih untuk kudatangi, akhirnya ke Tegal. Sebenarnya ada rencana ke Jogja bablas Pacitan. Waktunya masih akhir Oktober. Kalau sekiranya yang di Jogja sesudah di Tegal, cocok sekali. Hadir dulu yang di Tegal, lalu ke Jogja. Jadinya bisa menghadiri kedua-duanya. Sayangnya, acara yang di Jogja lebih dahulu baru disusul acara yang di Tegal. Dua buku menanti. Keduanya di- launching di Jogja dan Tegal. Keduanya ditandai momen pertemuan para penulis puisi yang ada dalam buku itu, baik yang di Jogja maupun yang di Tegal. Mereka sudi datang dari daerah masing-masing Setidaknya itu yang menjadi penutup Bulan Bahasa tahun ini. Di luar dua buku itu masih ada buku lainnya. Di SBP (Sastra Bulan Purnama) ada antologi puisi bertema Politik In...
Postingan terbaru

Merayakan Sputnik 1

Tampilan Doodle Google hari ini lain dari biasanya yang memajang nama Google secara mencolok. Hari ini tulisan Google tampak kecil di bidang yang menyerupai kanvas lukisan abstrak dengan ada titik- titik cahaya dibiaskan planet. Planet yang besar (mungkin Bulan) cahayanya lebih tajam dan planet kecil-kecil bertaburan seperti bintang. Setelah saya klik pada bidang tulisan Google di layar gawai, gambar doodle jadi tambah besar dan lebih menyerupai lukisan lanskap alam, di bawahnya muncul keterangan yang menjelaskan bahwa itu adalah penanda Pekan Antariksa Dunia (PAD) 2026 atau dalam bahasa Inggris World Space Week (WSW). Hemmm… ada, ya, perayaan ini. Doodle Google Pekan Antariksa Dunia  Berlangsung pada tanggal 4 hingga 10 Oktober 2026 dengan mengusung tema “Revolusi Roket (Rocket Revolution)”. Fokus tema yang diusung adalah tranformasi cepat dalam peluncuran antariksa, mulai dari pengembangan roket yang dapat digunakan kembali ( reusable rocket ) hingga pesatnya penerbangan anta...

Kasih Dia Tulang

“Anjing menggonggong kafilah berlalu” ini aforisme mencerminkan ketidakpedulian alias bodo amat pada apa yang dihadapi atau dialami. Siapa saja presiden yang merasa tidak nyaman dengan kritik? Rasanya semua presiden yang pernah menghuni istana. Karena itu, mereka yang mendaku sebagai kritikus dan vokal menyuarakan kritikan, oleh presiden  “ dilawan ”  dengan dua cara. Pertama , bodo amat terhadap kritikan yang mereka dengung-dengungkan. Kedua , menjinakkan mereka dengan jabatan atau kedudukan. Ada ruang-ruang nyaman yang bisa membuat kritikus terlena dengan fasilitas yang disediakan sehingga mereka lupa diri bahwa mereka dahulunya vokal, kini diam seribu bahasa. Ruang-ruang nyaman itu, misalnya sebagai wantimpres, komisaris BUMN dan jabatan yang lebih strategis seperti menteri dan wakil menteri atau “dibuang” jauh-jauh sebagai duta besar. Yang mana yang akan dipilih di antara pilihan pertama atau kedua , terserah kepada presiden sepenuhnya. Mau bodo amat boleh saja, bebas k...

Super Gemoy

Dahulu ada lembaga negara bernama Dewan Pertimbangan Agung (DPA) tugasnya sesuai namanya, yaitu memberikan pertimbangan. Intinya adalah menjawab segala pertanyaan presiden serta memberikan usul, saran, nasiha t , pertimbangan kepada pemerintah un t uk ke pemimpinan  ya ng baik. Kemudian, melalui amandemen UUD 1945 pada tahun 2003 saa t  di bawah pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri, DPA dibubarkan. Tahun 2004 SBY yang jadi presiden hasil pemilihan umum langsung. Mulai ia memerintah dengan tanpa ada DPA, tahun 2007 SBY membentuk wantimpres. Tumben kepikiran Pak Be y e. Ilustrasinya cover Majalah TEMPO Setelah SBY menyelesaikan jabatan dua periode hingga 2009, Jokowi yang menjadi presiden. Dan, wantimpres masih dipertahankannya, bahkan masih dengan jumlah sama seper t i di masa SBY, y ai t u  hanya 9 orang. Jumlah ini merupakan pola konsisten sejak era SBY yang jadi presiden. Masalah anggota kabinet J o k o wi pun sama. Di masa Jokowi, jumlah wantimpres maupun j...

Banyak Cerita

“Lama berjalan banyak dilihat”, seperti itu yang sohor sebagai aforisme. Pagi tadi sengaja saya chat kawan, tetangga se-RT, dan juga sesama jemaah salat. Saya mengajaknya jalan pagi bareng. Sudah lama kami tak jalan bareng. Seringnya sendiri-sendiri. Kangen pengin dengar cerita darinya. Dahulu pernah jalan bareng, banyak cerita saya dengar darinya. Tadi pun banyak cerita tumpah dari mulutnya. Macam-macam, warna warni, pahit getir. Padahal, putaran komplek perumahan BKP yang kami jelajah dan kelilingi lebih jauh dari yang biasanya saya tempuh sendiri, tapi rasanya masih saja kurang jauh buat menghabiskan cerita. Sampai perempatan jalan yang memisahkan arah ke rumah masing-masing, belum tuntas apa yang kami obrolkan, saking banyak apa pun yang ia ceritakan. Terpaksa berhenti dahulu di perempatan itu, melanjutkan obrolan sampai habis. Ilustrasinya ini saja, matahari yang beranjak meninggi saat kami berdua mulai jalan  Terungkap apa yang jadi tanda tanya saya. Salah seorang jemaa...

Masjid Kaya

Pekan lalu saya ‘safari jumat’ di masjid Jami' Nurul Hidayah, Jalan Raya Kurungan Nyawa, Pesawaran. Kemarin kawan ngasih tahu ada masjid bagus di sebelah sananya lagi dari tempat saya jumatan. “Kemarin saya mampir salat di situ,” katanya. Saya tanya emang dari mana? “Kondangan,” jawabnya. Saya minta ketegasan padanya, berapa jauh dari masjid tempat saya jumatan kemarin? “Masih terus ke sana lagi, setelah kuburan Cina,” tegasnya. Tadi saya gas ke sana, memang lumayan jauh dari masjid tempat saya jumatan pekan lalu. Melewati beberapa masjid tipikal kampung yang nggak begitu besar dan tampak bagus. Dalam rangka memperingati Hari Batik, maka saya jumatan pakai hem batik. Masjid yang dimaksud kawan adalah masjid Al-Hidayah Tiyuh Sinar Negeri, Pesawaran. Memang tidak jauh dari kuburan Cina. Halamannya luas ada menara menjulang satu, kubahnya besar, dan uang kasnya, Broh . Seperti yang diumumkan petugas, 143 jeti sekian ratus-puluh-ribu-rupiah. “ Aguy , sugih benar masjid ini,” bati...

Puisi Rohmantik

Setelah berangkat tanggal 23 September, paket buku “Rohmantik –Cinta, Setia, Pulang” yang pakai ongkir COD, ini baru tiba di teras rumah minimalis kami 1 Oktober pukul 09:12 AM tadi. Pada keterangan yang dicantumkan perusahaan ekspedisi, estimasi lamanya waktu tempuh dari Lubuk Begalung, Sumatra Barat sampai Bandar Lampung diperkirakan 2 sampai 7 hari. Wah, kesabaran butuh ditebalkan dong . Nah, iya juga ternyata 7 atau 8 hari baru sampai. Jauh sungguhkah dari Sumatra Barat ke Lampung? Sehingga butuh waktu 7 sampai 8 hari. Atau menyasar ke mana-mana dahulu. Setelah saya buka bungkusnya, size font tulisan di buku yang memuat puisi 27 penyair, ini besar-besar sekali. Seperti ukuran 14-ft--16-ft pada komputer atau laptop. Mungkin disengaja agar buku terasa tebal. Buku "Rohmantik" Antologi puisi SRB  Saat memegang antologi puisi Sastra Rumah Bamboe (SRB), ini memang terkesan tipis. Ukuran buku 14x18,7 Cm (mestinya 19 Cm, terpotong 0,3 milimeter), ukuran standard 14x21 Cm. Ji...