Langsung ke konten utama

Postingan

Suhu di Bawah Tarup

Suhu udara di kota Bandar Lampung atau Provinsi Lampung bener - bener deh . Memeriksa berapa derajat celsius di layar gawai, terbaca di Kemiling Permai 33° siang hari dan 30° di malam hari. Sementara secara umum di Provinsi Lampung 34° di siang hari dan 32° di malam hari, bahkan pernah 38° menjadi yang terpanas di antara kota-kota di Indonesia. Dipanggang terik matahari pasat selatan yang menyengat tak mengurungkan niat pergi kondangan di Sukarame. Pertama perjalanan menuju Wayhalim, mampir menyinggahkan oleh-oleh istri untuk bestinya. Lalu, menyusuri jalan Sultan Agung arah Trans Mart, belok ke jalan arah Urip Sumoharjo dan menyeberang bypass ke jalan Endro Suratmin. Foto bareng pengantin dan besti istri  Dari jalan Endro Suratmin belok ke jalan Ryacudu, lalu belok lagi ke jalan Karimunjawa dan masuk Gang Jati. Habis isi buku tamu langsung diarahkan ke meja prasmanan, makan siang deh . Baru mau menyendok makan dan memasukkan ke mulut, pewara acara membuka acara dengan salam, pro...
Postingan terbaru

Menghapus Rencana

Setelah tragedi terbakarnya KMP Batu Mandi, timbul jirih di hati menyeberangi Selat Sunda dini hari. Agak ngeri - ngeri sedap . Tapi, karena "jam terbang" bus Puspa Jaya dari Lampung atau Jogja sama saja, yaitu pukul 12 atau 13, mau tidak-mau yang dari Lampung masuk lambung kapal wayah magrib dan yang dari Jogja wayah subuh. Berarti dua-duanya malam hari. Bayangkan bila terbakar seperti KMP Batu Mandi. Beruntung KMP Batu Mandi terbakarnya pukul 16:15 dalam keadaan masih terang dan sudah sandar di dermaga, sehingga upaya evakuasi bisa berjalan dengan baik dan lancar, semua penumpang selamat. Subuh tadi saya dan istri menyeberangi Selat Sunda dengan KMP Putra Wajo. Menilik namanya, sepertinya kapal ini limpahan dari lautan Wajo, Sulawesi Selatan. Atau pemiliknya orang bersuku Wajo. Sebagian ABG-ABG penumpang bus Kensya  Karena kapal yang beroperasi di perairan Selat Sunda bejibun dan jadwal trip yang rapat, juga ketepatan waktu siang atau malam, ada kalanya kapal bejo den...

Energi Sastra Tegal

Sakjane iso jumatan di masjid Universitas Ahmad Dahlan (UAD) karen pool bus Puspa Jaya tepat di samping kampus dan masjidnya hanya beberapa langkah dari gerbang. Secara hitungan pahalanya, dapat wajib jumatannya, tapi hilang asarnya. Maka biar dua-duanya dapat, saya pilih jamak takdim Zuhri fil Asri di musala pool bus. Begitu selesai saya menjamak Zuhur dan Asar, terdengar Iqamah salat jumatan di masjid UAD. Tak lama dua bus siap diberangkatkan, barang bawaan masuk bagasi dan penumpang naik ke atas bus. Perjalanan pulang segera menapaki jalan jalur selatan arah Wates, Purworejo, Kebumen, Purwokerto, Brebes, Tegal, dst. Sekadar ilustrasi "jogjapasaraya" Akan melewati kota Tegal yang menyimpan energi kesastraan yang begitu besar tenaganya. Hal itu terlihat dari antusiasme pelajar SMP dan SMA negeri poci itu tampil membaca puisi di atas panggung "Hujan Puisi di Negeri Poci" ruang paripurna DPRD kota Tegal di malam penutupan acara peluncuran buku MOZAIK, Sabtu (24/10...

Empat Kota, Empat Cerita

Berakhir sudah perjalanan panjang saya. Berangkat dari rumah 22 Oktober malam tiba di Tegal 23 Oktober siang. Jumat malam mengikuti bincang sastra mengenang Piek Ardijanto Suprijadi, salah satu pendiri komunitas sastra Dari Negeri Poci (DNP) tahun 1993 bersama kawan-kawannya, lebih lengkapnya mereka semua sebanyak tiga belas orang penyair. Bincang sastra mengenang Piek Ardijanto Suprijadi, di antaranya diisi pembacaan esai Piek Ardijanto Suprijadi oleh Ida Fitri Yuzmanah dan Surat Sastra Piek Ardijanto Suprijadi untuk STA (Sutan Takdir Alisjahbana) oleh Faizal Umar. Lalu, merunut kenangan bersama Piek oleh dr. Handrawan Nadesul dan perkembangan sastra Tegal oleh Suriali Andi Kustomo, ketua Dewan Kesenian Kota Tegal 2022--2027. Ilustrasi "kumpul ora kumpul sing penting mangan" kebalikannya "mangan ora mangan" Dari Tegal saya nyepur ke Jogja Minggu pukul 09:50 dan tiba di Jogja pukul 12:10. Setelah bertualang di bekas indekos di Pengok Blok G yang kini sudah bergabun...

Tanda Sayang

Jangan dalam bahasa Jawa artinya sayur. Jadi, kalau orang Jawa menyuguhi kita makan, biasanya yang mereka katakan, " Monggo dipun dahar , niki jangan , niki lauhe ." Artinya, mari silakan dimakan (dinikmati), ini sayur, ini lauknya." Saya biasa kopi tanpa gula. Sehabis menghadiri HUT ke-33 DNP (Dari Negeri Poci) di Tegal, saya ke Jogja menunggu empat hari kedatangan istri dan mbak yang berangkat dari Lampung hari Kamis, 29 Oktober, mampir semalam di Solo. Saya hari Kamis itu lanjut ke Pacitan dari Jogja siang, tiba di Pacitan sore. Langsung disuguhi mbak kopi manis yang bukan kebiasaan saya. Hanya saya cecap sedikit, lalu saya anggurkan . Padahal, sudah saya katakan tak usah dibuatin . Ketika hal itu saya ceritakan ke istri, jawabnya "Itu tanda sayang mbak kepada Ayah." Eh, iya juga. Makanya untuk menghormati tanda sayang mbak itu, kopi manis yang disuguhkannya tetap saya cecap, tapi tidak sampai saya habiskan. Siang ini mbak kembali menanyakan kepada saya...

Mitos dan Petuah

Postingan kemarin tentang mitos dan fakta. Hari ini kembali saya menulis tentang mitos juga. Pagi tadi dua keluarga pulang lebih dulu. Mbak Sas ke Lampung dan mbak Yul ke Mojokerto. Saya dan istri sementara tinggal dulu. Ada mitos bahwa tidak baik semua berangkat pergi bersamaan. Dan, yang namanya mitos, legenda, dan cerita rakyat terserap oleh ingatan masa kecil atau masa kanak-kanak saya. Atau barangkali oleh sebagian orang lainnya --kalau pun tidak mau dikatakan oleh banyak individu. Kedua mbak yang berangkat pulang tadi pagi, menurut bahasa orang Jawa, yang satu lungo ngetan dan satu lagi lungo   ngulon (satu menuju arah timur dan satu lainnya mengarah ke barat). Hampir setiap habis mudik, di hari keluarga mbak yang pulang ke arah barat memutuskan berangkat, keluarga mbak yang ke timur pun ikut-ikutan pamit. Bisa dikatakan tidak pernah bertahan dulu barang sehari baru kemudian pergi. Saya (terutama) dan istri yang akhirnya memutuskan untuk tinggal dulu barang semalam. M...

Mitos dan Fakta

Hujan sedari subuh melambatkan ritme hidup orang yang punya rutinitas ke kantor, sekolah dan sebagian kecil liburan ke luar kota. Untuk yang terakhir ini khusus bagi mereka yang sudah purna tugas, seperti halnya istri saya yang sudah dua tahun ini pensiun. Ada orang memercayai mitos bahwa, hujan di hari Jumat akan menjadi pertanda bakal hujan terus menerus di esok hari hingga selanjutnya. Percaya tidak percaya. Faktanya, hujan sedari subuh pada Jumat (30/10) pekan lalu, membuat hujan sedari subuh hari ini. Menangkap debur ombak dengan kamera  Kami yang lagi liburan di Pacitan agak bingung hendak ke mana sesudah sarapan pagi yang tertunda tadi. Karena hujan akhirnya baru bisa keluar cari sarapan pukul 09:30, lalu cuma bisa ke pantai Pancer Dorr sebagai penyelesaian atas kebingungan yang melanda. Sampai Pancer Dorr, hanya menemui space kuliner yang sepi. Pengunjung ada sih satu dua. Penjual ada juga sekadar jajanan dan es kelapa muda. Kios kuliner sepi karena jam buka mereka memang ...