Setelah selumbari (Kamis, 14 Februari) saya posting cerita di blog , tentang bunga ‘wiku’ (wijayakusuma) yang mekar kembangnya. Kemarin yang diikatkan pada batang pohon kelengkeng ambil giliran mekar kembangnya, dua sekaligus. Saya lihat pukul 11, rupanya sudah mekar. Waduh kecele saya. Artinya, saat mekarnya memang malam di hari, tetapi tepatnya pukul berapa tidak pasti. Hanya orang yang betah menunggu detik-detik mekarnya yang tahu pasti, maka orang bisa punya konten video proses mekarnya kembang bunga wijayakusuma ini. Bukan kebetulan. Penampakan saat kembang mekar malam hari Ya, bukanlah kebetulan, melainkan memang sengaja berniat ngonten. Betah menunggui detik-detik proses mekarnya kembang bunga wijayakusuma. Nyatanya, seperti saya alami, tidak mesti malam amat, kurang dari pukul 11 PM saya keluar, kembang sudah mekar. Setelah melihat kembangnya mekar, tidak benar juga kalau di postingan selumbari itu, saya narasikan bunga ‘wiku’ ini sebagai “kembang mbingungi”. Yang be...
Tidak pernah lagi saya menemukan nasi goreng yang enak, padahal waktu dahulu masih kerja di koran berkantor di jalan Urip Sumoharjo, mulai dari depan RS Urip Sumoharjo hingga bunderan BKP, saya hafal di mana saja nasi goreng yang enak mangkal. Semenjak koran itu tutup tahun 2016 dan pandemi Covid melanda sepanjang tahun 2020 hingga 2022, pedagang makanan apa pun kolaps. Ya, jangankan pedagang kecil pinggir jalan, wong pengusaha besar pun rontok dan tutup, melakukan PHK besar-besaran. Habis Isya tadi saya menelusuri jalan di perum BKP mencari pilihan nasi goreng mana yang akan saya uji coba (cek ombak). Ada empat pilihan pedagang nasi goreng gerobak. Yang tiga, kesemuanya sudah saya coba, uh... kurang rekomended. Jauh dari ekspektasi. Ada satu yang baru saya lihat tadi, saya mampir dan nyoba beli. Dari cara mengolahnya saja jauh berbeda dengan cara penjual nasi goreng gerobak umumnya, saya sudah bisa membayangkan bakal seperti apa rasanya. Nah, benar belaka, rasanya sungguh aneh....