Lagi, TOA masjid melafalkan sebuah nama anak manusia yang berpulang tadi dini hari di bangsal RS Bintang Amin. Sebuah nama yang sebelumnya tidak saya tahu. Maka, saya menebak-nebak yang mana orangnya. Mereka-reka rupa wajahnya. Begitulah, ada jemaah masjid yang hanya saya kenali wajahnya dan tidak namanya. Satu per satu dipertukarkan tempat berdiri berjajar di shaf terdepan atau belakang, di kiri atau di kanan saya dalam salat lima waktu. Pagi subuh, siang, petang, dan malam. Bendera kuning di mulut jalan tertunduk lunglai. Sesekali terjembak-jembak ditiup angin. Tangan saling berjabat seusai salat ditutup salam, tanpa menyebutkan nama karena itu sedang beribadah, bukan berkenalan. Kemudian kita pulang ke rumah dan bertemu lagi di ibadah berikutnya. Sampai akhirnya ada yang dipanggil pulang ke Haribaan Ilaihi. Satu lagi bendera kuning terjembak-jembak di mulut jalan arah masuk ke alamat rumah sahibul musibah. Tertunduk lunglai, sesekali melambai ditiup angin yang numpang lewat. Memberi...
Ada dua penyintas penyakit yang pagi tadi kami besuk. Satu ibu sedang satunya lagi bapak. Yang ibu, habis operasi breast tumor. Yang si bapak habis operasi batu ginjal. Kedua-duanya sehat, hanya saja si bapak terlihat agak kurusan. Kedua penyintas di atas adalah anggota grup bapak/ibu pensiunan guru yang membentuk klub arisan reuni. Saya jadi semacam penggembira, diminta tuk menemani suami salah satu ibu-ibu pensiunan agar suaminya tak merasa canggung. Sudah lama tidak reunian karena tidak ada yang mau ambil giliran. Jadi, semacam macet di jalan, maka tadi salah satu ibu berinisiatif mengambil giliran. Kemudian untuk selanjutnya akan dikocok nomor supaya ada kepastian giliran siapa. Kami besuk kedua penyintas di rumah masing-masing. Si bapak kebetulan tidak jauh dari rumah, dibedakan Blok. Kami Blok P, ia Blok O. Si bapak ini setelah pensiun jadi imam salat 5 waktu masjid Blok O dan imam Subuh masjid Al-Anshor. Pasca-operasi ini, katanya ia masih belum kuat ke masjid. Salat d...