Langsung ke konten utama

Postingan

Percakapan di Jalan

Kemarin sore melihat tubuh gocar yang hendak kami tumpangi seperti dipupuri saya bertanya kepada sopirnya, "Apakah masih ada debu?" Jawabnya, "Masih dikit-dikit." "Waduh, kayak apa kabar rumah yang habis ditinggal lima hari," kata saya. "Habis dari mana, Pak," tanyanya. "Habis dari Cirebon," jawab saya. Begitulah percakapan kami. Sampai rumah saya lihat lantai teras tidak begitu kotor karena memang dititipkan sama saudara. Yang dititipkan sebetulnya menyiram kembang. Rupanya teras disentor olehnya. Sampai rumah pukul 17:11, habis mandi istri ngepel lantai di bagian dalam rumah, mulai dari ruang tamu hingga ke dapur. Beruntung ventilasi sudah ditutup dengan koran. Yang lebih beruntung lagi sebenarnya "untung masih nyimpan koran" yang bagi orang lain mungkin tidak berguna, tapi bagi saya sangat berguna dan saya tak menjualnya. Percakapan dengan sopir gocar kemarin sore, membuat pikiran bekerja keras memikirkan seperti apa kond...
Postingan terbaru

Jakarta City

Seperti sudah saya prediksi di cerita kemarin, bahwa Senin jalan tertentu di Jakarta dibelit kemacetan parah. Begitulah yang terjadi tadi di jalan Hajjah Tuty Alawiyah, mengkhawatirkan bakal telat sampai Gambir. Beruntung bisa putar balik dan menyusuri jalan alternatif, tapi lepas dari sana dicegat macet lagi di jalan Mampang Prapatan. Dua titik itu krusial banget. Begitulah Jakarta City. Tapi, sependek pengamatan saya, semacet-macetnya Jakarta, masih bisa dimengerti. Namanya juga Ibu kota. Macetnya Bandar Lampung pun (harus) bisa dimengerti karena jalan protokol di kota Tapis Berseri itu cuma sebentang jalan Z.A. Pagaralam. Jika sudah macet ga bisa ditolong. Mestinya ada jalan lingkar untuk keluar dari "lingkaran masalah." Sekadar ilustrasi | salah satu sudut jalan di Ibu kota Jakarta  Tapi, di samping tidak memungkinkan membuka jalan lingkar karena topografi kota Bandar Lampung yang sesak dengan permukiman padat, ongkos membebaskan lahan (kalau ada) tentu sangat besar. Bel...

Journey [Lagi]

Nyambung cerita berjudul "journey" 15/8 with Cakrabuana Gambir--Cirebon, siang ini saya dan istri journey with Fajar Utama Yogya dari Jatibarang to Pasar Senen. Waktu ke Cirebon sebulan lalu, menghadiri ijab kabul putri bungsu Abang. Ke Jatibarang Kamis lalu untuk menghadiri acara "ngunduh mantu" yang diadakan Abang hari Sabtu kemarin. Ceritanya di sini "journey [Lagi]." Bukan tak ada pilihan kereta pagi. Argo Cheribon yang dahulu itu namanya, tapi kini berganti nama menjadi Gunungjati jadwalnya ada di pukul 06:09. Dahulu naik Argo Cheribon, kepagian masuk Jakarta. Check in hotel kan pukul 14:00, daripada tegambuy di stasiun lama, baru ke hotel, koper kami titipkan di locker luggage storage (penitipan bagasi), lalu makan di Solaria terus kami tinggal jalan-jalan di Senen. Commuter Line Jabodetabek in the shot  Journey kali ini akan berhenti di Teduh Simatupang, sebuah hotel di kawasan Pasar Minggu yang sudah di- booking anak ragil. Ia kemarin ultah,...

Harapan Terbaik

Lazimnya waktu yang dicantumkan di surat undangan hajatan walimatul urusy adalah pukul 08 sampai selesai untuk prosesi ijab kabul, lalu dilanjutkan pukul 10:00 sampai selesai untuk acara resepsi. Tapi, Abang saya mencantumkan pukul 11 pada acara resepsi "ngunduh mantu" yang ia lakukan. Kurang lazim. Ngunduh mantu saya apit pakai tanda kutip karena kurang lazim juga. Sebab, lazimnya yang ngunduh mantu itu keluarga mempelai pria. Ini yang ngunduh mantu Abang saya, anaknya yang jadi mempelai wanita. Agak laen ini, ngunduh mantu terbalik demi harapan terbaik tentunya, bagi keluarga dan kedua mempelai. Ornamen tenda di gedung tempat acara  Ijab kabul sudah dilaksanakan 15 Agustus lalu. Yang punya "hajat" kedua mempelai dengan biaya ditanggung berdua. Dilaksanakan di Metland Hotel Cirebon dengan konsep intimate wedding  yang diundang besti keduanya dari lingkungan kerja serta keluarga besar kedua belah pihak dengan jumlah terbatas. Sementara tetangga dan teman Abang d...

Ziarah Batin

Waw, makin jauh saya 'safari jumat' pada hari ini. Karena kemarin kami menempuh perjalanan ke Jatibarang, Indramayu, maka hari ini saya salat Jumat di masjid Jami Nurul Huda Jl. Mayor Dasuki Jatibarang. Karena ada Jumat Berkah berupa nasi box steroform , belum tiris betul suara imam menutup salat dengan salam, suara anak-anak sudah gemuruh dan mengambil posisi antre dalam barisan. Karena dahulu saat saya  sowan ke rumah Abang di Jatibarang, sering salat di masjid ini, maka hari ini semacam napak tilas juga. Kemarin napak tilas jalan pantura. Hari ini napak tilas salat Jumat di masjid ini. Ziarah batin bagi apa yang dulu pernah tertinggal di sini. Agak laen ini masjid, penyejuk udara di daerah yang puanase gak ngotak begini cuma kipas angin. Kenapa belum tersentuh kemajuan dengan AC. Masjid Nurul Huda Jatibarang  Tapi, kendati kipas angin tak mengurangi hasrat jemaah untuk charger iman mingguan. Masjid yang sudah lebih luas dibandingkan 35 tahun lalu saat saya kerap men...

Napak Tilas Pantura

Karena dulu pernah bertualang di pelosok Pantura, rasanya saya tidak begitu asing dengan daerah-daerah tempat travel mbelasuk - mbelasuk mengantar penumpang. Waktu ngobrol di kapal, seorang Ibu bilang hendak turun di Wanakaya. Saya menebak-nebak mencocokkan posisinya, tapi nama Eretan dan Lohbener saya sebut, dia menyangkal. Kejauhan, katanya, belum nyampe situ. Setelah tiba di tempat tujuannya, saya buka g - maps , karuan daerahnya. Ternyata posisi "dunia" itu ada di kecamatan Haurgeulis. Inilah daerah di masa lalu merupakan sentra penghasil sarang walet. Komoditi ekspor bernilai jual tinggi ini pernah jadi primadona sebelum akhirnya tidak diterima lagi di negeri tirai bambu karena ulah orang yang bermain culas dalam berbisnis. Kualitas sarang walet diolah jadi buruk. Di g - maps saya lihat dari Haurgeulis mesti keluar ke arah kecamatan Patrol di lintasan jalan negara Pantura. Berarti saya napak tilas jalan pantura. Patrol adalah salah satu daerah penyangga ekonomi Jawa B...

Travel Lebih Praktis

Agustus lalu tak jadi naik travel ini lantaran sopir ga balas wa saya. Daripada ga jelas, saya dan istri langsung ke Damri pesan tiket dan menghubungi anak untuk memesankan tiket kereta Gambir -- Cirebon. Hari ini saya dan istri jadi juga naik travel ini hasil mendatangi langsung ke agennya di Telukbetung. Naik travel lebih saya pilih karena lebih praktis, door to door . Tidak transit dan ganti moda transportasi penyambung baru sampai alamat. Dan, asyik lagi lebih banyak yang dilihat saat ikut menjelajahi area-area penjemputan. Ini tadi sampai Hanura segala. Macet karena jalan sedang dicor beton ( rigid pavement ). Setelah muter-muter ke Wayhalim dan Hanura, akhirnya travel berangkat dari kantor agen pukul 16:46 WIB dan masuk tol gate Lematang pukul 17:44. Setelah lewat magrib masuk rest area untuk tambah bahan bakar. Di dalam kota, saya perhatikan di mana-mana SPBU penuh antrean mobil, motor apalagi truk. Beberapa kali menempuh perjalanan Lampung Depok dan sebaliknya, kami juga l...