Saya mempergunakan lagi judul di atas dengan menambahkan angka 2 dalam tanda kurung, setelah mempergunakannya di postingan blog ini pada 10 Mei. Tentu, saya mesti merevisi judul di tanggal 10 Mei itu dengan menambahkan angka 1 dalam tanda kurung sebagai garis sambung keterkaitan judul itu. Teman lama saya yang masih bertungkus lumus di dunia media siber atau media daring, meminta puisi saya untuk dimuat di media yang ia kelola, “Lumayan buat nambah-nambah halaman,” alasannya. Media dengan kru lapangan terbatas, memang susah-susah gampang menangguk bahan berita buat isi halaman. Itulah kenapa banyak media daring di daerah berafiliasi dengan media besar di ibu kota Jakarta (Jakarta masih ibu kota, ya, setelah sengketa hukum IKN di MK ditolak Majelis Hakim). Dengan berafiliasi memungkinkan media daerah ‘main kopi faste’ saja berita yang ada di situs web media daring induknya. Padahal, dengan mengelola sendiri media di daerah, justru akan menguatkan jati diri sebagai pengawal pemban...
Waktu kulineran di “Sego Tempong Warga” Tanah Baru, Depok, ada menu Jukut Goreng. Anak ragil yang tinggal di Jaksel sudah pernah mencicipinya. Spontan ia terlonjak ketika membaca daftar menu ada jukut goreng itu. ditulislah di daftar menu yang dipesan. Sayang, sekian menit kemudian, pramusaji datang. Membawa buku daftar menu dan kertas pesanan kami. Pikir kami akan mengonfirmasi ulang menu yang kami pesan. Tak tahunya memberi tahu bahwa jukut goreng tidak tersedia. Yah, anak ragil gelo . Kami yang penasaran pengin coba lebih gelo lagi. Untuk sementara kami nikmati menu yang ada dulu. Jukut goreng | foto: RRI | Kami simpan keinginan mencoba jukut goreng jadi tabungan. Nanti kalau ke Jakarta lagi akan memburunya di mana yang ada. Nah, dua hari lalu anak ragil mengirim video tiktok tentang jukut goreng di warung kuliner milik Epy Kusnandar (Kang Mus) di Jakarta Selatan. “Nanti kita ke sana, ya, Dek,” komen ibunya. Hebohlah grup WA keluarga dan terpetakanlah rencana “membuka tabunga...