Langsung ke konten utama

Postingan

Telepon Siluman dan WiFi 5G

Tambah satu lagi telepon siluman ndak karuan ini. Sekira pukul 4:56 subuh tadi masuk pesan WhatsApp, isi pesannya, "Acara Hadiah VIV Spesial Segera Dimulai. Masuk untuk melihat hadiah Anda." Masukkah saya? Tentu saja tidak. Emang bisa elo giring. Kemarin pesan WhatsApp masuk agak siang, pukul 6:53. Isinya lumayan panjang, tawaran jadi anggota judul slots dalam bentuk permainan ular keberuntungan PG hingga Rp100.000. Entah apa makna kode "PG" yang disebutkannya itu. Ai bodo amatlah . Acak ngupi . Herannya, ini nomor ada foto profil  Kemarinnya selumbari alias empat hari lewat, Selasa, 30 Juni, kali pertama pesan WhatsApp dari nomor telepon siluman pada pukul 3:34. Isi pesannya seperti yang sudah saya jadikan cerita di blog ini hari itu juga, Selasa, 30 Juni. Terpengaruhkah saya. Ndak . Ini isi lengkap pesannya  Tentang telepon siluman, apakah berupa panggilan atau sekadar pesan WhatsApp, tidak akan saya gubris. Yang getol sekali menelepon adalah 188. Saya tahu i...
Postingan terbaru

Menyiasati Cuaca

Masuk bulan Juli, masih adakah sisa-sisa “hujan bulan juni” sebagai penyeimbang suhu yang gelagatnya akan benar-benar masuk musim kemarau. Pasalnya, di Jogjakarta fenomena bediding mulai dirasakan wong Yukjo, suhunya menembus di angka 19 derajat Celsius, dinginnya terasa menusuk tulang. Ora umum iki . Sementara Malang, cerita teman kera ngalam, di kota dingin itu saat ini suhu udara bisa mencapai 14 derajat Celsius. Waduh.., kok saya jadi kangen Malang. Semenjak meninggalkannya tahun 1989, belum lagi saya menziarahi jejak kenangan saat gandengan tangan dengan kekasih di alun-alun. Dulu, moda transportasi andalan saat ngelèncèr ke kota adalah bemo. Gas buang dari knalpotnya mengotori udara, tapi karena statusnya sebagai kota dingin, gas buang bemo itu sama sekali tak memengaruhi udara di sana karena sejuk saat malam hingga pagi hari dan terik di siang hari. Oleh udara sejuk itu sehingga kendati siang terik sama sekali tidak membuat badan berkeringat. Baju yang dipakai dua ata...

Climate Change

Masya Allah, kok   ngeri kali hidup di benua Eropa, Afrika Utara, dan sebagian besar Asia Barat yang dilanda climate change dengan suhu ekstrem antara 41 hingga 44 derajat Celcius. Tak terbayangkan c emmana menanggungkannya. Warga Konoha suhu 31 derajat saja kepanasan. “Lebih 1.300 kematian tercatat sejak 21 Juni ’26 terkait dengan suhu tinggi di Eropa,” kata Dirjend WHO, Tedros Adhanom Chebreyesus. Padahal, Eropa terkenal dengan iklim sejuk sehingga jarang sekali ada AC di rumah atau ruang publik di sana. Masyarakat Berlin berkumpul di ruang terbuka hijau menunggu mobil pemadam datang lalu menyentorkan air ke arah mereka. Karena beriklim sejuk cenderung dingin, rumah orang Eropa didesain khusus dengan dinding insulasi untuk bisa menjebak udara panas biar bertahan lama dalam rumah. Hal itu dilakukan agar suasana hangat tetap bisa mereka rasakan dan membuat nyaman sehingga tak kedinginan. Kali ini, ketika gelombang panas melanda, ruang yang didesain bisa menjebak udara panas ...

Lingkar Perut Stagnan

Sapa maning kien mah , esuk - esuk ngirim WA. Agak kaget saya mendengar nada dering khas pesan WA masuk pukul 04:33. Nada dering WA pada gawai android saya memang khas khusus yang pesan pribadi, beda dengan yang pesan di grup-grup WA. Pesan WA dari nomor +62 823-4953-4451 ternyata hendak menawarkan sebuah roda keberuntungan kepada saya dengan menyuruh saya untuk ngeklik tautan yang dilampirkannya di bawah dengan emoji penunjuk ke bawah 👇. Yah, sangkanya saya demen . Nomor siluman tawarkan "roda keberuntungan" Tidak saya buka dan baca, apalagi mengeklik tautan yang dilampirkannya di bagian bawah pesan. Untuk menghibur rasa penasaran tentang apa isi lengkap pesan WA yang masuk, saya buka dengan ngegeser layar gawai, terbaca pesan darinya seperti di bawah. Itulah isi pesan WhatsApp subuh tadi  Telepon siluman setiap hari masuk beberapa bulan lalu, semuanya saya abaikan. Pernah iseng, sekali saya angkat hanya sekadar untuk tahu sebenarnya apa sih maunya. Ternyata menawarkan...

Kabar Grup WhatsApp

Reuni kecil alumni Kerabat Kerja tamTAMA (KKT) serta  Lampung Ekspres Plus (LE-Plus) 11 Juni silam di kebun belakang rumah Heri Ch, meninggalkan sejumput tanya, “Kenapa si Ini dan si Itu nggak datang. Ada yang tahu kabarnya tidak?” Tak ada bisa kasih jawaban sejelasnya. Malam ini, pukul 20:27 WIB atau 08:27 PM, salah satu alumni membagikan kabar berhias foto yang bersangkutan di bangsal rumah sakit. Suparman Maryumi, mantan redaktur LE yang pernah pula ngebantu Harian Ekspres, dalam perawatan di RS. “Assalamu’alaikum teman 2 semuanya mohon doanya buat kesembuhan Suparman bin Maryumi ya,” tulis kawan melalui WhatsApp di grup alumni. “Pantas aja waktu saya kontak ngajak ketemuan, nggak dibalas olehnya,” komentar seorang alumni. Baru saja saya selesai salat Isya, Zahdi Basran menelepon. Saya tanya kenapa nggak ikut reuni? Reuni di mana, tanyanya. Di tempat Hari Cihuy, jawab saya. Nggak ada yang ngasih tahu, katanya lagi. Kan ada di grup, apa gak dibaca, tanya saya. Dari obro...

Ulang Tahun Bareng

Pada hari ini, tanggal 28 Juni, sepanjang pengetahuan saya, Kompas berulang tahun. Tentu saja banyak orang yang tanggal lahirnya juga 28 Juni. Dan, saya tidak kenal atau tahu mereka. Tetapi, ada penyair berulang tahun bareng  Kompas , yaitu ADW. Kompas HUT ke-61 Hari ini Kompas ulang tahun ke-61. Tahun lalu, pada ulang tahunnya ke-60, menerbitkan koran setebal 60 halaman. Di masa pandemi Covid-19, saya terkaget saat membeli Kompas di pedestrian Malioboro, yang biasanya 24 halaman susut jadi 16 halaman. "Sejak korona ini," kata penjualnya. Koran Kompas edisi Hari Anak Nasional, 23 Juli 2020, itu tipis membuat saya masygul mendapati kenyataan betapa dampak wabah korona bisa membuat bisnis atau usaha apa saja bertekuk lutut. Jangankan penjual gorengan pinggir jalan, perusahaan manufaktur saja stop beroperasi. Bekerja dari rumah dan belajar dari rumah jadi hal baru yang tiba-tiba membuat orang seperti masuk ke lorong waktu yang sebelumnya belum pernah terbayangkan. Al...

Enggan Pulang

Menemukan cerpen yang lama nyumput di folder  dan menelusuri ulang tulisan yang sudah saya unggah di blog. Menghimpun puisi dari berbagai folder. Itulah yang saya sedang kerjakan. Ada yang saya baca ulang dan sunting ulang, menggali metafora mengganti diksi baru. Sampai di sini, saya berpikir hendak menulis apa saya hari ini. Ah, iya, tentang ingatan pada ruang dan waktu selagi masa SMP di kampung dahulu, sebelum melanjutkan ke SMA di Jogja. Ruang dan waktu berupa tempat-tempat yang melekat dalam ingatan jadi peta jalan menulisnya jadi kenangan. Danau Ranau dan gunung Seminung di kejauhan  Toponimi, begitu disebutkan. Yang paling melekat tentu kebun kopi dan sawah di Senangkalan yang kini mulai menumbuhkan rumah tinggal, home stay, dan destinasi wisata berbasis pantai pesisir Danau Ranau. Rumah-rumah yang kosong karena ditinggal merantau anak-anak dan tak kembali. Cungkup makam orang tua (Ayah, Ibu, Kakak), dan mertua serta leluhur yang tak pernah lagi dibelai jari-jari ta...