Langsung ke konten utama

Lolos Kurasi, Wak!

Tadi malam, pulang takziah tahlilan dua hari jemaah masjid yang wafat 30 Mei lalu, pukul 20:32 masuk pesan WhatsApp dari teman penyair di Banjarmasin, ia meng-share pengumuman hasil kurasi antologi puisi PPN XIV Aceh. "Alhamdulillah puisi kita lolos kurasi untuk antologi PPN XIV Aceh," ujarnya penuh syukur. 

"Iya, alhamdulilah, barusan dua menit lalu saya lihat di Instagram," jawab saya. Teman penyair di Banjarmasin ini tak punya akun facebook dan Instagram. Tapi, yang bikin saya heran, ia bisa mendapat flyer pengumuman kemudian meng-share-kannya ke saya. Dari mana coba? Bisa jadi dapat share-an dari teman lain.

Tidak berhenti di meneruskan ke saya, ia juga meneruskan ke beberapa grup WhatsApp yang ia ikuti. Bagus juga sih, biar teman penyair lain cepat tahu pengumuman dan cepat merasakan kegembiraan. Atau mungkin mengunggahnya ke akun facebook atau Instagram seperti teman penyair saya di Depok, Jawa Barat.

PPN XIII Jakarta puisi saya tidak lolos. PPN XIV Aceh ini kendati peserta "diwajibkan" meng-share flyer ke facebook, Instagram, dan TikTok tak menciutkan nyali mereka yang tak punya akun media sosial tersebut. Nyatanya, teman penyair di Banjarmasin itu puisinya lolos juga. Atau mungkin ia sudah punya akun.

Nama saya nangkring di posisi nomor 298.

Saya sendiri memposting di tiga akun media sosial tersebut di atas. Ini even lomba (sayembara) puisi kedua yang mengharuskan peserta memublikasikan flyer lomba yang saya ikuti. Sebelum ini, yang pertama lomba/sayembara puisi pada FSY (Festival Sastra Yogyakarta), dua kali saya ikut, kedua-duanya gak lolos.

Even yang ditaja grup facebook Sastra Rumah Bamboe beda lagi. Peserta menulis puisi selain mengirimkan karya ke alamat surel, juga "wajib" memublikasikannya di laman facebook grup Sastra Rumah Bamboe. Even ini juga melakukan kurasi ketat untuk memilih 10 puisi yang akan dibukukan dan 1 puisi juara.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Jalan-jalan

Siang baru saja melanjutkan perjalanan menuju barat, setelah istirahat sejenak di waktu zuhur, yang ditandai Matahari tepat di atas kepalanya. Tak lama sekira pukul 14:12 Kakang Paket datang mengantarkan kiriman buku dari Taman Inspirasi Sastra Indonesia. Komunitas sastra disingkat TISI pimpinan Bang Octavianus Masheka, ini baru saja usai merampungkan proses produksi dan terbitnya buku antologi “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” yang merupakan puisi bahasa Indonesia dan bahasa daerah masing-masing penulisnya. Buku-buku yang joss tenan Ada 100 orang penulis puisi dwi bahasa yang terhimpun di dalam buku bersampul merah menyala dengan gambar sampul siluet wajah Ibu yang di wajah, leher, dan dadanya dihiasi taburan wajah penulis puisi yang sengaja di- crop tertinggal bagian dada dan kepala saja. Sebelum buku “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” terlebih dahulu tiba di rumah buku “Zamrud” yaitu antologi puisi Dari Negeri Poci seri ke-15 yang saat datang kebetulan saya sedang tidak berada di rumah ...

Pulang ke Rumah Sunyi

Ramalan cuaca yang muncul di layar hp menyatakan hari cerah. Alhamdulillah, batin saya. Kendati tidak berencana ke mana-mana, menyiasati cuaca penting juga. Sebagai kompas atau pedoman bahwa cuaca akan baik-baik saja atau sebaliknya akan merundung kita. Pulang jemaah subuh di masjid, saya mesti buka hp . Bukan untuk scroll memeriksa media sosial, melainkan untuk ngaji Surah (tertentu) yang rutin saban pagi (subuh) saya baca. Surah apakah itu? Hmm meh… mau tahu aja apa mau tahu banget ? Puisi "Pulang ke Rumah Sunyi" Gimana kalau saya kasih tahu isi, mau nggak ? Itu camilan favorit yang kami jadikan teman ngopi. Tapi, pagi ini belum ada penjual gorengan yang buka lapak (gerobak). Beruntung Iman Jaya, toko kue jajanan pasar di Kemiling sudah buka. Saya memang hendak ke ATM buat ngasih tali asih untuk anak konco lawas yang kemarin senja ijab kabul di Omah Pakem, Jogja dan dilanjutkan resepsi malam harinya bakda Magrib. Saya tak hadir, hanya bisa kasih doa dan ucapan se...

Kado Puisi

Pagi tadi pas membuka facebook , grup "Koloni Seniman Ngopi Semeja Depok" mengunggah pengumuman kontributor puisi kado ulang tahun 75 untuk penyair senior, Mas Adri Darmadji Woko, yang akan berulang tahun pada 28 Juni 2026 mendatang. Hingga limit waktu ( deadline ) menghimpunkan puisi, terbilang ada 94 penulis puisi (pemuisi, penyair) yang mengirimkan puisi untuk selanjutnya dibungkus jadi kado terindah tuk hari spesialnya penyair sepuh  Mas Adri Darmadji Woko. Sayalah orangnya di urutan 94. Sosok penyair senior Adri Darmadji Woko  Kado puisi. Begitu narasinya. Daripada kado dalam bentuk material yang bisa musnah setelah momen ulang tahun berlalu, lebih afdal kado dalam bentuk buku. Isinya, ialah testimoni atau pendapat kawan-kawan yang berisi kenangan paling mengesankan. Kenangan mengesankan itu yang oleh kawan-kawan diungkapkan dalam bentuk tulisan bertajuk "pesan dan kesan" yang tak mesti berisi hal yang bernuansa suka cita, tetapi ada juga yang bernuansa duka l...