Rasan-rasan hendak reuni kecil pensiunan karyawan tamTAMA & Lampung Ekspres Plus, kesampaian juga tadi siang. Bertempat di “kebun belakang rumah” Heri CH Burmelli. Sebuah wahana santai di lereng Bukit Mega Raya tepat di sisi rel. Setiap 15 menit kereta babaranjang lewat (pergi dan pulang) Bukit Asam Tanjungenim–Tarahan, Panjang mengangkut batubara. Pergi ke Tanjungenim membawa gerbong kosong dan pulang ke Tarahan penuh muatan batubara. Begiti terus setiap hari, siang dan malam.
Dari lereng bukit ini, tatapan jauh ke
Teluk Lampung. Di kejauahan tampak Pulau Pasaran, Gunung Kunyit yang kian kurus
karena digerus, Lampung City Mal, Aston Hotel, Novotel, dll. Kapal-kapal
nelayan tentu saja ada karena laut. Google Maps yang diser di grup WA hanya
sepenggal dengan titik mula patung-patung kuda di jalan menanjak menuju Bukut
Mega Raya dan titik akhir di “kebun belakang rumah” itu. Agak membingungkan.
Saya telusuri dari jalan yang paling jauh untuk memastikan posisinya.
![]() |
| Formasi lengkap 16 pensiunan tamTAMA/LE |
Ketemu jalan Perintis Kemerdekaan, Jalan
Gatot Subroto, Jalan Gajahmada, terus makin jauh Jalan Urip Sumoharjo. Nah,
karuan deh ancer-ancernya. Saya
berangkat 45 menit sebelum jam berkumpul yang ditentukan, pukul 11 dengan
asumsi seandainya mesti nyari-nyari tempatnya, saya tidak kebingungan. Ini pertemuan
sekadar reuni kecil, bukan rapat. Kalau untuk rapat di kantor, dahulu saya
mesti on time walaupun pada
kenyataannya rapat molor karena banyak yang mengenakan “jam karet” bukan arloji.
Memang sih
di pergelangan tangan kawan-kawan melingkar arloji mewah harga ratusan ribu,
tetapi untuk urusan menghadiri rapat di kantor, yang mereka jadikan patokan
bukan angka yang tercantum di undangan rapat dan mencocokkannya dengan angka di
arloji, melainkan angka yang ada di “jam karet” itu. Dengan begitu, molor
melulu setiap datang ke ruang rapat. Karena jam mulai molor, sehingga jalannya
rapat tidak efektif. Belum lagi kalau terjadi debat kusir yang ngalor ngidul idak karuan.
Jalan Perintis Kemerdekaan, paling jauh
saya susuri sampai beluk masuk Jalan Jati. Seterusnya belum pernah, makanya
tadi saya coba lewat Jaln Perintis Kemerdekaan itu. Tepat sekali ternyata, hampir
sampai ujungnya yang keluar ke Jalan Gatot Subroto ketemu jalan masuk ke arah Bukit
Mega Raya, saya pun menggok. Ketemu patung-patung
kuda seperti petunjuk yang diser, tak lama kemudian sampai deh. Baru ada dua
pensiunan LE yang sudah nyampe, menyantap
kue, pempek, air kemasan.
![]() |
| Formasi setelah sebagian pulang duluan |
Satu dari dua pensiunan itu tidak ingat
lagi siapa namaku. Maklum semenjak berpisah di tahun 2001, baru tadi ketemu
lagi. Mereka berdua itu dulu di bagian iklan, tapi dengan yang satunya saya
sering ketemu sedang yang satunya nihil. Itu sebabnya ia lupa sama sekali. Saya
sampai TKP pukul 11:06 WIB, hampir sesuai dengan waktu yang ditentukan, yaitu
pukul 11. Semestinya tepat waktu, hanya saja saya sempat nyasar salah masuk
arah ke tanjakan menuju Bukir Mega Raya. Waktu putar balik, 6 menitnya.
Total 16 orang pensiunan KKT (Kerabat Kerja
Tamtama/LE) yang reuni kecil-kecilan tadi. Lumayan gayeng, kelakar besak, ingatan-ingatan masa lalu mekar
kembali ketika disinggung bahwa dahulu ada yang pedekate tidak kesampaian. Apakah tadi saat ketemu kuncup cinta
bisa dimekarkan kembali? Husssss…. Sudah pada tuir. Yah, begitulah, obrolan using.
Yang penting perut kenyang oleh segala suguhan yang disiapkan Ny. Heri Cihuy. Terima
kasih atas kebersamaan kita. Sampai jumpa lagi.


Komentar
Posting Komentar