Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label hujan

Tabiat Bulan Juni

Basah lagi tanah pekarangan oleh 'hujan bulan Juni.' Siang tadi adalah buat kali ketiga hujan tercurah. Prof. Sapardi Djoko Damono (SDD) seperti paham betul tabiat cuaca bulan Juni yang hujannya ranum-ranum, guguran membasahi jiwa kerontang. Dalam buku "Hujan Bulan Juni" ada beberapa puisi tentang hujan diciptakan SDD. Seperti "Hujan Turun Sepanjang Jalan", "Gerimis Kecil di Jalan Jakarta, Malang", "Hujan dalam Komposisi" tiga serial (1, 2, 3), "Percakapan Malam Hujan", dan "Kuhentikan Hujan." Lalu, "Sihir Hujan", "Hujan Bulan Juni", dan "Hujan, Jalak, dan Daun Jambu." Tapi, yang kerap dibicarakan orang adalah "Hujan Bulan Juni" ketika masuk bulan Juni dan hujan berguguran. Dikutip orang, dijadikan story di media sosial. IG, X, facebook atau TikTok. Hasil tangkapan kamera hp siang tadi Foto di atas cukup tegas untuk menjelaskan hujan yang tercurah siang tadi begitu deras. Sejak ...

Hujan Mengusung Badai

Benar belaka seperti yang aku tulis, niscaya akan ada hujan lain yang menyusul, setelah 'hujan bulan Juni' jatuh menyiram Bumi, 12 Juni 2025. Kemarin hujan datang, bahkan, ada yang bilang mengusung badai. "Haloooo... halooo gimana Kemiling, aman?" suara di seberang telepon bertanya. Nah, emang kenapa? Oh, ternyata hujan yang di pekarangan rumah aku lihat biasa saja, ternyata badai di bagian lain wilayah kota. Entah mana saja, mungkin juga di Blok S yang dekat lembah Universitas Malahayati sebab ada yang dapat kiriman video angin puyuh di daerah itu. "Itu jauh dari Blok P. Di Blok P aman-aman saja kok ," kilahku. "Syukurlah kalau aman," sambutnya lega. Suara mbak di Tanjungsenang di seberang telepon. Menurutnya, di sana juga hujan disertai angin kencang. Untung saja pohon matoa di depan rumah sudah ditebang. Sejak angin badai 24 April yang membuat atap kanopi rumah di Blok O somplak, kemarin angin badai teka maning membuntuti hujan tengah hari. N...

Hujan Bulan Juni

Setelah lama tidak hujan, akhirnya hari ini "hujan bulan Juni" menumpahi pekarangan kami. Entah di mana saja hujan berlabuh. Betapa sengatan kemarau, terasa begitu pedas melecuti jiwa apa saja yang dilaluinya. Jiwa manusia yang gerah mungkin bisa menjadikan belaian kipas angin atau AC sebagai penapis. Tapi, jiwa tumbuhan yang kerontang, hanya kepada guyuran air yang disiramkan, bisa legakan napas dahaganya. Hujan bulan Juni, mendengarnya diucapkan, ingatan serta merta tergiring ke sosok Sapardi Djoko Damono atau sering disingkat SDD, Guru Besar Fakultas Sastra UI yang juga dikenal sebagai seorang penyair ulung. SDD, begitu namanya acap ditulis, puisinya "Aku Ingin" membuat siapa yang membaca tersihir melankolia. Diksi dan metafora yang digunakan SDD sederhana, namun membuat puisinya bertenaga dan memikat. *** Di sisi lain, hujan bulan Juni yang tercurah hingga petang ini semakin membuat sejuk rasa bahagia kami --saya dan istri-- karena hingga tiba di usi ke-32 tahu...

Hujan Kepagian 2

Kemacetan di U - Turn jalan menuju SMA 14 Bukit Kemiling Permai, Bandar Lampung, pagi tadi. Sebenarnya masalah ini sudah saya publikasikan lho di blog ini tanggal 15/11 pada post - blog berjudul “Salah Maning” bahwa panjang naskah tulisan untuk antologi “Terkenang Kampung Halaman: Ingatan-Ingatan pada Tanah Kelahiran” yang benar maksimal 5000 karakter. Cilakanya, saya menangkapnya maksimal 5000 kata. Berhubung saat menulis naskah saya diganggu kantuk karena sudah larut malam, sehingga saya hentikan pada sekitar 1600 kata. Keesokan harinya kembali saya lanjutkan hingga selesai pada 2742 kata. Saya merasa tidak sanggup untuk memenuhi 5000 kata. Terlalu ruwet mengembalikan ingatan-ingatan di masa lalu. Saya merasa, hanya dengan 2742 kata saja, cerita yang saya tulis tentang sejumput ingatan atau kenangan pada Tanah Kelahiran sudah tercatat semua. Hampir tidak ada yang luput saya ceritakan, membuat saya puas dan merasa senang. Padahal, menurut ketentuan admin penyelenggara, jumlah ...

Hujan Kepagian 1

Sepagi ini hujan sudah bangun, mendahului bangunnya orang-orang yang hendak sahur Kubuka pintu, menyapa. Kusambut ramah, sebab ia tamu bagiku. Kuucapkan selamat datang Saya hanya numpang lewat, sahutnya sambil berlalu gegas dan lekas. Langkahnya deras Baiklah, jawabku. Selamat jalan, baik-baik di jalan. Jangan kaubuat orang bertambah susah Hidup orang kini kian susah, harga sembako naik sejak sebelum puasa datang, sebelum kau tiba Bila tak ada banjir kautinggalkan, orang bersyukur. Bila kaujadikan banjir, kaumenyusahkan Saya hanya membasuh jalan agar orang berangkat subuh ke masjid jadi semangat, kelitnya Saya juga pandai membawa diri, hanya ingin agar orang lebih lekas bangun ke kamar mandi Membasuh muka, tangan hingga siku. Mengusap ubun dan telinga, menyudahinya membasahi kaki Didirikannya salat malam. Tegakkan takwa seperti tegaknya tubuhku dari langit ke tanah ini Baiklah, terima kasih atas siraman kasihmu. Saya masuk, ya. Hendak berdiri menghadap-Nya Makan sahur, sesudahnya. Bers...