Langsung ke konten utama

Masjid Tua yang Baru

Masjid tua dulunya, lalu oleh warga cum pengurus atau takmir disepakati untuk dibongkar dan dibangun ulang, muncullah masjid yang representatif dalam arti baru, besar, megah, dan artistik membuat jemaah nyaman beribadah.

Sewaktu proses pembangunan ulang itu, tentu butuh biaya yang besar. Setiap masjid tentulah punya tabungan di bank yang didapat dari uang sedekah jemaah salat jumatan. Uang itu dapat dialokasikan untuk operasional harian masjid.

Ornamen dinding pengimaman Masjid Baitul Muttakin, Kemiling Raya, ada replika pintu Kakbah 

Untuk yang lebih besar, ialah renovasi masjid. Itu jadi pikiran pengurus masjid yang mengimpikan masjidnya megah, modern, nyaman, dan embuh apa maning. Bagaimana caranya mendapatkan uang untuk mewujudkannya? Carilah donatur!

Setiap lewat jalan Imam Bonjol –tidak jauh dari bekas terminal Kemiling yang diubah menjadi bangunan pasar dan karena tidak tuntas kini mangkrak, menjadi prasasti si mantan pejabat– ada aktivitas menjaring uang pada orang lewat.

Semula saya berpikir, di mana lokasi masjid yang akan dibangun yang mencari dana dengan cara menadahkan tangguk di jalan Imam Bonjol itu. Setelah aktivitas menangguk atau menjala uang itu lama bubar, baru kelihatan kubah masjidnya.

Oh, rupanya berada di belakang bekas bioskop entah apa namanya di atas jalan Imam Bonjol, tak jauh dari tempat menangguk atau menjala uang itu. Saya baru tahu juga kampung di situ masuk ke dalam zona wilayah Kelurahan Kemiling Raya.

Baitul Muttakin nama masjidnya. Saya kemarin ‘safari jumat’ di situ. Masjid tua dulu diresmikan oleh Wali Kota Drs. Eddy Sutrisno, M.Pd. pada 5 Oktober 2005. Sedangkan masjid yang baru hasil pembangunan ulang diresmikan 17 Januari 2026.

Kali ini, yang membubuhkan tandatangan pada plakat peresmian bukan hanya Wali Kota Hj. Eva Dwiana, melainkan juga Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenang) Prov. Lampung Dr. H. Zulkarnain, S.Ag., M.Hum.

Sementara sepagi ini hujan telah tiba di pelataran rumah minimalis kami. Entah dari mana. Apakah akan mengabarkan "akulah hujan bulan Juni", seperti yang dikatakan Sapardi Djoko Damono dalam puisinya. Perlukah aku tulis menjadi puisi?

Sedangkan dua cangkir kopi milikku dan istri, pagi ini berselingkuh. Tak lagi berkencan dengan kue-kue jajanan pasar dari toko kue Iman Jaya atau gorengan. Dicobanya berkasih-kasihan dengan pisang kepok kuning dan mantang madu kukus.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...

Jam Rusak Jangan Dibuang

Nah, benar belaka apa yang saya ujarkan dalam postingan blog kemarin, bahwa ada orang membiarkan jam dinding mati, terpacak bisu di tembok ruang tamu (dijadikan hiasan dinding). Padahal, tinggal ganti mesin bisa hidup kembali. Bapak pemilik “Omega Arloji” di Bambu Kuning Trade Center, mengemukakan hal itu. Sambil si Bapak dan putrinya mengganti mesin jam kami, si Bapak berkata, “Ada orang main buang jam yang udah mati, padahal masih bisa diganti mesinnya.” Berbagai merek jam tangan jualan "Omega Arloji" kios No.254 Bambu Kuning Trade Center. “Kemarin siang ada orang bawa tiga jam ke sini. Sebelumnya ada empat jam dibuangnya,” lanjut si Bapak menceritakan ketertegunan klien yang baru ngeh ternyata jam dinding mati masih bisa dipakai dengan cara mengganti mesinnya. Sesepele itu. Si Bapak juga terkagum-kagum pada merek jam dinding kami, NAGOYA. Katanya, ini sudah nggak diproduksi, tadinya banyak kami jual, sekarang tinggal satu itu seraya ia tunjukkan jam di tembok kio...

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...